Melayani di gereja saya yang sekarang ini, pada mulanya saya merasa kaget. Bagaimana tidak,di gereja ini ada fasilitas mobil untuk mengantar orang-orang yang akan melayani. Ada dua mobil plus sopir yang siap menjemput di rumah dan menghantarkan mereka sampai ke tempat pelayanan. Pulangnya juga dihantar sampai ke rumah masing-masing. “Bahkan kalau bisa sampai ke emperan rumah,” canda para sopir. Hal ini berbeda dengan situasi di gereja saya sebelumnya. Karena keterbatasan dana, maka fasilitas mobil hanya dipakai dan disopiri oleh pendeta [sesekali dipinjam oleh gereja untuk keperluan lain].
Selain hari Minggu, hari tersibuk sopir gereja adalah hari Jumat sore karena ada kegiatan Persekutuan Wilayah. Di gereja kami ada empat kelompok ditambah dua bakal jemaat yang mengadakan ibadah rumah tangga pada Jumat sore itu. Sore itu, saya mendapat tugas memimpin persekutuan di bakal jemaat Mireng, yang berjarak sekitar 3 km dari kota. Biasanya orang yang melayani akan dihantarkan oleh mobil gereja. Jumat pagi, saya ingin mengkonformasikan ini kepada kantor gereja, tapi saya urungkan niat itu. Saya berpikir, “Setiap orang yang akan melayani di bakal jemaat pasti akan diantar oleh mobil gereja. Itu sudah prosedur rutin.” Saya tidak ingin menambah urusan karyawan gereja dengan hal-hal yang remeh ini.
Dalam catatannya berjudul “Cewek Narsis di Kuburan” , Petrus Wijayanto menulis dan menampilkan foto yang di-”capture”-nya dari sebuah video. Secara sekilas, foto itu sangat dramatis karena menampilkan sosok perempuan besar berambut panjang pada latar belakang. sementara pada latar depan, terlihat beberapa pelayat yang sedang menggotong sebuah peti mati.

Dia sangat yakin bahwa video tersebut bukan hasil rekayasa. Lebih jauh lagi, dia punya keyakinan bahwa sosok tersebut memang makhluk dari dimensi lain. Melihat fotonya, saya memberi komentar bahwa saya bersikap skeptis sebelum melihat videonya. Maka untuk meyakinkan saya, beliau mengirimkan video tersebut dengan format VCD melali jasa kurir.
Klip yang berdurasi 3 menit 28 detik tersebut mendokumentasikan sebuah prosesi pemakaman yang dilayani oleh gereja Katolik. Klip ini kemungkinan diambil menggunakan handphone atau kamera digital. Hal ini terindikasi ketika orientasi gambar berubah dari landscape ke potrait. Rupanya si perekam kebingungan mencari tombol zoom sehingga tanpa sadar dia mengubah orientasi kamera.
Pertanyaan pertama: Apakah video tersebut asli? Saya punya keyakinan video tersebut asli. Tidak tambahan objek lain atau sentuhan teknologi yang dapat mendistorsi video aslinya.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan citra yang mirip hantu itu? Saat saya perhatikan, sosok tersebut hanya muncul pada 15 detik pertama. Menggunakan program Uluead 11, saya mengambil still photo pada scene itu, kemudian mengolahnya menggunakan Photoshop.
Untuk sesaat memang foto ini mirip foto hantu seperti yang digambarkan pada film-film misteri [Meskipun ini juga masih bisa ditanyakan, apakah sosok hantu memang benar-benar seperti itu]. Saat saya memperbesar foto, kemudian mengkontraskan, saya mendapatkan kesan baru. Yang semula dianggap mirip kepala itu adalah benda bulat yang terletak di atas sebuah nisan.

Benda bulat itu kemungkinan besar adalah ornamen yang mirip bunga bakung yang sedang kuncup. Karena ditimpa sinar matahari yang sedang di atas ubun-ubun, maka bulatan ornamen ini membentuk bayangan di bawahnya, membentuk bayangan gelap menyerupai rambut yang tergerai.
Lalu bagaimana dengan badannya yang mirip jubah itu? Citra yang mirip badan itu sebenarnya adalah bangunan nisan yang berbentuk segitiga. Dari samping, nisan itu memang seperti membentuk sosok badan. Namun sesungguhnya itu adalah nisan Kristen yang mirip dengan gunungan. Sayangnya, video klip tersebut tidak mengambil gambar “sosok” tersebut dari sudut yang berbeda, sehingga kita bisa melihat dari perspektif yang lain. Meski demikian saya mencoba membandingkannya dengan nisan serupa yang ada di kuburan itu.
