Footprints

Archive for: February 2006

[Sharing]: Seulas Senyum Tulus

Seulas Senyum Tulus

Saya dan isteri saya senang berwisata kuliner. Jika ada rumah makan yang baru atau unik, biasanya kami menyempatkan diri mencicipi masakannya [dengan catatan, tarifnya sesuai dengan kantong kami]. Beberapa bulan lalu, kami mendengar kabar bahwa pesinden kondang Anik Sunyahni, membuka rumah makan di Bogem, sekitar 300 meter di sebalah Barat candi Prambanan.

“Wah asyik, nih! Seperti apa ya kalau pesinden membuka warung makan? Apakah musiknya gending-gending tradisional?” demikian kami saling bercakap. Saya lalu ingat kalau pernah mampir di rumah makan pesinden lain, yaitu milik Yati Pesek. Lokasinya sekitar 300 meter di sebelah Timur candi Prambanan. Penataan ruangannya sangat sederhana. Tidak ada hal yang istimewa kecuali foto-foto Yati Pesek dalam berbagai pose yang dipajang di dinding dan tiang bangunan. Bahkan di balik kaca meja makan juga dipasang foto Yaiti Pesek, sehingga ketika akan menyedok makanan, kita pasti akan menatap wajah pelawak kondang ini.

Namun dari sisi menu makanan, saya menilai termasuk enak. Rumah makan ini menyajikan menu-menu tradisional Jawa, sambel dan minumannya. Harganya pun tidak lebih mahal dari warung di kaki lima.

Ketika akan pergi ke daerah Cangkringan, kami memutuskan untuk mampir di warung Sunyahni. Kami berempat berjalan melewati bangunan joglo kecil yang seluruhnya terbuat dari kayu. Bangunan ini sering dipakai untuk shooting stasiun TV lokal di Jogja. Setelah melintasi meja kasir, kami disambut bangunan-bangunan gazebo dari kayu dengan kapasitas 4 orang. Setiap pengunjung bebas memilih gazebo yang disukai.

Usai memesan makanan, kami mengobrol santai sambil menikmati lenggak-lenggok ikan mas di bawah Gazebo. Ketika melemparkan pandangan ke arah Utara, kita dapat melihat hamparan sawah yang masih hijau dengan latar belakang gunung Merapi yang sering tertutup kabut. Namun sayangnya, pemandangan sebelah Timur terganggu oleh menara operator seluler yang berdiri pongah. Lima belas menit berlalu, pesanan belum datang. Tak lama kemudian, pramusaji datang membawakan wedang secang. “Ini wellcome drink” kata pramusaji. Saya segera mencicipi minuman yang merah menyala itu. Rasanya pedas, seperti serbat atau sekoteng.

Menit-menit berlalu, tapi masakan tak kunjung datang juga. Kami mulai gelisah. “Jangan-jangan ikannya masih harus dibeli di pasar,” gurau bu Agus. Aku tersenyum kecut. Perutku mulai berontak. Keringat dingin mulai terasa. Tandanya maag akan kumat.

Sekian menit kemudian, lemon tea pesananku disajikan, tetapi es kelapa muda yang dipesan istriku belum datang. Entah beberapa menit berlalu, makanan pesanan kami ta kunjung datang juga. Hatiku sudah kesal. Rumah makan ini tidak profesional.

Akhirnya masakan utama yang dipesan datang juga. Semua masakan itu disajikan dengan alas daun pisang. Piring makan juga di alasi daun pisang. Aku sebenarnya suka cara menghidangkan seperti ini. Ketika panas masakan menyentuh daun pisang, maka menimbulkan aroma harum yang khas. Akan tetapi karena hati sudah terlanjur kesal karena kelamaan menunggu, maka rasa masakan itu tidak dapat dinikmati sepenuhnya.

Selesai bersantap, hatiku masih sedikit bersunggut-sungut. Ketika melewati joglo, beberapa kru stasiun TV sedang menyiapkan peralatan untuk shooting. Aku melihat Sunyahni, pemilik rumah makan ini, sekaligus bintang utama cara yang akan diproduksi. Sudah berdandan rapi, dia terlihat berbincang serius dengan kru TV.

