Sebuah Kebenaran yang Meruntuhkan Kekaisaran

February 22 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Setelah Passion of Christ, kira-kira film apa lagi yang cocok ditonton untuk membantu menghayati penderitaan Kristus pada masa pra Paskah ini? Meski tidak menceritakan Yesus di dalam plot utama, namun film “The Final Inquiry” ini perlu Anda pertimbangkan untuk ditonton.

Film ini mengambil setting tiga tahun setelah kematian Yesus. Pada saat itu beredar rumor bahwa pengikut Guru yang bangkit dari kematian itu sedang menyiapkan pemberontakan terhadap kekaisaran Romawi.  Kaisar Tiberius (Max von Sydow ) yang mengasingkan diri di pulau Capri memutuskan untuk menyelidiki kebenaran rumor ini. Maka dia memanggil jenderal perangnya, Titus Valerius Toros (Daniele Liotti) yang sedang diasingkan ke negeri Jerman.   Titus pulang sambil membawa Braxus (Dolph Lundgren), orang Jerman yang ditaklukannya sebagai budak.

Titus mendapat tugas menyelidiki kebangkitan Yesus. Dia diangkat sebagai utusan khusus dan harus melapor langsung kepada kaisar. Ditemani oleh Braxus, Titus segera berlayar ke wilayah Yudea di Yerusalem. Begitu mendarat di kota suci itu, hambatan pertama sudah menghadang. Penghubungnya yang ada di Yudea dibunuh oleh ekstremis Yahudi. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, sang penghubung memberikan petunjuk yang mengarah ke bekas rumah Yudas Iskariot. Saat ditelusur ke sana, pemilik rumahnya tidak banyak memberikan informasi yang berharga.

Kembali ke Yerusalem, secara tidak sengaja Titus bertemu dengan Tabitha (Mónica Cruz), seorang perempuan belia yang dijodohkan dengan Rabi Yahudi. Titus yang masih lajang langsung terpesona kecantikan Tabitha pada pandangan pertama. Saat itu, Tabita baru saja menghadiri pertemuan rahasia dengan orang Kristen yang dipimpin oleh Stefanus.

Sebenarnya Titus ingin melakukan penyelikan dengan diam-diam, tapi keberadaannya di Yerusalem tercium oleh Pontius Pilatus. Meskipun menikahi Claudia, adik kaisar Tiberius, namun Pontius Pilatus berusaha menjaga jarak dengan kaisar Tiberius. Maka ketika mengetahui ada utusan Kaisar yang diam-diam melakukan penyelidikan di wilayahnya, Pilatus merasa jengkel dan menjadi paranoid. Meski begitu, dia tidak menunjukkan secara terang-terangan. Sebagaimana kaum politisi, Pilatus berpura-pura ramah. Dia mengundang Titus untuk menghadiri perjamuan makan di istananya.

Namun sesungguhnya Pilatus menginginkan Titus segera pergi dari wilayahnya. Untuk itu, dia melakukan serangkaian upaya untuk meyakinkan Titus bahwa kematian yesus tidak lebih dari kematian kriminal lainnya. Pilatus melakukan rekayasa dengan memalsukan jenazah Yesus dan berusaha membunuh Titus dengan menyewa gladiator. Dia juga bersengkokol dengan pemuka agama Yahudi dengan menaruh racun di gelas Titus. Namun semuanya nihil.

Di sela-sela kerja keras mengungkapkan misteri ini, benih cinta mulai bersemi di hati Titus. Dia kasmaran pada Tabita. Dan cintanya ini ternyata tak bertepuk sebelah tangan meski mendapat tentangan dari ayah Tabita (F. Murray Abraham). Kedua sejoli ini lalu memutuskan untuk kawin lari, tetapi terlanjur diketahui sang ayah yang sangat murka. Dengan kalap, kepala Tabita dipukulnya dengan kayu sehingga terluka parah dan nyaris mati. Dalam kondisi tubuh yang sangat lemah, Tabita ingin didoakan oleh orang Kristen. Pada mulanya, permintaannya ditentang oleh ayahnya yang pemuka agama Yahudi. Namun mengingat mungkin itu permintaan terakhir Tabita, maka ayahnya mengizinkan Titus pergi ke Galilea untuk menemui komunitas Kristen di sana.

Di Galilea, Titus bertemu dengan Maria,–ibu Yesus–, Maria Magdalena dan Petrus. Titus memohon kepada Petrus supaya mau pergi ke Yerusalem untuk mendoakan Tabita. Dengan berat hati Petrus menolak permintaan itu karena di Yerusalem sedang ada penganiayaan terhadap orang Kristen. Dengan perasaaan kecewa Titus pulang ke Yerusalem dengan ditemani Braxus. Di tengah jalan mereka diserang suku yang tinggal di padang pasir. Braxus tewas demi menyelamatkan Titus.

***

Film ini adalah pembuatan ulang dari film berjudul L’Inchiesta, yang dibintangi Keith Carradine dan Harvey Keitel, tahun 1986. Ada sejumlah aktor tenar yang bermain di sini seperti pemenang piala Oscar F. Murray Abraham, Dolph Lundgren dan nominator Oscar Max von Sydow. Sayangnya, sutradara tidak berhasil memaksimalkan kemampuan bermain peran masing-masing aktor. Sebagai contoh, akting yang diperlihatkan Murray Abraham ketika menghajar anak perempuannya bahkan hampir seperti aktor kemarin sore.

Adegan pertempuran juga tidak digarap dengan serius sehingga penonton tidak larut dalam ketegangan. Dolph Lundgren yang dikenal sebagai aktor laga hanya terlihat mengayun-ayunkan kapak yang terbuat dari bahan lunak. Demikian juga pedang dan senjata-senjata yang digunakan tidak ubahnya properti yang digunakan pada acara komedi Opera van Java. Terlihat sekali kepalsuannya.

Anak-anak sebaiknya tidak menonton film ini karena menampilkan gambar darah dan mayat secara lugas. Sebagai contoh diperlihatkan adegan tentara Romawi yang sedang menusuk lambung Yesus. Darah bercampur air itu muncrat dari lambung-Nya. Meskipun Alkitab mencatat demikian, namun tentunya tidak harus divisualkan begitu jelas dan ;ugas. Demikian juga ketika sesosok mayat yang sudah menghitam ditampilkan. Hal ini dapat menimbulkan kengerian yang tak perlu di benak penonton.

Film yang berdurasi 90 menit ini aslinya bukan film untuk versi layar lebar. Film ini merupakan hasil pemampatan dari serial televisi berdurasi 200 menit yang diputar di Spanyol dan Italia. Maka bisa dipahami jika irama penceritaan agak tersendat-sendat, transisi antar scene terasa kurang mulus dan ada bagian tertentu yang tidak nyambung. Misalnya pada bagian akhir film tiba-tiba muncul tokoh Caligula yang licik. Ada kemungkinan pada versi aslinya memang terdapat sub plot tentang Caligula ini, namun sengaja dipotong dalam versi pendek ini.