Bandingkanlah kemudian dengan sosok yang dipersepsi sebagai “makhluk halus” itu? Apakah Anda masih yakin bahwa itu penampakan dari dunia lain? Kalau saya sih yakin 100 persen bahwa sosok itu adalah nisan yang berbentuk segitiga dengan hiasan bulatan di atasnya.
ShareKetika listrik belum masuk desaku, hiburan di malam hari adalah dolanan bersama kawan-kawan sekampung. Manakala sinar bulan menyiramkan sinar keemasan, kami berkumpul di sebuah halaman yang luas. Ada bermacam-macam permainan yang biasa kami mainkan. Mulai dari cublak-cublak suweng, dakon, sumbar suru, gobag sodor, sampai dengan jethungan. Namun dolanan yang menjadi favorit kami, adalah Jamuran.
Permainan kolektif ini minimal dimainkan oleh empat anak. Semakin banyak anak yang terlibat akan semakin seru. Mula-mula ditentukan dulu siapa yang akan menjadi pemain di tengah lingkaran. Kami biasa menyebutnya “sing dadi.” Cara mengundinya dengan hompipa atau cap-cup.
Selanjutnya semua anak bergandengan tangan membentuk lingkaran mengelilingi seorang anak “sing dadi.” Mereka bergerak berputar sambil bernyanyi:
“Jamuran yo gehethok
Jamur opo, yo gegethok
Jamur gajih bejijih sak oro-oro
Siro badhe jamur opo?”
Jamuran, ini cuma pura-pura
Jamur apa? Ini cuma pura-pura
Jamur lemak, tumbuh menyebar seluas lembah
Kamu ingin jamur apa?
Dalam versi lain, lelagon yang ditembangkan seperti ini:
“Jamuran ….., jamuran …., yo age ge thok,
jamur apa yo age ge thok.
Jamur payung, ngrembuyung
kaya lembayung,
sira badhe jamur apa?”.
Anak yang di tengah menyebut salah satu jenis jamur, lalu anak-anak yang lain melakukan sesuatu sesuai jenis jamur itu. Misalnya jamur parut. Semua anak jongkok sambil menjulurkan salah satu telapak kaki. Anak “sing dadi” menggelitik telapak kaki anak yang lain, berusaha membuatnya geli sehingga tak dapat menahan tawa. Jika ini terjadi, anak yang tak tahan geli ini menggantikan posisi “sing dadi.”
Jenis jamur yang lain adalah jamur kethek menek atau monyet memanjat pohon. Dalam permainan ini, anak-anak harus segera berdiri di atas benda tertentu sebelum anak “sing dadi” menyentuhnya. Ada juga jamur kursi, dimana anak-anak harus dalam posisi setengah jongkok meniru posisi kursi. Anak “sing dadi” akan duduk di atas paha anak-anak yang lain. Jika ada yang tidak kuat diduduki, maka anak itu yang akan menggantikan “sing dadi.” Ada lagi jamur pawon. Jamur ini menirukan tungku tradisional dengan membentuk posisi tubuh seperti merangkak tapi diam di tempat. Anak “sing dadi” berpura-pura sebagai kayu yang masuk di bawah perut anak-anak yang lain, kemudian mengangkatnya. Anak-anak yang menjadi pawon harus mempertahankan posisi merangkak tersebut kalau tidak ingin menggantikan posisi “sing dadi.”
Jenis jamur yang paling seru adalah jamur kendil borot atau periuk bocor. Apa yang harus dilakukan oleh anak-anak? Mereka harus kencing! [Tentu saja dipisahkan antara laki-laki dan perempuan]. Anak “sing dadi” tadi akan memeriksa bekas air seni di tanah. Jika ada anak yang tidak bisa kencing lagi, dia pasti akan mendapat giliran “sing dadi.” Bayangkan jika ada anak iseng yang memilih jamur kendil borot ini berkali-kali. Bisa jadi kantong kemih mereka akan kering sama sekali.