Ketika melihat kami, dia mengentikan pembicaraan itu untuk menyapa kami. “Terimakasih sudah berkunjung ke rumah makan ini,” katanya ramah, dengan senyum tulus, tak dibuat-buat. Aku membalas senyuman sambil menganggukkan kepala.

“Dari mana, nih?” tanya Suyahni.

“Dari Klaten” jawab bu Agus.

“Lalu akan pergi ke mana?” lanjutnya.

“Mau ke Cangkringan”

“Oh, kalau begitu selamat jalan. Jangan lupa mampir kembali,” katanya dengan nada bicara yang kenes.

Kami mengangguk sambil berpamitan.

Hmmmm……seulas senyum itu telah merubah pandangan kami. Keramahan pemilik rumah makan itu telah mengikis kesan miring tentang pelayanan di sana. Ketulusan itu tidak membutuhkan biaya, tapi dapat mendatangkan untung yang tak terduga.

‘Ah, karena masih baru, mungkin saja pelayan dan juru masaknya belum mahir. Jadi tidak bisa bekerja dengan cepat,’ batinku di dalam perjalanan. Mungkin pikiran ini merupakan pembenaranku setelah mendapat keramahan dari Sunyahni. Entahlah….yang jelas, kalau tidak bertemu dengan Sunyahni, aku sebenarnya sudah bertekad tidak akan makan di situ lagi.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com

Mas Mono: Kedua Lengannya Diamputasi

Catatan Harian

Mas Mono: Kedua Lengannya Diamputasi

Ketika mobil kami berbelok memasuki pelataran parkir YAKKUM (Yayasan Kesehatan Kristen untuk Umum)-Bethesda yang teduh, mas Mono sudah terlihat menunggu sambil duduk di bangku panjang. Bu Agus segera menyelesaikan pembayaran untuk pelatihan selama tiga hari di sana. Kurang dari setengah jam, mobil pun berjalan kembali.

“Gimana hasil pelatihan, mas?” tanya bu Agus dari kursi tengah.

“Baik, bu. Kemarin saya ikut tes psikologi. Kata pengawasnya, IQ saya rendah. Lalu saya jawab, ‘jelas saja pak, lha wong otaknya ini sudah lama tidak pernah dipakai lagi’….he…he…he….” jawab mas Mono setengah bercanda.

“Lalu rencana selanjutnya apa?” lanjut bu Agus.

“Saya pingin menjadi agen koran. Saya ‘kan sudah bisa naik sepeda.”

“Di Yakkum, dilatih apa saja?”

“Saya diajari cara mencuci baju, menyetrika, pokoknya ketrampilan untuk mengurus diri sendiri.”

Ah….mas Mono sudah menemukan kembali semangat hidupnya, demikian batinku. Aku melirik kedua lengan mas Mono yang sudah tidak punya telapak tangan lagi. Setiap lengan itu dibelah menjadi dua. Tujuannya supaya bisa difungsikan sebagai telapak tangan, walaupun tidak bisa berfusngsi secara normal. Belahan lengan yang sebelah dalam lebih kecil, berfungsi sebagai jempol, dan sebelah luar sebagai jari. Kedua jari buatan ini hanya bisa digunakan untuk menjepit sesuatu. Selama tiga hari di Yakkum, mas Mono dilatih melakukan tugas-tugas untuk mengurus diri sendiri.

Aku melayangkan pandangan ke kabel-kabel listrik tegangan tinggi yang membentang di antara hamparan sawah di kaki gunung Merapi. Anganku melayang, membayangkan lagi cerita isteriku, tentang kisah hidup mas Mono.

Mas Mono dilahirkan di daerah pedesaan. Umurnya sekitar 30 tahunan. Tubuhnya kerempeng, tapi ototnya berisi karena ditempa oleh pekerjaan-pekerjaan fisik di pedesaan. Kulitnya legam, karena sering tersengat sinar matahari. Bentuk wajahnya agak tirus dengan rambut kemerah-merahan kasar, dipotong pendek.

