Apa yang harus saya tulis? Semua orang sudah tahu Bali. Kalau saya mengunggah tulisan hal yang sudah diketahui orang banyak, maka tulisan saya tak lebih dari pepesan kosong. Untuk menghindari ini, maka saya mengambil angle wisatawan yang beranggaran pas-pasan. Sudah lama saya dan istri ingin berlibur ke Bali. Dengan tabungan yang terkumpul, sebenarnya bisa saja kami berlagak seperti kelas menengah ke atas. Pergi-pulang naik pesawat, menginap di hotel dan semua urusan dikerjakan oleh agen wisata. Akan tetapi kami punya niat lain. Kami ingin mengajak keluarga besar kami di Gunungkidul dan Jakarta berwisata ke Bali. Maka kami putuskan untuk melakukan perjalanan darat dan mengurus sendiri perjalanan wisata kami.
Agenda pertama yang harus dikerjakan adalah mencari mobil. Keluarga di Gunungkidul sudah ada mobil Toyota Kijang berkapasitas 8 penumpang, milik Tanto, adik ipar saya. Kami harus menyewa mobil yang berkapasitas 12 penumpang. Pilihan yang tersedia adalah Izusu Elf, Travello atau Preggio. Tarif sewanya hampir sama, kami memutuskan memilih Izusu Elf karena lebih lega dan ruang bagasi lebih banyak. Setelah bertanya-tanya ke berbagai jasa rental, ternyata ada bermacam-macam pilihan.
Pertama, hanya sewa mobil, yaitu Rp. 400-500 ribu/24 jam tergantung kondisi mobil. Sedangkan sopir dan bahan bakar disediakan sendiri. Kelebihan: Jika ada anggota keluarga bisa menyetir sendiri maka bisa menghemat ongkos dan kapasitas mobil. Kekurangan: Jika terjadi sesuatu di jalan, misalnya kecelakaan atau kerusakan, maka tanggungjawab dibebankan pada penyewa. Selain itu juga harus panjang sabar karena akan berkali-kali ditelepon oleh pemilik mobil. Semenjak maraknya pelarian mobil sewaan, penyedia jasa persewaan mobil agak paranoid. Mereka lebih sering-sering menelepon untuk mengecek apakah mobil mereka aman atau sudah berpindah tangan.

Kedua, sewa mobil dan sopir. Sedangkan bahan bakar masih tetap disediakan sendiri. Kelebihan: Jika terjadi kecelakaan atau kerusakan selama perjalanan, maka tanggungjawab ada pada sopir. Kekurangan: Harus menambah ongkos Rp. 150.000,- per hari untuk bayaran sopir. Juga harus menanggung akomodasi sopir. Selain itu, penumpang juga harus menyesuaikan diri dengan karakter sopir. Jika mendapat sopir yang berkarakter kurang baik, maka perjalanan wisata tersebut menjadi kurang menyenangkan.
Ketiga, paket all in. Harga sudah termasuk sewa mobil, bahan bakar dan sopir. Penghitungan biaya hanya didasarkan pada hitungan hari. Kelebihan: Penumpang dapat berkonsentrasi menikmati perjalanan wisata. Kekurangan: Harus bisa mengelola perjalanan sehingga ongkos yang sudah dibayarkan dapat digunakan dengan maksimal. Maksudnya begini, entah itu digunakan untuk perjalanan jauh atau perjalanan dekat, biaya yang harus dibayarkan tetap sama. Yang paling optimal memang melakukan perjalanan sejauh-jauhnya karena tidak ada risiko dalah hal ongkos bahan bakar. Meski begitu, jika memaksakan sopir terus-menerus mengendarai mobil tanpa istirahat yang memadai, tentu mengundang risiko kecelakaan. Itu sebabnya diperlukan keseimbangan antara istirahat yang cukup dengan penggunaan mobil yang optimal.
Kami memilih paket ketiga. Ketika ditanyakan pada persewaan mobil, mereka mematok Rp. 3,6 juta untuk sewa Elf+sopir+bahan bakar selama 4 hari. Kami lalu membandingkan dengan paket kedua. Hasil perhitungannya sebagai beriut:
- Sewa mobil 4 hari x Rp. 500.000,- = Rp. 2 juta.
- Honor sopir 4 hari x Rp. 150.000,- = Rp. 600 ribu.
Total Rp. 2.600.000,-
Berarti ada selisih satu juta rupiah yang merupakan biaya bahan bakar. Saya lalu bertanya kepada teman-teman, berapa biaya bahan bakar Klaten-Bali pp. Mereka memberikan kisaran Rp. 1 s/d 1,5 juta, dengan pemakaian yang wajar. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan untuk paket kedua dan ketiga, sebenarnya sama saja. Kami memilih yang ketiga dengan pertimbangan kepraktisan. Kami ingin menikmati wisata tanpa direcoki urusan transportasi.
