Alat Peraga untuk Pengajaran Sekolah Minggu (Part 4)

IV. Kriteria Pemilihan
1. Alat peraga harus dipilih untuk menjelaskan inti cerita yang mau disampaikan.
2. Alat peraga yang dipilih akan menolong anak mencapai tujuan khusus.
3. Alat peraga yang dipilih tepat bagi golongan usia yang diajar.
4. Alat peraga yang dipilih akan dapat membangkitkan rasa ingin tahu, berimajinasi, makin kreatif atau makin berani mengungkapkan ekspresinya.
5. Alat peraga yang dipilih mudah didapat, terjangkau secara ekonomi.
6. Guru yakin menguasai alat peraga itu, sehingga penyampaian pelajaran dapat terjadi dengan baik.
V. Jenis-Jenis Alat Peraga
Ada banyak pilihan alat peraga yang dapat kita gunakan atau ciptakan. Batasannya adalah imajinasi dan kreativitas kita. Semakin kita rajin berkreasi, semakin banyak alat peraga yang dapat digunakan. Berikut ini beberapa jenis alat peraga yang umum dijumpai:
1. Gambar
Gambar adalah suatu bentuk alat peraga yang nampaknya paling dikenal dan paling sering dipakai, karena gambar disenangi oleh anak berbagai umur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan tidak menyita waktu persiapan. Sebelum digunakan, harus diketahui dulu cara pemakaiannya. Jika akan digunakan untuk mengulangi cerita minggu lalu, gambar harus dipasang sebelum anak datang. Bila gambar akan digunakan pada saat guru bercerita, tempelkan gambar pada saat peristiwa yang dilukis dalam gambar disampaikan. Kalau gambar digunakan untuk memperdalam cerita, pasanglah di dinding sesudah bercerita.
Tips: Kalau Anda merasa tidak punya talenta menggambar, jangan ragu-ragu memakai alat peraga. Anda dapat memanfaatkan teknologi komputer. Ada banyak clip-art kristiani yang dapat digunakan. Sumber ini sangat melimpah di internet. Anda dapat mengeprint-nya.
Supaya lebih menarik, jangan lupa menambah elemen warna. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin menarik alat peraga itu.

2. Peta
Murid-murid harus tahu dengan baik tentang ilmu bumi dan sejarah Alkitab. Peta bisa menolong mereka mempelajari bentuk dan letak negara-negara dan kota-kota yang disebut di Alkitab. Satu hal yang harus diperhatikan, penggunaan peta sebagai alat peraga hanya cocok bagi Anak Besar/Kelas Besar. Cara pemakaiannya adalah peta dipasang pada dinding sebelum anak masuk ke kelas sehingga guru dengan bebas dapat menunjukkan tempat yang disebut pada waktu menyampaikan cerita. Paling sedikit empat peta yang dibutuhkan oleh GSM, yaitu:
· Mesopotamia dan Kanaan pada masa Abraham.
· Pembagian tanah Kanaan pada keduabelas suku.
· Palestina pada masa Tuhan Yesus.
· Asia Kecil dan Eropa pada masa pelayanan Paulus.
Tips: Ukuran peta harus cukup besar sehingga dapat dilihat oleh semua anak. Selain peta 2 dimensi, Anda dapat juga memanfaatkan peta 3 dimensi. Anda dapat memanfaatkan media boks pasir atau bubur kertas. Kelebihan peta 3 dimensi ini, murid-murid dapat melihat sendiri countur/tinggi-rendah wilayah yang diceritakan dalam Alkitab. Peta ini dapat pula memperlihatkan perbedaan antara daerah dekat sungai Yordan dan dataran tinggi yang berpegunungan sekitar Hebron di dalam cerita Abraham dan Lot. Peta ini juga dapat memperlihatkan perjalanan umat Israel, perjalanan Kristus, perjalanan Rasul Paulus, dll.

3. Papan Tulis
Peranan papan tulis tidak kalah pentingnya sebagai sarana mengajar. Papan tulis dapat diterima di mana-mana sebagai alat peraga yang sangat efektif. Tidak perlu menjadi seorang seniman untuk memakai papan tulis. Kalimat yang pendek, beberapa gambaran orang yang sederhana sekali, sebuah lingkaran, atau empat persegi panjang dapat menggambarkan orang, kota atau kejadian.
Papan tulis dapat digunakan untuk menulis sebuah motto, pertanyaan, ayat Alkitab sebelum pelajaran dimulai. Mengumpulkan kata-kata dari satu ayat yang tidak beraturan supaya diatur kembali oleh murid-murid, merupakan satu permainan yang menarik sebelum pelajaran dimulai. Papan tulis juga dapat digunakan untuk menerangkan garis besar, kata-kata kunci.
Tips: Yang perlu diperhatikan dalam memakai papan tulis adalah hindarkan detil yang terlalu banyak, jangan menghalangi pemAndangan, bicaralah sambil menulis tapi jangan berbicara kepada papan tulis, dan pakailah bagan atau grafik bilamana mungkin.

4. Boks Pasir
Anak Kelas Kecil dan Kelas Tengah sangat menggemari peragaan yang menggunakan boks pasir. Boks pasir dapat dipakai untuk menciptakan “peta” bagi mereka khususnya bagi Kelas Tengah karena pada umur tersebut mereka sudah mengetahui jarak dari desa ke desa. Melalui boks pasir dapat dibentuk gunung dan lembah danau (memakai kaca), sungai yang mengalir (dari kain atau kertas biru), orang-orangan (dibuat dari kertas manila), pohon dan tumbuhan (gunakan daun, tumbuhan kecil).
Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntut guru. Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan, juga perlu kesediaan berkorban secara materiil. Tetapi dengan memakai alat peraga secara tepat, guru akan menanamkan kesan yang jauh lebih dalam, yang mungkin akan mempengaruhi seluruh kehidupan dari anak yang diajar.

