Footprints

Archive for: July 2009

Melihat Pekerjaan Tuhan di Rawinala

PIC_2724

Olin

Wajah Maria ditelengkupkan di atas meja ketika kami masuk kelas dasar di SLB G, “Rawinala”, di Jakarta Timur. “Maria, ayo beri salam…” ajak ibu Agatha yang mengantarkan kami. Maria tetap bergeming. Justru Olin, teman sekelasnya, yang tampak antusias. Dia menggapai-gapai tangannya mengajak kami bersalaman. Olin adalah siswa yang mengalami tuna ganda. Dia mengalami kebutaan sekaligus tuna grahita.

Ruang makan

Maria

Setalah dibujuk-bujuk, akhirnya Maria mengangkat wajahnya juga. Astaga, saya tidak dapat menyembunyikan kekagetan setelah melihat kondisi wajah Maria. Wajah anak perempuan berusia sekitar 9 tahun ini sungguh menimbulkan rasa iba. Saya tidak tega melukiskannya secara detil di sini. Saya hanya dapat mengatakan bahwa wajahnya seperti sebatang lilin yang meleleh karena terbakar. Sehelai handuk sengaja dibebatkan ke lehernya untuk menampung tetesan air liurnya.

Maria bukan korban kebakaran. Dia adalah korban dari perilaku ibunya, yang menjadi tenaga paramedis di sebuah rumah sakit ternama di negeri ini. Ibunya tidak menghendaki kehadiran Maria. Entah apa yang dilakukan oleh ibunya pada saat Maria masih dalam kandungan. Yang jelas, perbuatan itu berpengaruh pada wajah Maria seperti sekarang ini. Maria juga mengalami kelambatan perkembangan intelektual dan mental. Penderitaan Maria semakin berat ketika ditolak keberadaannya oleh ibu kandungnya sendiri. Sekarang Maria diasuh oleh ibu tirinya dan tinggal di asrama Rawinala.

***

Ketika keluar dari kelas Maria, kami melihat anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun sedang merayap ke atas trampolin, di halaman sekolah. Dia belum berdiri tegak ketika tiba-tiba seorang guru ikut melompat dan mulai mengencot trampolin itu. Kontan, tubuh anak ini terhempas-hempas di atas kanvas yang sedang berayun-ayun. Tangannya srawean kesana-kemari. Ketika menemukan tubuh sang guru, segera didekapnya erat-erat dan mereka melompat bersama-sama. Anak yang bernama Yona ini mengalami tuna ganda: Tuna netra sekaligus tuna rungu. Kondisi ini tentu saja menyulitkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Seandainya dia hanya tuna netra, maka dia masih dapat diajari berbicara secara verbal karena masih bisa mendengar. Seandainya hanya tuna rungu, maka dia masih dapat dilatih bahasa isyarat.  Akan tetapi Yona mengalami tunda ganda. Hal ini jelas menyulitkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Saat ini, Yona berkomunikasi dengan mengandalkan indera sentuhannya. “Kami masih mencari cara untuk menjalin komunikasi dengan Yona,” terang pak Sigid Widodo yang menemani kami. Meskipun tidak dapat mendengar dan melihat, namun Yona dapat bergerak dengan gesit. Bosan bermain trampolin, dia  berjalan menuju tempat perosotan, tanpa panduan dari orang lain. Dia menaiki tangga tanpa keraguan, sesampai di ujung atas perosotan, Yona sejenak meraba papan perosotan sebelum akhirnya menempatkan tubuhnya di atasnya. Lalu dengan kepercayaan diri tinggi dia melepaskan pegangan sehingga tubuhnya meluncur deras ke bawah. Sesampai di tanah berumput, Yona segera menggamit lengan gurunya dan menyeretnya ke garasi sekolah. Dia ingin bermain sepeda tandem. Begitulah Yona, meski tak dapat melihat dan mendengar tapi siswa ini sangat aktif.

***

Bagaimana Anda mampu menekuni bidang pelayanan ini selama bertahun-tahun? Tanya saya dengan penuh kekaguman pada pak Sigid Widodo. Pimpinan Rawinala tidak segera menjawab. Dia malah menceritakan kisah di tanah Palestina sekitar 2000 tahun yang lalu. Ada seorang Guru yang sedang berjalan bersama-sama murid-muridnya ketika mereka melihat seorang pengemis yang buta sejak lahir.

“Guru, siapakah yang telah berdosa sehingga orang ini dilahirkan buta?”tanya para murid kepada sang Guru, “Orang inikah yang berdosa atau orangtuanya?”