***
Urusan transportasi sudah beres. Agenda berikutnya adalah mencari penginapan. Dari teman yang pernah berlibur ke Bali dengan naik sepeda, saya mendapat penginapan murah untuk kaum backpacker. Semalam hanya bertarif Rp. 50 ribu. Secara pribadi saya bisa menikmati menginap di kamar sederhana, namun karena saya membawa keluarga besar, maka saya berpikir ulang. Saya mencari penginapan dengan tarif standard.
Saya lalu menghubungi seorang teman yang tinggal di Bali. Saya mengenal dia melalui interaksi sebuah komunitas di internet. Meski belum pernah bertemu secara secara langsung saya memberanikan diri untuk meminta tolong mencarikan penginapan murah-meriah untuk sekeluarga. Sambutannya ternyata positif. Dia menyanggupi. Secepat unit reaksi cepat, dia menawarkan beberapa pilihan. Saya memilih rumah retret Khalwat yang dikelola romo-romo dari serikat Congregatio Dicipulorum Domini (CDD) melalui yayasan Kolese santo yusup, Denpasar. Kami menyewa sebuah rumah dengan pertimbangan semua keluarga bisa berkumpul menjadi satu dan lebih bebas bercengkerama. Jika menyewa kamar di penginapan ada kemungkinan kami mendapat kamar-kamar yang berjauhan letaknya.
“Tolong saya diberi nomor rekening untuk pembayaran uang muka,” pinta saya.
“Itu gampang, bisa dibayar kalau sudah sampai di Bali saja,” kata teman saya dengan dengan logat khas Bali.
***
Kamis [7 januari], pukul 15.00, rombongan keluarga besar dari Gunungkidul sudah sampai di rumah kami di Klaten. Mereka menumpang mobil kijang. Satu jam kemudian, mobil sewaa kami sudah datang. Tanpa menunggu lama, kami segera meluncur. Masih ada satu keluarga di Solo yang harus dijemput.
Menjelang Maghrib, diiringi hujan yang lebat dan langit yang pekat, sebanyak 21 orang memulai ekspedisi ke Bali. Petir menyambar langit kota Batik itu, seperti tangan jemari-jemari raksasa yang sedang marah.
Selepas terminal Tirtonadi, teman yang tinggal di Solo menelepon. Saya juga mengenalnya lewat internet.
“Sampai dimana?” tanyanya.
“Sekarang sedang melintasi kota Solo,” jawab saya. “Apa mau menambahi uang saku? Ini mumpung saya ada di Solo, bisa sekalian ngambil”
Dia hanya tertawa kecil.
“Rencananya mau istirahat dimana?”
“Belum tahu. Pokoknya asal perut sudah lapar atau badan sudah capek, ya istirahat saja.”

Perempuan paruh baya ini lalu merekomendasikan beberapa tempat makan. Pecel di Madiun, Rawon di Nganjuk, ayam goreng di Banyuwangi dan Negara. Namun akhirnya kami beristirahat di sebuah rumah makan di Saradan, Madiun. Tempatnya sih nyaman, tapi kualitas masakannya itu suam-suam kuku. Manis nggak, asin tidak, asem juga bukan. Gurameh asam manis yang terhidang, ternyata lebih banyak tepungnya daripada dagingnya. Mungkin menu itu lebih tepat dinamai bakwan rasa gurameh bumbu asam manis. Tapi tak apalah. Yang penting perut kenyang. Soal rasa, itu nomor dua.
Tak banyak hambatan dalam perjalanan ke Banyuwangi. Pukul setengah tujuh pagi, kami sudah sampai di pelabuhan Ketapang. Di sini justru ada sedikit hambatan. Polisi yang bertugas di pelabuhan ini memeriksa surat jalan mobil Elf. Setelah membaca sejenak, polisi meminta sopir turun dan mengajaknya ke pos polisi. Entah urusan apa yang dilakukan, tetapi 10 menit kemudian sopir sudah kembali ke mobil. Matahari Timur sudah merekah penuh saat kami menyeberangi selat Bali. Tak lupa, saya mengabarkan status perjalanan teman Bali saya.

“Kalau sudah masuk Denpasar kasih tahu ya? Pukul 10, saya akan check in ke penginapan.” Demikian pesannya.
Perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar ternyata sangat lancar. Kami melewati hutan dengan jalan meliku-liku, lalu menyusuri pantai. Menjelang kota Tabanan, terlihat banyak penjual duren.
“Mau duren, nggak?” tanya saya pada isteri lewat SMS. Padahal kami semobil.
“Mau dong, tapi kita ‘kan belum sarapan?” Jawabnya.