5. Gambar-gambar
Anda bisa mengumpulkan gambar-gambar mengenai kehidupan sehari-hari dari koran dan majalah yang sudah tidak dibaca atau kalender yang sudah tidak dipakai, misalnya gambar orang sedang naik bis, gambar ibu membuat kue, gambar anak-anak pergi ke sekolah sambil bergandengan tangan, gambar petani mencari rumput di sawah, gambar orang berdoa, gambar orang memegang Alkitab, gambar pengemis di pinggir jalan, atau juga juga gambar buah-buahan, gambar binatang, pohon-pohon dan sebagainya. Tempelkan gambar-gambar tersebut satu per satu pada kertas karton yang berukuran sama agar rapi. Susunlah gambar-gambar sesuai dengan urutan agar dapat membentuk cerita. Gambar-gambar ini dapat Anda gunakan sebagai alat peraga saat ingin menjelaskan kisah tertentu pada anak-anak, misalnya menunjukkan contoh penerapan, kejadian tertentu atau hal lain sesuai dengan tema dan tujuan pelajaran yang akan Anda sampaikan.

6. Surat Kabar/Koran bekas
Koran bekas dapat dilipat dan dibentuk menjadi beraneka ragam “topi,” seperti topi bajak laut, topi koki, topi perawat, topi minang, mahkota raja dan sebagainya. Selain itu, koran bekas juga dapat dibuat baju, jubah, sarung dan sebagainya. Topi dan baju dari koran bekas ini dapat dikombinasikan dan digunakan saat Anda ingin memerankan tokoh tertentu dalam cerita yang akan Anda sampaikan, misalnya: Raja Herodes, Penggembala, Petani, Nabi, dan sebagainya menurut jalannya cerita.

7. Gambar Flanel
Gambar flanel adalah rangkaian gambar-gambar yang dapat dilekatkan pada sebidang papan. Ketika menceritakan sebuah peristiwa, GSM melakukannya sambil menempelkan gambar yang sesuai dengan isi cerita pada papan flanel. Kelebihan jenis ini, GSM dapat mereview/mengulang kembali cerita yang sudah disampaikan karena gambar-gambarnya masih tertempel di sana.
Tips: Sediakan papan flanel sebelum pelajaran dimulai dan susunlah gambar dengan teratur supaya mudah digunakan pada waktunya. Hati-hati menempel gambar supaya jangan salah tempel atau jatuh dan lain-lain. sehingga mengganggu perhatian murid-murid terhadap pelajaran.

8. Boneka
Anak-anak kecil menyenangi permainan boneka. Boneka dapat juga dipakai untuk mempertunjukkan cerita-cerita Alkitab supaya memudahkan murid-murid mengingat cerita itu.
Ada berbagai macam bahan boneka. Yang paling mudah dibuat adalah boneka dalam bentuk wayang, dari karton. Boneka juga dapat dibuat dari kaos kaki atau bubur kertas.

VI. Hambatan Utama Penggunaan Alat Peraga
Meskipun hampir semua GSM setuju bahwa alat peraga dapat menjadi sarana pengajaran yang efektif, herannya hanya sedikit GSM yang mengajar menggunakan alat peraga. Ada berbagai alasan yang diajukan:
1. “Begini saja ‘kan cukup … mau apa lagi?” (Hal ini biasanya diucapkan guru yang merasa pandai bercerita).
2. “Saya tidak bisa/tidak berpengalaman/saya tidak pandai membuat alat peraga” (bisanya diajukan oleh guru yang belum pernah mencoba membuat alat peraga).
3. “Saya tidak ada waktu untuk membuat alat peraga” (Biasanya diucapkan oleh GSM yang mengadakan persiapan mengajar pada menit-menit terakhir).
4. Keterbatasan dana.
Mengingat sangat pentingnya alat peraga dalam kelas Sekolah Minggu, hal berikut dapat dilakukan, yaitu:
Komisi Anak membuat tim kreatif, agar guru- guru merasa tidak sendiri dalam mempersiapkan alat peraga. Alat peraga dipersiapkan bersama-sama sehingga dapat disimpan sebagai koleksi Sekolah Minggu.
Pembuatan alat peraga ini membutuhkan waktu. Untuk itu, perlu diadakan persiapan beberapa hari sebelumnya.

Kalau saya tanya, “lebih hebat mana: Anda atau Tuhan Yesus?”, saya yakin Anda akan menjawab, “lebih hebat Tuhan Yesus, dong.” Tapi coba renungkan ini: Dalam pengajaran-Nya, Tuhan Yesus masih memerlukan alat peraga. Tapi kita, sebagai GSM, kadangkala merasa tidak perlu menggunakan alat peraga. Lalu siapa yang merasa dirinya lebih hebat di sini?

Referensi:
· Bruce Wilkinson, Teaching With Style
· Clarence H. Benson, Teaching Techniques, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.
· Dr. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
· J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
· Ruth Lautfer, Pedoman Pelayan Anak, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
· Ruth S. Kadarmanto, M.A, Tuntunlah ke Jalan yang Benar, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004
· Situs Pepak

  • Share on Tumblr
klik