Candi Sojiwan Bukti Toleransi Beragama

January 21 2012Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Foto

13271612231807504749

Candi Sojiwan dibangun setelah terjadi komplikasi dari perkawinan politik di antara dua dinasti yang berkuasa di Jawa pada abad ke-9 M. Saat itu wilayah Selatan dikuasai oleh wangsa Sanjaya beragama Hindu Siwa, sedangkan wilayah utara didominasi oleh wangsa Syailendra yang menganut Budha Mahayana. Perebutan pengaruh menimbulkan ketegangan sehingga ditempuh upaya perdamaian yaitu dengan menikahkan Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodawardhani dari wangsa Syailendra, dinikahkan untuk meredam konflik tersebut.

Pernikahan ini ditentang oleh saudara Pramodawardhani, yang bernama Balaputra Dewa. Maka perang pun tak terhindarkan. Balaputra Dewa berhasil dikalahkan oleh Rakai Pikatan sehingga melarikan diri ke Sumatera. Di sana dia membangun kerajaan Sriwijaya.

Sementara itu, rakai Pikatan dan isterinya bahu-membahu membangun kehidupan harmonis antara pemeluk Hindu Syiwa dengan Budha Mahayana. Mereka ingin supaya kedua agama tersebut dapat terus hidup dan berkembang dengan damai dan saling menghormati. Sebagai buktinya, Rakai Pikatan membangun candi Prambanan yang bercorak Hindu. Namun dalam radius kurang dari 5 meter, candi Hindu ini dikelilingi candi-candi Budha seperti Kalasan, Plaosan, Sewu dan Sojiwan.

Candi Sojiwan ini bercorak agama Buddha. Hal ini dibuktikan dengan bentuk candi yang memiliki beberapa stupa. Candi ini dibangun kira-kira pada pertengahan abad ke-9. Menurut beberapa prasasti yang sekarang disimpan di Museum Nasional , candi Sojiwan kurang lebih dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi. Candi ini dibangun kurang lebih pada saat yang sama dengan candi Plaosan.
Photobucket

Candi Sojiwan menghadap ke Barat

Photobucket

Pemugaran
Penelitian terhadap candi ini sudah dirintis sejak tahun 1813 oleh Mackenzie, seorang penjelajah Barat, anak buah Raffles. Pemetaan kembali dilakukan secara bertahap mulai dari tahun 1893. Dan pada tahun 1950, candi ini seenarnya sudah mulai dibangun kembali. Akan tetapi gempa yang menggoncang Jawa Tengah pada tahun 2006 silam menyebabkan candi ini runtuh lagi. Untuk itu dilakukan pemugaran kembali. Pada akhir tahun 2011, bangunan induk candi Sojiwan telah selesai dan diresmikan.

Candi induk menghadap ke arah barat. Dasar candi berbentuk segi empat. Selasar atau teras berada di atas dasar candi, mengelilingi badan candi. Pintu candi memiliki penampil yang menjorok ke depan juga dilengkapi tangga bersayap yang ujungnya relief Kalamakara.
Pada kanan dan kiri tangga terdapat relief. Demikian pula pada dasar candi serta bagian pintu. Umumnya, relief bercirikan candi Budha, antara lain makhluk kerdil dan Kinari-Kinari atau makhluk bersayap penghuni kahyangan. Pada sudut-sudut candi terdapat relief Simbar , yang lainnya adalah Jaladwara atau saluran air.
Badan candi ini berbentuk segi empat. Di dalamnya ada sebuah bilik namun sudah kosong. Diperkirakan dulu berisi arca karena terdapat tiga lapik berbentuk bunga teratai. Pada pos satpam terdapat tiga patung budha yang kemungkinan besar berasal dari bilik utama candi induk.

Photobucket

lapik di bilik utama

Photobucket

Makhluk gana

Photobucket
Relief

Photobucket

Selain candi induk, terdapat juga stupa dan candi perwara. Akan tetapi sampai sekarang, keduanya belum dipugar. Tumpukan batu candi perwara teronggok di selatan candi induk. Sementara itu, stupa mulai disusun kembali di utara candi induk. Yang menarik, stupa ini tidak menggunakan batu andesit tetapi berbahan batu kapur yang berwarna putih.

Situs candi ini sebenarnya jauh lebih luas daripada kompleks candi yang ada pada saat ini. Para ahli memperkirakan masih ada parit dan peninggalan-peninggalan lain di luar pagar. Sayangnya. wilayah itu sudah menjadi pemukiman warga desa dan ladang tebu.

