Gerakan Anti Kebo

February 3 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto, Humor

Anti Kebo
Mari bergabung dengan Gerakan ANTI KEBO…..

Share

DKP Memulai Pembangunan Rumah Inti di Tasikmalaya

February 2 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Dana pemerintah yang terbatas dan ditambah magnitude gempa di Padang yang lebih dahsyat menyebabkan kucuran bantuan bagi penyintas gempa di Tasikmalaya tersendat-sendat. Lima bulan kemudian, sebagian warga masih menghuni rumah-rumah yang masih rusak karena belum sempit diperbaiki. Melihat kondisi ini, Departemen Kesaksian dan Pelayanan Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Tengah [DKP GKI SW Jateng] tergerak untuk menemani para penyintas gempa untuk membangun kembali rumah-rumah mereka.

Photobucket

Peta Lokasi

Photobucket

Survei

Untuk keperluan ini, DKP menggandeng Christian Reformed World Relief Committee (CRWRC) yang bersama-sama akan membangun 36 rumah inti [Core House] di dusun Cikole Wetan, desa Cijulang , kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis. Lokasi dusun ini terletak di barat laut kota Tasikmalaya. Secara administratif, desa ini masuk wilayah kabupaten Ciamis, namun karena akses ke sana dilakukan oleh GKI Veteran, Tasikmalaya, maka kami menyebut proyek ini sebagai “Gerakan Peduli Tasikmalaya.”
Sebelum memulai proyek pada bulan Februari, DKP dan CRWRC mengadakan sejumlah persiapan dengan berbagai pemangku kepentingan. Aktivitas pertama adalah menemui tokoh masyarakat setempat yaitu pak Edih dan pak Doddy, kepala dusun. Tim dari DKP diwakili oleh Budi Lazarusli, Inge Susanti, Purnawan Kristanto, Gatot Budi Sularso dan Bambang Pudyanto. Sementara itu Iskandar Saher mewakili Pusat Pengembangan Pelayanan Holistik [P3H] dan Nick Armstrong mewakili CRWRC. Sedangkan GKI Veteran, Tasikmalaya, yang bertindak sebagai “tuan rumah” mengutus Indra Wijaya dan pnt. Cahya.
Pertemuan berlangsung hangat dan penuh persahabatan. Dengan suara tergetar dan mata berkaca-kaca, pak Edih berkata, “Setelah gempa ini, mata saya menjadi terbuka. Ternyata ada banyak orang-orang dari berbagai tempat yang masih peduli dan bersedia menolong kami.” Selanjutnya pembicaraan mulai menukik ke persoalan-persoalan teknis.
Kami lalu memaparkan konsep rekonstruksi yang akan dilaksanakan di sana. Pada prinsipnya, rekonstruksi ini dilaksanakan oleh masyarakat. Peran yang diambil oleh DKP adalah menyediakan material bangunan dan pendampingan menyangkut aspek rekonstruksi aman gempa.
Bangunan yang akan dikerjakan disebut rumah inti [core house], tipe 21. Yang dimaksud rumah inti adalah sebuah bangunan kecil yang dikonstruksi dengan baik sehingga dapat digunakan sebagai tempat berteduh dan memberikan perlindungan yang lebih baik jika terjadi gempa. Ruangan ini dapat dikembangkan sesuai dengan dana yang dimiliki oleh penghuninya. Dengan kata lain, rumah ini bisa juga disebut sebagai rumah tumbuh.
Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Masyarakat menyediakan tenaga kerja dengan pola gotong royong. Untuk itu, mereka dibagi menjadi kelompok, yang masing-masing beranggota enam kepala keluarga. Bahan bangunan berupa pasir, besi, semen, batu kali, kusen dan atap disediakan oleh tim DKP. Namun tidak menutup kemungkinan adanya penggunaan bahan-bahan bekas dari bangunan lama seperti kusen pintu/jendela dan atap. Namun untuk bata harus menggunakan bata yang baru.
***

Sekitar pukul satu siang, di bawah hujaman sinar matahari yang menyengat, kami melihat kondisi di lapangan. Beberapa warga terlihat mulai membangun kembali rumah mereka. Namun biaya berasal dari swadaya. “Kebanyakan biaya itu berasal dari pinjaman saudara-saudara mereka,” papar pak Dodi.
Akan tetapi pembangunan secara swadaya itu belum memperhatikan aspek-aspek aman gempa. Sebagai contoh, pak Gatot Budi Sularso menunjukkan sebuah tiang yang mirip dengan tiang beton yang berfungsi memperkuat bangunan. Setelah diteliti lebih dekat, ternyata tiang beton itu palsu, karena hanya terdiri darsi susunan bata. Tidak ada tulang besi di dalamnya. Yang lenih memprihatinkan, campuran perekatnya menggunakan tanah liat. Ketika dicungkil dengan tangan, adonan itu langsung lepas. Bayangkan jika bagunan seperti ini digoyang lagi oleh gempa. “Kami memang membangun rumah kembali dengan seadanya. Yang penting bisa untuk berteduh karena sekarang sudah masuk musim hujan,”jelas pak Dodi, kepala dusun Cikole Wetan.

Photobucket

Pak Gatot menunjukkan tembok yang rapuh

Photobucket

Masjid An Nur

Photobucket

Tembok retak selama 6 bulan

Photobucket

Madrasah hampir roboh

Dalam kunjungan lapangan itu, kami menyaksikan puluhan rumah tak berpenghuni karena mengalami kerusakan yang berat. Nasib yang sama juga dialami oleh Madrasah Dinayah di dusun itu. Bangunan dua lantai itu sudah miring, sehingga harus disangga dengan bambu dari sebelah luar. Eternit juga banyak yang jebol. Karena membahayakan, maka sekolah Islam itu tidak digunakan lagi. Sayangnya saya tidak sempat bertanya, bagaimana nasib para murid: Apakah diliburkan atau pindah ke tempat lain?

Usai kunjungan, kami bergerak ke penginapan untuk beristirahat sejenak. Hujan sangat deras mengiringi perjalanan kami selama 20 menit itu.
Sorenya, pukul 17, kami mengadakan rapat koordinasi di GKI Veteran, Tasikmalaya. Kali ini giliran rombongan dari warga Cikole Wetan yang mengadakan kunjungan balasan. Bapak Gatot memulai rapat dengan menjelaskan struktur organisasi tim pelaksana proyek ini. Lalu dilanjutkan dengan membahas berbagai persoalan teknis.
Berikut ini rangkuman diskusi yang disusun dalam bentuk tanya jawab.

Mengapa proyek ini hanya membangun 36 rumah inti?
Karena dana yang terbatas.

Bagaimana menentukan 36 keluarga yang berhak mendapat bantuan?
Kita menggunakan data rumah rusak berat yang dikeluarkan oleh pemerintah desa.

Apa langkah-langkah kerja tim pelaksana?
1. Tokoh masyarakat menyosialisasikan proyek ini kepada warga dan tokoh setempat.
2. Tim pelaksana melakukan assesment setiap rumah.
3. Mengadakan temu warga calon penerima bantuan untuk membuat membuat sistem dan mekanisme.
4. Warga dibentuk menjadi beberapa kelompok.
5. Pembangunan rumah contoh oleh konsultan dari Aceh.
6. Pembangunan rumah warga

Untuk membangun rumah dibutuhkan tenaga tukang. Darimana biaya untuk membayar mereka?
Biaya disediakan oleh pemilik rumah.

Biaya untuk tukang cukup besar bagi warga desa. Apakah warga desa bisa diberi waktu untuk mencari biaya tersebut?
Oke, bisa.

Bagaimana kalau di antara 36 calon penerima bantuan ini saat ini sudah membangun rumah secara swadaya?
Dari hasil pengamatan di lapangan, pembangunan secara swadaya belum memenuhi standard aman dari gempa. Maka ada dua alternatif: 1. Membangun ulang rumah yang sudah berdiri; atau 2. Membangun rumah tipe 21 pada lahan lain.

Pembangunan ini sampai dimana? Apakah sampai dengan finishing?
Pembangunan meliputi pondasi, tembok sampai pemasangan atap. Namun tidak menggunakan plester dan tanpa pelapisan lantai.

Kalau ada warga yang sudah membangun rumah secara swadaya, bisakah jatahnya dipindah ke orang lain di luar 16 keluarga ini?
Tidak bisa. Karena akan menimbulkan persoalan yang kompleks. Kita tetap berpegang pada daftar 36 rumah rusak yang dikeluarkan pemerintah desa.

Photobucket

Rapat Koordinasi di gereja

Bagaimana kalau ada keluarga yang memiliki anggota banyak? Apakah bisa dibuatkan ruangan yang lebih besar?
Rancangan kami bersifat general. Jadi kami tidak memperhitungkan jumlah anggota setiap keluarga. Jadi nilai bantuan sama untuk keluarga besar atau kecil.
***
Di akhir pertemuan masih ada satu persoalan yang mengganjal: Bagaimana dengan warga yang rumahnya hanya mengalami kerusakan sedang atau ringan? Kalau harus membangun kembali dengan konstruksi yang aman gempa, maka rumah-rumah mereka harus dirubuhkan lebih dulu. Pertanyaannya: apakah warga bersedia merelakan rumah mereka dirubuhkan dan diganti dengan bangunan yang lebih kecil?
Pergumulan ini kami terus kami bawa ketika pulang ke Jawa Tengah. Dalam perjalanan itu, muncul ide untuk melakukan pemberdayaan warga di luar “kelompok 36″ ini secara transformatif. Misalnya dengan meluncurkan program livelyhood atau peningkatan kekuatan ekonomi keluarga. Program ini bisa dilaksanakan setelah proyek fisik ini berakhir. Namun untuk mewujudkannya, tentu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
***
Seluruh dana pembelian material untuk pembangunan rumah warga disediakan oleh CRWRC. Sedangkan untuk biaya operasional tim pelaksana, ditanggung oleh GKI.
Sehubungan dengan itu, itu kami memberi kesempatan kepada Anda untuk berpartisiasi menyokong menyokong biaya operasional. Anda juga dapat terlibat meujudkan kerinduan kami untuk melaksanakan program pemberdayaan ekonomi atau livelyhood bagi warga yang belum menerima bantuan.
Sumbangan Anda dapat disalurkan melalui rekening bendahara DKP a.n. Peter Christianto Wijaya pada rekening BCA 015-253-841. Mohon kirim kabar ke pdt. Peter CW ke nomor 0812-297-2056.
Anda juga dapat membantu kami dengan menjadi relawan pada proyek ini. Teruskanlah tulisan ini kepada teman, kerabat, dan relasi Anda.