Di luar semua kekurangan itu, tema yang diangkut dalam film ini cukup unik dan menarik. Film yang dibuat oleh televisi Italia ini meneropong kisah kematian Yesus dari kacamata bangsa Italia [kekaisaran Romawi]. Di dalam penyelidikannya, Titus mengunjungi tempat-tempat yang disebutkan dalam Alkitab. Dia mendaki ke Golgota, menemui Stefanus di penjara, dan pergi ke Betania untuk mengecek makam Lazarus. Dia ingin menelisik kemungkinan adanya unsur subversi di balik penyaliban dan kebangkitan Yesus.

Titus lalu menulis laporan pada kaisar Tiberius. Dia mengaku gagal menjalankan misinya. Meski begitu, Titus mengungkapkan bangkitnya sebuah kekuatan baru yang dapat menciptakan sebuah kerajaan baru. Jika kekaisaran Romawi memerintah dengan landasan ketakutan, maka kerajaan baru ini akan memerintah dengan kekuatan cinta.

Tiberius yang sekarat berhasil diyakinkan oleh Titus. Dia lalu mengeluarkan dekrit untuk mengangkat agama Kristen sebagai agama negara. Namun sesaat setelah dekrit dikeluarkan, kaisar Tiberius dibunuh oleh Caligula yang kemudian mengangkat dirinya sebagai kaisar yang baru. Tindakan pertama Caligula sebagai kaisar adalah membatalkan dekrit Tiberius dan memberikan hukuman mati terhadap Titus. Selamatkah Titus? Apakah Tabitha bertahan hidup? Apakah mereka bisa hidup bersama? Tak elok rasanya jika saya menuliskan di sini. Silakan tonton sendiri filmnya.

Thrillernya dapat dilihat di sini

Share

Coretan Kirana [2]

March 7 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto

Photobucket

Happy Family
Photobucket

Wajah siapa hayo?

Photobucket

Totem Jawa

Photobucket

Berbagai wajah

Beast

Beauty and the beast

Bola-bola

Bola-bola

Photobucket

Matahari

Photobucket

Raksasa

Share

Hati-hati Penipuan via Obrolan Facebook

February 27 2010Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Catatan Pribadi

http://www.surfersam.com

Fasilitas mengobrol [chatting] yang ditambahkan pada facebook, semakin memperkokoh posisinya ini sebagai situs jejaring sosial.  Akan tetapi sebagaimana sebuah fungsi yang selalu dibuntuti oleh disfungsi, ternyata tersimpan penyimpangan di balik fungsi obrolan. Inilah yang kualami: nyaris menjadi korban penipuan.

Ceritanya begini: Aku punya kebiasaan mengakses facebook pada dini hari sembari menyelesaikan pekerjaan atau menunggu siaran langsung sepakbola. Seperti biasa, beberapa teman mengajak chatting, mengobrolkan hal yang ringan-ringan. Kadang, membicarakan soal pekerjaan dan pelayanan juga. Lalu, “pop!”. Pukul 1:28, muncul pesan baru dari teman. Sebut saja namanya D. Dia adalah teman kuliahku dan seangkatan. Jadi kami cukup saling mengenal.

Berikut kutipan percakapan kami:

D: ‘dmn neih’
Purnawan: ‘Di rumah. Klaten’
D: ‘kris gw bisa minta tolong ga’
Purnawan: ‘Apa yg bisa kubantu?’
D: ‘lagi megang uang ga 600rb d atm?’

[Sampai di sini, aku sudah mulai curiga. Ada banyak penipuan yang menggunakan fasilitas transfer ATM. Apalagi dia menyapaku dengan panggilan "Kris". D tidak pernah memanggilku dengan nama itu.]

Purnawan: ‘Kenapa emangnya?’
D: ‘anak ku sakit,,aku mau bawa ke dokter.
atm ku kan ilang belum aku urus jadi ga bisa tarik uang jam segini’

[Nah benar 'kan. Ini sih lagu lama]
Purnawan: ‘Sakit dimana?’

[Aku mulai menguji, apakah orang ini memang D atau bukan. Saat ini D bertugas di Medan].
D: ‘nah ini aku minjem atm tetanggga d medan bisa ga aku pinjem besok aku pasti kebaliin’

[Bah, dia menjawab dengan benar. Tapi aku belum percaya begitu saja. D yang kukenal itu memiliki pekerjaan yang lumayan baik. Bagi dia, uang 600 ribu hanyalah 'recehan.' Dalam situasi paling apes sekali pun, dia pasti memegang uang dalam jumlah itu.]
Purnawan: Transfer kemana?

[Aku terus mengorek informasi. Aku pura-pura percaya supaya dia tidak curiga dan menutup chat].
D: bni,
tolong DEMI ALAH besok aku ganti..
anak ku sakit panas.

[Sialan, dia membawa-bawa nama Tuhan segala].
Purnawan: ‘A.N Siapa?’
D: ‘Lxx Sxmxmxra. Gmn?’

[Bingo!]

Purnawan: ‘Aku tanya dulu, boleh?’
D: ‘tanya ke siapa?’
Purnawan: ‘Tanya ke kamu’

[Aku ingin menguji orang ini apakah D atau bukan dengan mengajukan pertanyaan yang hanya bisa diketahui oleh D yang asli dan teman-teman seangkatanku].
D: ‘apa?’
Purnawan: ‘Siapa ketua angkatan kita?’

D: ‘ya kamu lah’

[Wrong answer, tapi aku berpura-pura membenarkan jawabannya].
Purnawan: ‘Oke. Siapa ketua jurusan kita?’

D: ‘wan,gw lupa ..anak gw udah nangis. Yawdah kalo ga percaya ga pa2′

[Aku mengajukan pertanyaan kedua yang sangat sederhana. Sekali lagi jawabannya salah. D yang asli tak mungkin lupa kecuali kalau dia menderita amnesia berat. Namun pada deti ini, saya menjadi bimbang karena dia menyebut nama panggilanku dengan benar. Benarkah dia adalah D yang asli? Bagaimana kalau dia benar-benar butuh uang?].
Purnawan: Oke nggak apa-apa
No rekeningnya berapa?’
D: ’serius ga?
0131468xxx
an Lxx Sxmxmora
gw mw langsung k dokter’
Purnawan: ‘Oke tunggu. Aku ke ATM dulu.’

[Aku berbohong lagi]
D: ‘bni
makasih wan…
berapa lama kira2
wan?
berapa lama?’
Purnawan:  ’Belum tahu. Aku harus memastikan bahwa ini benar-benar D. D yang aku kenal bukan seperti ini. Bye’

Akhirnya aku meneguhkan hati untuk menolak permintaannya dengan risiko jika itu memang D yang asli, maka aku akan merusak hubungan pertemanan. Namun biarlah pertemanan itu diuji dalam situasi seperti ini. Apa yang terjadi kemudian? Setelah aku cek beberapa menit kemudian, aku dihapus dari friendlist D. Aku menduga dua hal: Jika itu memang David yang asli, maka dia marah karena tidak aku pinjami uang. Atau jika itu D palsu, maka dia sengaja menghapus jejaknya.

Dinihari itu juga aku segera mengirimkan pesan ke milis angkatanku untuk mengecek kebenarannya. Setelah itu berangkat tidur.

***

Paginya, dengan perasan deg-degan, aku membuka email dan mendapati pesan dari D. Dia mengabarkan bahwa ada orang yang telah meretas akun email utamanya. Akibatnya, semua akun yang menggunakan email ini ikut-ikutan dibobol, termasuk akunnnya di Facebook. Dia tidak bisa log in ke akunnya di FB karena diubah oleh sang cracker ini.

