Footprints

Archive for: September 2008

Videoku Ditayangkan Metro TV

Hari ini Metro TV mengirimkan SMS bahwa video yang saya kirimkan akan ditayangkan di acara Iwitness Metro TV.
Seminggu sebelumnya, Dessy dari Metro TV menelepon bahwa dia tertarik pada video klip “Belalang Goreng” yang saya upload ke situs I Witness. Dia bermaksud akan menayangkan pada program I Witness. Untuk itu, Dessy menanyakan apakah saya masih menyimpan materi video yang belum diedit. Saya bilang sudah saya hapus karena kualitas gambarnya kurang bagus. Saya mengambil gambar menggunakan kamera handphone sehingga resolusinya sangat kecil. Saya menawarkan untuk mengambil ulang gambar itu, dan dia setuju.
Senin, 22 September saya pergi Gunungkidul untuk mengambil gambar video tersebut. Saya langsung kirimkan CD video tersebut menggunakan jasa eksepedisi. Selasa sore CD itu harus sampai di redaksi I Witness.
Senin sore, Dessy menelepon meminta untuk mengunggah video tersebut pada I witness. Dia khawatir kiriman CD belum sampai ketika tenggat waktu penyuntingan terlewati.
Saya pun mengunggah video tersebut dalam dua bagian. Masing-masing berukuran di atas 25 MB. Ternyata keduanya gagal. Saya pun memecah-mecah lagi menjadi lima video lebih kecil. Masing-masing berukuran sekitar 12-15 MB. Saya berhasil mengunggah 3 video klip.
Ketika waktu penayangan tiba, maka dengan penuh antusias saya menantikannya. Beberapa teman saya SMS untuk memberitahu hal ini. Video saya ternyata ditayangkan pada segmen ketiga. Saat melihat video, saya sedang mengadakan workshop penulisan buku. Kegiatan workshop terhenti sejenak untuk menyaksikan karya saya.
Tapi hasilnya ternyata mengecewakan saya secara pribadi. Ternyata redaksi I Witness malah menggunakan materi video klip yang lama, yang saya anggap kurang layak tayang. Sementara hasil pengambilan gambar yang lebih bagus, malah hanya dipakai beberapa detik saya. Yah, mau apalagi…..otoritas ada di tangan mereka. Mungkin mereka tidak sempat menerima keping CD yang saya kirim via jasa kurir, sementara tenggat waktu tak dapat dikompromikan.
Sekarang, saya tinggal menunggu kiriman honor dari Metro. Semoga saja bisa untuk membelikan susu anak saya yang semakin melambung tinggi.

Jika teman-teman ingin melihat versi asli video tersebut, dapat dilihat di sini:

Penjual Belalang [1]
Penjual Belalang [2]
Memasak Belalang

Penjual Belalang

Bagi sebagian besar orang, belalang kayu dianggap sebagai hama. Tapi bagi warga Gunungkidul, belalang adalah camilan yang lezat. Itu sebabnya, sepanjang jalan antara Wonosari dan Semanu atau tepatnya di desa Mijahan, ada beberapa orang yang menjajakan hasil tangkapan belalang kayu.

Belalang kayu ini ditangkap dengan cara mengoleskan lem tikus pada ujung galah bambu. Ujung galah ini kemudian ditempelkan pada badan belalang hingga mudah ditangkap. Pada zaman dulu, sebelum ada lem tikut, perekat yang digunakan adalah getah nangka.

Diantara para penjual belalang hidup itu, ada Samino dan Katno. Kedua penduduk desa Pacarejo ini menangkap sudah empat tahun menangkap belalang di ladang-ladang, kemudian pada tengah hari menjajakannya di pinggir jalan. Harga tiap renteng belalang bervariasi antara Rp. 10 ribu- Rp. 10 ribu, tergantung jumlah belalang setiap renteng. Untuk rentengan belalang sejumlah 75 ekor, mereka menawarkan harga 20 ribu rupiah. Tapi jika pembeli pandai menawar, bisa dia bisa mendapatkan harga di bawah itu.

Setiap hari Samino dan Katno dapat membawa pulang uang sejumlah 30-40 ribu rupiah. Meski pendapatan dari menangkap belalang cukup menggiurkan, tapi mereka hanya menangkap belalang di musim kemarau saja. Alasannya, selain karena menggarap ladang, mereka juga tidak mau merusak tanaman di ladang orang lain karena kegiatan mereka dalam menangkap belalang.

Cara Memasak

Cara memasak belalang cukup mudah. Mula-mula, belalang dibersihkan dengan cara mencabut kepala belalang sehingga lepas. Ketika belalang ini ditarik maka organ dalam belalang juga ikut tercabut.

Belalang dapat dimasak dua cara:

Pertama: Diberi bumbu bawang putih dan garam dan langsung digoreng.

Kedua: Dibacem, yaitu direbus dengan bumbu gula merah, garam, ketumbar, daun salam dan bawang merah. Setelah bumbu meresap, belalang diangkat lalu digoreng hingga renyah.

Belalang siap dihidangkan. Rasanya seperti udang. Tapi awas, kalau Anda alergi protein, sebaiknya berhati-hati sebab belalang berprotein tinggi.

Videografer: Purnawan Kristanto

Lokasi : Kabupaten Gunungkidul

Tanggal: 22 September 2008