Photobucket

Share

Persiapan Pembangunan Core House di Tasikmalaya

February 2 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

SimpelPada hari ini, 27 Januari 2010, telah dimulai proyek pembangunan rumah inti atau core house. Proyek yang merupakan kerjasama antara BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah dengan CRWRC Kanada, dengan melibatkan masyarakat penyintas gempa di Tasikmalaya. Menurut rencana, proyek ini akan membangun 36 unit rumah tipe 21 di desa Cikole Wetan, Tasikmalaya.
Untuk menyiapkan proyek ini, maka diadakan pertemuan antara pengurus Departemen Kesaksian dan Pelayanan (DKP), tim tanggap bencana, dan utusan dari CRWRC di Tasikmalaya. Pada Rabu pagi, pak Budi Lasarusli dan pak Nick Armstrong melakukan perjalanan dari Salatiga menuju stasiun Balapan, Solo. Sementara itu, pak Iskandar Saher menumpang bis dari Semarang, dengan tujuan yang sama, yaitu stasiun Balapan Solo. Tujuan mereka adalah menumpang kereta Argo Wilis yang akan membawa mereka ke Tasikmalaya. Kereta berangkat tepat waktu, pukul 11:45 WIB.Photobucket
Pukul 12:34, kereta memasuki stasiun Tugu, Yogyakarta. Di sini, Purnawan Kristanto sudah menunggu untuk bergabung. Kereta melaju dengan lancar. Sesampai di stasiun Kroya, bu Inge Susanti juga ikut bergabung dengan rombongan.
Pukul 17:20, rombongan sampai di Tasikmalaya, yang langsung disambut oleh pak Gator Budi Sularso dan sdr. Indra Wijaya. Menumpang mobil Kijang, rombongan dari Jawa Tengah ini diantar ke hotel untuk menaruh barang-barang di kamar, lalu segera keluar lagi untuk mencari makan karena sudah pada kelaparan.Tujuan mereka adalah rumah makan sunda “Ampera” yang berseberangan dengan masjid agung Tasikmalaya.

Photobucket

Setelah perut kenyang, rombongan menuju GKI jl. Veteran untuk bersilahturahmi dengan pengurus gereja. Kebetulan saat itu sedang ada rapat majelis sehingga bisa berkenalan dengan beberapa petinggi gereja. Setelah berbasa-basi sejenak, rombongan mendapat kejutan, yaitu suguhan dua buah duren yang sangat manis dan lezat. Tanpa perlu dipersilahkan dua kali, duren tersebut segera dibelah dan dinikmati dengan sukacita. Saat berpamitan, rombongan juga masih diberi jeruk [lebih tepatnya jeruk itu diminta oleh anggota rombongan].
Sekitar pukul 20:00, rombongan sudah kembali ke hotel dan memutuskan untuk langsung mengadakan rapat koordinasi tanpa mandi lebih dahulu. Agenda rapat adalah membahas isi Memorandum of Understanding [MOU] antara GKI dengan CRWRC. Setelah semua butir dibahas dan disepakati, maka MOU tersebut ditandatangani oleh pak Budi Lazarusli mewakili DKP dan Nick Armstrong dari CRWRC perwakilan Indonesia. Agenda berikutnya adalah membahas surat pengangkatan pak Gatot dan sdr. Purnawan sebagai tim pelaksana proyek ini. Namun surat pengangkatan ini urun ditandatangani pada malam itu, karena ada beberapa revisi yang perlu dilakukan.

Agenda hari berikutnya adalah meninjau ke Cikole Wetan dan mengadakan rapat koordinasi yang akan dihadiri oleh semua personel yang akan melaksanakan tugas keseharian dalam proyek ini.
****
Catatan: Seluruh dana dari CRWRC digunakan untuk pembangunan rumah warga yang menjadi korban gempa. Sedangkan untuk biaya operasional tim pelaksana, ditanggung oleh GKI. Anda dapat berpartisipasi dalam proyek ini untuk menjadi berkat bagi sesama dengan menyokong biaya operasional yang harus diusahakan oleh tim GKI.
Sumbangan Anda dapat disalurkan melalui rekening DKP a.n. Peter Christianto Wijaya pada rekening BCA 015-253-841. Mohon kirim kabar ke pdt. Peter CW ke nomor 0812-297-2056

Share

Oleh-oleh Khas Bali

February 1 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi

Tidak sulit mencari cendera mata khas Bali.  Kalau boleh agak  bombastis, hampir di setiap jengkal wilayah di Bali kita bisa mendapatkan oleh-oleh yang dapat menjadi kenangan kunjungan kita ke pulau Dewata ini.  Kali ini saya akan menceritakan pusat belanja oleh-oleh yang ada di kota Denpasar yaitu Pasar Airlangga yang ada di jalan Nusakambangan. Ini adalah semacam supermarket oleh-oleh khas Bali.

Begitu turun dari mobil, seorang karyawan tergopoh-gopoh menyambangi kami untuk membagikan selembar kupon souvenir gratis. Kupon ini dapat ditukar di kasir saat membayar barang belanjaan. Kami lalu masuk ke dalam ruangan yang maha luas. Ukurannya kira-kira sama dengan gedung hipermarket yang ada di kota besar. Bedanya, gedung ini tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan sehingga terasa gerah.

Ada berbagai macam barang dagangan, namun didominasi oleh pakaian, mulai dari baju anak-anak sampai dengan dewasa. Tentu saja dengan model dam motif khas Bali. Selain itu dijual juga berbagai macam hasil kerajinan tangan [handy craft], seperti mainan tradisional, hiasan ukiran kayu, lilin aromatik, lukisan, dll. Ada juga makanan kahas Bali, seperti kacang tanah dan kopi.  Kalau Anda pernah ke Yogyakarta, Anda tentu tidak akan merasa asing dengan berbagai macam barang yang dijual di sini. Hampir semuanya mirip, hanya berbeda dalam motif dan model saja.

Keuntungan berbelanja di sini adalah soal kepraktisan. Dengan berkunjung ke satu tempat, kita dapat memilih berbagai macam jenis oleh-oleh. Selain itu, harga yang dicantumkan juga harga mati. Tidak bisa ditawar lagi. Bagi wisatawan yang kurang lihai menawar, atau sering tidak tegaan, hal ini menguntungkan karena mereka akan mendapat harga yang sudah pasti.

Situasi yang berbeda akan kita jumpai di pasar Sukawati.  Pasar tradisional ini letaknya berada pada arah perjalanan dari Denpasar menuju Ubud. Dua tahun yang lalu, saya pernah berkunjung ke sini bersama dengan teman-teman satu angkatan dalam Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Saat itu kami mengingap di Sanur. Untuk pergi ke pasar Sukowati, kami rama-ramai menyewa taksi dengan tarif borongan Rp. 150.000,- pulang-pergi. Ongkos itu ditanggung secara ramai-ramai. Untuk menghemat ongkos, maka satu taksi dijejali enam penumpang.

Pasar Sukawati menempati bangunan dua lantai yang dikapling-kapling membentuk kios-kios. Untuk berbelanja di sini, wisatawan harus lihai dalam menawar. Tips dasarnya adalah menawar hingga di bawah dari separih harga yang disebutkan pertama kali oleh penjualnya. Jangan tunjukkan muka pengin. Pura-pura cuek saja, meski hati kecil sangat menginginkan barang itu. Jika pedagang pelit menurunkan harga, pura-puralah meninggalkan dia menuju kios lain. Biasanya pedagang akan memanggil kita kembali. Dia akan meminta tambahan harga sedikit atau membujuk kita membeorong dalam jumlah banyak. Dalam hal ini teguhkanlah iman Anda. Jangan goyah.

Keuntungan lain berbelanja di pasar Sukawati adalah kesempatan berinteraksi dengan penduduk Bali. Kesempatan ini tidak Anda temui di pasar Airlangga, karena Anda hanya berhadapan dengan barang-barang dagangan dan wajah kasir yang beku. Kalau mau menyisihkan waktu,  Anda pun dapat berkunjung ke bengkel-bengkel kerja seniman tradisional yang banyak tersebar di sekitar pasar. Sukawati termasuk salah satu pusat aktivitas kebudayaan di pulai Bali. Pada zaman dahulu, seorang raja mengumpulkan para seniman terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk dikaryakan membangun sebuah istana megah di wilayah Sukawati ini.

Share

Petuah dari Goa Gajah

January 30 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Berkunjung ke goa Gajah saya mendapat pelajaran baru: Agama Hindu yang berkembang di Bali ternyata berbeda dengan agama Hindu di India. Agama Hindu yang dipraktikkan di Bali merupakan muara interaksi dinamis antara agama Hindu dengan kepercayaan asli Bali dan agama Budha.

GoaGajah

Kunjungan ke goa Gajah sebenarnya bersifat spontan. Saat itu saya bersama keluarga sedang beristirahat setelah mengunjungi Monkey Forrest di Ubud. Iseng-iseng,  saya membuka peta wisata dan menemukan sebuah tempat wisata menarik. Lokasinya cukup dekat dari tempat kami, yaitu goa Gajah. Saya menawarkan ke anggota rombongan saya dan mereka setuju. Dua dekade yang lalu, saya sebenarnya pernah ke sana dalam rangka study tour SMA. Akan tetapi tidak banyak kenangan saya akan tempat ini.

Untuk masuk wisatawan harus membayar enam ribu rupiah [Mulanya kami tidak menerima karcis masuk, tapi saya mendesak memintanya. Ini perlu supaya uang yang kami bayarkan benar-benar masuk ke kas pemerintah. Juga untuk bukti asuransi].

Karena tempat ini disakralkan maka wisatawan yang menggunakan celana pendek atau rok mini sebatas atas lutut wajib membebatkan kain yang panjang. Sementara bagi yang mengenakan rok atau celana panjang, cukup melilitkan selendang kain di pinggangnya. Selain itu ada aturan bahwa perempuan yang sedang menstruasi juga sebaiknya tidak masuk.

Kami menuruni tangga setengah memutar sebelum sampai pada halaman utama. Pada sisi kiri halaman, terserak artefak batu-batu candi yang sengaja dikumpulkan dalam satu tempat itu. Pada tengah halaman terdapat sebuah petirtaan atau kolam air yang terbagi menjadi dua bilik. Ini adalah kolam pemandian umum. Kaum laki-lai mandi di bilik kanan, kaum perempuan di bilik kiri. Pada setiap bilik terdapat tiga patung perempuan yang mengendong tempayan. Air mengalir melalui tempayan ini, tumpah ke kolam air yang dihuni oleh ikan mas

Petirtaan

Petirtaan

Arsitektur pemandian kuno ini mirip dengan pemandian “Belahan” di Jawa Timur. Pemandian ini dibangun oleh Erlangga, raja Mataram kuno yang berkuasa pada abad ke-10 M.  Maka diperkirakan bahwa goa Gajah ini dibangun antara abad ke-9 s/d 13 pada masa pemerintahan Majapahit. Salah satu informasi penting pada petirtaan di Jawa Timur ini adalah inskripsi pada tembok yang berbunyi: “Udayana Gempeng “yang artinya “Udayana sedang mabuk cinta.” Udayana adalah raja yang sangat terkenal di Bali, yang berkuasa pada abad ke-11. Ahli sejarah menduga Udayana sedang kasmaran terhadap putri Mahendradatta dari Jawa Timur. Mereka akhirnya menikah dan bersama-sama memerintah di Bali. Sang putri meninggal lebih dulu dan dimakamkan di Burwan.
Petirtaan yang berada di bawah pohon kapas yang besar ini semula terkubur dalam tanah ketika ditemukan. Pada tahun 1954 dimulai penggalian yang dipimpin oleh Krijgsman sehingga ditemukan bentuknya seperti yang sekarang ini.

Objek utama adalah gua buatan manusia, berupa ornamen wajah raksasa yang diukirkan pada sebuah tebing batu kapur. Dari kejauhan, ornamen ini mirip dengan gajah yang sedang menganga. Mungkin itu sebabnya disebut goa Gajah. Legenda setempat menceritakan bahwa ornamen pada batu ini diukir dengan tangan telanjang oleh Kebo Iwa hanya dalam semalam! Dia adalah seorang perdana menteri kerajaan yang sakti.

