Footprints

Archive for: January 2006

"Tuhan itu memang pemain catur yang hebat!"

“Sebelum melangkah ke agenda rapat berikutnya, saya ingin melaporkan tentang suvenir Natal” ujar bu Yono dalam rapat Panitia Natal, Kelompok I & II, GKI Klaten. Mantan bidan ini mulai bercerita: “Menurut perencanaan, kita akan memberikan suvenir satu buah gelas kepada semua orang yang datang pada perayaan Natal nanti. Untuk itu, saya bersama mas Yono telah mencari gelas yang dimaksud ke kantor Kedaung di Jogja.”
Sayangnya, ternyata gelas jenis tersebut sudah tidak diproduksi. Sebagai gantinya, wiraniaga Kedaung menawarkan Mug. Akan tetapi tawaran ini ditolak oleh pak Yono dan bu Yono karena harga per itemnya jauh di atas anggaran. Maka dengan perasaan kecewa, suami-istri ini pun pulang ke Klaten. Untuk menghibur hati, mereka mampir ke rumah pak Ronald.
“Mari silakan masuk! Darimana saja ini?” sambut pak Ronald.
Bu Yono lalu bercerita bahwa mereka baru saja mencari gelas di Jogja untuk suvenir, tapi hasilnya nihil.
“Oh, mengapa tidak memakai Mug saja?” tanya pak Ronald, “Di tempat saya ada Mug. Ambil saja!”
Pak Ronald lalu menunjukkan satu buah Mug yang dimaksudkan. Desainnya cukup bagus.
“Mug ini memang bagus, Pak. Tetapi kami butuh banyak” sahut pak Yono. Dia membayangkan pak Ronald paling-paling hanya punya satu atau dua lusin Mug saja.
“Berapa sih, yang dibutuhkan?” tanya pak Ronald.
“Banyak, pak. Sebanyak 150 biji” jawab bu Yono.
“Saya punya banyak, kok. Di gudang saya masih ada limaribu biji! Itu sisa ekspor kemarin,” timpak pak Ronald enteng.
Mendengar itu, pasangan suami-isteri ini pun girang bukan main. Satu masalah bisa diselesaikan. Mereka lalu berpamitan pulang.
Sesampai di rumah, mereka mendapat kiriman surat dari Panti Asuhan di Boyolali. Setelah membaca isi surat itu, bu Yono merasa digerakkan untuk berbuat sesuatu. Meskipun tidak menuliskan maksudnya dengan tegas, bu Yono merasa bahwa Panti Asuhan itu membutuhkan sesuatu yang harus segera dipenuhi.
Maka dia pun berkonsultasi dengan beberapa anggota panitia Natal. Dia mengusulkan supaya anggaran untuk pembelian suvenir tersebut dialihkan untuk membantu Panti Asuhan di Boyolali itu. Anggota panitia yang lain setuju. Maka bu Yono dan beberapa orang segera berangkat ke Boyolali. Memang benar, Panti Asuhan itu benar-benar sedang membutuhkan bantuan. Beberapa hari yang lalu, Panti Asuhan ini memang mengirimkan surat ucapan Selamat Natal kepada para dermawan, dengan harapan mereka teringat kembali dengan Panti Asuhan itu.
“Tuhan itu memang pemain catur yang hebat!” kata bu Yono mengakhiri ceritanya. “Bayangkan, seandainya pihak Kedaung tidak menghentikan produksi gelas itu, mungkin kami tidak akan mampir ke rumah pak Ronald. Seandainya pak Ronald tidak tergerak untuk menyumbang Mug, mungkin Panti Asuhan itu tidak segera mendapat bantuan. Seandainya Tuhan tidak menggerakkan pengurus Panti Asuhan untuk menulis surat, mungkin kita tidak ingat pada Panti Asuhan itu. . . .”
Peserta rapat yang lainnya manggut-manggut. Strategi Tuhan memamg sering susah kita mengerti. Sebagai pion-Nya, biarlah kita menurut saja pada Pengatur Strategi Agung itu!