“Kita bawa ke mobil dan dimakan di penginapan setelah sarapan”
Dia setuju. Maka saya pun melongok keluar jendela untuk mencari penjual duren. Tapi terlambat. Sesudah itu, tidak ada lagi penjual duren yang mangkal di pinggir jalan.

Pukul sembilan, kami sudah masuk Tabanan, kabupaten yang berbatasan dengan Denpasar. “Wah, cepat sekali!” reaksi teman saya lewat telepon, setelah saya beri update posisi kami. “Kalau begitu saya segera ambil kunci ke penginapan. Rombongan pak Wawan sudah sarapan?”
Saya jawab belum.
“Kalau begitu, sebelum ke penginapan, kita cari makan dulu.”
“Apa tidak sebaiknya kami mandi dulu?”
“Kalau mandi dengan perut kosong bisa masuk angin, lho!”
Saya setuju karena perut saya memang sudah keroncongan.
“Saya menunggu di depan sekolah…..[menyebut nama sekolah]” katanya, lalu menyebut merek dan warna mobilnya.
Karena sudah hampir sampai, maka saya mengerahkan semua penumpang untuk memasang mata, mencari mobil teman saya. Meskipun ada 12 pasang mata yang melotot sepanjang jalan, ternyata mobilnya terlewat tanpa kami sadari. Kami berhenti di depan terminal bis Ubung. Saya segera menelepon temann saya itu. “Oke, tunggu saja di situ. Saya segera menyusul.”
Berselang 10 menit, mobil teman saya sudah sampai. Dia segera turun dengan ramah dan menyalami saya. Inilah pertama kali kami bertemu muka dengan muka.
“Mau makan apa? Babi guling atau nasi campur?” Saya memutuskan untuk sarapan nasi campur saja supaya bisa dihidangkan dengan cepat. Sarapan pagi yang agak kesiangan itu berlangsung singkat. Mungkin karena kami memang sudah sangat kelaparan.
Usai sarapan kami diantarkan ke penginapan di jalan Gatot Subroto barat. Tepatnya di jalan Kubu Gunung, Tegal Jaya. Jarak antara jalan utama dengan penginapan sekitar 1,5 km, melewati persawahan yang asri dan kompleks perumahan mewah. Teman saya telah memesankan sebuah rumah berarsitektur Bali yang cukup besar. Di dalamnya terdapat empat kamar tidur ber-AC, ruang tamu yang sangat lapang [bisa untuk pertemuan 50 orang], dapur yang luas dan halaman belakang yang lega. Pada kamar mandi tersedia air panas. Terdapat juga kulkas dan dispenser panas-dingin. Benar-benar pas dengan kebutuhan kami. Begitu sampai penginapan, anak-anak langsung berlarian dengan bebas. Sementara orang dewasa melemaskan otot-otot yang penat.
Di beranda rumah terjajar satu set kursi dan meja. Saya dan teman yang saya kenal lewat internet ini melanjutkan obrolan di beranda sambil menikmati suasana Bali yang cerah. Pukul tiga sore, dia berpamitan sambil menawarkan ajakan makan malam.
Hari pertama di Bali akan kami awali dengan mengunjungi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Kisah selengkapnya, nantikan tulisan berikutnya.
Tips Berwisata Murah:
- Jadwalkan wisata ini jauh-jauh hari. Pilih tanggal di luar musim liburan. Pada musim liburan [high season], semua penginapan dan penyedia jasa transportasi menaikkan tarifnya. Pada musim seperti ini kenyamanan akan berkurang karena harus berdesakan dengan wisatawan lain. Antrean di pelabuhan penyeberangan juga lebih panjang.
- Bila menyewa mobil, banding-bandingkan dulu di antara penyedia persewaan mobil. Lebih baik lagi jika mencari referensi dari teman yang pernah menggunakan jasa mereka.
- Untuk istirahat dalam perjalanan, biasanya sopir berhenti pada rumah makan yang memang melayani penumpang antar kota antar propinsi. Menurut pengalaman, soal rasa makanan, kita tidak dapat berharap banyak karena dimasak ala kadarnya. Namun rumah makan seperti ini bisanya menyediakan fasilitas yang lebih lengkap seperti toilet yang banyak dan bersih, mini market, dan tempat parkir yang luas. Keuntungan lainnya kita tidak perlu membayari makan untuk sopir karena sudah disediakan oleh rumah makan secara gratis [sesungguhnya tidak gratis, karena tagihan akan dibebankan kepada penumpang].
- Untuk memesan penginapan, sebaiknya meminta tolong teman yang di Bali. Mereka sudah mengenal tempat penginapan yang sesuai dengan anggaran kita.
Berikut ini adalah video dokumentasi perjalanan kami.
Share