Teori lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari nama “Lwa Gajah”, nama sebuah pertapaan Budha.  Nama goa Gajah tercantum dalam naskah Negarakertagama yang disusun oleh mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah tertulis bahwa raja Majapahit memiliki tempat pertapaan di lereng gunung yang disebut “Lwa Gajah”. Kata “Lwa” atau “Loh” berarti sungai, sehingga mengindikasikan bahwa pertapaan ini bertempat di sungai Gajah (Petanu).

Pendapat lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari patung Ganesha yang ditemukan di dalam goa. Ganesha adalah anak dewa Siwa yang bertubuh manusia tapi berkepala gajah.

Di depan pintu goa, jika kita cermati, terlihat ukiran berbagai makhluk yang berusaha menjauh dari mulut raksasa yang sedang menganga. Seolah mereka takut dicaplok oleh raksasa ini. Ada yang menafsirkan bahwa makhluk raksasa ini adalah symbol kematian. Tempat ini biasa digunakan sebagai bertapa. Dengan masuk ke dalam goa ini diperlambangkan bahwa orang tersebut memasuki nuansa alam kematian yang serba gelap.

Lorong dalam goa berbentuk huruf “T”. Setiap ujung lorong membentuk bilik-bilik. Pada bilik kiri terdapat patung Ganesha. Sementara pada bilik kanan merupakan altar untuk lingga, yaitu lambang alat kelamin dewa Siwa.

Keluar dari goa, kita akan melihat patung perempuan yang tersimpan dalam pondok kayu. Perempuan ini bernama Men Brayut, seorang tokoh terkenal dalam cerita rakyat Bali yang ditulis oleh seorang Budha bernama Hariti. Men Brayut adalah isteri Pan Brayat, seorang petani miskin yang memiliki 18 anak. Setiap anak memiliki watak masing-masing: 4 anak yang alim, 4 anak yang suka seni, 4 anak yang urakan, 4 anak yang berpikiran agak dewasa dan 2 anak masih kecil. Namun mereka tidak saling toleran terhadap saudara, hingga sering bertengkar [Dalam bahasa Jawa, "brayut" atau "brayat" berarti "keluarga dengan banyak anak"].

Melalui perjuangan Men Brayut, akhirnya mereka dapat hidup rukun. Caranya dengan memadukan keunikan masing-masing anak sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat. Tampaknya terselip pesan pentingnya penghrormatan “pluralitas” di dalam kisah legenda ini. Perbedaan dalam kepercayaan,–entah itu Hindu, Budha atau kepercayaan asli–, dapat menjadi sumber konflik tapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk bekerja sama dalam karya kemanusiaan.

Pesan tentang pluralitas ini semakin kuat dengan adanya papan penunju ke Pura Patung Budha di sebelah timur goa ini. Apakah Anda melihat adanya “keganjilan” di sini? Pura adalah tempat ibadah bagi umat Hindu, sementara patung Budha jelas berkaitan dengan umat Budha. Lalu mengapa dinamakan “Pura Patung Budha”?

Batu Candi?

Karena penasaran, saya menuruni tangga setapak yang berujung di sebuah sungai. Ada jembatan kuno yang masih dapat dilewati. Saya melihat bongkahan-bongkahan batu besar yang berserakan di dasar sungai. Saat diamati, ada jejak-jejak tangan manusia pada batu besar yang telah berlumut itu. Saya melihat pahatan setengah jadi yang membentuk menara pagoda atau warga setempat menyebutnya meru. Jika dilihat dari langgamnya, pahatan ini lebih mirip dengan agama Budha. Ini jelas sebuah peninggalan arkeologis. Mengapa batu-batu ini tergeletak begitu saja di sana? Bisa jadi, batu-batu itu adalah proyek umat Budha yang tidak pernah diselesaikan karena keburu diambil alih oleh umat Hindu. Bisa jadi proyek yang tidak pernah diselesaikan karena bencana alam. Atau mungkin ada penyebab lain. Entahlah, saya tidak tahu dengan pasti.

Batu Candi?

Batu Candi?

Setelah melewati jembatan, saya lalu berjalan mendaki menuju sebuah pura sederhana. Ada satu petapa tua yang siap mendoakan wisatawan. Rasa penasaran saya terjawab sudah. Petapa ini berdoa di depan patung Budha, yang bentuknya mirip dengan patung Budha di candi Borobudur, namun tanpa kepala. Rasa penasaran yang satu sudah hilang, muncul rasa penasaran yang lain. Mengapa petapa Hindu itu

bersembahyang di depan patung Budha? Apakah ini wujud dari sinkritisme agama Siwa Budha? Apa ini merupakan bentuk penghormatan umat Hindu terhadap agama Budha yang lebih dulu menggunakan tempat itu? Entahlah.

***

Ada berbagai pertanyaan yang masih menggantung selepas kunjungan ke goa Gajah. Meski begitu, saya mendapatkan hikmah indah dari perkunjungan ini. Keputusan untuk memahat tebing bukit batu untuk menjadi sebuah goa pertapaan hanya bisa dibuat oleh orang atau sekelompok masyarakat yang berani bermimpi besar. Tidak hanya bermimpi, tapi juga bangun dari pembaringannya dan menyingsingkan lengan itu untuk mewujudkannya. Dengan teknologi yang masih sederhana, mereka tentu menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dibutuhkan stamina yang kuat dan tekad yang menyala-nyala untuk menancapkan pahat kepada bongkahan batu-batu keras itu. Dibutuhkan inspirasi yang tak ada habisnya untuk membangkitkan lagi pengharapan saat melihat seolah-olah tidak ada kemajuan yang berarti dalam pekerjaan mereka. Tanpa adanya semangat itu, mereka akan mudah menjadi loyo dan menyerah.

Belajar dari goa Gajah ini, spiritualitas keagamaan ternyata dapat menjadi sumber semangat umatnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang besar. Jika saat ini Anda telah mendapat mandat dari Allah untuk melakukan pekerjaan yang besar, belajarlah dari pembuatan goa Gajah ini. Kalau mereka bisa, Anda pun bisa.

Video saya tentang Goa Gajah dapat dilihat di sini

:lihat video

Tulisan ini merupakan seri dari catatan perjalanan saya ke Bali tanggal 7-11 Januari 2010. Untuk tulisan yang lainnya, silakan klik:

Share

Museum Antonio Blanco & Monkey Forrest

January 27 2010Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Dua tujuan wisata yang saya kunjungi ini sudah memiliki reputasi internasional. Pertama, museum milik maestro lukis Don Antonio Blanco. Kedua, hutan suci yang menjadi lokasi shooting “Eat, Pray, Love” yang dibintangi oleh Julia Roberts.

Gerbang Museum

Museum renaisans Don Antonio Blanco dibangun di atas bukit Kampuhan yang masih asri. Kedatangan kami langsung disambut oleh kicauan burung jalak bali dan kakatua. Pada tebing sebelah kanan pintu masuk tampak menjulang menara pagoda 12 atap.

Untuk masuk ke museum, wisatawan domestik harus merogoh kocek Rp. 30.000,-/orang.  Sedangkan untuk wisatawan manca, dikenai tarif lebih mahal, yaitu Rp. 50.000,- Dari tempat pembayaran tiket, kami mendaki tangga menuju sebuah halaman kecil, yang di tengahnya terdapat kolam kecil dan patung Siwa di bagian tengahnya. Pada bagian kiri, terdapat balai sederhana sebagai bengkel kerja pembuatan pigura lukisan. Lalu kami memasuki pintu berbentuk lingkaran, seperti yang biasa kita jumpai pada rumah-rumah China kuno. Berbelok kiri kami disambut halaman rumput yang luas. Pada bagian tengah terdapat kolam air.  Menatap lurus, kami melihat kediaman pribadi Antonio Blanco yang cukup megah.

Pagoda 12 Atap

Siapakah Antonio Blanco? Dia adalah seniman lukis ternama kelahiran Catalonia, Spanyol pada tanggal 15 September 1911. Setelah menyelesaikan studinya di Akademi Seni Nasional di New York, Blanco berkelana ke seluruh dunia, hingga akhirnya terpikat oleh keindahan Bali dan memutuskan menetap di sana, pada tahun 1952. Raja Ubud menghadiahkan kepadanya tanah seluas 2 hektar yang berlokasi di pertemuan dua aliran yang membentuk sungai Kampuhan.

Seniman flamboyan dan eksentrik ini kemudian memperistri Ni Rondji, seorang penari kenamaan di Bali. Mereka dikaruniai empat anak-anak, masing-masing Tjempaka, Mario, Orchid dan Mahadewi. Pelukis yang dijuluki “Dali dari Bali” ini sangat mengagumi tubuh wanita yang menurutnya merupakan ciptaan Tuhan yang paling indah.  Maka tak heran jika hampir seluruh karya seniman yang gemar bertopi kabaret ini menampilkan sosok perempuan bertelanjang dada, khususnya perempuan Bali.

Sebelum memasuki bangunan utama, pengunjung akan melewati sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari marmer. Diamati secara sepintas, bentuknya memang aneh.  Namun ternyata gerbang ini merupakan tiruan dari tanda tangan sang Maestro. Konon ini adalah tanda tangan terbesar di dunia.

Bangunan museum merupakan gabungan antara arsitektur barat dan Bali. Tembok-tembok berupa batu marmer kokoh, yang diimbangi dengan kelembutan ornamen Bali di sekeliling pintu, jendela dan atapnya. Ruang utama museum mirip dengan ballroom luas dengan atap yang sangat tinggi. Di sebelah kanan dan kiri ruangan terdapat tangga untuk ke ruang atas. Lukisan-lukisan maha karya sang maestro ditempelkan pada dinding-dinding ruangan. Pencahayaan ruangan agak remang-remang. Hanya ada lampu-lampu kecil yang menerangi setiap lukisan.

Sayangnya pengunjung dilarang untuk mengambil gambar dengan kamera.  Suatu kali, ketika petugas tidak terlihat, saya menghidupkan kamera video dan mencoba mengambil gambar dengan sembunyi-sembunyi. “Mumpung tidak ada petugas,” pikir saya ketika itu. Akan tetapi Citra, adik sepupu isteriku, tiba-tiba memperingatkan aku.”Mas, ada kamera pengawas lho,” bisiknya sambil menunjukan kamera di langit-langit ruangan. Saya pun buru-buru mematikan kamera sambil tertawa sendirian.

Idealnya, mengunjungi museum lukisan tidak dilakukan tergesa-gesa. Kita harus meluangkan waktu untuk menikmati setiap detil goresan sang seniman. Tapi apa boleh buat, objek wisata berikutnya masih menanti. Selepas ruang utama, kami masuk ke ruang kerja Blanco.  Sebuah ruangan yang sederhana dengan jendela luas yang mengarah langsung ke halaman.  Di sebelah bengkel kerjanya, terdapat ranjang besar dengan kelambu putih. Jika letih berkarya, Blanco akan merebahkan badannya sejenak di tempat tidur ini sambil merenung untuk menangkap inspirasi.

Bengkel Kerja

Di sini, setiap pengunjung disodori segelas mocca dingin yang bisa dinikmati sambil bercengkerama dengan burung-burung kakatua. Jika berani, pengunjung bisa berfoto dengan burung-burung itu. Sebagai souvenir, pengunjung bisa membeli foto lukisan Antonio Blanco yang ditandatangani asli oleh Mario Blanco, anak laki-lakinya. Menjelang pintu keluar, terdapat toko souvenir yang menjual kerajinan perak yang didesain oleh anak perempuan Blanco.

