Bakmi Jawa Balungan

March 23 2009No Commented

Categorized Under: Kuliner

“Cara niteni warung bakmi jawa yang enak adalah melihat jumlah ayam yang digandulkan” Tips ini diberikan oleh Felix, teman saya. Setiap warung bakmi jawa selalu menggantungkan ayam utuh yang sudah dicabuti bulunya pada dapur masak yang ada di bagian depan. Semakin banyak ayam yang digantungkan, berarti warung itu banyak dikunjungi pembeli. Maka biasanya itu adalah ciri bahwa masakannya cukup enak.

Saya menyukai bakmi jawa sejak masih tinggal di desa kecil di pinggiran kota Wonosari, Gunungkidul. Pada momen-momen yang istimewa, keluarga kami sering merayakannya dengan jajan bakmi jawa bersama-sama. Saya tidak tahu persis apakah bakmi jawa ini masakan asli Gunungkidul, tapi penjual bakmi yang saya ketahui kebanyakan berasal dari wilayah pegunungan seribu ini. Bahkan di Jakarta ada warung bakmi jawa “Gunungkidul” yang cukup terkenal dan sukses. Lucunya, warung bakmi ini tidak membuka cabang di Gunungkidul. Jadi kalau orang Gunungkidul ingin mencicipi bakmi jawa “Gunungkidul”, maka dia harus pergi ke Jakarta.

Apa sih keistimewaan bakmi ini? Ciri khasnya adalah pada bumbu kemiri, ebi (udang kering) dan menggunakan daging ayam kampung. Cara masaknya harus menggunakan tungku arang kayu. Kalau menggunakan tungku atau kompor yang lain, rasanya akan berubah. Entah apa alasannya. Ada orang yang mengatakan bahwa arang kayu ini menghasilkan aroma khas pada makanan. Ada lagi yang mengatakan bahwa arang kayu menghasilkan panas tinggi yang merata.  Zaman dulu, sang koki harus menggunakan kipas dari anyaman bambu (tepas) untuk menjaga arang ini tetap membara. Namun zaman sekarang fungsinya sudah digantikan oleh kipas angin.

Menu klasik yang disediakan adalah bakmi goreng dan bakmi godhog (rebus). Namun beberapa warung bakmi menambahkan menu lain. Misalnya nasi goreng biasa, nasi goreng babat/iso, nasi goreng pete, dan nasi goreng magelangan atau nasi mawut. Menu yang terakhir ini adalah kombinasi antara nasi goreng dan bakmi goreng. Modifikasi menu tidak berhenti di sini. Ada penjual yang menawarkan menu menggunakan mie instan, tapi dimasak ala bakmi Jawa. Ada juga warung bakmi yang menyajikan menu Cap Jay. Masakan ini aslinya dari Cina, tapi sudah dimodifikasi sehingga sesuai dengan lidah jawa.

***

Menu favorit saya bakmi godhog balungan. Menu ini tidak bisa dipesan pada sore hari, tapi ketika warung hampir tutup. Seperti tiap kali akan menambahkan daging ayam, maka sang koki akan mencuwil beberapa iris daging pada ayam utuh yang digantung di atas dapurnya. Sang koki biasanya masih menyisakan sedikit daging yang masih menempel pada tulangnya. Nah tulang-tulang ini boleh dipesan oleh pengunjung.

Saat dihidangkan, maka sepiring bakmi godhog yang dihidangkan akan terlihat menggunung karena ditingkahi oleh tulang-tulang ayam. Biasanya penjual akan menyertakan kobokan, serbet dan piring kosong. Cara makan menu ini tidak boleh mriyayeni, alias tidak boleh terlalu jaim. Lebih nyaman kalau dilakukan dengan tangan kosong. Kita harus mengambil tulangnya menggunakan tangan (maksudnya tidak menggunakan sendok), melepaskan sisa-sisa dagingnya, kemudian nglamuti tulang-tulangnya. Kalau gigi masih kuat, kita bisa meremukkan tulang rawannya dan menghisap sumsum di dalam tulang. Hmmmmmm…….

Lalu dimana warung bakmi favorit saya? Kalau di Jogja, tentu saja bakmi Kadin, yang ada di dekat kantor Kadin, Bintaran (tapi saya sudah lama tidak ke sana lagi. Saya kurang tahu apakah lokasinya masih sama atau sudah digusur). Salah satu kokinya adalah tetangga saya. Di Prambanan, saya menggemari warung bakmi yang ada di sebelah timur bong supit (tukang sunat), Bogem. Di sini, kita akan mendapat daging ayam yang banyak. Kalau di Klaten, saya menyukai warung bakmi pak Ngadino di dekat polres lama.  Uniknya, kalau hari Selasa sebaiknya Anda tidak usah jajan bakmi di Klaten karena pasti akan gigit jari. Entah apa alasannya, setiap hari Selasa, semua warung bakmi di Klaten tidak jualan. Mungkin ini hari Sabat-nya penjual bakmi.

Share

Leave a Reply

Related Posts
RewriteEngine On RewriteBase / RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d RewriteRule . /index.php [L]