13271618191398357033

Stupa

Ancar-ancar

Candi ini hanya berjarak 2 km di selatan candi Prambanan. Untuk menuju ke candi ini tidaklah sulit. Dari arah Solo atau Jogja, Anda mencari tugu batas propinsi dulu, Perhatikan bahwa ada jalan kecil di sebelah selatan tugu ini. Masuklah ke jalan tersebut.Setelah melewati rel kereta api, kira-kira 300 meter Anda akan menemukan pertigaan. Ambil jalan yang lurus menuju desa Kebon Dalem Kidul. Kira-kira 400 meter Anda akan menemukan jalan ke arah kiri (timur). Masuklah dan susuri jalan ini. Setelah 200 meter, Anda sudah sampai di lokasi.

Setelah sampai, laporlah lebih dulu ke pos satpam. Anda akan diminta mengisi buku tamu. Tidak ada karcis masuk yang harus dibeli, namun sebaiknya Anda memberi uang kopi kepada penjaganya. Besarnya sesuai kerelaan Anda.

Setelah puas mengunjungi candi Sojiwan, Anda dapat meneruskan perjalanan ke candi Boko, candi Barong dan candi Ijo.

Dongeng Hewan

Keunikan lain dari candi Sojiwan ialah adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Cerita-cerita ini berupa fabel, yaitu kisah tentang hewan yang mengandung kebijaksanaan bagi manusia. Ada teori yang mengatakan bahwa Fabel Aesop yang terkenal itu merupakan turunan dari kisan Pacantantra ini. Dari 20 relief ini, tinggal 19 relief yang sekarang masih ada.

Kisah-kisah yang terdapat dalam relief ini akan diceritakan dalam tulisan yang terpisah.

Video rekaman saya bagian 1 (Biarkan buffering penuh dulu, baru klik play)

Bagian 2


Jogja Air Show

December 20 2011Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian

13243134411894465466

Tidak saya sangka, ternyata di pantai Depok, Bantul, terdapat landasan pesawat. Selain itu, di sebelah timur pantai ini terdapat bukit Warung Gupit yang dapat digunakan untuk meluncurkan gantole dan paralayang. Lalu masih ada gumuk pasir yang dapat digunakan untuk training gantole dan paralayang bagi pemula. Yang membuat saya heran adalah bagaimana wahana udara yang kecil itu bertahan dari hempasan angin laut yang kuat? Bagaimana cara penggemar paralayang melayang-layang di atas pantai? Apa mereka tidak takut tercebur?

Rasa penasaran itu mendorong saya untuk mengajak keluarga untuk menyaksikan perhelatan Jogja Air Show 2011. Pembukaannya sudah dilangsungkan sejak hari Jumat (16 Desember), namun kami baru bisa mengunjungi pada hari Minggunya.

Karena fasilitas yang relatif lengkap, maka event Jogja AirShow 2011 ini menampilkan seluruh cabang olah raga dirgantara beserta hiburannya, mulai dari terjun payung, microlight, aeromodelling, paramotor, gantolle airtow competition, paralayang airtow, pameran pesawat model, bursa penjualan pesawat model, dragon banner, joyflight, hingga live musik.

Lewat tengah hari, kami sampai di pantai Depok, namun tertahan cukup lama untuk mencari tempat parkir. Hari itu pengunjung sangat padat. Di langit yang mendung, pesawat swayasa terlihat berkali-kali melintas di garis pantai untuk menerbangkan pengunjung dalam joyflight. Pada ketinggian yang lebih rendah, penggemar paralayang berputar-putar dengan parasut bermotornya.
Photobucket

Setelah akhirnya mendapat tempat parkir, saya bergegas menuju run-way sambil berjuang mengangkat kaki yang terbenam di dalam pasir pantai yang berwarna abu-abu. Ternyata landasan udara yang dimaksud adalah lapisan aspal dengan lebar sekitar enam meter, sepanjang sekitar 500 meter. Di landasan inilah pesawat trike, pesawat swayasa dan pesawat ultra ringan antri untuk lepas landas dan mendarat.