Wawan

* Visit my personal homepage at:
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
* Read my writings at:
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Jangan Menahan Kebaikan

Hari masih pagi. Seorang pemuda tertunduk terisak-isak di pojok rumahku. Badannya kurus, tinggi, berkulit hitam. Kacamata minus menempel di atas hidungnya. “Ada mas?” tetangga sebelah bertanya. Dia mengangkat wajahnya. Pipinya basah oleh air mata. “Saya kehabisan uang,” katanya lirih.”Lho kenapa?” tanya pak Gimin, tetanggaku yang lain.”Saya kerja di Wonosobo dan mau pulang ke Surabaya. Saya naik travel ke Magelang, karena bis jurusan ke Surabaya, cuma ada di sana. Waktu turun dari mobil travel, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Setelah itu saya tidak ingat lagi. Begitu sadar, uang di dompet sudah lenyap,” ujarnya sambil berusaha menahan tangis.”Apakah sudah lapor polisi” tanyaku.”Sudah mas. Tapi saya malah dimintai uang sepuluh ribu,” jawabnya. ‘Polisi sialan. Dengan korban kejahatan pun masih tega memeras!’ umpatku dalam hati.Pak Gimin mengeluarkan dompetnya. Dia menarik beberapa lembar uang, lalu menyerahkan pada pemuda itu.”Nama mas ini siapa?” tanyaku”Yohanes” jawabnya pendek. Kulirik ada kalung salib besar dari kayu hitam di lehernya.”Mas kok bisa sampai Klaten ini?” tanyaku menyelidik. “Saya jalan kaki dari Jogja” jawabnya. Aku agak ragu. Benarkah dia berjalan kaki? Padahal jarak Johja-Klaten lebih dari 20 km. Waktu kulirik bawaanya, dia menjinjing tas koper besar yang ada rodanya. Di punggungnya ada tas ransel. Benarkah dia kehabisan uang? Hatiku bimbang antara rasa iba dan curiga. Jangan-jangan ini hanya taktik penipuan untuk mencari uang. Aku teringat cerita isteriku. Beberapa bulan lalu, ada seseorang yang beberapa kali datang ke rumahku ini. Ceritanya selalu sama: kehabisan ongkos untuk pulang ke luar kota. Apakah orang ini memakai modus yang sama? Tapi bagaimana, kalau dia benar-benar kehabisan uang. Aku lalu teringat kotbah pendeta Petrus: “Jangan menahan kebaikan! Selagi kita masih bisa melakukan kebaikan, jangan pernah menahannya.” Aku ingat juga nasihat pak Xavier, “Wan, bagian kita adalah memberi selama kita mampu. Soal apakah cerita orang itu benar atau bohong, itu urusan dia dengan Tuhan.” Ah benar juga.”Mas Yohanes sudah makan?” tanyaku.”Saya tadi sudah minum air putih,” jawabnya.”Sekarang sarapan dulu di rumah kami. Setelah itu, saya antar ke terminal dan saya belikan tiket bus ke Surabaya dan sedikit uang saku.” Isteriku menghangatkan gurameh goreng. Sementara aku menyiapkan sepeda motor. Usai sarapan, aku dan Yohanes meluncur ke terminal.”Sudah lama bekerja di Wonosobo?” tanyaku dalam perjalanan.”Baru dua bulan.”"Sebelumnya, kerja dimana?”"Saya kuliah, Mas. tapi tidak selesai karena ayah saya meninggal.”"Surabayanya dimana?”"Kenjeran.”Sesampai di terminal, Yohanes langsung naik bis “Putra Jaya” jurusan Solo. Dari Solo, dia berpindah bis jurusan Surabaya. Semoga saja, Yohanes bisa selamat sampai Surabaya. * Visit my personal homepage at:http://www.Geocities.com/purnawankristanto * Read my writings at: http://purnawan-kristanto.blogspot.com