FP 33

Jangan Tunggu Kesempatan!

  Memegang hasil cetakan renungan anak Footprints volume 33, mata saya hampir tidak percaya. Saya dan bersama teman-teman akhirnya dapat ...

gwen-stephani

Gwen Stefani Menguatkan Bocah yang ...

[caption id="" align="alignnone" width="548"] Gwen dan Brandon[/caption]Gwen Stefani melihat seorang ibu mengangkat kertas lebar saat sedang konser di...

pkemon

Pokemon Go itu Mencari Jejak ala Pr...

Pokemon bangkit lagi dari kuburnya. Sebagaimana sepuluh tahun yang lalu, Pokemon telah menggegerkan dunia maya, dalam kebangkitannya kali ini juga...

men in work

Partisipasi

Seorang pekerja sosial merasa geram terhadap sikap sebuah warga desa. Pekerja sosial ini sedang memimpin pembuatan fasilitas publik di sebuah desa...

Catatan Pribadi

FP 33

Jangan Tunggu Kesempatan!

  Memegang hasil cetakan renungan anak Footprints volume 33, mata saya hampir tidak percaya. Saya dan bersama teman-teman akhir...

Inspiratif

gwen-stephani

Gwen Stefani Menguatkan Bocah yang Di-bully

[caption id="" align="alignnone" width="548"] Gwen dan Brandon[/caption]Gwen Stefani melihat seorang...

Tips Menulis

Undangan Pelatihan Penulis Kristen

  Jangan lewatkan kesempatan berharga untuk bisa mengembangkan diri dalam bidang penulisan (khususnya kristiani). Hadirilah "Pel...

Pengalaman Pribadi

2-sarcastic-dumb-heads

Perundungan

Tiga puluh tahun yang lalu, aku mengagumi seorang guru yang cukup terkenal sekabupaten. Prestasinya segudang dan namanya cukup kondang. Yang...

Kuliner

PhotoGrid_1389098334989

Klangenan Kuliner Korea

Sebagai penghargaan karena mau ke dokter gigi, kami mengajak Kirana untuk makan enak. Kirana minta untuk makan di restoran Jepang. Saya me...

Jangan Tunggu Kesempatan!

 FP 33
Memegang hasil cetakan renungan anak Footprints volume 33, mata saya hampir tidak percaya. Saya dan bersama teman-teman akhirnya dapat menerbitkan renungan yang membahas dari kitab Matius sampai dengan Wahyu secara tuntas.
Dulu, saat memutuskan mulai menerbitkan renungan anak Footprints sempat terbersit kegamangan, mampukah kami melakukannya?
Kami punya mimpi ambisius yaitu mengajak anak membaca Alkitab secara khatam. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja sangat sedikit yang sudah membaca alkitab tuntas. Dan yang ini adalah mengajak anak-anak…fiuh…berat.
Problem pertama adalah mendesain renungan yang disukai anak-anak. Berbekal pengalaman sebagai penulis dan editor, maka kami pun merancang dummy renungan.
Masalah kedua adalah duitnya darimana? Butuh modal untuk mencetak renungan setidaknya untuk empat-enam edisi karena pembayaran dari toko buku baru akan diterima sekitar 4-6 bulan kemudian, yang dapat digunakan sebagai ongkos cetak. Puji Tuhan, dengan cara yang ajaib, Tuhan menggerakkan orang-orang dan lembaga yang memberikan solusi bagi kami.
 
Raja Salomo menulis “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” (Pengkhotbah 11:4)
Orang yang telah diberi visi oleh Tuhan harus mengambil kesempatan. Barangsiapa menunggu cuaca yang baik, tidak akan pernah menanam benih. Barangsiapa takut bahwa setiap awan akan membawa hujan, maka tidak akan pernah memanen hasil. Kita harus pro-aktif dalam mencari kesempatan untuk melayani Tuhan. Jangan diam menunggu. Itulah pelajaran yang kami dapatkan.
Konfusius berkata, “pekerjaan memindahkan gunung dimulai dengan memindahkan kerikil.” Jika kita selalu menunggu, maka tidak pernah ada kesempatan. Kesempatan itu didapatkan saat kita mulai bergerak.
 
Kini, kami memulai menulis renungan yang diambil dari Perjanjian Lama. Terus terang ada perasaan gamang lagi bila membayangkan harus menulis renungan dengan mengambil bacaan dari Bilangan yang penuh angka-angka atau Kidung Agung yang erotis. Tapi kalau jika bukan kami yang memulainya, mungkin saat ini tidak ada penulis yang berani menjamahnya. Kiranya Tuhan memberi hikmat dan kuasa-Nya kepada kami.
Bagikan:

Gwen Stefani Menguatkan Bocah yang Di-bully

Gwen dan Brandon

Gwen Stefani melihat seorang ibu mengangkat kertas lebar saat sedang konser di West Palm Beach, Florida, AS. Karena tidak dapat membaca tulisan itu, Gwen meminta agar kertas itu dibawa ke panggung.

Dia lalu membacanya keras-keras: “Anakku laki-laki di-bully sejak dari kelas 1 sampai dengan kelas 5. Setiap pulang dari sekolah, wajahnya murung. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan mendengar lagu-lagumu. Setelah itu dia akan tersenyum lagi.”

Stefani berseru spontan, “Naikkan dia ke panggung!” Brandon lalu diangkat ramai-ramai ke panggung. Tanpa sungkan Gwen merangkul bocah itu. Penonton bersorak-sorai. Sementara itu Brandon meneteskan air mata gembira.

Stefani lalu mengunggah kejadian itu di laman Facebook. Dia menulis, “Sekitar 3 tahun lalu, ketika hidupku mengalami masa-masa sulit, aku berdoa kepada Tuhan tiap hari agar aku mendapat kesempatan untuk menggunakan anugerah Tuhan yang ada padaku untuk mengubah dunia itu sekecil apa pun. Tadi malam, bocah ini menjadi jawaban atas doa-doaku.” Lalu Stefani menambahkan tagar  ‪#‎zerotoleranceforbullies.

Videonya dapat dilihat di sini

Bagikan:
badge