Salah satu peserta even ini adalah kenalan saya, yang kebetulan tinggal sekota. Dia memiliki pesawat CT SW dengan nomor registrasi PK-S777 . Pada tahun 2009, saya menumpang pesawat ini dari Jogja ke Tasikmalaya pp untuk merespons gempa yang terjadi saat itu. Tempat duduknya hanya untuk dua orang. Di sebelah kiri untuk pilot, sedangkan di sebelah kanan untuk penumpang. Cara duduknya adalah dengan selonjor. Sebelum berangkat, kami ke kamar mandi dulu karena kalau sudah mengudara tidak ada kesempatan lagi untuk turun jika sedang kebelet. Cerita perjalanan ke Tasikmalaya dapat dibaca di sini.
Photobucket

 

Hembusan angin laut ternyata tidak segarang saya duga semula. Barangkali itu sudah diperhitungkan oleh penyelenggara sehingga mereka menganggap cukup aman untuk menyelenggarakan acar itu di sana. Yang membuat saya kagum adalah keberanian penggemar paralayang yang berputar-putar di atas laut. Tentu dibutuhkan nyali tersendiri bercengkerama di atas wilayah kerajaan “Ratu Kidul” dengan ombaknya yang terkenal ganas itu. Saya membayangkan seandainya ada kerusakan mesin lalu, terjatuh ke laut. Saya bergidik membayangkannya. Tapi sekali lagi mungkin FASI juga sudah memperhitungkan aspek keamanan ini,

Acara ini sangat langka karena di sini pengunjung mendapat kesempatan untuk melihat, memegang dan bahkan diberi kesempatan untuk menjajal wahana udara ini (Tentu dengan mengganti biaya membeli bensin. Yap. Pesawat-pesawat ini ternyata menggunakan pertamax sebagai bahan bakarnya. Sewaktu ke Tasikmalaya, ternyata bahan bakar yang dihabiskan lebih sedikit dibandingkan jika melakukan perjalanan darat dengan mobil). Sayangnya, acara ini tidak begitu diminati oleh pengunjung. Hari Minggu itu pantai Depok dipadati oleh pengunjung, namun jumlah orang yang menyambangi perhelatan ini tidak lebih dari seperempatnya saja. Sisanya, pengunjung lebih senang main air, menyewa ATV atau menyantap ikan laut segar. Apakah sepinya atensi ini karena kurangnya publikasi? Sepanjang jalan dari Jogja ke pantai Depok, saya hanya menjumpai dua spanduk. Pertama dipasang di atas jembatan Kretek (5 km sebelum lokasi). Kedua di pintu gerbang pantai Depok.


Ketika Musim Durian Tiba

December 12 2011Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian

1323680571717680870

 

Harga durian di sini memang sangat murah. Saudara dari Jakarta sampai terheran-heran. “Di Jakarta, durian sebesar ini harganya 50 ribu, nih,” katanya sambil membelah durian yang baru dibelinya dengan harga 15 ribu.

 

Setelah tahun lalu tidak bisa panen karena erupsi Merapi, warga lereng Merapi panen durian lagi. Menjelang fajar, warga dan pedagang pengepul sudah berduyun-duyun di Pasar Kembang Kemalang untuk bertransaksi buah berduri ini. Harga buah di sini jauh lebih murah karena langsung dibeli dari petani.

 

Akan tetapi jika ingin mengalami sensasi memetik buah dari pohonnya dan menyantap di pedesaan, Anda bisa mengunjungi desa Kanoman. Di sini hampir tiap jengkal tanah ditanami pohon durian. Begitu masuk desa, Anda akan menyaksikan buah-buah durian yan bergelantungan di atas pohon. Ada yang menggelayut di puncak pohon yang tinggi, namun ada pula yang terjuntai hanya setinggi manusia.

 

Ada bermacam-macam buah durian yang dihasilkan di desa ini, seperti durian petruk dan durian montong. Akan tetapi yang paling terkenal adalah durian mentega. Ciri-cirinya daging berwarna kuning emas seperti mentega dan ada nuansa rasa pahit karena mengandung alkohol.


Kyrea Usia 3 Bulan

December 10 2011Beri Komentar!

Kategori: Foto

Untuk pertama kalinya Kyrea muncul di publik. Sabtu, 10 Desember 2011, Kyrea mengikuti gladi bersih baptisan anak di GKI Klaten. Ini untuk pertama kalinya Kyrea menginjakkan kaki..eh salah ding…Kyrea pertama kali masuk ke tempat pelayanan mamanya.

 
Photobucket
Photobucket
PhotobucketPhotobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket


Ringtone Natal versi Bollywood

December 5 2011Beri Komentar!

Kategori: Humor

bollywood

 

Memasuki bulan Natal, saatnya mengganti ringtone Anda dengan ringtone bernuansa Natal. Berikut ini ringtone “Jinggle Bells” versi Bollywood
jingle bells bollywood.mp3

 

 

Link Unduhan

Jinggle Bells Bollywood format MP3

Jinggle Bells Bollwood format WAV

Ringtone SMS format MP3

Ringtone SMS format WAV

 

 

 


1 Korintus 13 versi Natal

December 5 2011Beri Komentar!