***

Berseberangan dengan museum Antonio Blanco terletak hutan suci yang banyak dihuni oleh kera. Warga setempat menyebutnya Wana Wanara, tapi kemudian lebih terkenal dengan nama Monkey Forrest. Kami harus mengambil jalan memutar dulu, melewati pasar Ubud dan jalan Hanoman karena jalan di Ubud ini adalah jalan satu arah.

Kera Monkey Forrest

Sekitar sepuluh menit perjalanan dengan mobil, kami sampai di pelataran parkirnya. Untuk masuk, kami harus membayar tiket senilai Rp. 15 ribu per orang.  Di pintu masuk, ada beberapa penjual rambutan, pisang dan kacang yang menawarkan dagangannya. Ini bukan untuk dimakan wisatawan, melainkan untuk diberikan kepada para kera. Jika Anda tidak punya cukup nyali menghadapi para kera, sebaiknya Anda tidak membeli dan membawa buah-buahan ini ke dalam hutan. Seperti yang saya saksikan sendiri, begitu tahu ada pengunjung membawa makanan, maka para kera terus-menerus menguntitnya. Jika sang pengunjung tidak segera memberikan makanan mereka, maka kera-kera itu tak segan-segan akan meloncat ke pundak pengunjung untuk merebutnya. Bahkan ketika makanan itu disembunyikan dalam tas ransel, para kera itu bisa tahu dan membukanya dengan paksa. Namun Anda tidak perlu takut. Sepanjang Anda tidak menyimpang dari jalan yang sudah dibuat dan tidak jahil, Anda tidak akan diganggu. Ada penjaga yang sewaktu-waktu siap membantu.

Kera yang hidup di hutan ini adalah jenis makaka ekor panjang. Nama latinnya adalah Macaca fascicuiaris.  Mereka hidup berkelompok di dalam wilayah kekuasaan masing-masing. Kera betina dilahirkan, besar dan mati di dalam kelompoknya. Sementara itu, kera jantan bisa saja meninggalkan kelompoknya untuk berpindah ke kelompok lain (biasanya pada umur 4 s/d 8 tahun). Untuk masuk ke  dalam sebuah kelompok, maka seekor kera jantan harus mendapat izin dari kera-kera betina pada kelompok tujuan. Hal ini terjadi karena kelompok kera ini menganut pola matrilineal [seturut dengan garis keturunan induk].

Kera Ekor Panjang

Sampai sekarang, populasi kera pada hutan di Padangtegal ini diperkirakan sejumlah 340ekor, yang terbagi ke dalam 4 kelompok.  Mereka hidup di dalam hutan yang terdiri dari 115 jenis tumbuhan, menurut hasil penelitian Universitas Udayana, Bali.

Dalam sistem kepercayaan Hindu Bali, terdapat tiga jenis pura yaitu Pura Puseh, Pura Desa, and Pura Dalem.  Pura Puseh (pura asal) biasanya berada di wilayah hulu desa, yang dipersembahkan kepada dewa Wisnu dan para leluhur desa. Dewa Wisnu dikenal sebagai dewa pemelihara kehidupan karena punya kemampuan berinkarnasi sebagao avatar (Manusia-Dewa) yang bebas melintas sorga dan bumi. Dewa ini dipercaya sering menampakkan diri untuk menyelematkan dunia.
Pura Desa, terletak di tengah-tengah desa yang dipersembahkan bagi dewa Brahma. Pura ini biasa digunakan sebagai tempat pertemuan warga untuk membicarakan berbagai persoalan desa. Dewa Brahma juga dikenal sebagai dewa pencipta, yang menjadi sumber semangat bagi umat Hindu dalam berkarya secara kreatif.

Pura Dalem atau pura kematian berada di bagian hilir atau bawah desa. Pura ini dipersembahkan kepada dewa Siwa sebagai dewa penghancur. Biasanya terdapat kuburan di pura ini. Dewa Siwa akan menentukan reinkarnasi seseorang berdasarkan karmanya semasa hidupnya. Dalam kaitan ini, wanara wana atau The Sacred Monkey ini berada di wilayah Pura Dalem.

Bangunan pura berada di dekat sungai. Untuk mencapai ke sana, pengunjung harus menuruni bukit dengan menapaki tangga demi tangga. Sepanjang perjalanan, kita dapat menyaksikan tingkah polah kera: berayun-ayun, berkelahi, mencari kutu, dan memikat pasangan.

Sesampai di bawah,  kita dapat melihat sebuah kolam petirtaan berair jernih di bawah pohon besar yang rindang. Pada samping kolam, terdapat tiga patung batu. Pada bagian tengah, terletak patung ganesa [tubuh manusia berkepala gajah], yang mengeluarkan air dari belalainya. Umat Hindu mempercayai Ganesha sebagai dewa ilmu pengetahuan. Air yang keluar dari belalainya melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berasal dari dewa ini. Dewa ini diapit oleh dua patung perempuan bertelanjang dada yang memegang tempayan. Air mengalir melalui tempayan. Di belakang petirtaan, terdapat sebuah pura yang dijaga oleh dua patung dwarapala.

Patung ganesa

Hutan yang terus dijaga kelestariannya ini memang indah. Maka tak heran jika tempat ini menjadi salah satu tempat shooting untuk film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi oleh Julia Roberts.

Tulisan ini merupakan seri dari catatan perjalanan saya ke Bali tanggal 7-11 Januari 2010. Untuk tulisan yang lainnya, silakan klik:


Untuk melihat video klip saya, silakan klik link berikut ini:

Lihat Video

Lihat Video

Lihat Video

Share

Agak Ribed di Ubud

January 26 2010Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Catatan Pribadi

Wisata kami ke Bali diwarnai dengan spontanitas, khususnya dalam penentuan lokasi wisata yang akan dituju. Sepuluh menit sebelum keluar dari penginapan, pada hari kedua, kami bahkan belum memeutuskan akan kemana hari itu. Dalam “rapat pleno” dibahas dua pilihan: Pertama ke wilayah Ubud yang didominasi wisata budaya. Kedua, ke wilayah danau Bedugul dan pantai Lovina yang didominasi wisata alam. Kami menetapkan pilihan pertama karena memiliki kekhasan Bali yang tak ada di tempat lain. Sedangkan wisata alam dapat ditemui di pulau Jawa.

Bali

Dalam guyuran hujan rintik-rintik, mobil keluar dari penginapan dan langsung berbelok ke arah Barat.

“Tunggu dulu”kataku. “Apakah arahnya sudah benar?”

Tidak seorang pun yang memastikan.  Ini seperti orang buta menuntun orang buta. Aku sendiri meski sudah dua kali pergi ke Bali, namun tidak mengenal lika-liku pulau Dewata. Parahnya, bahkan sopir kami baru sekali ini pergi ke Bali. Daripada kesasar terlalu jauh, maka diputuskan untuk bertanya pada orang di pinggir jalan.

Instingku benar. Kami salah arah. Kami harus berbalik ke arah Timur. Selanjutnya kami mengandalkan papan penunjuk jalan yang ada di setiap persimpangan. Semua penumpang mulai memelototi papan segiempat penunjuk arah yang berwarna hijau daun itu. Namun karena terlalu banyak yang mengawasi, maka kadang menimbulkan perdebatan. Ada yang melihat harus ke arah kiri, ada yang berpendapat harus lurus. Kalau sudah begini, maka wasitnya adalah penduduk setempat. Jadi memang agak ribed perjalanan ke Ubud.

Melewati Sukowati, perjalanan lancar. Begitu memasuki kawasan Ubud, laju mobil terhambat oleh dua upacara yang diadakan oleh warga setempat. Tapi ini tidak menjadi masalah, karena memang inilah tujuan kami berwisata ke Bali. Mencari suasana atmosfer yang berbeda dengan kehidupan di Jawa.

Dalam guyuran hujan Ubud justru menampakkan keayuannya. Kanan-kiri jalan terhampar sawah-sawah yang dikelola dengan sistem Subak. Memasuki jantung Ubud, galeri seni berderet mengapit sisi-sisi jalan. Berbagai ragam seni dipajang, mulai tradisional sampai dengan kontemporer.

Sesampai di jantung Ubud, hujan semakin deras. Setelah turun dari mobil, kami berteduh di emperan sebuah toko kelontong. Kami tidak membawa cukup banyak payung sehingga tertahan di situ. Ketika kulirik ke dalam toko, mereka menjual payung. Maka kuputuskan untuk membeli tiga payung tambahan.

Kami membuka payung, bersiap menerobos hujan mencapai tujuan pertama, yaitu puri Ubud. Begitu memasuki gerbang puri, hujan berhenti seketika.  Di halaman puri, hanya ada dua wisatawan Jepang yang berfoto-foto. Saat menghampiri gapura yang ada di sebelah dalam, terpampang tulisan larangan masuk ke dalam istana. Aku menghampiri penjaga yang ada di dekat pintu untuk meminta izin. “Tidak bisa. Puri ini hanya untuk tamu yang menginap,” jawabnya. Dengan perasaan kecewa, kami hanya bisa berfoto-foto di halaman istana itu.

Karena penasaran, maka kucari keterangan seputaran puri atau istana ini. Dari penjelajahan di internet, didapat sepenggal data bahwa desa Ubud ini setidaknya sudah ada sejak abad ke-8 M. Hal ini bersumber dari tulisan dia atas daun lontar yang mencatat perjalanan orang suci dari India bernama Resi Markaneya. Dia melakukan perjalanan melintasi pula Jawa dan akhirnya sampai di pulau Bali untuk menyebarkan agama Hindu.

Dalam perjalanan rohani itu, sang resi mendapat pewahyuan untuk menanam lima jenis logam mulia di punggung gunung [tempat itu sekarang bernama pura agung Besakih].  Usai menunaikan tuganya, resi bersama dengan pengikutnya tertarik dengan energi dan aura yang terpancar dari sebuah tempat di kaki gunung. Tempat itu bernama Kampuhan yang berada di tempuran sungai Wos. Selanjutnya di tempat itu dibangun Pura Gunung Lebah.

Resi Markaneya tidak menetap di sana. Dia berkeliling di semua sudut pulau Bali dan membangun berbagai pura yang terkenal. Dia juga menciptakan sistem irigasi Subak dan metode sawah terasering yang masih tetap lestari hingga saat ini.

Semenjak dikunjungi resi Markaneya, Kampuhan berkembang menjadi tempat yang memiliki aura spiritual. Nama “Ubud” sendiri berasal dari kata ubad yang mengacu pada peralatan pengobatan tradisional.

Pada saat itu terjalin hubungan mesra antara pulau Jawa dengan pulau Bali. Namun pada abad ke-15 kerajaan Majapahit mulai gerah melihat banyaknya bangsawan yang eksodus ke Bali. Kedatangan mereka disambut dengan ramah oleh penguasa di kerajaan Gelgel, sebuah kerajaan baru di kawasan pantai timur.

Pada abad ke-17, banyak bermunculan kerajaan-kerajaan baru, termasuk berdirinya sejumlah istana di sekitar Ubud.  Akibatnya, pada masa ini sering terjadi konflik perbutan kekuasaan. Seorang pangeran dari kerajaan Klungkung diutus untuk membangun istana di wilayah Sukawati, yang ada di selatan Ubud. Dia membawa banyak seniman dari seluruh penjuru Bali untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Itulah sebabnya, sampai sekarang Sukawati menjadi salah satu pusat kesenian di Bali yang kaya dengan seniman-seniman.