Ternyata saya bukan satu-satunya orang yang pernah dicoba ditipunya. Beberapa teman seangkatan kemudian mengaku pernah mendapat pesan yang sama. Rupanya sang pelaku ini mengawasi teman-teman D yang sedang on line, kemudian mengajaknya mengobrol dengan menyaru D. Dari laporan teman-temannya, D sudah mendata setidaknya ada empat nomor rekening yang digunakan oleh si penipu ini.

***

Meski ada kemungkinan disalahgunakan, bukan berarti kita harus mengharamkan facebook.  Yang perlu kita lakukan adalah bersikap kritis dan waspada, namun tidak menjadi paranoid. Lakukan cek dan ricek secara elegan sehingga tidak menyakiti orang tersebut jika ternyata nanti terbukti orang itu berkata jujur.

Ketika dia menyudutkan kita pada situasi yang tak punya pilihan, maka kita harus semakin curiga. Sang pelaku memilih beroperasi pada malam hari bukan tanpa alasan. Dia ingin membangun situasi yang genting: Malam-malam, ATM hilang, anak sakit. Maka karena merasa kasihan, biasanya sang calon korban menjadi lengah dan mudah kasihan. Apalagi jumlah yang dimintanya juga “tak seberapa.” Pelaku memang sengaja tidak meminta dalam jumlah banyak supaya sang calon korban tak berpikir lama-lama untuk mentransfer uang. “Toh hanya 600 ribu. Kalau memang ini penipuan, aku tidak kehilangan banyak,” demikian kondisi psikologis calon korban. Uang sejumlah 600 ribu memang “relatif sedikit”, tapi jika ada 10 orang yang menjadi korban, maka sang pelaku mendapat 6 juta!

Gunakan fasilitas chatting untuk obrolan ringan saja. Untuk topik yang lebih konfidensial pilih jalur yang lebih aman. Misalnya menggunakan email yang terinskripsi.

Selain itu, kita juga perlu mencegah peretasan [pembobolan] terhadap akun kita. Berikut kiat-kiatnya:

1. Buat kata sandi yang rumit sehingga tidak mudah ditebak. Yang paling baik adalah kombinasi antara huruf dan angka. Misalnya “pjdh657gh”. Jangan gunakan nomor telepon, handphone atau alamat Anda karena ini mudah ditebak.

2. Sering-seringlah mengubah kata sandi secara berkala.

3. Jika menggunakan komputer orang lain atau mengakses dari warnet, Anda wajib log out sebelum pergi. Bersihkan cookies dan periksa fasilitas penyimpan password pada perambah [browser] yang Anda gunakan.

4. Isilah email sekunder pada pengaturan FB. Ini untuk mengantisipasi jika email utama Anda diretas, maka Anda masih bisa menggunakan email cadangan ini.

5. Untuk kepentingan pendaftaran berbagai situs gratisan, semacam FB, twitter atau plurk, sebaiknya tidak menggunakan email utama. Buatlah email baru untuk setiap pendaftaran. Dengan demikian, jika salah satu email diretas, maka tidak akan mempengaruhi akun yang lain. Memang cara ini agak ribet, tetapi lebih aman.

Oh, ya…teman saya mengusulkan satu tips lagi. Sebaiknya Anda memiliki “keyword” atau kata-kata kunci yang hanya diketahui oleh Anda dan teman-teman Anda. Jika Anda curiga pada identitas akun tertentu, keyword ini dapat dimamfaatkan untuk memverifikasi kebenaran identitas akun tersebut. Semoga bermanfaat.

Share

Peta Kirana

February 26 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto

Suatu siang , kami kedatangan tamu yaitu hamba Tuhan dari Gresik. Mereka sedang mencari keluarga yang pernah menjadi anggota jemaatnya dan sekarang pindah ke kota kami.
Kami memberikan nomor handphone keluarga tersebut, namun nampaknya nomornya sudah ganti.  Tamu kami lalu memutuskan untuk langsung mengunjungi keluarga itu saja. Untuk mempermudah pencarian, maka isteriku menggambar denah arah menuju rumah keluarga itu di atas selembar kertas.
***
Sorenya, Kirana mengajakku main ke toko buku. Sebenarnya aku senang karena Kirana sekarang lebih senang mengajak main ke toko buku daripada ke mal. Akan tetapi saat itu, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.  “Nanti malam saja ya,” jawabku.
“Kalau nanti malam, tokonya keburu tutup Pa. Ayolah, kita ke sana sekarang,” desaknya sambil menari-narik tanganku.
“Oke, Papa menyelesaikan pekerjaan dulu,” kataku. “Pakai jaketmu dulu!”
Kirana lalu pergi.
Selesai mematikan laptop, aku segera mengeluarkan sepeda motor dan bersiap pergi. Tapi Kirana justru tidak muncul-muncul juga. Mulai tak sabar, aku masuk ke rumah lagi dan mendapati Kirana sedang corat-coret di atas selembar kertas HVS.

Corat coret

“Kamu gimana sih? Tadi buru-buru mengajak Papa ke toko buku, sekarang malah nggambar-nggambar,” kataku jengkel.
“Kirana sedang menggambar peta Pa,” jawabnya sambil mengangkat kertas. “Nanti kalau ke toko buku kita lewat jalan ini ya,” lanjutnya sambil menyerahkan “peta” buatannya.
Aku terrdiam sesaat dan memeluk tubuhnya. “Maafkan, papamu telah salah sangka.”
***
Rupanya ketika mamanya menggambar denah untuk tamu, Kirana mengamati lalu menirunya.  Anak-anak belajar dengan berbagai cara, bahkan ada yang tak terduga oleh orangtua.

Share

Korban Fitnah Intip

February 23 2010Beri Komentar!

Kategori: Catatan Pribadi, Humor

Prasangka itu bak pedang bermata dua. Di sisi baik, prasangka memudahkan kita dalam memandang sesuatu. Karena sudah mengenali pola-pola di masa lampau, maka kita dapat langsung dapat melakukan tindakan antisipasi tanpa perlu melakukan analisis yang njlimet lagi. Sebagai contoh, kalau ada pemuda yang menyanyi di depan rumah sambil memetik gitar, kita dapat langsung berprasangka orang itu hendak mengamen. Tanpa perlu menyelediki lagi tujuan dia melakukan itu, kita dapat langsung melakukan tindakan lain: Memberi uang receh.

Akan tetapi simplifikasi yang berlebihan dapat mengarah pada fitnah. Ini sisi buruk dari prasangka. Kita dapat terjebak dalam pusaran arus generalisasi. “Kalau dia biasanya begitu, maka dia akan selamanya begitu,” demikian prinsipnya tanpa menyadari bahwa manusia itu dapat berubah;juga tidak menyadari adanya faktor determinan lainnya.

***

Suatu saat, bersama dengan teman-teman sekantor menghadiri pesta pernikahan relasi di kota Solo. Kami berangkat menggunakan mobil pinjaman dari kantor. Pagi-pagi benar kami berangkat dari Yogyakarta menyusuri jalan yang masih lengang.