Kategori: Humor

Photobucket

 

Photobucket

 

 

 

 

Photobucket

 

Photobucket

 

Photobucket


Catatan Perjalanan ke Surabaya [bagian 2]

November 30 2011Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Foto

Istirahat semalam ternyata dapat memulihkan kembali tenaga yang dibutuhkan untuk menjadi fasilitator Seminar “Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggu.” Bangun pukul 7 pagi saya langsung memberikan sentuhan akhir pada tayangan powerpoint. Setelah itu buru-buru mengeprint makalah untuk diperbanyak, sebab ternyata makalah yang sudah saya kirimkan 2 hari sebelumnya, belum sampai ke tangan panitia lokal.

Pukul sembilan, kami dijemput mas Nanang, lalu diturunkan di sebuah depot makanan untuk sarapan. Sementara itu, dia bergegas ke tukang foto kopi untuk memperbanyak makalah. Tanpa terasa waktu terus memburu kami.  Sesampai di GKI Diponegoro, ibadah yang dimulai pukul 10 baru saja usai.  Para panitia buru-buru menyiapkan tempat, karena seminar akan diselenggarakan di gedung gereja, bukan di gedung pertemuan. Kami hanya punya waktu dari pukul 12 sampai pukul 15. Tidak boleh lebih dari itu, karena setelah itu gedung gereja akan digunakan lagi untuk beribadah.

Melihat setting tempat duduk, saya harus memutar otak untuk mencari  icebreaker yang baru. Permainan yang saya siapkan dari rumah membutuhkan ruang yang lapang. padahal kami tidak mungkin memindahkan bangku-bangku panjang di dalam gereja. Puji Tuhan, akhirnya ide pun muncul. Saya segera minta bantuan panitia untuk memotong-motong benang wol sepanjang 1 meter, sebanyak jumlah peserta.

Photobucket

Tepat pada tengah hari, Seminar ini diawali dengan menyanyi bersama dengan gerakan. Setelah sambutan-sambutan, maka giliran saya untuk mengawalinya dengan icebreaker. Sebelumnya, saya memperkenalkan lembaga yang sedang kami rintis bersama mbak Tina, mas Arie, mbak Niken dan teman lainnya. Kami sedang membidani sebuah lembaga yang mengambil spesialisasi di bidang pelayanan anak. Kegiatan yang kami lakukan adalah menerbitkan buku dan renungan anak, pelatihan menulis, pelatihan guru sekolah minggu dan berjejaring. Kami juga sedang merancang program “1000 Alat Peraga Gratis” yang akan disumbangkan kepada guru-guru di daerah, yang selama ini kesulitan mendapatkan alat peraga.

Setelah itu, benang-benang wol yang sudah dipotong-potong tadi saya bagikan kepada peserta. Masing-masing peserta mengikatkan tali pada kedua pergelangan tangan setelah sebelumnya saling menautkan tali. Tugas mereka adalah membebaskan tautan tanpa melepas tali pada pergelangan tangan. Seperti inilah suasananya:

Setelah suasana menjadi segar, giliran mbak Tina menyampaikan materi. Mula-mula mbak Tina mewawancarai seorang ibu yang selama 43 tahun masih aktif mengajar.
Photobucket

 

“Lebih sulit mana? Mengajar zaman dulu atau zaman sekarang, tante?” tanya mbak Tina.

“Lebih sulit zaman sekarang karena tantangannya semakin kompleks,” jawabnya.

Mbak Tina kemudian menguraikan berbagai tantangan eksternal yang dihadapi oleh dunia pelayanan anak. Kemajuan teknologi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi bermanfaat bagi manusia, namun di sisi lain dapat menjadi jerat yang mecelakakan. Dia mencontohkan kemudahan akses internet telah menyebabkan banjir informasi dan hiburan. Sayangnya, konten informasi tersebut tidak semuanya aman bagi anak-anak. Demikian juga tayangan-tayangan di televisi yang tidak edukatif, pemuh kekerasan, menjual mimpi dan mendorong konsumtivisme adalah bagian dari tantangan bagi dunia pelayanan anak zaman sekarang.

“Kita tidak mungkin melarang anak-anak untuk mengakses internet atau menonton TV,” papar mbak Tina. “Yang bisa kita lakukan adalah memperlengkapi anak-anak sehingga mereka memiliki filter yang mampu menyaring dan menyerap informasi yang bermanfaat bagi dirinya.” Tak lupa mbak Tina juga menyertakan tips-tips praktis yang diambil dari buku yang ditulisnya, yang berjudul “100 Tips Mengajar Sekolah Minggu.”

