Footprints

Archive for: June 2007

Sepuluh Kiat Mengampuni

 

1.       Hayatilah perasaan yang terluka dan berduka itu. Yesus berjanji”Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat.5:4)

2.       Tundukanlah diri Anda di hadapan Allah. Ingatlah bagaimana Allah telah mengampuni Anda (lihat Luk.23:33,34; Kol.3:13). Hampirilah salib! Anda akan mendapat keadilan dan kekuatan!

3.       Mintalah karunia dan kuasa untu mengampuni (Luk.11:9,10). Mungkin batin kita berontak, “Aku tidak mungkin mengampuninya!” Tidak apa-apa. Ceritakan saja pada Yesus. Dia pasti bisa mengerti Anda.

4.       Sedapat mungkin jauhi orang yang akan menyakiti Anda. Jika hal itu tidak mungkin, maka Anda harus sabar, mengampuni dan merendahkan diri (Kol.3:13; Ef. 5:21)

5.       Hilangkan niat untuk menuntut balas karena pembalasan adalah hak Allah. (Rom.12:19)

6.       Jangan mengungkit-ungkit permasalahan di masa lampau yang sudah Anda ampuni. Di dalam keluarga, kadangkala sulit untuk menghindari godaan ini ketika sedang terjadi pertengkaran.

7.       Tetaplah mengampuni ketika memori tentang pengalaman pahit itu muncul kembali atau orang itu terus-menerus menyakiti kita(Mat.18:21-22). Iblis senang sekali menggunakan cara ini. Anda harus waspada terhadap kemungkinan ini terjadi.

8.       Tolaklah perbuatan jahat. Jangan memberi toleransi kepadanya (Rom.12:21). Jika perlu, galanglah kekuatan dengan orang lain untuk memerangi  perbuatan jahat itu. Tuhan tidak menghendaki Anda menjadi korban yang pasif, pasrah dan tidak mau melawan.

9.       Gantikan perasaan benci dengan kasih yang mengampuni. “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef.4:31-32). Kevakuman rohani adalah situasi yang membahayakan (Mat.12:43-45). Setelah menghilangkan perasaan marah dan benci, segera isi hati Anda dengan kasih illahi.

10.   Manfaatkan pelayanan konseling dan pemulihan yang ada di gereja Anda. Mereka menyediakan tenaga profesional yang dapat membantu Anda (purnawan)

Kuasa di Balik Pengampunan


 

Mengampuni bukanlah sebuah saran, melainkan perintah. Paulus menegaskan: “Ampunilah seorang akan yang lain …sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu” (Kol.3:13). Ternyata ada maksud baik di balik perintah ini. Ketika kita mengampuni orang lain, pada saat itulah kita menghentikan luka-luka dalam batin kita.  Ketika kita tidak membalas perbuatan jahat orang lain, maka dia pun berhenti melukai hati kita. Pada saat kita memutuskan untuk memaafkan kesalahan orang lain, ada perasaan lega dalam hati kita.  Itu sebabnya, tidak ada alasan untuk menolak perintah ini.

Apakah Anda sulitkah mengampuni? Jika ya, mari kita belajar dari tiga ayat berikut ini:

1. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”  (Luk.23:34) Di atas kayu salib, Yesus merasakan penderitaan dan penghinaan dari orang-orang yang menyalibkan-Nya.  Yesus mengampuni mereka, pada saat Yesus masih merasakan sakit itu (fisik dan psikis). Kita pun tak perlu menunggu rasa sakit hati itu mereda sebelum bertekad untuk mengampuni.

Ada pepatah, “Waktu yang akan menyembuhkan luka-luka”. Namun pepatah ini tidak berlaku jika ada infeksi di atas luka-luka itu.  Jika terdapat “infeksi kepahitan” di dalam luka-luka batin kita, maka perjalanan waktu malah semakin memperparah luka-luka kita. Tanpa kita sadari, luka-luka ini menggerogoti kesehatan batin dan jiwa kita.

2. “Dengan jalan inilah kita mengetahui cara mengasihi sesama: Kristus sudah menyerahkan hidup-Nya untuk kita. Sebab itu, kita juga harus menyerahkan hidup kita untuk saudara-saudara kita!” (1 Yoh.3:16) Di atas kayu salib, Yesus mendemonstrasikan kasih sejati.  Dia menyerahkah hidup-Nya kepada orang-orang yang menganiaya-Nya. Dia tidak melakukan perlawanan atau pembalasan. Ketika kita mengampuni, maka kita menyerahkan “hak” kita untuk membalaskan perbuatan orang itu terhadap kita.  Jika perbuatan orang itu sudah melanggar hukum, maka kita perlu melaporkan pada kepolisian, tapi kita harus mengampuninya. Antara keadilan hukum dan pengampunan dapat berjalan bersama-sama. Hal ini dimungkinkan karena kita sudah diampuni dan menjadi anak-anak Allah yang Mahaadil.

3. “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia” (Luk.17:3) Kita wajib mengampuni, tapi kita tidak boleh menutup mata terhadap perbuatan orang itu. Jika ada anggota keluarga yang berbuat dosa, maka kita punya kewajiban untuk menasihati dan menegornya.  Jika dia menyesal, maka kita wajib mengampuninya. Berapa kali kita harus mengampuni? Sampai tujuh puluh kali tujuh kali, alias tak terbatas.

Lalu bagaimana kalau kita sudah mengampuni, tapi orang itu terus melakukan hal itu terus-menerus? Abaikan saja orang seperti itu (Mat.18:17-18). (purnawan)