Keberhasilan di Sukawati, mendorong sang penguasa untuk merebut wilayah Ubud pada tahun 1700-an.

***

Untuk mengobati kekecewaan, maka kami berjalan menuju ke pasar Ubud, yang ada di sebelah Selatan istana. Sebelum masuk ke pasar, aku berpesan kepada rombonganku: “Kita melihat-lihat saja di pasar ini, tidak usah berbelanja. Nanti kita akan mengunjungi tempat khusus untuk beli oleh-oleh.”

Kios-kios yang ada di depan mengingatkanku pada pasar seni Sukawati. Hampir semua barang dagangan yang dipajang adalah benda-benda souvenir untuk wisatawan. Saat masuk ke wilayah pasar yang lebih dalam, aku mengurungkan niat karena becek oleh air hujan dan terlihat kumuh.

Tidak lebih dari sepuluh menit kami ada di pasar ini. Sebelum kembali ke mobil, aku menyempatkan diri mampir ke pusat informasi turis. Tujuannya adalah mencari peta wisata. Menurut temanku, ada banyak peta yang bisa diperoleh dengan gratis di pusat informasi turis. Ternyata benar juga. Ada banyak peta yang diberikan dengan cuma-cuma karena memuat informasi tempat-tempat komersial, seperti hotel, rumah makan, klub malam, tempat wisata dll. Pasti mereka yang mengongkosi cetaknya.

Tujuan kami berikutnya adalah museum Antonio Blanco, Monkey Forrest dan Goa Gajah.

Baca Juga:

Hati Kecut di Bali

Berlibur ke Bali dengan Dana Pas-pasan

Saksikan videonya di sini:

Pasar Ubud

Puri Ubud

Share

Hati Kecut di Bali

January 24 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Hari pertama liburan di Bali, hati kami dibuat kecut karena harus membayar sangat mahal. Tujuan pertama kali adalah taman budaya “Garuda Wisnu Kencana” [GWK] yang ada di kawasan selatan pulau Bali. Ini adalah tempat tujuan wisata baru yang mengandalkan sosok patung sebagai daya tarik utama. Untuk masuk ke tempat wisata ini, setiap pengunjung wajib membeli tiket Rp. 25.000,-/orang dan Rp. 5.000,- untuk parkir mobil. Baru pertama kali masuk tempat wisata, kami sudah merogoh kocek hampir setengah juta. Wah, kalau semua tempat semahal ini, jangan-jangan hari berikutnya kami tidak pernah kemana-mana nih, batin saya.

Memasuki kompleks wisata ini, kita akan disuguhi pemandangan bukit-bukit kapur yang telah dikepras. Pikiran pertama yang terlintas di benak saya: “Apakah pembuatan tempat wisata ini tidak merusak lingkungan? Mengapa harus mengeruk bukit kapur?” Saya baru menemukan jawabannya setelah mengakses situs pengelola GWK. Kompleks wisata ini ternyata memanfaatkan bekas lokasi penambangan batu kapur yang terbengkalai.

Sebagai titik pusat GWK adalah patung Wisnu setinggi 20 meter dari tembaga yang ditempatkan di bukit tertinggi di Ungasan. Ini hanya tempat sementara sambil menunggu penyelesaian bagian-bagian yang lain. Jika semua sudah selesai, proyek raksasa ini akan menampilkan sosok Dewa Wisnu, sumber kebijaksanaan, sedang mengendarai punggung burung legenda Garuda sebagai manifestasi kesadaran menuju Amerta.
Bali

Dirancang dan dibangun oleh Nyoman Nuarta, salah satu pematung terkemuka di Indonesia, patung GWK dan bangunan pendukungnya akan berdiri setinggi 150 meter dengan bentangan sayap selebar 64 meter. Untuk membayangkan tingginya, bandingkan dengan tugu Monas (132 m). Setelah itu, bayangkanlah bahwa patung yang sudah komplit ini akan diletakkan di puncak bukit. Bayangkan betapa tingginya!

Mobil yang kami tumpangi merayap menuju puncak bukit. Dari ketinggian ini kita dapat menyasikan pemandangan menakjubkan pantai Kuta, Benoa, dan Sanur. Tempat yang diberi nama Plaza Wisnu, sesuai dengan nama patung yang diletakkan di sana, terdapat juga sebuah mata air suci bernama Parahyangan Somaka Giri. Mata air yang keluar terus menerus dari batu ini banyak dipercaya dapat menyembuhkan penyakit atau memberikan hidup yang lebih lama. Itu kalau Anda percaya.

Tepat di belakang Plaza Wisnu terdapat Plaza Garuda di mana Patung Garuda setinggi 18 meter diletakkan untuk sementara. Saat ini, Plaza Garuda menjadi titik pusat dari lorong besar yang diapit oleh pilar batu kapur yang mencakup lahan terbuka seluas 4000 meter persegi yang diberi nama Lotus Pond. Pilar batu kapur yang kolosal dan Patung Garuda yang monumental menjadikan Lotus Pond sebagai tempat yang eksotis. Dengan kapasitas ruang yang dapat menampung sampai 7000 orang, Lotus Pond telah dikenal dengan baik sebagai tempat yang sempurna untuk menyelenggarakan acara yang besar maupun acara internasional.

Setelah puas berfoto-foto dengan latar belakang patung raksasa, perhatian kami tertuju pada aktivitas di depan toko souvenir. Terlihat ada seorang seniman Bali yang sedang menggambar karikatur pengunjung. Percaya atau tidak, ternyata itu gratis. Ini adalah bagian dari servis yang diberikan kepada pengunjung. Setiap lukisan karikatur hitam putih dapat diselesaikan selama 10 menit. Selain karikatur, ada juga layanan lukisan tatto [sementara] dan cat kuku hias, yang semuanya gratis. Saya tertarik mengantri untuk dilukis karikatur. Ternyata peminatnya cukup banyak sehingga saya batal dilukis karena jam praktik seniman ini hanya sampai pukul 17.00 WITA.

Menurut rencana, setelah dari GWK ini kami akan melihat matahari terbenam di Kuta. Namun tiba-tiba mata saya tertumbuk pada tulisan spanduk: “Kecak Dance in Amphiateater, everyday at 18.30.”  Yang membuat saya berminat adalah tulisan “free” alias “gratis.” Saya berpikir, jika kami mengkhususkan diri untuk menonton pertunjukkan tari kecak di tempat lain, pasti harus keluar ongkos lagi. Maka saya menawarkan pada rombongan untuk menantikan pertunjukan itu. Namun konsekuensinya, kami batal ke Kuta untuk menyaksikan matahari terbenam. Mereka setuju dengan usulan saya.
Bali

Pertunjukkan tarian ini digelar di amphiteater, sebuah arena terbuka bergaya Yunani, yang berbentuk setengah lingkaran. Latar belakang panggung memanfaatkan dinding batu kapur yang asli. Ada hal yang menarik dari tarian yang dipentaskan malam itu. Sebagian dari penari yang tampil adalah kaum tuna rungu. Lalu bagaimana mereka bisa menyerasikan antara gerakan tubuh mereka dengan musik pengiring? Bukankah mereka tidak bisa mendengar? Rahasianya terletak pada instruktur yang ada di bawah panggung, depan mereka. Para penari tuna rungu ini melakukan gerakan sesuai dengan aba-aba yang diberikan oleh instruktur mereka.Bali

Sayangnya, pertunjukan malam itu berlangsung di bawah guyuran gerimis. Kami lupa membawa payung. Meski begitu, hal ini tak mengurangi antusias keluarga kami, khususnya anak-anak dalam menyaksikan petunjukkan yang menarik ini. Saya sebenarnya agak was-was terhadap Kirana [3,5 tahun], anak kami. Dia masih capek dalam perjalanan, dan kali ini diguyur air hujan. Namun melihat semangatnya melihat pertunjukan tersebut, saya tidak tega melarangnya berhujan-hujan. Semakin malam, guyuran hujan semakin deras, hingga akhirnya penonton tak tahan lagi. Mereka segera mencari tempat berteduh dan pertunjukan pun akhirnya berhenti sebelum waktunya.

***

Keluar dari taman budaya GWK, perut kami sudah keroncongan. Sebenarnya teman saya di Bali mengajak kami untuk makan malam di Denpasar, tapi sudah terlalu malam kalau makan malam di Denpasar. Kami memilih untuk menyantap makan malam di Jimbaran, yang terkenal dengan masakan ikan lautnya [juga terkenal karena pernah menjadi sasaran pengeboman].
Bali

Kami memesan ikan bakar, ikan goreng, cumi-cumi, udang dan kerang.  Saat menerima tagihan, sekali lagi hati kami menjadi kecut karena nilainya tiga kali lipat lebih mahal daripada tarif di “Warung makan biasa.” Tapi tak apalah. Yang penting kami mendapat  pengalaman pernah makan di Jimbaran. Pengalaman memang mahal.
Nota

Tulisan sebelumnya dapat dibaca di sini. Lihat Video di sini

Garuda Wisnu Kencana[1]Garuda Wisnu Kencana[2]:Tato Kuku Gratis

Karikatur GratisSendratari Demen [6]Sendratari Demen [8]

Share

Berlibur ke Bali dengan Dana Pas-pasan

January 23 2010Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Apa yang harus saya tulis? Semua orang sudah tahu Bali. Kalau saya mengunggah tulisan hal yang sudah diketahui orang banyak, maka tulisan saya tak lebih dari pepesan kosong. Untuk menghindari ini, maka saya mengambil angle wisatawan yang beranggaran pas-pasan. Sudah lama saya dan istri ingin berlibur ke Bali. Dengan tabungan yang terkumpul, sebenarnya bisa saja kami berlagak seperti kelas menengah ke atas. Pergi-pulang naik pesawat, menginap di hotel dan semua urusan dikerjakan oleh agen wisata. Akan tetapi kami punya niat lain. Kami ingin mengajak keluarga besar kami di Gunungkidul dan Jakarta berwisata ke Bali. Maka kami putuskan untuk melakukan perjalanan darat dan mengurus sendiri perjalanan wisata kami.

Agenda pertama yang harus dikerjakan adalah mencari mobil. Keluarga di Gunungkidul sudah ada mobil Toyota Kijang berkapasitas 8 penumpang, milik Tanto, adik ipar saya. Kami harus menyewa mobil yang berkapasitas 12 penumpang. Pilihan yang tersedia adalah Izusu Elf, Travello atau Preggio. Tarif sewanya hampir sama, kami memutuskan memilih Izusu Elf karena lebih lega dan ruang bagasi lebih banyak. Setelah bertanya-tanya ke berbagai jasa rental, ternyata ada bermacam-macam pilihan.

Pertama, hanya sewa mobil, yaitu Rp. 400-500 ribu/24 jam tergantung kondisi mobil. Sedangkan sopir dan bahan bakar disediakan sendiri. Kelebihan: Jika ada anggota keluarga bisa menyetir sendiri maka bisa menghemat ongkos dan kapasitas mobil. Kekurangan: Jika terjadi sesuatu di jalan, misalnya kecelakaan atau kerusakan, maka tanggungjawab dibebankan pada penyewa. Selain itu juga harus panjang sabar karena akan berkali-kali ditelepon oleh pemilik mobil. Semenjak maraknya pelarian mobil sewaan, penyedia jasa persewaan mobil agak paranoid. Mereka lebih sering-sering menelepon untuk mengecek apakah mobil mereka aman atau sudah berpindah tangan.
Elf

Kedua, sewa mobil dan sopir. Sedangkan bahan bakar masih tetap disediakan sendiri. Kelebihan: Jika terjadi kecelakaan atau kerusakan selama perjalanan, maka tanggungjawab ada pada sopir. Kekurangan: Harus menambah ongkos Rp. 150.000,- per hari untuk bayaran sopir. Juga harus menanggung akomodasi sopir. Selain itu, penumpang juga harus menyesuaikan diri dengan karakter sopir. Jika mendapat sopir yang berkarakter kurang baik, maka perjalanan wisata tersebut menjadi kurang menyenangkan.