Menyampaikan materi antara pukul 12 sampai pukul 3 sore adalah jam-jam yang penuh tantangan. Peserta harus dicegah larut dalam kebosanan dan kebal dari serangan rasa kantuk. Untuk itu, saya melontarkan jurus sulap. Saya mengajarkan beberapa trik sulap sederhana yang dapat digunakan di kelas sekolah minggu.

 

Photobucket

Tanpa terasa waktu yang disediakan sudah hampir habis. Setengah jam terakhir, kami manfaatkan untuk sessi tanya-jawab. Para peserta tampak antusias dalam mengajukan pertanyaan. Sayang, waktu tak bisa ditawar lagi. Kami harus mengakhiri acara karena gedung harus segera dibersihkan untuk ibadah sore. Meski seminar sudah ditutup, masih ada beberapa guru sekolah minggu yang mengajak mengobrol.
Melihat antusiasme mereka, maka kami mendapat suntikan semangat untuk meneruskan panggilan pelayanan di dunia pelayanan anak-anak. Kami berharap Tuhan memberikan kesempatan untuk kembali lagi ke Surabaya. Kami melihat masih banyak guru sekolah minggu yang ingin sharing pengalaman pelayanan mereka namun belum mendapat kesempatan karena keterbatasan waktu.

Photobucket
***
Usai acara, kami tidak bisa berleha-leha. Ada kereta yang harus dikejar. Maksudnya mengejar jam keberangkatan kereta. Mbak Tina dan mas Agus harus naik kereta pukul 6 sore. Sebelum pulang ke kantor cabang Gloria, mbak Tina ingin membeli oleh-oleh lebih dulu. Saat masuk kembali ke dalam mobil, tangan saya berpegangan pada pinggir pintu mobil depan. Mas Agus Endar yang sedang sibuk menelepon tidak menyadari posisi tangan saya. Dia menutup pintu mobil sehingga ujung jari tengah dan jari manis terjepit pintu.
“Aduh, tanganku kejepit,” teriak saya spontan.
Mas Agus Endar kaget. Dia buru-buru membuka kembali pintu mobil sehingga jari tangan saya terlepas. Mas Agus Endar tampak merasa sangat bersalah. Dia berkali-kali meminta maaf.
“Sudah nggak apa-apa. Sebentar juga sembuh,” hibur saya. Untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah peradangan maka kedua jari sakit itu saya tempelkan minuman kaleng yang dingin. Kebetulan saya baru saja membeli minuman kaleng dingin karena terlalu bersemangat menyampaikan materi sehingga lupa minum.
Sesampai di kantor cabang Gloria, k ami hanya punya waktu 30 menit untuk mandi. Setelah itu bergegas meluncur ke stasiun Gubeng. Pukul 17:30, mbak Tina dan mas Agus masuk ke stasiun. Aman! Giliran berikutnya adalah mengantarkan saya ke kantor travel. Saya memilih pulang naik travel karena tidak ada kereta eksekutif yang berhenti di Klaten.
Karena masih ada waktu, maka masAgus Endar mengajak saya mampir di Bumbu Desa untuk makan malam. “Saya baru sadar ternyata seharian ini belum makan nasi,” kata mas Agus Endar. Begitu sibuknya mengurus seminar ini sehingga dia belum sempat sarapan dan makan siang.
Menurut jadwal, mobil travel ke Jogja berangkat pukul 19. Travel yang saya gunakan ini cukup terkenal. Di kantornya, dipampangkan berbagai macam award yang pernah diterima perusahaan ini. Kenyataannya, mobil jemputan ini terlambat 2 jam. Setelah itu masih menjemput empat penumpang lagi di dua tempat. Sasaran jemputan berikutnya adalah di jalan Darma Husada Raya. Saat mobil berjalan, saya mendengar suara perempuang empuk: “300 meter lagi belok kanan”, “Ambil belokan ke kanan”, “100 meter lagi sampai di perempatan”, ‘Ambil jalan yang ke kiri.”
Oh ternyata suara itu berasal dari alat GPS yang dipasang di dasbord sopir. “Wah mobil ini menggunakan alat canggih sebagai navigasi,” batin saya. Dengan bantuan alat ini, maka alamat calon penumpang dapat ditemukan lebih cepat. Tapi apa yang terjadi? Peta yang tidak akurat ternyata justru membingungkan sopir. Alih-alih mengandalkan GPS, sang sopir malah berkali-kali bertanya arah pada tukang parkir, satpam, pemulung, preman dan pedagang kaki lima. Maka muncul kejadian lucu, GPS memerintahkan belok kanan, sopir malah belok kiri. GPS memberikan arah ke kiri, sopir malah ambil kanan. Akibatnya selama 1 jam lebih kami memutar-mutar mencari satu alamat. Sopir yang dibekali dengan handphone untuk menghubungi penumpang. Namun itu pun tidak banyak membantu. “Saya bukan orang Surabaya,” kilah sopir travel.
Dalam suasana seperti itu, wajar jika penumpang merasa kesal, namun saya memutuskan untuk menikmati perjalanan muter-muter Surabaya itu.
Pukul sebelas malam, barulah kami meluncur keluar kota Surabaya. Saya rebahkan sandaran kursi untuk beristirahat. Sesampai di Saradan, Madiun, waktu sudah lewat tengah malam. Saya sudah tidak punya selera untuk makan atau sekadar minum teh hangat. Saya memanfaatkan waktu istirahat itu untuk perenggangan dan pelemasan otot. Selepas istirahat, muncul masalah baru. Kipas AC ngadat. Untunglah (orang Jawa selalu beruntung kan!) perjalanan pada malam hari sehingga udara tidak terlalu panas,