Separo perjalanan, tiba-tiba “Gubrak!!” Terdengar suara di arah belakang mobil. Spontan kami menoleh dan melihat ban mobil yang menggelinding di jalan. Ternyata itu ban cadangan mobil kami yang terlepas dari tempatnya. Untung saja di tidak ada kendaraan lain yang sedang membuntuti mobil kami.

Rupanya mur pengunci ban cadangan itu hilang sehingga ban terlepas. Kami berhenti sejenak untuk mengangkat ban serep ke wadahnya. Timbul persoalan, karena mur pengunci telah hilang, bagaimana cara mengamankan ban ini. Setelah celingak-celinguk, kami melihat ada pekerja yang sedang membangun sebuah rumah. Kami lalu meminta seutas kawat bendrat untuk mengikat wadah ban.

Usai mengikuti acara kondangan, kami pergi ke pasar Klewer untuk mencari oleh-oleh. Selain memborong batik, kami juga membeli intip atau kerak nasi goreng yang dibaluri gula jawa cair.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba tercium bau kentut. Wah tak salah lagi. Kami langsung menuduh salah satu rekan kerja kami. Di kantor memang dikenal sering  kentut. Entah karena perutnya kembung atau memang tidak dapat menahan kentut. Maka tanpa harus bermusyawarah, secara serempak kami langsung menuding sang ‘oknum’ itu.

Spontan teman kami menolak tuduhan itu. Dia bersikeras tidak kentut di dalam mobil yang ber-AC. kalau begitu siapa yang kentut? Faktanya baunya tercium oleh semua orang.

Usut punya usut, ternyata bau itu berasal dari intip goreng yang kami bawa masuk ke dalam mobil. Jika dibuka dan dimakan, intip goreng ini memang menimbulkan aroma serupa kentut. Menyadari hal ini, kami segera meminta maaf kepada teman yang terlanjur terfitnah gara-gara prasangka kolektif kami.

Video penjual intip goreng dapat dilihat di sini

Share

Masak Air, Gosong

February 22 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto, Humor

“Jangankan masak mie instan, masak air saja gosong ‘kok.” Inilah ucapan yang biasa dilontarkan untuk meledek orang yang tidak becus memasak. Namun ini benar-benar saya alami, memasak air sampai gosong!

Tutik dan Nur

Ceritanya begini: Waktu itu saya masih menjadi doktor alias mondok di kantor. Bersama dengan beberapa teman aktivis, kami tidur di kantor sebuah lembaga LSM. Selain untuk menghemat biaya, juga sekaligus sebagai penjaga malam kantor tersebut.

Pagi itu, saya bangun lebih awal karena harus melakukan liputan ke luar kota, tepatnya ke Kopeng, Salatiga. Seperti biasa, saya memasak air panas dulu untuk membuat minuman teh. Namun saat sampai di dapur, ternyata ceret sudah bertengger di atas kompor dengan asap mengepul. “Hmmm…lumayan, tidak perlu menunggu lama untuk menikmati segelas teh panas,” batin saya. Saya menduga Joko Susilo, teman sekamar saya, yang memasak air. Dia biasanya bangun lebih pagi untuk shollat subuh. “Setelah shollat, dia pasti memasak air,” batinku sambil mengambil poci dan teh di rak atas.
Akan tetapi ketika menghampiri ceret itu, astaga! Terlihat asap hitam mengepul dari dalam ceret itu. Aku buru-buru mematikan kompor dan membangunkan Joko yang masih tidur. Usut punya usut, ternyata asap hitam itu berasal dari karet pada tutup ceret yang meleleh. Mengapa bisa sampai begitu? Ceret itu semalaman nangkring di atas kompor menyala. Rupanya, semalam Joko memasak air namun dia lupa dan ketiduran sampai pagi. Karena dijerang selama berjam-jam, ceret menjadi sangat panas sehingga air dalamnya menguap habis dan melelehkan karet pada tutupnya.
Untunglah, tidak sampai terjadi kebakaran. Kami lalu mengganti karet tutup ceret dengan mencopot karet pada penutup panci yang tidak digunakan. Setelah itu bersiap untuk bekerja.
***
Lucunya, sore harinya terjadi kejadian yang serupa terhadap ceret itu. Seorang aktivis perempuan juga kelupaan telah memasak air sehingga karet pada tutup ceret itu meleleh lagi. Mungkin hari itu adalah hari yang sial bagi sang ceret.
Share

[Bukan] Resep Mak Erot

February 22 2010Beri Komentar!

Kategori: Humor

PERINGATAN: Kisah ini agak vulgar namun benar-benar terjadi. Jika Anda berhati lembut, sebaiknya tidak membaca tulisan ini!
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Share

Sok Kenal, Sok Dekat [SKSD]

February 21 2010Beri Komentar!

Kategori: Humor

Kata orang, wartawan yang baik itu harusnya hasil blasteran antara ilmuwan dan diplomat. Maksudnya, wartawan itu harus memiliki otak yang berpikir kritis seperti ilmuwan. Setiap informasi tidak ditelan mentah-mentah tetapi diverfikasi, diuji dan diperiksa kebenarannya. Di sisi lain, meski bersikap kritis [bahkan kadang skeptis], tapi wartawan harus mahir menjalin hubungan pribadi dengan narasumber, luwes dalam pergaulan dan tidak boleh malu-malu. Akan tetapi kalau terlalu sok kenal dan sok dekat juga dapat membuat malu. Inilah yang saya alami. Begini ceritanya.
Waktu itu, kami akan mengangkat laporan utama tentang tulisan apokrif “Injil” Tomas. Kami mendapat informasi bahwa ada narasumber yang sangat berkompeten yang sedang berkunjung di Jogja. Namanya romo V Indra Sanjaya pr. Beliau adalah lulusan Universitas di Roma dan mendalami tentang kitab-kitab apokrif. Informasi itu juga menyebutkan bahwa romo Indra sedang berada di asrama mahasiswa Realino yang bertetangga dengan kantor redaksi.
Ini kesempatan bagus. Maka pak Xaiver lalu menugaskan saya dan Lily Halim untuk mengejar sang narasumber. Saya menyiapkan kamera foto, semantara Lily Halim menyiapkan tape dan kaset. Mengendarai sepeda motor Yamaha milik kantor, kami segera meluncur ke asrama Realino. Bagi Liliy Halim, tempat ini bukan asing lagi baginya karena dia pernah kuliah di IKIP Sanata Darma [sekarang menjadi Universitas].
Saat berjalan masuk, saya bertanya pada Lily Halim, “Mbak Lily sudah mengenal romo Indra?”
“Belum,” jawabnya. Blaik! Semula saya menyangka dia sudah tahu yang mana romo Indra. Selain lebih senior daripada saya, dia juga pernah kuliah di sini.
Suasana asrama sangat lengang. Kami bingung harus menemui siapa. Lalu tiba-tiba melintas sosok pria dewasa. Dari postur dan cara berjalannya, sepertinya sih seperti imam katolik. Maka kami menyimpulkan dia pasti romo Indra. Toh, tak banyak orang yang ada di sini.
Segera saja Lily Halim menyodorkan tape dan mengajukan rekaman. Saya segera bersiap memotret sang “narasumber”. Namun ada keanehan. Sang “narasumber” kelihatan plenggang-plenggong, tidak tahu harus menjawab apa. Maka kami mulai sadar, jangan-jangan kami salah sangka.
“Bapak yang namanya romo Indra Sanjaya, bukan?” tanya saya dengan senyum kecut.
“Bukan. Saya petugas administrasi di sini,” jawabnya. Maka meledaklah tawa kami. Dengan rasa malu, kami minta maaf dan menjelaskan maksud kedatangan kami.
Untunglah bapak itu tidak marah, Dia lalu menjelaskan bahwa romo Indra sudah pergi ke Seminari Kentungan di jalan Kaliurang. Dengan wajah memerah, akhirnya kami pun pamitan.
***
Keesokan harinya, barulah kami berhasil mewawancarai romo Indra yang “asli”

Share

Bikin Seru Sekolah Minggumu

February 19 2010Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Catatan Pribadi, Tips Menulis

Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggu
“Jangan bermain-main terus, ayo belajar.” Kata-kata ini mungkin sering Anda dengar dari mulut orangtua. Pernyataan ini tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Dipandang dari sudut lain, bermain adalah proses belajar juga. Dengan bermain, seseorang mendapatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tertentu.