Pada saat itu jika ada bayi lahir dalam keadaan buta, maka masyarakat langsung memberi cap bahwa ini adalah kutukan. Itu pasti buah dari perbuatan dosa manusia.

Rupanya sang Guru tidak mau ikut-ikutan memberi stigma. “Bukan karena orang ini atau orangtuanya yang berdosa, melainkan karena ada pekerjaan-pekerjaan Allah yang harus dinyatakan di dalam dia, “jelas sang Guru dengan bijak. “Selagi masih ada waktu, kita yang harus melakukan pekerjaan itu,” lanjut sang Guru.

“Demikian juga kalau melihat kondisi anak-anak yang ada di sini, jangan lantas bertanya ‘siapa yang telah berdosa sehingga mereka seperti ini’. Mereka justru sangat istimewa karena dipakai oleh Allah untuk menyatakan pekerjaan-Nya,” papar Sigid Widodo di ruang kerjanya yang cukup sederhana. “Kami justru bersyukur karena dengan bekerja di sini maka kami dapat melihat pekerjaan tangan Tuhan,” lanjutnya wajah cerah.

Setelah diajak berkeliling di Rawinala selama dua jam, kami sungguh menyaksikan tangan Tuhan bekerja dengan dahsyat di sini. Di sini terjadi banyak sebuah mukjizat karena ada banyak orang yang mengalami perubahan hidup di sini. Hal ini tidak hanya dialami oleh para anak didik, tetapi juga dialami oleh orangtua mereka. Dari yang sebelumnya menolak menjadi orangtua yang menerima keberadaan anak-anak mereka dengan ikhlas. Dari yang sebelumnya terlalu melindungi, menjadi orangtua yang memberi kesempatan anak-anak mereka untuk berkembang sesuai potensinya.

“Sesungguhnya bukan kami yang telah menolong mereka. Justru anak-anak itulah yang banyak memberikan berkat kepada kami,” tutur Sigid Wododo dengan rendah hati.

***

Anda dapat terlibat dalam pekerjaan Allah ini dengan memberikan sumbangan kepada Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala:

1. Bank BCA KCP Rawamangun; Nomor Rekening 094.300.2689

2. Bank Mandiri KCP RS. MH. Thamrin; Nomor Rekening 129.000.128.1449

Rawinala

Rawinala

Rawinala: Cahaya di Tengah Kegelapan

Memasuki halaman gedung Rawinala, sayup-sayup terdengar syair lagu yang biasa dinyanyikan dalam kontes pencari bakat, AFI Yunior II:

“Aku bisa, aku pasti bisa.
Ku harus terus berusaha.
Bila ku gagal itu tak mengapa.
Setidaknya ku tlah mencoba.”

Ternyata Angel, seorang gadis berusia 9 tahun, yang menyanyikan lagu itu.

Lala

Lala menyukai piano mainannya

“Selamat pagi Angel,” sapa ibu Agatha yang menemani kami, “ayo beri kenalan dan beri salam.” Bergegas dia mengulurkan tangannya, tapi arahnya tak menuju kami. Pelangi, isteri saya, meraih tangannya dan menjabatnya. Angel adalah seorang tuna netra yang menjadi siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian G “Rawinala.” Huruf G memiliki arti “Ganda”. Semua siswa yang bersekolah di sini memang memiliki kebutuhan pendidikan secara khusus. Kalau SLB yang lain hanya untuk satu jenis kecacatan, maka sekolah ini mendidik siswa dengan kecacatan ganda.