Pukul 5, akhirnya saya sampai di Klaten. Setelah mandi air hangat, saya meneruskan tidur lagi.


Catatan Perjalanan ke Surabaya [bagian 1]

November 29 2011Beri Komentar!

Kategori: Catatan Harian, Foto

Kelelahan perjalanan darat selama 5 jam itu mendadak sirna saat kami mendapat kesempatan menjadi fasilitator dalam seminar bertajuk “Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggu” di GKI Diponegoro, 27 Nopember 2011. Acara yang diselenggarakan oleh PT Gloria Usaha Mulia bekerja sama dengan Komisi Anak GKI Diponegoro ini dihadiri oleh 143 guru sekolah minggu dari berbagai gereja di Surabaya, Pandaan, Gresik dan Mojokerto.
****
Photobucket
Dua hari sebelum hari H, saya harus mengalami kerepotan dalam membagi antara antara urusan keluarga dan urusan pelayanan ini. Beberapa hari terakhir, asisten rumah tangga kami meminta izin tidak masuk kerja karena mendapat pesanan katering. Bersama dengan beberapa tetangga di kampungnya, asisten rumah tangga kami membentuk sebuah paguyuban tukang masak untuk hajatan perkawinan. Jika mendapat order, maka mereka akan memasak ramai-ramai. Uang jasa yang didapat dari usaha mereka ini kemudian dibagi di antara mereka. Kebetulan pada bulan Nopember ini, jumlah pesanan makanan meningkat drastis karena mengejar target sebelum memasuki bulan Sura, yaitu tanggal 27 Nopember. Dalam kepercayaan setempat, ada semacam tabu untuk menyelenggarakan perkawinan selama bulan Sura atau Asyura.

Hal seperti ini sudah berlangsung selama beberapa tahun dan kami mengizinkannya untuk tidak masuk kerja supaya dia mendapat uang tambahan. Namun masalah muncul setelah anak kedua kami lahir karena jumlah cucian meningkat secara drastis karena ada banyak popok, baju bayi dan selimut yang harus dicuci. Jika sehari saja tidak mencuci maka kami akan cepat kehabisan popok dan baju bayi yang bersih. Maka tidak ada jalan lain, isteri saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Kebetulan dia masih cuti. Sementara saya bertugas mengurus Kyrea yang baru berumur 2,5 bulan. Dalam kerepotan inilah saya tertatih-tatih menyiapkan makalah, membuat desain power point dan menyiapkan alat peraga lainnya.

Sabtu pagi, 26 Nopember, saya masih pontang-panting menyiapkan contoh untuk alat peraga sembari mengantar dan menjemput Kirana, si sulung, di TK. Pukul 14, akhirnya selesai packing baju dengan dibantu isteri. Saya putuskan untuk tidur sebentar agar menghilangkan sakit di kepala dan leher yang tegang-tegang.  Meski hanya tidur 30 menit, ternyata cukup ampuh untuk memulihkan tenaga. Pukul 15;10, saya sudah berada di atas kereta Pramex menuju stasiun Balapan, Solo.  Mas Agus sudah memesankan tiket KA Sancaka sore, tapi ternyata kereta ini tidak berhenti di stasiun Klaten. Maka saya memutuska untuk naik dari stasiun Balapan, Solo.