Permainan dapat menjadi sarana belajar yang baik karena aktivitas dalam permainan melibatkan lebih banyak indera manusia. Dalam teori psikologi, semakin banyak indera manusia terlibat di dalam pembelajaran, maka tingkat pemahaman dan ingatan akan pelajaran itu semakin baik.

Sementara itu, dalam teori tentang pembelajaran, dikenal ada tiga gaya belajar manusia. Pertama, orang yang belajar secara visual. Dia lebih dapat memahami pengetahuan yang baru dengan cara melihat. Misalnya, menyaksikan demonstrasi, mengamati benda atau melihat gambar. Kedua, gaya orang yang belajar dengan mendengarkan. Dia lebih banyak menyerap informasi dengan mendengarkan suara dan penjelasan dari orang lain. Ketiga, orang yang mendapatkan pengetahuan setelah mempraktikkannya secara langsung. Kadangkala dia juga banyak belajar dari kesalahan yang dilakukan. Untuk itulah, kita perlu menyediakan berbagai metode supaya setiap partisipan mendapat kesempatan untuk belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Dalam hal ini permainan dapat memberikan berbagai variasi untuk variasi.

Setiap orang memiliki bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Hal demikian disampaikan oleh Prof. Howard Gardener saat melemparkan teori tentang “multiple intelligence” atau kecerdasan majemuk. Di dalam konsepnya, setiap orang memiliki banyak jenis kecerdasan, namun ada salah satu atau beberapa kecerdasan yang lebih menonjol. Sebagai contoh, ada anak yang kecerdasan logisnya lebih menonjol. Ada anak lain yang menunjukkan kemampuan luarbiasa di bidang musik. Itu sebabnya, seorang anak yang kesulitan dalam pelajaran berhitung tidak dapat dikatakan bahwa dia lebih bodoh daripada anak yang pandai dalam pelajaran berhitung. Bisa jadi anak ini memiliki kecerdasan yang menonjol di bidang lain. Itu sebabnya, Howard Gardener menganjurkan agar proses pembelajaran dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode sehingga mengasah berbagai jenis kecerdasan.

Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggumu

Back Cover

Menurut Howard Gardener dalam setiap diri manusia ada 8 macam kecerdasan, yaitu:

1.                       Kecerdasan linguistik

2.                       Kecerdasan logis-matematis

3.                       Kecerdasan visual-spasial

4.                       Kecerdasan kinestetik

5.                       Kecerdasan musik

6.                       Kecerdasan interpersonal

7.                       Kecerdasan intrapersonal

8.                       Kecerdasan naturalis

***

Di dalam buku ini terdapat 77 permainan yang telah dibagi ke dalam 8 jenis kecerdasan. Permainan dalam buku ini dapat digunakan untuk memeriahkan suasana, memecahkan suasana yang beku di awal pertemuan dan menggairahkan kembali semangat partisipan yang mengalami kejemuan. Namun lebih dari itu, permainan tersebut juga dapat digunakan sebagai pemicu untuk mendiskusikan materi, pelajaran, pengetahuan atau informasi baru.

Permainan dalam buku ini sengaja dirancang secara sederhana karena tidak memerlukan alat atau persiapan yang rumit. Bahkan ada beberapa permainan yang dapat dilakukan tanpa persiapan atau spontan. Saya berharap buku ini dapat menjadi “sahabat” bagi guru, pengajar sekolah minggu, trainer, pembicara motivasi, pemimpin kelompok sel, pembimbing remaja, penyelenggara outbond, dan siapa saja yang merindukan menciptakan suasana pertemuan menjadi meriah dan bermakna.

Kritik, saran dan pujian saya nantikan di email saya: purnawank@gmail.com.

Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggumu

Contoh Halaman Isi

Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggumu

Contoh Halaman Isi

Share

Memblokir Aplikasi Gift di Facebook

February 12 20102 Komentar

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi

Menjelang hari Valentine, halaman profil di Faceboook akan dibanjiri bermacam-macam aplikasi Gift. Ada yang mengirimi gambar coklat, bunga, kata-kata mutiara, foto romantis, dll. Memang tidak salahnya menggunakan aplikasi. Toh fungsi utama jejaring sosial ini adalah untuk menjalin tali silahturahmi.

Namun yang menjadi persoalan adalah jika aplikasi gift ini lalu menjadi aktivitas yang mekanis. Maksud saya begini, ketika seseorang mendapat gift dari orang lain, maka dia harus mengizinkan aplikasi tersebut terpasang pada akun FB-nya. Salah satu langkah di dalam proses approval ini adalah tawaran untuk mengirimkan gift serupa kepada orang lain. Kita diberi kesempatan untuk memilih nama-nama teman yang akan dikirimi. Namun ada sebagian pemakai FB yang enggan metani satu demi satu. Maka demi praktisnya, dia memilih saja semua teman dan kirim. Maka akibatnya, aplikasi ini membanjiri halaman profil kita.

Pada mulanya, saya berusaha menghargai orang yang mengirim gift. Saya biasanya memberikan komentar ucapan terimakasih. Namun karena kiriman gift semakin deras,maka saya menjadi kewalahan. yang terjadi, saya mulai merasa tidak nyaman dan terganggu. Apalagi setelah menghadapi fakta bahwa komentar yang saya berikan kepada pengirim gift itu ternyata tak terbalas. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa pengiriman gift itu bukan karena inisiatif untuk menyapa secara pribadi, melainkan karena hasil kerja aplikasi di FB. Ini artinya tidak ada lagi dimensi manusiawi. Semuanya serba mekanis.

Atas dasar itulah maka saya berketetapan hati untuk memblokir semua aplikasi gift di akun saya. Jika ada orang yang ingin memberikan salam atau bertukar kabar, biarlah dia menulis pesan pada dinding [wall] atau mengirim pesan pribadi. Jika Anda ingin mengikuti jejak saya, berikut ini cara memblokir aplikasi gift di Facebook.