Ketiga, paket all in. Harga sudah termasuk sewa mobil, bahan bakar dan sopir. Penghitungan biaya hanya didasarkan pada hitungan hari. Kelebihan: Penumpang dapat berkonsentrasi menikmati perjalanan wisata. Kekurangan: Harus bisa mengelola perjalanan sehingga ongkos yang sudah dibayarkan dapat digunakan dengan maksimal. Maksudnya begini, entah itu digunakan untuk perjalanan jauh atau perjalanan dekat, biaya yang harus dibayarkan tetap sama. Yang paling optimal memang melakukan perjalanan sejauh-jauhnya karena tidak ada risiko dalah hal ongkos bahan bakar. Meski begitu, jika memaksakan sopir terus-menerus mengendarai mobil tanpa istirahat yang memadai, tentu mengundang risiko kecelakaan. Itu sebabnya diperlukan keseimbangan antara istirahat yang cukup dengan penggunaan mobil yang optimal.

Kami memilih paket ketiga. Ketika ditanyakan pada persewaan mobil, mereka mematok Rp. 3,6 juta untuk sewa Elf+sopir+bahan bakar selama 4 hari. Kami lalu membandingkan dengan paket kedua. Hasil perhitungannya sebagai beriut:

  1. Sewa mobil 4 hari x Rp. 500.000,- = Rp. 2 juta.
  2. Honor sopir 4 hari x Rp. 150.000,- = Rp. 600 ribu.

Total Rp. 2.600.000,-

Berarti ada selisih satu juta rupiah yang merupakan biaya bahan bakar. Saya lalu bertanya kepada teman-teman, berapa biaya bahan bakar Klaten-Bali pp. Mereka memberikan kisaran Rp. 1 s/d 1,5 juta, dengan pemakaian yang wajar. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan untuk paket kedua dan ketiga, sebenarnya sama saja. Kami memilih yang ketiga dengan pertimbangan kepraktisan. Kami ingin menikmati wisata tanpa direcoki urusan transportasi.

***

Urusan transportasi sudah beres. Agenda berikutnya adalah mencari penginapan. Dari teman yang pernah berlibur ke Bali dengan naik sepeda, saya mendapat penginapan murah untuk kaum backpacker. Semalam hanya bertarif Rp. 50 ribu. Secara pribadi saya bisa menikmati menginap di kamar sederhana, namun karena saya membawa keluarga besar, maka saya berpikir ulang. Saya mencari penginapan dengan tarif standard.

Saya lalu menghubungi seorang teman yang tinggal di Bali. Saya mengenal dia melalui interaksi sebuah komunitas di internet. Meski belum pernah bertemu secara secara langsung saya memberanikan diri untuk meminta tolong mencarikan penginapan murah-meriah untuk sekeluarga. Sambutannya ternyata positif. Dia menyanggupi. Secepat unit reaksi cepat, dia menawarkan beberapa pilihan. Saya memilih rumah retret Khalwat yang dikelola romo-romo dari serikat Congregatio Dicipulorum Domini (CDD) melalui yayasan Kolese santo yusup, Denpasar. Kami menyewa sebuah rumah dengan pertimbangan semua keluarga bisa berkumpul menjadi satu dan lebih bebas bercengkerama. Jika menyewa kamar di penginapan ada kemungkinan kami mendapat kamar-kamar yang berjauhan letaknya.

“Tolong saya diberi nomor rekening untuk pembayaran uang muka,” pinta saya.

“Itu gampang, bisa dibayar kalau sudah sampai di Bali saja,” kata teman saya dengan dengan logat khas Bali.

***

Kamis [7 januari], pukul 15.00, rombongan keluarga besar dari Gunungkidul sudah sampai di rumah kami di Klaten. Mereka menumpang mobil kijang. Satu jam kemudian, mobil sewaa kami sudah datang. Tanpa menunggu lama, kami segera meluncur. Masih ada satu keluarga di Solo yang harus dijemput.

Menjelang Maghrib, diiringi hujan yang lebat dan langit yang pekat, sebanyak 21 orang memulai ekspedisi ke Bali. Petir menyambar langit kota Batik itu, seperti tangan jemari-jemari raksasa yang sedang marah.

Selepas terminal Tirtonadi, teman yang tinggal di Solo menelepon. Saya juga mengenalnya lewat internet.

“Sampai dimana?” tanyanya.

“Sekarang sedang melintasi kota Solo,” jawab saya. “Apa mau menambahi uang saku? Ini mumpung saya ada di Solo, bisa sekalian ngambil”

Dia hanya tertawa kecil.

“Rencananya mau istirahat dimana?”

“Belum tahu. Pokoknya asal perut sudah lapar atau badan sudah capek, ya istirahat saja.”

Bali

Perempuan paruh baya ini lalu merekomendasikan beberapa tempat makan. Pecel di Madiun, Rawon di Nganjuk, ayam goreng di Banyuwangi dan Negara. Namun akhirnya kami beristirahat di sebuah rumah makan di Saradan, Madiun. Tempatnya sih nyaman, tapi kualitas masakannya itu suam-suam kuku. Manis nggak, asin tidak, asem juga bukan. Gurameh asam manis yang terhidang, ternyata lebih banyak tepungnya daripada dagingnya. Mungkin menu itu lebih tepat dinamai bakwan rasa gurameh bumbu asam manis. Tapi tak apalah. Yang penting perut kenyang. Soal rasa, itu nomor dua.

Tak banyak hambatan dalam perjalanan ke Banyuwangi. Pukul setengah tujuh pagi, kami sudah sampai di pelabuhan Ketapang. Di sini justru ada sedikit hambatan. Polisi yang bertugas di pelabuhan ini memeriksa surat jalan mobil Elf. Setelah membaca sejenak, polisi meminta sopir turun dan mengajaknya ke pos polisi. Entah urusan apa yang dilakukan, tetapi 10 menit kemudian sopir sudah kembali ke mobil. Matahari Timur sudah merekah penuh saat kami menyeberangi selat Bali. Tak lupa, saya mengabarkan status perjalanan teman Bali saya.

Bali

“Kalau sudah masuk Denpasar kasih tahu ya? Pukul 10, saya akan check in ke penginapan.” Demikian pesannya.

Perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar ternyata sangat lancar. Kami melewati hutan dengan jalan meliku-liku, lalu menyusuri pantai. Menjelang kota Tabanan, terlihat banyak penjual duren.

“Mau duren, nggak?” tanya saya pada isteri lewat SMS. Padahal kami semobil.

“Mau dong, tapi kita ‘kan belum sarapan?” Jawabnya.

“Kita bawa ke mobil dan dimakan di penginapan setelah sarapan”

Dia setuju. Maka saya pun melongok keluar jendela untuk mencari penjual duren. Tapi terlambat. Sesudah itu, tidak ada lagi penjual duren yang mangkal di pinggir jalan.

Bali

Pukul sembilan, kami sudah masuk Tabanan, kabupaten yang berbatasan dengan Denpasar. “Wah, cepat sekali!” reaksi teman saya lewat telepon, setelah saya beri update posisi kami. “Kalau begitu saya segera ambil kunci ke penginapan. Rombongan pak Wawan sudah sarapan?”

Saya jawab belum.

“Kalau begitu, sebelum ke penginapan, kita cari makan dulu.”

“Apa tidak sebaiknya kami mandi dulu?”

“Kalau mandi dengan perut kosong bisa masuk angin, lho!”

Saya setuju karena perut saya memang sudah keroncongan.

“Saya menunggu di depan sekolah…..[menyebut nama sekolah]” katanya, lalu menyebut merek dan warna mobilnya.

Karena sudah hampir sampai, maka saya mengerahkan semua penumpang untuk memasang mata, mencari mobil teman saya. Meskipun ada 12 pasang mata yang melotot sepanjang jalan, ternyata mobilnya terlewat tanpa kami sadari. Kami berhenti di depan terminal bis Ubung. Saya segera menelepon temann saya itu. “Oke, tunggu saja di situ. Saya segera menyusul.”

Berselang 10 menit, mobil teman saya sudah sampai. Dia segera turun dengan ramah dan menyalami saya. Inilah pertama kali kami bertemu muka dengan muka.

“Mau makan apa? Babi guling atau nasi campur?” Saya memutuskan untuk sarapan nasi campur saja supaya bisa dihidangkan dengan cepat. Sarapan pagi yang agak kesiangan itu berlangsung singkat. Mungkin karena kami memang sudah sangat kelaparan.

Usai sarapan kami diantarkan ke penginapan di jalan Gatot Subroto barat. Tepatnya di jalan Kubu Gunung, Tegal Jaya. Jarak antara jalan utama dengan penginapan sekitar 1,5 km, melewati persawahan yang asri dan kompleks perumahan mewah. Teman saya telah memesankan sebuah rumah berarsitektur Bali yang cukup besar. Di dalamnya terdapat empat kamar tidur ber-AC, ruang tamu yang sangat lapang [bisa untuk pertemuan 50 orang], dapur yang luas dan halaman belakang yang lega. Pada kamar mandi tersedia air panas. Terdapat juga kulkas dan dispenser panas-dingin. Benar-benar pas dengan kebutuhan kami. Begitu sampai penginapan, anak-anak langsung berlarian dengan bebas. Sementara orang dewasa melemaskan otot-otot yang penat.

Di beranda rumah terjajar satu set kursi dan meja. Saya dan teman yang saya kenal lewat internet ini melanjutkan obrolan di beranda sambil menikmati suasana Bali yang cerah. Pukul tiga sore, dia berpamitan sambil menawarkan ajakan makan malam.

Hari pertama di Bali akan kami awali dengan mengunjungi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Kisah selengkapnya, nantikan tulisan berikutnya.

Tips Berwisata Murah:

  1. Jadwalkan wisata ini jauh-jauh hari. Pilih tanggal di luar musim liburan. Pada musim liburan [high season], semua penginapan dan penyedia jasa transportasi menaikkan tarifnya. Pada musim seperti ini kenyamanan akan berkurang karena harus berdesakan dengan wisatawan lain. Antrean di pelabuhan penyeberangan juga lebih panjang.
  2. Bila menyewa mobil, banding-bandingkan dulu di antara penyedia persewaan mobil. Lebih baik lagi jika mencari referensi dari teman yang pernah menggunakan jasa mereka.
  3. Untuk istirahat dalam perjalanan, biasanya sopir berhenti pada rumah makan yang memang melayani penumpang antar kota antar propinsi. Menurut pengalaman, soal rasa makanan, kita tidak dapat berharap banyak karena dimasak ala kadarnya. Namun rumah makan seperti ini bisanya menyediakan fasilitas yang lebih lengkap seperti toilet yang banyak dan bersih, mini market, dan tempat parkir yang luas. Keuntungan lainnya kita tidak perlu membayari makan untuk sopir karena sudah disediakan oleh rumah makan secara gratis [sesungguhnya tidak gratis, karena tagihan akan dibebankan kepada penumpang].
  4. Untuk memesan penginapan, sebaiknya meminta tolong teman yang di Bali. Mereka sudah mengenal tempat penginapan yang sesuai dengan anggaran kita.

