Footprints

Archive for: January 2009

Kiat Menyelesaikan Konflik

Pada tulisan “Strategi Mengelola Konflik”, disajikan diagram Jenis Situasi Konflik. Pada diagram itu dijelaskan bahwa jika kita ingin menjaga relasi, tetapi ingin mencapai sesuatu, maka kita harus menyelesaikan konflik. Berikut ini tips praktis untuk menyelesaikan konflik:
· Batasi problem. Seringkali pihak yang berkonflik tidak mengetahui dengan persis, persoalan yang menjadi sumber konflik. Akibatnya, konflik itu melebar kemana-mana. Itu sebabnya, Anda harus merumuskan dan membatasi problem, kemudian berfokus menyelesaikannya.
· Berilah kesempatan berbicara. Setiap pihak yang terlibat konflik dieberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapatnya. Pihak lain tidak boleh menyela.
· Mendengarkan aktif. Setiap pihak yang sedang tidak berbicara, disarankan untuk mendengarkan aktif. Artinya dengan sungguh-sungguh dia menyimak ucapan orang lain, bukannya malah memikirkan kata-kata yang akan dipakai untuk menyanggah atau menyerang pihak lain.
· Galilah semua kemungkinan solusi. Pakailah teknik curah pendapat (brainstorming). Setiap pihak menyampaikan gagasannya secara bebas. Pihak lain tidak boleh menilai, menghakimi atau mencela gagasan itu. Semua gagasan dianggap benar dan baik. Tuliskan semua gagasan itu ke dalam daftar gagasan.
· Pilih solusi terbaik. Simak daftar gagasan yang didapatkan. Kajilah keunggulan dan kelemahan setiap gagasan, kemudian pilih gagasan terbaik sebagai solusi permasalahan.
· Bawa dalam doa. Minta pada Tuhan untuk memberi kekuatan dalam menjalankan solusi tersebut. Mintalah ampun kepada Tuhan jika ada dosa yang terjadi selama konflik berlangsung. <wwn>

Strategi Mengelola Konflik

Setelah menyebutkan tentang isteri suka bertengkar, Salomo menulis   ”Sebagaimana baja mengasah baja, begitu pula manusia belajar dari sesamanya.” (Ams. 27:17) Bayangkan jika baja diadu dengan baja. Pasti akan timbul panas, asap dan percikan api! Di dalam keluarga, konflik adalah hal yang tak terhindarkan. Pertanyaannya adalah bagaimana dapat mengelola konflik ini sehingga justru bisa semakin “menajamkan” anggota keluarga.

Mari kita simak diagram Jenis Situasi Konlik, berikut ini

Photobucket

Diagram di atas dapat menunjukan berbagai situasi konflik yang terjadi. Orang yang butuh prestasi, tetapi tidak peduli pada relasi, maka dia berusaha memenangkan konflik itu. Jika orang itu tidak peduli pada keduanya (relasi atau prestasi), biasanya dia akan menghidari konflik.
Orang yang sangat peduli pada relasi dan butuh prestasi, berusaha menyelesaikan konflik tanpa konfrontasi. Jika merasa tidak begitu membutuhkan prestasi, maka dia akan mengalah karena tidak mau ribut-ribut.
Tidak ada satu penyelesaian konflik yang selalu tepat untuk semua situasi. Sebagai contoh, ketika kita menonton pertunjukkan sepakbola, lalu kita melihat gejala akan pecah kerusuhan, maka lebih baik jika kita menarik diri. Pertimbangannya, tidak prestasi yang akan dicapai dan tidak ada relasi yang harus dijaga. Lain lagi jika kita harus memperjuangkan sebuah ‘kebenaran’. Kita harus gigih melakukannya, meski harus mengorbankan relasi.
Seorang pemuda mengajak makan malam pacarnya. Sang wanita memilih makanan hasil laut (seafood). Si pemuda sebenarnya tidak menyukai jenis masakan ini. Namun demi menjaga relasi, maka si pemuda ini rela mengalah.
Di dalam kitab Perjanjian Baru, ada berbagai cerita tentang konflik yang terjadi. Sebagai contoh, Petrus pernah bertengkar dengan Paulus, karena sama-sama meyakini kebenaran. Meski begitu, perbedaan itu bisa diselesaikan. Itulah ciri khas komunitas Kristen. Ada tiga kunci supaya sukses menyelesaikan konflik: (1) Adanya kasih karunia Allah; (2) Kepedulian dan perhatian satu terhadap yang lain; (3) kemampuan untuk menjalin komunikasi timbal-balik.
Untuk itu, ketika menghadapi sebuah konflik, maka lihatlah: Apakah Anda perlu menjaga relasi atau tidak? Apakah Anda ingin mencapai sesuatu atau tidak. Dengan melakukan analisis ini, maka kita dapat mengelola konflik sehingga dapat membangun semua anggota keluarga. <wwn>