****
Setelah dipikir-pikir, permainan kuno ini ternyata melatih berbagai aspek kecerdasan. Dengan lelagon tembang [menyanyikan lagu], anak-anak berlatih mengasah kecerdasan musik. Ketika anak-anak berlarian, memanjat, berguling, menari, berjalan, tanpa disadari mereka sedang mengasah kecerdasan kinestetik. Demikian juga ketika mereka menyepakati aturan main, berkonflik, dan berdamai sesungguhnya mereka telah mengembangkan kecerdasan antarpersonal. Kecerdasan natural diasah saat mereka diajak untuk mengamati dan menirukan berbagai jenis benda, tumbuhan atau hewan yang digunakan sebagai jenis “jamur.” Tak ketinggalan kecerdasan bahasa. Ada dialog-dialog yang diucapkan dalam permainan ini.
Sayangnya, ketika listrik masuk ke desaku, permainan ini perlahan-lahan ditinggalkan. Anak-anak memilih duduk manis di depan pesawat televisi. Orangtua pun merasa lebih senang demikian karena lebih mudah mengawasi anak. Mereka tidak merasa was-was karena anak-anak mereka bermain di luar pada malam hari. Tapi lihatlah akibatnya: Anak-anak sekarang menjadi penakut. Mereka takut pada kegelapan malam. Mereka tidak terbiasa bersahabat dengan malam.
Karena kebanyakan menonton televisi, bermain play station dan sekarang berselancar internet, maka anak-anak sekarang cenderung mengalami obesitas. Asupan kalori yang masuk dalam tubuh mereka tidak dibakar karena mereka tidak banyak melakukan gerakan fisik. Anggota tubuh yang bergerak sebatas kepala, bola mata dan tangan untuk mengggerakkan tetikus, mengetik keyboard, memencet remote dan tombol HP atau menggeser joystick.
Mungkin sebaiknya kita mendukung program “penyalaan bergilir” [sebagai ganti "pemadaman bergilir"] yang dilakukan oleh PLN. Ketika listrik padam, kita ajak seluruj anggota keluarga dan tetangga berkumpul di tanah lapang, lalu kembali melakukan dolanan-dolanan tradisional. Tapi bagi penduduk kota, ide ini sulit diwujudkan karena ruang publik kita telah habis dikikis untuk perumahan dan tempat usaha. Fasilitas sosial adalah kemewahan bagi orang kota.
Hanya ada batas tipis antara iman dan kegilaan. Jika ada seorang petani yang nekad menanam kentang di wilayah yang sangat kering, maka Anda dapat mengatakan petani ini sinting. Kentang itu adalah tanaman yang membutuhkan sangat banyak air. Namun jika menggunakan kacamata rohani, kita bisa menyebut petani sebagai orang beriman. Jika Anda menjadi pengelola stadion nasional, lalu ada petani kampung yang datang untuk menyewa stadion, apa yang Anda lakukan? Mungkin Anda akan permisi sejenak untuk pergi ke kamar mandi dan tertawa terpingkal-pingkal di sana.

Akan tetapi hal ini benar-benar terjadi. Adalah petani Angus Buchan yang punya ide gila seperti ini. Angus adalah seorang kulit putih keturunan Skotlandia yang lahir di Afrika. Pada mulanya, dia tinggal di Zambia. Namun karena himpitan ekonomi dan situasi keamanan yang mengkhawatirkan, Angus membawa tiga anak dan isteri yang sedang hamil untuk pindah ke Afrika Selatan.
Di tempat yang baru, mereka harus mulai dari nol. Mereka tinggal di dalam trailer karena belum sempat membuat rumah. Angus harus membuka ladang dengan tangannya sendiri. Dia tidak percaya kepada penduduk setempat. “Tuhan pasti akan memberikan tanah pertanian kepada kita,” ujar Jill sembari memberi nama trailernya “Shallom.” Namun Angus hanya mendengus. Dia lebih percaya pada kekuatan ototnya.
Enam bulan kemudian, ternyata tidak ada kemajuan yang berarti. Angus mulai frustasi. Dia mudah tersinggung dan meledak kemarahannya. Situasi ini membuat cemas Jill, isterinya yang kemudian membujuknya untuk minum obat penenang. Angus justru tersinggung dan menolak mentah-mentah.
Hingga suatu saat, Angus dipaksa oleh isterinya untuk mengantarkan dia dan anak-anak untuk pergi gereja. Dengan perasaan berat dan enggan Angus masuk ke gereja. Di dalam gereja, Angus semakin tidak nyaman karena ternyata dia adalah satu-satunya pria dewasa yang tidak mengenakan dasi.