1. Klik tab “Profil“, kemudian carilah aplikasi gift di halaman profil Anda. Lihat tulisan kecil yang tertera di bawahnya. Klik tulisan “Blok App

2. Anda akan dibawa masuk ke halaman aplikasi tersebut untuk memberikan konfirmasi. Klik tombol dengan tulisan “Block friends from posting on my wall.” Dengan mengeklik tombol itu maka teman-teman Anda tidak dapat lagi mengirim gift ke wall Anda. Tapi ingat ini hanya berlaku pada aplikasi yang Anda blokir. Padahal aplikasi gift seperti ini lebih dari satu. Jika teman Anda menggunakan aplikasi lain, maka kiriman gift tersebut masih bisa masuk. Tidak ada tindakan lain. Anda harus mengeblok aplikasi lainnya ini.

Sampai di sini Anda telah memblokir aplikasi. Meski begitu, gift tersebut masih nangkring di halaman profil Anda. Ini menciptakan pemandangan yang tidak sedap. Nah, sekarang waktunya bersih-bersih. Anda harus menghapus gift itu satu-satu. Caranya, bawa kursor ke bagian kanan atas gift. Maka secara otomatis akan muncul tombol “Hapus“. Kalau mouse tidak diarahkan [hovering] ke sana, tombol ini tidak muncul. Klik tombol itu untuk menghilangkan aplikasi.

Hal lain yang mengganggu saya adalah kabar terbaru yang menampilkan informasi yang kurang saya minati. Misalnya. “Si Polan baru saja mengikuti quiz apa arti namamu.” Saya tidak menyukai quiz semacam ini dan saya tidak menginginkan kabar seperti ini terpampang pada Beranda saya. Maka saya akan membuat filter untuk kiriman ini. Begini caranya:

1. Klik Beranda dan cari berita yang tidak diinginkan.

2. Arahkan mouse ke sudut kanan atas hingga muncul tombol “Sembunyikan“, klik tombol itu.

3. Muncul menu pilihan: “Sembunyikan [nama teman]“, “Sembunyikan [nama quiz]“, dan “Batalkan“. Jika Anda memilih yang pertama, maka Anda memfilter semua kabar berita dari teman Anda. Tidak hanya quiz, namun aktivitas lain seperti update status dan foto teman Anda tidak akan ditampilkan di Beranda Anda. Jika Anda memilih yang kedua, maka Anda hanya memfilter quiz tersebut. Kelemahannya, jika dia ikut quiz lain, maka akan tetap muncul di Beranda Anda.

Demikianlah, sesungguhnya Facebook menyediakan beberapa feature kepada kita melakukan costumized pada akun kita. Kalau kita mau meluangkan waktu untuk mencoba-coba, maka kita akan mendapatkan manfaat yang lebih besar. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda.

Share

Coretan Kirana

February 12 2010Beri Komentar!

Kategori: Jurnal

Coretan Kirana [3.9 tahun]. Coba tebak, gambar apa ini?

Kirana

Share

Gerakan Anti Kebo

February 3 2010Beri Komentar!

Kategori: Foto, Humor

Anti Kebo
Mari bergabung dengan Gerakan ANTI KEBO…..

Share

DKP Memulai Pembangunan Rumah Inti di Tasikmalaya

February 2 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

Dana pemerintah yang terbatas dan ditambah magnitude gempa di Padang yang lebih dahsyat menyebabkan kucuran bantuan bagi penyintas gempa di Tasikmalaya tersendat-sendat. Lima bulan kemudian, sebagian warga masih menghuni rumah-rumah yang masih rusak karena belum sempit diperbaiki. Melihat kondisi ini, Departemen Kesaksian dan Pelayanan Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Tengah [DKP GKI SW Jateng] tergerak untuk menemani para penyintas gempa untuk membangun kembali rumah-rumah mereka.

Photobucket

Peta Lokasi

Photobucket

Survei

Untuk keperluan ini, DKP menggandeng Christian Reformed World Relief Committee (CRWRC) yang bersama-sama akan membangun 36 rumah inti [Core House] di dusun Cikole Wetan, desa Cijulang , kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis. Lokasi dusun ini terletak di barat laut kota Tasikmalaya. Secara administratif, desa ini masuk wilayah kabupaten Ciamis, namun karena akses ke sana dilakukan oleh GKI Veteran, Tasikmalaya, maka kami menyebut proyek ini sebagai “Gerakan Peduli Tasikmalaya.”
Sebelum memulai proyek pada bulan Februari, DKP dan CRWRC mengadakan sejumlah persiapan dengan berbagai pemangku kepentingan. Aktivitas pertama adalah menemui tokoh masyarakat setempat yaitu pak Edih dan pak Doddy, kepala dusun. Tim dari DKP diwakili oleh Budi Lazarusli, Inge Susanti, Purnawan Kristanto, Gatot Budi Sularso dan Bambang Pudyanto. Sementara itu Iskandar Saher mewakili Pusat Pengembangan Pelayanan Holistik [P3H] dan Nick Armstrong mewakili CRWRC. Sedangkan GKI Veteran, Tasikmalaya, yang bertindak sebagai “tuan rumah” mengutus Indra Wijaya dan pnt. Cahya.
Pertemuan berlangsung hangat dan penuh persahabatan. Dengan suara tergetar dan mata berkaca-kaca, pak Edih berkata, “Setelah gempa ini, mata saya menjadi terbuka. Ternyata ada banyak orang-orang dari berbagai tempat yang masih peduli dan bersedia menolong kami.” Selanjutnya pembicaraan mulai menukik ke persoalan-persoalan teknis.
Kami lalu memaparkan konsep rekonstruksi yang akan dilaksanakan di sana. Pada prinsipnya, rekonstruksi ini dilaksanakan oleh masyarakat. Peran yang diambil oleh DKP adalah menyediakan material bangunan dan pendampingan menyangkut aspek rekonstruksi aman gempa.
Bangunan yang akan dikerjakan disebut rumah inti [core house], tipe 21. Yang dimaksud rumah inti adalah sebuah bangunan kecil yang dikonstruksi dengan baik sehingga dapat digunakan sebagai tempat berteduh dan memberikan perlindungan yang lebih baik jika terjadi gempa. Ruangan ini dapat dikembangkan sesuai dengan dana yang dimiliki oleh penghuninya. Dengan kata lain, rumah ini bisa juga disebut sebagai rumah tumbuh.
Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Masyarakat menyediakan tenaga kerja dengan pola gotong royong. Untuk itu, mereka dibagi menjadi kelompok, yang masing-masing beranggota enam kepala keluarga. Bahan bangunan berupa pasir, besi, semen, batu kali, kusen dan atap disediakan oleh tim DKP. Namun tidak menutup kemungkinan adanya penggunaan bahan-bahan bekas dari bangunan lama seperti kusen pintu/jendela dan atap. Namun untuk bata harus menggunakan bata yang baru.
***

Sekitar pukul satu siang, di bawah hujaman sinar matahari yang menyengat, kami melihat kondisi di lapangan. Beberapa warga terlihat mulai membangun kembali rumah mereka. Namun biaya berasal dari swadaya. “Kebanyakan biaya itu berasal dari pinjaman saudara-saudara mereka,” papar pak Dodi.
Akan tetapi pembangunan secara swadaya itu belum memperhatikan aspek-aspek aman gempa. Sebagai contoh, pak Gatot Budi Sularso menunjukkan sebuah tiang yang mirip dengan tiang beton yang berfungsi memperkuat bangunan. Setelah diteliti lebih dekat, ternyata tiang beton itu palsu, karena hanya terdiri darsi susunan bata. Tidak ada tulang besi di dalamnya. Yang lenih memprihatinkan, campuran perekatnya menggunakan tanah liat. Ketika dicungkil dengan tangan, adonan itu langsung lepas. Bayangkan jika bagunan seperti ini digoyang lagi oleh gempa. “Kami memang membangun rumah kembali dengan seadanya. Yang penting bisa untuk berteduh karena sekarang sudah masuk musim hujan,”jelas pak Dodi, kepala dusun Cikole Wetan.