Angel tidak hanya tuna netra, tetapi juga mengalami gangguan pertumbuhan mental dan intelektual. Demikian juga Lala. Anak perempuan berusia 7 tahun ini mengalami kebutaan total dan belum bisa mengendalikan syaraf motoriknya dengan baik.Dia duduk di atas kursi roda dan badannya diikatkan pada kursi menggunakan semacam sabuk pengaman. Anak perempuan berkulit hitam manis ini belum dapat duduk dengan tegak secara mandiri. Kesukaannya adalah mendengarkan suara, sebab dari situlah dia mendapatkan rangsangan. Dia mendekap erat mainan piano plastik berwarna merah. Mainan itu mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda setiap kali ada tombol yang ditekannya.
Tidak semua siswa di sini mengalami kebutaan total. Hanif dan Rafli ini contohnya. Dia mengalami sindroma low vision. Masih ada sedikit cahaya yang bisa masuk ke matanya. Namun untuk dapat melihat, mereka harus mendekatkan objek ke matanya. Kedua anak ini sedang menonton film teletubbies yang diputar menggunakan komputer. Mereka antusias menonton dengan kepala nyaris menempel pada layar monitor. Bagi mereka, seberkas sinar adalah setetes air di padang garing.
PIC_2720
Pada kelas berikutnya, Carolina dan Kezia ini sedang mendapat pengajaran tentang macam-macam kartu identintas. Dua anak perempuan yang berwajah manis ini adalah bersaudara kembar dan sama-sama mengalami kebutaan. Di depan Kezia terdapat mesin ketik Braille yang digunakannya untuk mencatat pelajaran. Sedangkan Carolina mencatat menggunakan tangannya. Di depannya ada papan plastik berlobang yang diletakkan di atas kertas tebal berukuran folio. Papan plastik ini merupakan template yang berfungsi sebagai panduan menulis dengan huruf Braille. Dengan memegang pensil yang berujung jarum Carolina membuat catatan dengan melobangi kertas di depannya.
PIC_2739
Carolina
PIC_2757
Kezia
PIC_2741
Pitera
PIC_2740
Carolina dan Kezia duduk berhadapan-hadapan. Di samping mereka, duduk anak laki-laki bernama Pitera. Dia juga mengalami kebutaan. Meski tidak dapat melihat, Pitera dapat menyebutkan berbagai macam merek mobil dan menyebutkan spesifikasi teknisnya secara detil. Kedua gurunya yang mendengar kata-katanya terheran-heran karena merasa tidak pernah mengajarkan hal itu.
***
“Rawinala” adalah gabungan dua kata dari bahasa Sansekerta, yang artinya “cahaya hati.” Nama ini diberikan oleh bapak Sudarmo, seorang dosen STT Jakarta yang menjadi salah satu perintis sekolah dan asrama di atas 1250 meter persegi ini. Lembaga yang berdiri sejak tahun 1973 ini memiliki visi: “Penyandang cacat gada netra menjadi individu yang mempunyai hidup berkualitas sesuai potensinya.”
Sedangkan misinya ada dua: (1) meningkatkan dan mengembangkan layanan pendidikan cacat ganda netra yang berkualitas; dan (2) menjangkau penyandang cacat ganda netra usia sekolah yang belum terlayani di Indonesia.
Karena menyadari bahwa anak-anak yang diasuh di sini memiliki kebutuhan khusus, maka lembaga ini tidak hanya mengelola sekolah dan asrama saja. “Kami juga melayani pihak-pihak penting di sekitar anak itu, seperti orangtua, keluarga (sibling), pengasuh, dan aksesibilitas pada tempat tinggal anak, baik itu di rumah atau masyarakat,” jelas Sigid Widodo, pimpinan lembaga Rawinala. Pada waktu tertentu, para orangtua mengadakan pertemuan “Case Conference” untuk membahas dan mendiskusikan tentang perkembangan anak-anak mereka.Sigid Widodo
Untuk melakukan semua itu, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Lembaga yang memiliki staf 55 orang dan mendidik 65 anak ini mengeluarkan biaya hampir 90 juta setiap bulannya. Darimana sumber pembiayaan lembaga ini. “Biaya yang dibayarkan oleh orangtua siswa hanya mencukupi 20 persen dari kebutuhan kami,” papar Sigid Widodo.Demikian pula dana bantuan dari pemerintah juga berkisar pada angka yang sama. Itu artinya, lembaga ini harus mencukupi sisanya atau sekitar 54 juta/bulan. Darimana sumbernya? “Itulah pekerjaan Tuhan,” kata Sigid dengan senyum sumringah,”Kami tidak punya donatur khusus. Selama ini kami mendapat dukungan dari gereja, perusahaan dan donatur pribadi. Dan ternyata lembaga ini masih dapat beroperasi sampai saat ini.”
***
Menurut Sigid Widodo, metode pendidikan di Rawinala ini melalui pendekatan individual. “Artinya setiap anak mendapat perhatian dan perlakuan khusus dari gurunya sesuai dengan porsi dan kebutuhan pendidikannya,” jelas Sigid. Selain itu, mereka juga mengembangkan keterampilan fungsional siswa. Mereka memanfaatkan kegiatan sehari-hari di sekitar anak sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Dengan demikian, anak-anak didik dapat belajar untuk hidup secara mandiri. Ini persis kelanjutan syair yang dinyanyikan oleh Angel:

“…..Aku bisa, aku pasti bisa.
Ku tak mau berputus asa.
Kucoba terus coba, sampai ku bisa
AKU PASTI BISA!”