Dalam ibadah itu, Angus justru mendapat kejutan. Dia merasa bahwa khotbah yang disampaikan oleh pendeta itu seolah-olah ditujukan secara pribadi kepadanya. Dia mulai menyadari bahwa sumber kemarahannya selama ini adalah jiwa yang gelisah. Maka tanpa ragu-ragu Angus menyerahkan hidupnya kepada Yesus.
Keesokan harinya, pendeta menantang Angus untuk menceritakan perubahan hidupnya itu kepada tiga orang. Bagi seorang petani sederhana, tantangan ini tidaklah mudah. Namun dengan cata ajaib Tuhan membukakan jalan. Pertama, dia bertemu dengan teman lamanya yang sedang santai. Sambil minum di sebuah bar, Angus membagikan kabar sukacita kepada kawan lamanya itu.
Kesempatan kedua didapatkan ketika terjadi kebakaran besar di ladang akibat kemarau panjang. Dibantu oleh penduduk setempat, Angus berusaha memadamkan api secara manual. Tampaknya itu sia-sia.Kebakaran semakin meluas dan mulai merembet wilayah pertanian tetangganya. Jika ini terjadi, maka Angus akan dituntut ganti rugi.
Satu-satunya cara memadamkan api itu adalah dengan menyiramkan air dari langit. Maka Angus mengajak Simeon Bhengu, sahabatnya yang warga asli untuk berdoa minta hujan. Simeon tertawa mendengar ajakan itu karena bulan itu belum memasuki musim hujan. Namun tawa Simeon segera lenyap dan digantikan keheranan. Langit berubah menjadi gelap dan turunlah hujan lebat yang memadamkan api yang mengganas itu.

Peluang ketiga terjadi ketika seorang perempuan dewasa tewas disambar petir. Karena pernah mendengar bahwa Angus pernah berhasil berdoa menurunkan hujan, maka mereka meminta Angus untuk mendoakan perempuan yang sudah terbujur kaku itu. Dengan perasaan bingung, Angus mendoakan dan secara ajaib perempuan itu membuka mata lagi.
****
Film ini diangkat dari kisah nyata. Meskipun tanpa aksi tembak-menembak atau adu jotos, film ini tetap menarik untuk ditonton. Dengan disuguhi lanskap pemandangan yang indah, kita diajak menikmati alur penceritaan yang sederhana namun mengajak kita untuk melakukan refleksi. Kehidupan kekristenan itu tidak menjanjikan perjalanan kehidupan yang selalu mulus. Justru pada saat memasuki lembah yang kelam, kita akan mendapat pengalaman bahwa tangan Tuhan yang perkasa selalu menuntun dan menjaga dari bahaya.
Kisah tentang mukjizat yang dialami oleh Angus ini mulai tersebar. Dia mendapat undangan dari berbagai tempat. Bahkan dia punya kesempatan untuk berkunjung ke tanah leluhurnya di Skotlandia. Namun di tengah euforia ini, terjadi tragedi yang mengenaskan. Saat bersantai bersama Alistair,–anak sahabatnya–, kendaraan yang disopiri Angus melintasi lobang kecil. Alistair oleng, jatuh dan terlindas oleh roda traktor. Angus berusaha membawa ke rumah sakit, tapi nyawa anak laki-laki ini tidak tertolong.
Angus sangat terpukul. Dia dihantui oleh perasaan bersalah dan terseret dalam arus depresi. Jemaat yang semula menyanjung mulai meragukan keimanan Angus. “Mengapa waktu itu Angus tidak mendoakan anak laki-laki itu? Bukankah dulu dia pernah menghidupkan kembali perempuan yang sudah mati?” Demikian cecar beberapa jemaat.
Sebelum tragedi itu terjadi, Angus pernah bercerita pada isterinya bahwa Allah akan memanggil dia untuk menjadi bahan ejekan dan cemoohan orang lain. Panggilan ini tidak hanya untuk Angus, tetapi juga bagi seluruh anggota keluarganya. “Apakah kamu sudah siap menerima panggilan ini?” tanya Angus pada Jill. Isterinya terdiam terpana.
Pergumulan Angus mengalami titik kulminasi setelah menerima telepon dari ayah Alistair pada sebuah malam. Sahabatnya bercerita bahwa dia baru saja bermimpi bertemu mendiang anaknya. “Aku memanggilnya supaya pulang,” kata sahabatnya terisak, “tapi anakku berkata, ‘Tidak ayah. Aku menunggu ayah di sini’”. Beban yang menindih itu seketika lepas dari pundak Angus.