Photobucket Sebelum naik Pramex saya membaca tulisan spanduk di stasiun bahwa jumlah tiket Pramex dibatasi sesuai kapasitas kursi demi kenyamanan penumpang. Ternyata itu hanya janji palsu. Pramex ungu yang saya tumpangi ternyata masih berjubel. Jumlah antara penumpang yang berdiri masih lebih banyak daripada yang duduk.

Sesampai di Solo, saya masih menunggu 1 jam lagi. Meski masih kenyang namun iseng-iseng, saya membeli roti canai atau roti maryam yang dijajakan di stasiun. Harganya Rp. 2.500,- Rasanya tidak terlalu istimewa. Sekitar pukul 17:30, kereta yang akan saya tumpangi sudah masuk di stasiun. Di kereta ini, mas Agus dan mbak Tina sudah menumpang dari stasiun Tugu, Jogja. Tidak banyak yang kami bincangkan selama di atas kereta karena mereka tampak mengantuk. Perjalanan cukup lancar. Namun saat sampai di stasiun Mojokerto, kereta berhenti cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran kereta eksekutif. Karena penasaran, saya turun dan bertanya kepada kondektur kereta.

“Ada kabel listrik yang putus dan menghalangi jalur kereta,” jelas kondektur,”kami tidak mau ambil risiko, demi keselematan kereta.” Dari arah Surabaya, juga ada kereta barang yang juga terhalang.

Photobucket

 

Karena hambatan itu, kereta terlambat tiba di tujuan selama lebih dari 1 jam. Sesampai di stasiun Gubeng, kami dijemput oleh karyawan Gloria cabang Surabaya.

“Kita mau makan apa?” tanya mas Agus.

“Apa saja, manut,” jawab saya.

“Bagaimana kalau bebek gorang?” tawarnya.

Biasanya jika ditawari bebek goreng, saya menolak karena di Klaten sudah terlalu sering makan bebek goreng. Namun karena sudah capek dan mengantuk, saya pikir makan apa saja boleh. Yang penting kenyang dan bisa segera beristirahat. Sepanjang perjalanan, saya melirik mbak Tina masih meneruskan tidur di mobil. Tampaknya dia memang kurang tidur. Mas Agus yang duduk di depan juga berkali terbatuk-batuk. Dia sebenarnya baru saja pulang dari Makasar sehingga belum sempat istirahat.

Sesampai di warung penjual bebek goreng, ternyata sudah penuh pengunjung. Mas Agus mengusulkan supaya dibungkus dan dimakan di kantor cabang Gloria. Kami setuju. Ternyata perjalanan dari stasiun,cari makan, hingga ke kantor Gloria memakan waktu yang cukup lama. Lebih dari 60 menit.

Sesampai di Simpang Darmo Permai, mbak Tina langsung masuk kamar dan meneruskan tidur. Dia sudah tidak punya keinginan untuk makan lagi. Sementara saya masih sempatkan untuk menyantap nasi ayam goreng (Untunglah ada menu ayam di warung makan itu). Setelah itu bergegas merebahkan diri. Sementara itu, mas Agus masih punya satu agenda lagi yaitu kerokan.


Protected: 100 Tips Mengajar Sekolah Minggu

October 31 2011Beri Komentar!

Kategori: Jurnal

This post is password protected. To view it please enter your password below:



Ulang Tahun Erupsi Merapi

October 29 2011Beri Komentar!