Berikut ini adalah video dokumentasi perjalanan kami.

Ketapang
purnawan
Gilimanuk
purnawan
Warung Makan Saradan
purnawan

Share

Tinggal Sertaku

January 22 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Inspiratif

HenryJangan mengaku sebagai penggemar liga Inggris jika Anda tidak mengenal lagu ini. Sejak tahun 1927, bait pertama lagu yang berjudul “Abide with Me” selalu dinyanyikan menjelang pertandingan final piala F.A. Tidak jelas apa hubungan antara sepakbola dengan lagu tersebut. Yang jelas, lagu ini sangat populer di berbagai gereja, negara dan pada beberapa korps musik militer. Lagu yang disuka oleh Mahatma Gandhi ini, sering dinyanyikan dalam ibadah pemakaman. Akan tetapi ternyata juga prenah dibawakan dalam pesta pernikahan raja George VI . Juga pernikahan putrinya, yang kelak menjadi ratu bergelar Elizabeth II. Konon, ketika kapal Titanic mulai tenggelam, para pemain musik memainkan lagu ini.

Siapa pencipta lirik lagu ini? Adalah pendeta Henry Francis Lyte (1793-1847) yang menuliskannya, sekitar 3 minggu menjelang akhir hayatnya. Sudah lama tubuhnya menjadi ringkih akibat gerogotan penyakit TBC. Karena kondisi tubuh yang semakin memprihatinkan, dokter menyarankan supaya dia beristirahat dari pelayanannya dan berpindah ke wilayah yang lebih hangat. Henry Francis setuju. Dia memutuskan untuk berhenti pelayanan yang sudah dilakukan selama 54 tahun. Dia merencanakan melakukan perjalanan ke Roma, Italia.

Pada tanggal 4 September 1847, dia menyampaikan khotbah perpisahan. Henry mengambil bahan dari Lukas 24:29, yang menceritakan perjumpaan Yesus dengan dua murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus. Saat sampai tujuan, dua murid ini meminta pada Yesus: “Tinggallah bersama-sama dengan kami [Abide with us], sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”

Ayat ini begitu membekas dalam batinnya, sehingga mendorongnya untuk menulis sebuah syair:

Abide With Me

(1) Abide with me- fast falls the eventide;

The darkness deepens- Lord, with me abide;

When other helpers fail and comforts flee,

Help of the helpless, O abide with me.

(2) Swift to its close ebbs out life’s little day;

Earth’s joys grow dim, its glories pass away;

Change and decay in all around I see;

O Thou who changest not, abide with me.

(3) I need Thy presence every passing hour;

What but Thy grace can foil the tempter’s power?

Who like Thyself my guide and stay can be?

Through cloud and sunshine, O abide with me.

(4) I fear no foe, with Thee at hand to bless;

Ills have no weight and tears no bitterness;

Where is death’s sting? where, grace, thy victory?

I triumph still if Thou abide with me.

(5) Hold Thou Thy cross before my closing eyes;

Shine thru the gloom and point me to the skies;

Heaven’s morning breaks and earth’s vain shadows flee;

In life, in death, O Lord, abide with me.

Dalam Kidung Jemaat 329, Yamuger menerjemahkan sebagai berikut:

1.Tinggal sertaku; hari t’lah senja.

G’lap makin turun, Tuhan, tinggalah!

Lain pertolongan tiada kutemu:

Maha penolong, tinggal sertaku!

2.Hidupku surut, ajal mendekat,

nikmat duniawi hanyut melenyap.

Tiada yang tahan, tiada yang teguh;

Kau yang abadi tinggal sertaku!

3.Aku perlukan Dikau tiap jam;

dalam cobaan Kaulah kupegang.

Siapa penuntun yang setaraMu?

Siang dan malam tinggal sertaku!

4.Aku tak takut kar’na Kau dekat;

susah tak pahit, duka tak berat.

Kubur dan maut, di mana jayamu?

Tuhan yang bangkit tinggal sertaku!

5.B’rilah salibmu nyata di depan;

Tunjukkan jalan yang menuju t’rang.

Fajar menghalau kabut dan mendung.

Tuhan, kekal Kau tinggal sertaku.

Orang yang menghadapi kematian itu seperti musafir yang mendapati senja. Selalu saja ada kegentaran menghadapi kelam malam. Ada berbagai kemungkinan tak terduga yang dapat terjadi. Maka, satu-satunya yang dapat dilakukan adalah mencari kawan seperjalanan.  Syair yang ditulis Henry Francis Lyte ini mengandung keyakinan bahwa jika memiliki Yesus sebagai kawan seiring, maka hatinya menjadi tenang.

Henry Francis Lyte tidak bisa menuntaskan perjalanannya menuju Italia. Ketika baru sampai di Nice, Perancis, Allah memanggilnya pulang. Rupanya Allah punya rencana lebih indah. Dia menyediakan tempat yang selalu hangat bagi Henry, dimana Dia sendiri yang menjadi matahari dan kawan bagi hamba-Nya ini.

Lihat video di sini untuk melihat Sarah Brightman menyanyikan lagu “Abide withe Me” pada final piala F.A. Lihat juga video ini untuk menyaksikan London Community Gospel Choir  menyanyikan “Abide with Me” dalam  FA Cup Final di stadion Wembley pada 30 Mai 2009, Chelsea vs. Everton.

Share

Things That don’t Let You Down, Will Make You Stronger

January 21 2010Beri Komentar!

Kategori: Inspiratif

Spafford“Things that don’t make You down, will make You stronger.” Pepatah ini cocok untuk menggambarkan kehidupan Horatio Gates Spafford. Musibah yang bertubi-tubi, tak membuatnya patah semangat. Dia justru menghasilkan himne yang abadi. Anda tentu sudah sangat mengenal lagu NKB 195,” Kendati Hidupku Tenteram”, yang berjudul asli It Is Well with My Soul”. Lagu ini diangkat dari puisi yang ditulis Spafford

Horatio Gates Spafford adalah seorang pengacara sukses yang tinggal di Chicago, Amerika Serikat. Pada bulan Oktober 1871, sebuah kebakaran besar melanda kota Chicago yang meluluhlantakkan kota besar itu. Padahal Spafford baru saja berinvestasi membangun real estate di pinggiran danau Michigan. Uangnya lenyap dalam sekejap. Sebelum kebakaran ini, Spafford sudah mengalami musibah lebih dulu. Dia kehilangan anak laki-lakinya karena suatu penyakit.

Dua tahun kemudian, Spafford memutuskan untuk berlibur ke Inggris. Dia ingin membantu pelayanan Ira Sankey dan D.L. Moody, sahabatnya di sana. Namun karena ada urusan bisnis yang belum diselesaikan, maka Anna, isteri Spafford yang berangkat lebih dulu bersama keempat anak perempuan mereka. Spafford akan menyusul dengan kapal berikutnya jika urusan sudah selesai.

Anna dan anaknya menumpang kapal uap Ville du Havre. Pada tanggal 22 November 1873, ketika sedang melintasi samudera Atlantik, kapal uap ini bertabrakan dengan sebuah kapal nelayan Lochearn. Kapal penumpang itu mengalami kerusakan parah dan tenggelam hanya dalam dua jam.

Tenggelamnya kapal Ville du Havre itu memakan jiwa sebanyak 226 orang. Termasuk juga empat anak perempuan Spafford. Namun Anna, isteri Spafford, berhasil selamat dari tragedi ini. Sesampai di Inggris, Anna segera mengirim telegram kepada suaminya. Isi berita: “Hanya aku yang selamat.”

Pastor Weiss, seorang pendeta yang ikut selamat dalam kecelakaan itu mengingat perkataan Anna setelah musibah itu. Anna berkata, “Allah memberikan empat anak perempuan kepadaku. Sekarang mereka telah diambil dari padaku. Suatu saat aku bakal mengerti mengapa ini terjadi.”

Setelah menerima telegram dari Anna, Sppaford segera berlayar ke Inggris untuk menjemput isterinya. Saat kapalnya melintasi wilayah yang diperkirakan menjadi lokasi tenggelamnya kapal Ville du Havre, kaptel kapal memanggil Spafford ke ruang nahkoda. Berbagai perasaan berkecamuk di battin Sppafford saat itu.

Dia kembali ke kamarnya dan menulis surat kepada Rachel, adik iparnya. “Pada hari Kamis, kami melewati wilayah laut yang diperkirakan tempat anak-anakku tenggelam, di dasar tenggelam. Tapi aku yakin anak-anak terkasihku tidak ada di sana. Sekarang mereka direngkuh dengan aman, oleh tangan anak domba.”

Dalam kedukaan, Spafford menulis sebuah puisi. Sebuah pernyataan iman yang sangat indah.

When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well with my soul.

(Refrain:) It is well (it is well),
with my soul (with my soul),
It is well, it is well with my soul.

Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this blest assurance control,
That Christ hath regarded my helpless estate,
And hath shed His own blood for my soul.
(Refrain)

My sin, oh the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole,
Is nailed to His cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, O my soul!
(Refrain)

For me, be it Christ, be it Christ hence to live:
If Jordan above me shall roll,
No pain shall be mine, for in death as in life
Thou wilt whisper Thy peace to my soul.
(Refrain)

And Lord haste the day, when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll;
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.
(Refrain)

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Kendati hidupku tent’ram dan senang,
dan walau derita penuh,
Engkau mengajarku bersaksi tegas:
s’lamatlah, s’lamatlah jiwaku.

Reff: S’lamatlah jiwaku,
S’lamatlah, s’lamatlah jiwaku.

Kendati pun susah terus menekan
Dan iblis geram menyerbu,
Tuhanku menilik anak-Nya tetap;
S’lamatlah, s’lamatlah jiwaku.

Yesusku mengangkat di salib kejam
Dosaku dan aib sepenuh.
Hutangku dibayar dan aku lepas,
Puji Tuhan, wahai jiwaku.

Ya Tuhan, singkapkan embun yang gelap
Dapatkan seg’ra umat-Mu.
Pabila serunai berbunyi gegap,
Kuseru: S’lamatlah jiwaku!

[Terjemahan E.I. Pohan/Yamuger]

***

Spaffords mengajak Anna kembali ke Chicago. Lima tahun kemudian, pada tahun 1878, Allah mengaruniakan anak perempuan yang diberi nama Bertha. Dua tahun berikutnya, Allah mengeruniakan anak laki-laki yang diberi nama Horatio Goertner Spafford. Namun usianya hanya empat tahun. Bocah ini meninggal karena pneumonia. Spafford kemudian mendapat anak perempuan lagi, bernama Grace.

Musibah yang bertubi-tubi dialami Spafford, menimbulkan desas-desus di kalangan jemaat. “Dosa apa yang telah dilakukan oleh Spafford sehingga Tuhan menghukumnya sedemikian rupa?”Alih-alih mendapat dukungan, Spafford malah dihakimi dan dihujat oleh jemaat, yang gedung gerejanya dibangun atas sumbangan Spafford. Spafford memutuskan meninggalkan gereja itu dan kota Chicago.