Photobucket

Pak Gatot menunjukkan tembok yang rapuh

Photobucket

Masjid An Nur

Photobucket

Tembok retak selama 6 bulan

Photobucket

Madrasah hampir roboh

Dalam kunjungan lapangan itu, kami menyaksikan puluhan rumah tak berpenghuni karena mengalami kerusakan yang berat. Nasib yang sama juga dialami oleh Madrasah Dinayah di dusun itu. Bangunan dua lantai itu sudah miring, sehingga harus disangga dengan bambu dari sebelah luar. Eternit juga banyak yang jebol. Karena membahayakan, maka sekolah Islam itu tidak digunakan lagi. Sayangnya saya tidak sempat bertanya, bagaimana nasib para murid: Apakah diliburkan atau pindah ke tempat lain?

Usai kunjungan, kami bergerak ke penginapan untuk beristirahat sejenak. Hujan sangat deras mengiringi perjalanan kami selama 20 menit itu.
Sorenya, pukul 17, kami mengadakan rapat koordinasi di GKI Veteran, Tasikmalaya. Kali ini giliran rombongan dari warga Cikole Wetan yang mengadakan kunjungan balasan. Bapak Gatot memulai rapat dengan menjelaskan struktur organisasi tim pelaksana proyek ini. Lalu dilanjutkan dengan membahas berbagai persoalan teknis.
Berikut ini rangkuman diskusi yang disusun dalam bentuk tanya jawab.

Mengapa proyek ini hanya membangun 36 rumah inti?
Karena dana yang terbatas.

Bagaimana menentukan 36 keluarga yang berhak mendapat bantuan?
Kita menggunakan data rumah rusak berat yang dikeluarkan oleh pemerintah desa.

Apa langkah-langkah kerja tim pelaksana?
1. Tokoh masyarakat menyosialisasikan proyek ini kepada warga dan tokoh setempat.
2. Tim pelaksana melakukan assesment setiap rumah.
3. Mengadakan temu warga calon penerima bantuan untuk membuat membuat sistem dan mekanisme.
4. Warga dibentuk menjadi beberapa kelompok.
5. Pembangunan rumah contoh oleh konsultan dari Aceh.
6. Pembangunan rumah warga

Untuk membangun rumah dibutuhkan tenaga tukang. Darimana biaya untuk membayar mereka?
Biaya disediakan oleh pemilik rumah.

Biaya untuk tukang cukup besar bagi warga desa. Apakah warga desa bisa diberi waktu untuk mencari biaya tersebut?
Oke, bisa.

Bagaimana kalau di antara 36 calon penerima bantuan ini saat ini sudah membangun rumah secara swadaya?
Dari hasil pengamatan di lapangan, pembangunan secara swadaya belum memenuhi standard aman dari gempa. Maka ada dua alternatif: 1. Membangun ulang rumah yang sudah berdiri; atau 2. Membangun rumah tipe 21 pada lahan lain.

Pembangunan ini sampai dimana? Apakah sampai dengan finishing?
Pembangunan meliputi pondasi, tembok sampai pemasangan atap. Namun tidak menggunakan plester dan tanpa pelapisan lantai.

Kalau ada warga yang sudah membangun rumah secara swadaya, bisakah jatahnya dipindah ke orang lain di luar 16 keluarga ini?
Tidak bisa. Karena akan menimbulkan persoalan yang kompleks. Kita tetap berpegang pada daftar 36 rumah rusak yang dikeluarkan pemerintah desa.

Photobucket

Rapat Koordinasi di gereja

Bagaimana kalau ada keluarga yang memiliki anggota banyak? Apakah bisa dibuatkan ruangan yang lebih besar?
Rancangan kami bersifat general. Jadi kami tidak memperhitungkan jumlah anggota setiap keluarga. Jadi nilai bantuan sama untuk keluarga besar atau kecil.
***
Di akhir pertemuan masih ada satu persoalan yang mengganjal: Bagaimana dengan warga yang rumahnya hanya mengalami kerusakan sedang atau ringan? Kalau harus membangun kembali dengan konstruksi yang aman gempa, maka rumah-rumah mereka harus dirubuhkan lebih dulu. Pertanyaannya: apakah warga bersedia merelakan rumah mereka dirubuhkan dan diganti dengan bangunan yang lebih kecil?
Pergumulan ini kami terus kami bawa ketika pulang ke Jawa Tengah. Dalam perjalanan itu, muncul ide untuk melakukan pemberdayaan warga di luar “kelompok 36″ ini secara transformatif. Misalnya dengan meluncurkan program livelyhood atau peningkatan kekuatan ekonomi keluarga. Program ini bisa dilaksanakan setelah proyek fisik ini berakhir. Namun untuk mewujudkannya, tentu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
***
Seluruh dana pembelian material untuk pembangunan rumah warga disediakan oleh CRWRC. Sedangkan untuk biaya operasional tim pelaksana, ditanggung oleh GKI.
Sehubungan dengan itu, itu kami memberi kesempatan kepada Anda untuk berpartisiasi menyokong menyokong biaya operasional. Anda juga dapat terlibat meujudkan kerinduan kami untuk melaksanakan program pemberdayaan ekonomi atau livelyhood bagi warga yang belum menerima bantuan.
Sumbangan Anda dapat disalurkan melalui rekening bendahara DKP a.n. Peter Christianto Wijaya pada rekening BCA 015-253-841. Mohon kirim kabar ke pdt. Peter CW ke nomor 0812-297-2056.
Anda juga dapat membantu kami dengan menjadi relawan pada proyek ini. Teruskanlah tulisan ini kepada teman, kerabat, dan relasi Anda.

Photobucket

Share

Persiapan Pembangunan Core House di Tasikmalaya

February 2 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi, Foto

SimpelPada hari ini, 27 Januari 2010, telah dimulai proyek pembangunan rumah inti atau core house. Proyek yang merupakan kerjasama antara BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah dengan CRWRC Kanada, dengan melibatkan masyarakat penyintas gempa di Tasikmalaya. Menurut rencana, proyek ini akan membangun 36 unit rumah tipe 21 di desa Cikole Wetan, Tasikmalaya.
Untuk menyiapkan proyek ini, maka diadakan pertemuan antara pengurus Departemen Kesaksian dan Pelayanan (DKP), tim tanggap bencana, dan utusan dari CRWRC di Tasikmalaya. Pada Rabu pagi, pak Budi Lasarusli dan pak Nick Armstrong melakukan perjalanan dari Salatiga menuju stasiun Balapan, Solo. Sementara itu, pak Iskandar Saher menumpang bis dari Semarang, dengan tujuan yang sama, yaitu stasiun Balapan Solo. Tujuan mereka adalah menumpang kereta Argo Wilis yang akan membawa mereka ke Tasikmalaya. Kereta berangkat tepat waktu, pukul 11:45 WIB.Photobucket
Pukul 12:34, kereta memasuki stasiun Tugu, Yogyakarta. Di sini, Purnawan Kristanto sudah menunggu untuk bergabung. Kereta melaju dengan lancar. Sesampai di stasiun Kroya, bu Inge Susanti juga ikut bergabung dengan rombongan.
Pukul 17:20, rombongan sampai di Tasikmalaya, yang langsung disambut oleh pak Gator Budi Sularso dan sdr. Indra Wijaya. Menumpang mobil Kijang, rombongan dari Jawa Tengah ini diantar ke hotel untuk menaruh barang-barang di kamar, lalu segera keluar lagi untuk mencari makan karena sudah pada kelaparan.Tujuan mereka adalah rumah makan sunda “Ampera” yang berseberangan dengan masjid agung Tasikmalaya.