Kategori: Catatan Pribadi

13195727011834359912

Puncak Merapi: Setahun setelah erupsi

Setahun yang lalu, perut Merapi bergejolak dan memuntahkan berton-ton material gas, cair dan padat. Ribuan orang mengungsi. Ratusan rumah roboh dan terbakar. Tak terhitung pohon dan vegetasi yang gosong dan menguap saat disentuh awan panas.
Tanggal 26 Oktober ini adalah ulangtahun pertama erupsi Merapi. Orang Jawa menyebutnya “mendhak sepisan.” Tahun lalu, akibat terjangan awan panas, hampir semua pohon besar yang berada pada radius 5 km dan di sekitar sungai Gendol habis terbakar. Selain itu, beberapa pohon di luar radius itu juga patah dan ambruk tersiram hujan batu dari Merapi.
Vegetasi kawasan Merapi merupakan kawasan yang vital karena menjadi sumber air bagi sebagian Klaten. Itu sebabnya, selain mengurusi pengungsi, kami juga mengadakan program penghijauan. Saat itu kami memutuskan untuk segera melaksanakan penanaman pohon karena mengajar sisa musim penghujan. Kami tidak mungkin menyiram tanaman itu satu demi satu. Maka kami hanya mengandalkan guyuran hujan. Akan tetapi program cepat ini juga memiliki risiko:
1. Lapisan tanah paling atas adalah abu vulkanik yang lunak. Jika lapisan ini tergerus oleh air hujan maka bibit pohon akan tercerabut.
2. Saat itu belum ada masterplan untuk penanaman pohon. Prinsipnya, tanah yang pohonnya mati harus segera ditanami lagi, tanpa peduli itu tanah milik siapa. Risikonya jika pemilik tanah tidak menyukai jenis pohon itu tumbuh di tanahnya maka ada kemungkinan akan dicabut dan dibuang.
3. Tidak ada pohon besar sebagai pelindung dari terpaan angin. Pada waktu-waktu tertentu, hembusan angin di dekat puncak Merapi sangat kencang. Dengan habisnya batang-batang pohon yang besar, maka bibit pohon yang ringkis bisa patah karena tidak kuat dihempas angin.
4. Musim yang tidak menentu. Meskipun menurut kalender saat itu mestinya masih musim hujan, namun siapa yang bisa menjamin bahwa musim masih taat pada kebiasaannya?

Pohon Kelengkeng

Kami membulatkan tekat untuk mewujudkan rencana itu. Pada gelombang pertama, kami menggalang gereja-gereja yang di Klaten untuk menanami desa Balerante, di Klaten. Pada gelombang kedua, kami menggandeng teman-teman dari pemuda Anshor. Mereka menerjunkan Banser (Bantuan Serbaguna) NU untuk menyerbu lereng Merapi dengan bibit pohon. Tenaga dari Banser ini merupakan bantuan yang sangat signifikan karena mereka sudah mendapat pelatihan fisik. Dengan kemampuan raga yang lebih prima, anggota Banser mampu menjangkau medan yang sulit. Gelombang penghijauan terakhir digelar bersama dengan PALM (Penghijauan Area Lereng Merapi) dari Jogja dan MMI (Masyarakat Multikultur Indonesia) yang ada di Klaten. Total jumlah pohon yang kami tanam mencapai angka lebih dari 100.0000 batang pohon.
***
Akan tetapi musim kemarau yang panjang membuat kami cemas. Kami tidak mungkin menyirami ratusan bibit pohon itu. Kami hanya bisa berharap pada kemurahan alam. Semoga di lereng Merapi masih ada embun pagi yang memasok sumber air bagi bibit-bibit pohon. Itulah doa kami sepanjang musim kemarau. Hari ini, tepatnya sehari sebelum ulang tahun erupsi Merapia, saya dan dua relawan bersanjang ke Merapi lagi. Kami ingin menengok nasib pohon-pohon itu. Kami merayapi punggung Merapi dengan harapan yang sangat tipis. “Semoga ada satu dua pohon yang lolos dari seleksi alam,” kata kami.

Photobucket

Penanaman Pohon tahun 2010

Sesampai di lokasi penanaman, kami disambut pemandangan hijau yang berasal dari tanaman alang-alang setinggi pinggang. Dengan harap-harap cemas, kami menyibak lautan alang-alang. “Hei, ada kelengkeng yang masih hidup!” teriak Agus Permadi kegirangan. Saya segera menghambur menerobos alang-alang yang melecetkan kulit. Benar, meskipun daunnya belum banyak, namun pohon buah kelengkeng itu berhasil hidup. Tidak hanya kelengkeng saja, ternyata alpukat, jambu biji dan petai pun bisa tumbuh. Pertumbuhan yang paling cepat ditunjukkan oleh pohon sengon buto, pisang dan jabon. Jabon adalah singkatan dari “Jati Kebon”, sebuah varietas pohon baru yang bisa menghasilkan batang kayu berukuran besar dalam waktu singkat. Sayangnya tidak ada pohon munggur atau trembesi yang bertahan hidup. Rupanya, jenis pohon ini tidak cocok untuk daerah pegunungan.

Fiuuuh…ternyata jerih payah kami tidak mubazir. Kami senang karena bisa berbuat sesuatu untuk bumi ini. Barangkali kami tidak akan menikmati hasil dari pohon-pohon itu pada masa hidup kami. Biarlah anak-cucu kami kelak yang akan menikmatinya.

Pete

Pisang

Sengon Buto

Apokat

Jabon

Jambu Biji

Desa Balerante: Ini adalah desa tertinggi di kabupaten Klaten

Desa Srunen: Di desa ini, mbah Maridjan dimakamkan