Angus bersemangat lagi. Sebagai petani dia merasakan dampak dari kemarau penjang. Sebagai pendatang, dia juga merasa khawatir akan situasi keamanan yang mulai genting. Di beberapa tempat sudah berkobar isu rasial. Maka dia berinisiatif menyelenggarakan pertemuan doa nasional yang dihadiri para petani untuk meminta hujan dan keamanan.
Untuk keperluan ini, Angus ingin menyewa stadion Kings Park. Bagaimana tanggapan pengelola stadion? “Stadion ini pernah dipakai untuk konser Michael Jackson. Apakah Anda membayar sewanya?” tanya pengelola stadion. Angus meninggalkan nomor telepon untuk dihubungi jika pengelola stadion mengizinkan pemakaian.
Ternyata Angus bukan orang gila. Pertemuan yang digagasnya ini berhasil diselenggarakan di stadion ini. Sayangnya film ini tidak menceritakan bagaimana Angus mendapatkan uang sewanya. Pada saat memimpin doa di hadapan ribuan petani, Angus sekali lagi mencetuskan ide yang sensansional. Dia akan menanam kentang karena dia punya keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan hujan.
Karena idenya itu, dia mendapatkan cemoohan dari berbagai pihak. Pihak bank menyarankan supaya Angus mengurungkan niat menggunakan uang pinjaman dari bank untuk menanam kentang. Sahabat-sahabatnya juga mewanti-wanti supaya jangan bertindak gegabah. Bahkan pendetanya juga meragukan kewarasan Angus.
Angus tidak surut. Dia yakin Tuhan pasti menjawab doanya. Dibantu oleh warga setempat, Angus menanam kentang di tanah berhektar-hektar. Seminggu, dua minggu, hujan yang dinantikan tak mengguyur. Bahkan setetes pun tidak. Empat bulan kemudian, menurut perhitungan adalah saatnya memanen kentang. Namun di atas bedeng-bedeng tanah pertanian itu bahkan belum tumbuh tunas-tunas baru.
“Besok pagi kita akan panen raya,” kata Angus pada Simeon, “Siapkan teman-teman untuk memanen kentang. Sebelumnya, kita akan berdoa mengucap syukur.” Mendapat perintah itu, Simeon tak habis pikir. Apanya yang akan dipanen? Bahkan benih kentang ini belum bertunas. Mungkin ini pikiran yang terlintas di benaknya.
Namun itulah iman. Menurut Angus, iman itu seperti kentang. Bisa diraba dan dicium. Iman itu begitu dekat dengan diri kita. Demikian juga, menumbuhkan iman itu seperti bertanam kentang. Kalau menanam sayur, kita bisa melihat perkembangannya. Berbeda dengan kentang. Setelah membenamkan benih kentang ke dalam tanah, kita tidak akan tahu perkembangannya. Kita baru bisa tahu setelah musim panen tiba.
Bagaimana akhir dari film ini? Apa yang ditemui Angus saat membongkar bedeng-bedeng tanah pertaniannya? Rasanya tidak seru kalau saya menuliskan di sini. Tonton saja sendiri DVDnya yang sudah beredar di Indonesia [Purnawan].

Saksikan trailernya di sini
Jumat sore, 6 Nopember, aku ikut melihat Karnaval Nusantara yang membuka rangkaian acara Festival Malioboro. Dalam karnaval itu, Thukul Arwana turut hadir sebagai tamu undangan. Inilah cuplikan videonya
ShareJika para hewan bisa main Facebook, kira-kira seperti inilah status mereka.

NB: Terinspirasi sebuah posting di milis
Papa: “Kalau Kirana besar nanti, apakah mau menjadi penulis seperti papa?”
Kirana: “Nggak”
Mama: “Apakah mau menjadi pendeta seperti mama?”
Kirana: “Nggak”
Papa & Mama: “Kalau begitu, kalau Kirana besar nanti mau jadi apa?”
Kirana [dengan nada tinggi]: “Kirana ya Kirana. Aku mau jadi anak Indonesia.”
Kezia dan Carolina adalah anak perempuan kembar. Keduanya adalah tuna netra dan sama-sama mengalami kelambanan mental. Mereka menjadi siswa di SLB bagian B “Rawinala”
Saksikan videonya di sini:
ShareRawinala adalah Sekolah Luar Biasa khusus untuk cacat ganda. Angel adalah anak yang buta dan mengalami kelambanan mental. Dia menjadi salah satu siswa di SLB ini.