Photobucket

Setelah perut kenyang, rombongan menuju GKI jl. Veteran untuk bersilahturahmi dengan pengurus gereja. Kebetulan saat itu sedang ada rapat majelis sehingga bisa berkenalan dengan beberapa petinggi gereja. Setelah berbasa-basi sejenak, rombongan mendapat kejutan, yaitu suguhan dua buah duren yang sangat manis dan lezat. Tanpa perlu dipersilahkan dua kali, duren tersebut segera dibelah dan dinikmati dengan sukacita. Saat berpamitan, rombongan juga masih diberi jeruk [lebih tepatnya jeruk itu diminta oleh anggota rombongan].
Sekitar pukul 20:00, rombongan sudah kembali ke hotel dan memutuskan untuk langsung mengadakan rapat koordinasi tanpa mandi lebih dahulu. Agenda rapat adalah membahas isi Memorandum of Understanding [MOU] antara GKI dengan CRWRC. Setelah semua butir dibahas dan disepakati, maka MOU tersebut ditandatangani oleh pak Budi Lazarusli mewakili DKP dan Nick Armstrong dari CRWRC perwakilan Indonesia. Agenda berikutnya adalah membahas surat pengangkatan pak Gatot dan sdr. Purnawan sebagai tim pelaksana proyek ini. Namun surat pengangkatan ini urun ditandatangani pada malam itu, karena ada beberapa revisi yang perlu dilakukan.

Agenda hari berikutnya adalah meninjau ke Cikole Wetan dan mengadakan rapat koordinasi yang akan dihadiri oleh semua personel yang akan melaksanakan tugas keseharian dalam proyek ini.
****
Catatan: Seluruh dana dari CRWRC digunakan untuk pembangunan rumah warga yang menjadi korban gempa. Sedangkan untuk biaya operasional tim pelaksana, ditanggung oleh GKI. Anda dapat berpartisipasi dalam proyek ini untuk menjadi berkat bagi sesama dengan menyokong biaya operasional yang harus diusahakan oleh tim GKI.
Sumbangan Anda dapat disalurkan melalui rekening DKP a.n. Peter Christianto Wijaya pada rekening BCA 015-253-841. Mohon kirim kabar ke pdt. Peter CW ke nomor 0812-297-2056

Share

Oleh-oleh Khas Bali

February 1 2010Beri Komentar!

Kategori: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi

Tidak sulit mencari cendera mata khas Bali.  Kalau boleh agak  bombastis, hampir di setiap jengkal wilayah di Bali kita bisa mendapatkan oleh-oleh yang dapat menjadi kenangan kunjungan kita ke pulau Dewata ini.  Kali ini saya akan menceritakan pusat belanja oleh-oleh yang ada di kota Denpasar yaitu Pasar Airlangga yang ada di jalan Nusakambangan. Ini adalah semacam supermarket oleh-oleh khas Bali.

Begitu turun dari mobil, seorang karyawan tergopoh-gopoh menyambangi kami untuk membagikan selembar kupon souvenir gratis. Kupon ini dapat ditukar di kasir saat membayar barang belanjaan. Kami lalu masuk ke dalam ruangan yang maha luas. Ukurannya kira-kira sama dengan gedung hipermarket yang ada di kota besar. Bedanya, gedung ini tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan sehingga terasa gerah.

Ada berbagai macam barang dagangan, namun didominasi oleh pakaian, mulai dari baju anak-anak sampai dengan dewasa. Tentu saja dengan model dam motif khas Bali. Selain itu dijual juga berbagai macam hasil kerajinan tangan [handy craft], seperti mainan tradisional, hiasan ukiran kayu, lilin aromatik, lukisan, dll. Ada juga makanan kahas Bali, seperti kacang tanah dan kopi.  Kalau Anda pernah ke Yogyakarta, Anda tentu tidak akan merasa asing dengan berbagai macam barang yang dijual di sini. Hampir semuanya mirip, hanya berbeda dalam motif dan model saja.

Keuntungan berbelanja di sini adalah soal kepraktisan. Dengan berkunjung ke satu tempat, kita dapat memilih berbagai macam jenis oleh-oleh. Selain itu, harga yang dicantumkan juga harga mati. Tidak bisa ditawar lagi. Bagi wisatawan yang kurang lihai menawar, atau sering tidak tegaan, hal ini menguntungkan karena mereka akan mendapat harga yang sudah pasti.

Situasi yang berbeda akan kita jumpai di pasar Sukawati.  Pasar tradisional ini letaknya berada pada arah perjalanan dari Denpasar menuju Ubud. Dua tahun yang lalu, saya pernah berkunjung ke sini bersama dengan teman-teman satu angkatan dalam Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Saat itu kami mengingap di Sanur. Untuk pergi ke pasar Sukowati, kami rama-ramai menyewa taksi dengan tarif borongan Rp. 150.000,- pulang-pergi. Ongkos itu ditanggung secara ramai-ramai. Untuk menghemat ongkos, maka satu taksi dijejali enam penumpang.

Pasar Sukawati menempati bangunan dua lantai yang dikapling-kapling membentuk kios-kios. Untuk berbelanja di sini, wisatawan harus lihai dalam menawar. Tips dasarnya adalah menawar hingga di bawah dari separih harga yang disebutkan pertama kali oleh penjualnya. Jangan tunjukkan muka pengin. Pura-pura cuek saja, meski hati kecil sangat menginginkan barang itu. Jika pedagang pelit menurunkan harga, pura-puralah meninggalkan dia menuju kios lain. Biasanya pedagang akan memanggil kita kembali. Dia akan meminta tambahan harga sedikit atau membujuk kita membeorong dalam jumlah banyak. Dalam hal ini teguhkanlah iman Anda. Jangan goyah.

Keuntungan lain berbelanja di pasar Sukawati adalah kesempatan berinteraksi dengan penduduk Bali. Kesempatan ini tidak Anda temui di pasar Airlangga, karena Anda hanya berhadapan dengan barang-barang dagangan dan wajah kasir yang beku. Kalau mau menyisihkan waktu,  Anda pun dapat berkunjung ke bengkel-bengkel kerja seniman tradisional yang banyak tersebar di sekitar pasar. Sukawati termasuk salah satu pusat aktivitas kebudayaan di pulai Bali. Pada zaman dahulu, seorang raja mengumpulkan para seniman terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk dikaryakan membangun sebuah istana megah di wilayah Sukawati ini.

Share
RewriteEngine On RewriteBase / RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d RewriteRule . /index.php [L]