Layaknya pemuda lain di desanya, mas Mono ingin mengejar mimpi hidup sukses. Beberapa kota di Jawa dan Bali telah dijelajahinya. Hingga suatu ketika ia mendapat pekerjaan di kota Jogja. Hanya berjarak 20 km dari desa kelahirannya. Dia mendapat pekerjaan sebagai tukang las, di perusahaan yang dimiliki pengusaha Taiwan dan Australia. Bersama satu temannya, dia mendapat tugas mengelas potongan-potongan besi menggunakan tenaga listrik.

Akan tetapi naas tak dapat ditolak. Temannya ini melakukan kelalaian dengan menyenggol sebuah batangan besi sehingga menyebabkan kecelakaan kerja! Kabel listrik berkekuatan tinggi itu menggeliat dan menyeterum mas Mono dan kedua tangannya. Akibatnya keduanya mengalami luka-luka bakar tingkat tinggi. Teman kerjanya harus rela salah satu tangannya diamputasi. Derita yang ditanggung mas Mono, lebih parah lagi. Dokter terpaksa memotong kedua tangan mas Mono, di batas pergelangan tangannya. Bagian tubuh lainnya juga mengalami luka bakar. Bahkan salah satu telapak kakinya juga ikut cacat, sehingga mas Mono berjalan dengan terpincang-pincang.

Impian kesuksesan itu pupus sudah. Mas Mono harus menanggung kecacatan tubuh yang permanen. Pihak perusahaan terpaksa merumahkannya, karena dia dianggap tidak mampu bekerja lagi. Meski begitu, perusahaan tetap menggaji mas Mono, setiap bulannya. Selain itu, perusahaan juga berjanji akan memberikan bantuan modal kerja. Akan tetapi janji tinggal janji. Ketika mas Mono menagih modal kerja ini, ternyata perusahaan ini telah tutup dan pemiliknya sudah kabur.

Sedih, bingung, putus asa, marah, ingin berontak. Perasaan-perasaan itu berkecamuk dalam diri mas Mono. Hampir selama setahun mas Mono dirundung dalam duka yang mendalam. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. Setiap kali mendapat perkunjungan dari anggota gereja, mas Mono lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Batinnya masih terlalu malu menunjukkan kondisi tubuhnya. Pada malam-malam tertentu, mas Mono keluar rumah. Dia tidur di kuburan desanya!

Hingga suatu ketika, mas Mono menghilang. Dia pergi tanpa memberitahu keluarganya. Tentu saja keluarganya kebingungan mencarinya. Dua minggu kemudian, dia muncul lagi dengan wajah cengengesan. “Kemana saja kamu selama ini?” tanya mbaknya. “Ke Bali, mbak,” jawab mas Mono santai.

Entah mengapa, sejak saat itu mas Mono mulai menunjukkan perubahan hidup. Dia mulai belajar naik sepeda. Sebenarnya dia sudah bisa mengendarai sepeda, namun dengan tubuh yang lengkap. Sekarang dengan lengan yang buntung dan kaki yang cacat seperti itu, tentu dia harus menyesuaikan diri lagi.

“Apakah selama naik sepeda pernah jatuh?” tanya Eko, sopir gereja.

“Wah, berkali-kali, mas. Dan itu sakit. Namun rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit ketika kecelakaan dulu,” jawab mas Mono.

“Kebangkitan” mas Mono ini tidak lepas dari kesabaran keluarganya. Selama setahun mereka merawat mas Mono dengan penuh kasih. Selama setahun mas Mono menjalani masa ‘penolakan’ diri. Inilah masa-masa yang berat bagi keluarganya. Mereka harus tetap menghibur dan memahami perilaku-perilaku mas Mono yang agak aneh itu.

Semangat hidupnya telah tumbuh kembali. Sekarang dia punya keinginan untuk membeli traktor. Dia punya rencana akan menyewakan mesin pertanian itu pada petani-petani di desanya. Sayangnya dia belum punya modal untuk membeli mesin itu. Untuk itu, dia akan menabung dan menjadi agen koran dulu.

Klaten 27/02/2006 21:29:04

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
http://www.Geocities.com/purnawankristanto
http://purnawan-kristanto.blogspot.com