Saksikan videonya di sini:
ShareDokumentasi proyek rekonstruksi paska Gempa di Klaten. Proyek ini dilaksanakan oleh Tim Gerakan Kemanusian Indonesia dan GenAssist.
Berkat pertolongan Tuhan, kami bisa membangun sekitar 2.400 unit rumah tipe 21. Rumah ini berkonsep core house atau rumah tumbuh.
Yona adalah amak perempuan yang tuna netra dan tuna rungu. Meski begitu, dia adalah anak yang sangat aktif. Dia adalah murid di SLB bagian G “Rawinala”
Rawinala adalah Sekolah Luar Biasa bagian “G” untuk Tuna Ganda. Siswa di sini mengalam kecacatan ganda.
ShareFilm ini menceritakan perjuangan seorang anak bernama Evan yang mencari orangtuanya. Dia diserahkan ke panti asuhan karena kakeknya tidak merestu hubungan bapak dan ibunya.
Dengan keyakinan bahwa musik akan mempertemukannya dengan orangtua, Evan kabur ke New York. Dia sempat menggelandang dan menjadi pengamen sebelum akhirnya bertemu dengan seorang pendeta yang mengetahui talenta Evan. Sang pendeta memasukkannya ke sekolah musik. Di sini talentanya berkembang dengan pesat.
Apakah Evan alias August Rush–demikian nama jalanannya–dapat bertemu orangtuanya? Simak film ini?
Kirana sesungguhnya belum sehat benar. Dua hari sebelumnya dia mengalami demam yang tinggi karena sakit radang tenggorokan. Namun demi acara belajar di alam, maka dia tetap masuk sekolah juga. Pukul setengah tujuh pagi, dia sudah bangun dan segera mandi. Mungkin karena badannya belum fit benar, Kirana muntah saat sedang mandi. Akua merasa iba dan bermaksud melarang dia berangkat ke sekolah. Namun melihat antusiasmenya, aku tak tega mengucapkannya.
Aku segera menyiapkan diri dan mengeluarkan sepeda motor untuk mengantarkannya. Sesampai di sekolah, anak-anak lain sudah banyak yang datang. Di halaman sudah banyak mobil yang bersiap mengangkut mereka. Menjelang pukul delapan pagi, rombongan mobil berangkat menuju SMKN 1 Trucuk, sekitar 15 menit perjalanan.
Sesampai di tujuan, anak-anak diajak melihat pembibitan pohon mangga. Setelah itu menyaksikan siswa-siswa SMKN yang sedang mengolah tanah. Sayang sekali, kedatangan anak-anak ini terlambat. Satu jam sebelumnya, siswa-siswa SMKN ini baru saja memanen kangkung. Anak-anak hanya bisa melihat siswa SMKN sedang membuat tanggul-tanggul.
Untuk mengobati kekecewaan, maka anak-anak diajak turun ke sawah untuk melihat hamparan padi yang sudah hampir menguning. Setelah itu masuk ke dalam rumah kebun sayur-sayuran. Di dalam rumah ini ditanam sayur sawi, tomat dan melon.
Setelah itu, anak-anak diajak melihat bagian peternakan. Obat yang diminum Kirana mulai bekerja. Dia sudah mulai merasa mengantuk sehingga minta aku untuk menggendongnya. Dengan menggendong Kirana di tangan kiri dan memegang kamera di tangan kanan, kami melihat sapi, domba, ayam, bebek dan burung puyuh.
Pukul sebelas, acara kunjungan lapangan ini pun diakhiri. Serangan rasa kantuk sudah tak dapat ditahan oleh Kirana. Sepanjang perjalanan pulang, Kirana terlelap di pangkuanku. Sesampai di sekolah, dia pun masih tertidur. Dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor, Kirana juga masih terlelap. Sesungguhnya tak nyaman bersepeda motor dengan salah satu tangan memegang Kirana yang terlelap. Tapi apa boleh buat.
Sesampai di rumah, aku segera membaringkannya di tempa tidur supaya dia bisa tidur lebih nyaman. Tapi apa yang terjadi? Eh, dia malah bangun. Setelah itu pencilakan lagi karena rasa kantuknya sudah hilang.
Saksikan videonya di sini:
Share






















Tuhan Yesus Tidak Tidur [2];
120 Renungan Bukti Penyertaan Tuhan pada Masa Kesukaran














Komentar