Bulan Agustus 1881, Spafford bersama dengan sejumlah keluarga pergi ke Yerusalem dan menetap di sana. Di kota suci itu mereka membentuk sebuah koloni Amerika yang bertujuan menolong orang miskin. Dalam Perang Dunia I, kelompok ini melakukan peran yang penting dalam menolong para pengungsi. Dalam melakukan tugas kemanusiaan mereka tidak pilih kasih, sehingga dipercaya oleh kelompok Kristen, Muslim dan Yahudi. Kisah tentang kolonoi ini ditulis oleh novelis Swedia, Selma Lagerlöf, dengan judul “Jerusalem.” Novel ini memenangkan hadial Nobel bidang sastra.

Spafford meninggal pada 16 Oktober 1888, karena penyakit malaria dan dikuburkan di Yerusalem.

Share

Voices of Glory

January 17 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Video

Tidak biasanya saya kesasar menonton Indosiar. Setelah TPI, stasiun ini paling jarang saya tonton [Meskipun secara keseluruhan saya juga jarang menonton TV. Soalnya suguhannya jarang yang punya taste]. Iseng scanning acara yang pas, perhatian saya tersandung acara America’s Got Talents, besutan provokator America’s Idols, Simon Cowell.  Acara ini lebih dulu menggaet sukses di Inggris dengan tajuk Britains Got Talents. Salah satunya berhasil menemukan sosok Connie Talbot yang sangat fenomenal.
Voices of GloryKarena itu, saya lalu menyingkirkan remote control. Episode yang diputar malam itu adalah babak penyisihan di negara bagian Seattle. Acara ini dikemas mirip sekali dengan America’s Idol, dengan menampilkan tiga yuri yang berhak memutuskan nasib para penampil. Bedanya, dalam America’s Got Talents ini, kontestan tidak dibatasi menyanyi saja. Mereka boleh menampilkan bakat-bakat di bidang lain, seperti menari, menirukan tokoh, sulap, sirkus, akrobat, dll. Perbedaan yang lain, kontestan tidak tampil hanya di depan tiga yuri, tetapi juga di hadapan ratusan penonton. Mirip dengan Gong Show, jika penampilan kontestan benar-benar buruk, maka yuri berhak segera menghentikannya dengan menekan tombol di depannya. Dan hal ini tidak jarang dilakukan.

Sebagaimana America’s Idol, dalam kontes ini juga diikuti oleh para bonek [bondo nekad]. Dengan modal pasa-pasan, mereka rela mempermalukan diri di jaringan televisi demi cita-cita menjadi populer. Meski demikian, tak sedikit yang memang memiliki talenta luar biasa. Salah satunya adalah kelompok vokal “Voices of Glory” ini. Olah vokal yang ditampilkan tiga bersaudara ini telah memikat yuri dan seluruh penonton. Bukan hanya talenta yang berhasil memikat penonton, kisah pembentukan kelompok vokal ini telah menyentuh hati orang-orang yang mendengarnya. Bahkan Sharon Osborne pun ikut menitikkan air mata.
Beginilah kisah hidup mereka: Tiga tahun yang lalu. Felicia, ibu mereka ditabrak oleh pengemudi yang mabuk sehingga mengalami koma selama 8 bulan. Selama koma, Micahel Sr mendorong anak-anaknya supaya menyenandungkan lagu “song of Sion” untuk menyemangati ibu mereka. Ternyata sang ibu memberikan reaksi positif atas nyanyian itu. Hingga akhirnya, Felicia pulih dari komanya.
Kini, tiga bersaudara itu, membentuk kelompok vokal “Voice Glory” yang terdiri dari Michael II [16 tahun], Avery [13 tahun] dan Nadia [9 tahun]. Di hadapan tiga yuri dan ratusan penonton, mereka menyanyikan lagu “God Bless America” dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Di akhir lagu, semua penonton dan yuri memberikan standing ovation, sebuah penghormatan tertinggi untuk sebuah penampilan. Moment yang membuat merinding.
Selanjutnya, ketika keputusan yuri hendak diumumkan, sang ibu yang duduk di kursi roda dihadirkan ke tengah panggung. Kelihatannya memang sudah dirancang untuk menciptakan efek dramatis. Dan tentu saja, semua yuri sepakat untuk meloloskan kelompok ini ke babak berikutnya. Penonton bergemuruh menyambutnya, dan berakhirlah acara itu. Klimaks yang pas.
Selama ini kita menyangka bahwa Amerika adalah bangsa yang indvidualis. Namun pada tayangan itu, kita menyaksikan bagaimana nilai-nilai kerukunan di dalam keluarga tetap mendapat tempat yang tinggi dalam sistem nilai di Amerika. Kasih sayang anak-anak yang dicurahkan pada ibu mereka telah menyentuh nurani jutaan penonton Amerika. Dalam situasi apa pun, kapan pun dan di mana pun, keluarga tetap menjadi unit sosial yang sangat penting. Ini pelajaran yang saya petik malam itu.
Untuk melihat preview penampilan mereka dalam acara tersebut, dapat dilihat di sini.

Share

Petunjuk Penggunaan Easy Worship

January 17 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi

Pengantar

Easyworship [EW] adalah sebuah program penampil syair lagu untuk keperluan kebaktian. Ada tiga komponen yang paling penting dalam EW, yaitu syair [teks], gambar [image] dan video. Ketiganya disimpan di dalam database EW. Dengan memiliki database yang lengkap, maka tampilan EW dapat dibuat dengan mudah dan cepat karena cukup memilih dan mengurutkan syair lagu yang sudah tersimpan dalam database. Urut-urutan lagu ini disebut schedulle.

Keunikan EW yang lain adalah penggunaan sistem monitor ganda yang berbeda. Hal ini berbeda dengan Powerpoint. Ketika menggunakan powerpoint, kita akan melihat bahwa tampilan yang ada di layar komputer operator sama persis dengan tampilan layar proyeksi. Akan tetapi, di dalam EW, tampilan layar komputer operator berbeda dengan layar proyeksi.  Layar komputer operator menampilkan berbagai control panel untuk mengatur tampilan, sementara layar proyeksi hanya menampilkan hasil dari pengaturan tampilan tersebut.

Antar Muka EW

Saat menggunakan EW, maka kita akan melihat tampilan layar sebagai berikut:
Screenshoot

Toolbar: adalah alat-alat dasar yang dimiliki oleh EW. Berikut ini toolbar yang perlu diketahui oleh operator:

New: Untuk membuat schedulle baru

Open: Untuk membuka dokumen schedulle yang sudah dibuat

Save: Untuk menyimpan schedule

New Song: Membuat lirik/syair baru

Edit Song: Mengubah lirik/syair yang sudah dibuat.

Schedulle: adalah urut-urutan lagu yang akan ditampilkan

Preview: Jika Anda mengklik salah satu lagu pada schedulle, maka lagu tersebut akan ditampilkan pada layar pratayang [preview] di bagian tengah. Ada dua bagian. Bagian atas menampilkan syair secara keseluruhan, biasanya terdiri dari beberapa bait dan refrein. Jika Anda mengeklik salah satu bait, maka akan ditampilkan pada layar di bawahnya, lengkap dengan backgroundnya.

Tombol tayang: Lagu yang ada di layar preview belum dapat dilihat di layar proyeksi. Supaya bisa dilihat oleh jemaat, maka Anda harus mengeklik tombol “Go Live.” Pada saat itu, isi syair tersebut akan ditampilkan pada layar tayang [Output View] yang ada di sebelah kanan.

Output View: adalah layar yang menampilkan syair lagu yang sedang dilihat oleh jemaat. Layar ini mirip sekali dengan Preview. Pada bagian atas, ditampilkan syair lagu secara keseleuruhan yang dibagi dalam beberapa bait dan refrein. Jika Anda mengeklik bait tertentu, maka hasilnya akan ditampilkan pada layar di bawahnya, lengkap dengan background. Berbeda dengan preview, pada layar output ini tampilan syair lagu dan backgroundnya akan dapat dilihat oleh jemaat.

Clear: Tombol untuk menyembunyikan syair lagu.

Black: Tombol untuk menampilkan layar hitam

Petunjuk untuk Operator

  1. Datanglah 30 menit sebelum ibadah dimulai karena Pemimpin Nyanyian Kebaktian [PNK] kadang harus mengajarkan lagu baru kepada jemaat.
  2. Hidupkan komputer
  3. Nyalakan LCD Proyektor
  4. Klik ikon EW yang ada di dekstop yang bertuliskan tanggal kebaktian hari itu. Misalnya “17 Januari 2010″
    Screenshoot

  1. Setelah masuk pada program EW, klik schedulle yang ada di bagian teratas, lalu klik Go Live.
  2. Setelah itu, klik urut-urutan lagu, sesuai dengan lagu yang sedang dinyanyikan oleh jemaat.
  3. Jaga konsentrasi, jangan sampai ketinggalan mengklik syair yang seharusnya dinyanyikan oleh jemaat. Lebih baik sedikit mendahului jemaat, daripada ketinggalan. Contohnya: Saat musik masih memainkan intro, sebaiknya sudah ditampilkan bait pertama supaya jemaat segera tahu lagu apa yang akan dinyanyikan.
  4. Saat nyanyian jemaat menjelang baris terakhir, segeralah pindah ke bait atau refrein meskipun jemaat belum selesai menyanyikannya. Jangan khawatir, mereka sudah membaca dan masih mengingat syair terakhir.
  5. Perhatikan aba-aba dari PNK. Kadang-kadang mereka mengajak jemaat mengulang lagi syair/bait tertentu. Ikuti saja aba-aba mereka. Biasanya ini dilakukan pada saat lagu persembahan.
  6. Saat musik sedang memainkan interlude, Anda dapat mengeklik “Clear” untuk menyembunyikan syair untuk sesaat.
  7. Saat khotbah, jika pengkhotbah tidak menampilkan poin-poin materi khotbah, klik tombol “black
  8. Jika pemusik tidak memainkan lagu atau terlambat datang, Anda perlu memutar lagu-lagu yang menghantarkan jemaat memasuki suasana kebaktian. Pakailah program Winamp.  Saat memutar lagu, tidak perlu keluar dari EW, cukup dengan mengeklik tombol minimize.
  9. Screenshoot

  10. Selesai kebaktian, berikut urut-urutan yang perlu dilakukan:
    1. Mematikan proyektor LCD menggunakan remote controll
    2. Mematikan komputer dengan benar.
    3. Mematikan tombol power
    4. Mengunci lemari penyimpan komputer
    5. Mematikan tombol power LCD proyektor di samping mixer
    6. Ikut doa penutupan bersama petugas ibadah yang lain.

SELAMAT MELAYANI
Screenshoot

Share

Garuda Wisnu Kencana

January 13 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto

Bali

Pukul 10 pagi sampai di Bali, langsung sarapan nasi campur
Bali
Sore hari, mengunjungi patung Garuda Wisnu Kencana

Bali

berpose di depan kepala burung garuda

Bali

Penari tuna rungu beraksi di amphiteater GWK

Bali
Bali
Bali

Kirana, eyang utinya dan tante Citra

Share

Sireng-sireng ke Bali

January 13 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto, Jurnal

Bali
Berdoa sebelum berangkat dipimpin oleh Bapak
Bali
Istirahat makan malam di Saradan, Madiun

Bali

Menyeberang ke Bali pukul 7 pagi

Bali
Di atas kapal penyeberangan

Bali
Bali
Bali
Bali

Share
RewriteEngine On RewriteBase / RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d RewriteRule . /index.php [L]