Pupur Sakwise Benjut

gempaGempa besar dengan kekuatan 7,3 skala Richter yang mengguncang propinsi Jawa Barat, sekali lagi menegaskan bahwa kita ini seperti berdiri di atas negeri yang penuh dengan bencana. Kondisi geologis menempatkan Indonesia dalam lingkaran cincin api yang sagat rawan terhadap bencana gempa, tsunami, dan gunung meletus. Tidak hanya itu, dalam cincin api itu, Indonesia berada pada posisi mahkotanya. Maka tak heran jika angka menunjukkan bahwa dari total korban gunung berapi, separonya adalah penduduk Indonesia. Selain bencana karena aktivitas tektonis, Indonesia juga rentan terhadap bencana akibat ulah manusia seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran.
Hampir tidak ada satu noktah pun di wilayah Indonesia yang kalis dari bahaya bencana. Maka tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa kita harus bersahabat dengan bencana. Dalam hubungan persahabatan, hal yang perlu dilakukan adalah saling mengenal. Jika kita mencoba bersahabat dengan bencana, maka kita berusaha untuk mengenali karakter dan penyebab. Dengan pengenalan yang baik ini, kita dapat mencegah terjadinya bencana atau setidak-tidaknya dapat mengurangi risiko kerugian jika terjadi bencana. Sayangnya, tidak banyak pihak yang menyadari pentingnya penyiapan diri. Banyak orang baru menyadari perlunya kesiapsiagaan setelah mengalami bencana.
Dalam budaya Jawa, ada pepatah “pupur sawise benjut”, artinya kita baru melakukan tindakan setelah mendapat celaka. Hal ini yang kami alami ketika gempa menggocang Jogja dan Jateng pada 27 Mei 2006. Siapa yang menyangka akan terjadi gempa sekuat itu di sana? Waktu itu, perhatian dan daya upaya dikerahkan untuk menanggulangi bahaya gunung Merapi yang sangat aktif. Tanpa dinyana, layaknya pencuri, gempa bumi memanfaatkan kelengahan kami. Gempa meluluhlantakan sebagian besar wilayah di sekitar tempat tinggal kami.
Selama beberapa jam pertama, kami hanya bisa tertegun. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Kami tidak pernah dilatih menghadapi bahaya seperti ini. Hanya dalam 59 detik, bangunan-bangunan yang kami lihat selama bertahun-tahun mendadak luruh rata dengan tanah. Beberapa petani yang sudah ada di ladang ketika detik-detik gempa memberi kesaksian mereka menyaksikan bangunan-bangunan yang rubuh secara bergelombang. “Sepertinya ada ular naga yang sedang melata di bawah tanah,” kata petani itu.
Minimnya pengetahuan tentang bencana terbukti telah menimbulkan kepanikan dan memicu tindakan irasional. Sesaat setelah gempa, entah siapa pemicunya, muncul isu Tsunami menghempas di pantai Selatan. Tak pelak, ribuan penduduk yang masih syok itu berbondong-bondong menyelematkan diri ke arah gunung Merapi. Isu ini menyebar dengan cepat. Dalam waktu kurang satu jam, kepanikan sudah melanda wilayah radius lebih dari 30 km. Di kabupaten Klaten yang secara geografis wilayahnya dibentengi oleh pegunungan seribu di bagian Selatan tak luput dari isu ini. Sepanjang jalan utama kabupaten ini dipenuhi warga yang berlarian histeris. Di berbagai simpang empat terjadi kecelakaan lalulintas karena arus pergerakan massa yang tidak terkendali. Warga tidak dapat berpikir jernih lagi. Dalam pikiran mereka yang penting adalah menyelamatkan diri.
Di kecamatan Wedi, yang menderita kerusakan parah, juga terlimput isu tsunami. Situasi menjadi genting karena di mereka menyaksikan air menyembur dari tanah, melalui tanah yang merekah akibat gempa. Menyaksikan itu, mereka mengambil kesimpulan bahwa air yang muncrat itu adalah air laut. Maka terjadilah kehebohan untuk menyelematkan diri. Beberapa warga segera mendaki bukit kapur di pegunungan seribu. Di rumah seorang bidan, dua warga desa sedang mengurus jenazah keluarganya. Ketika isu itu melintas, mereka berlarian sambil masih membopong jenazah itu.
***
Menjelang tengah hari, saya bersama koster gereja mengunjungi kecamatan Wedi. Sepanjang perjalanan, saya menyaksikan rumah-rumah yang sudah roboh. Saya baru menyadari bahwa dampak kerusakan akibat gempa itu lebih parah yang dari saya duga. Di kota Klaten, memang tidak terjadi kerusakan yang parah. Namun seiring perjalanan menuju Wedi dan Gantiwarno, situasinya semakin mengenaskan. Mobil-mobil pembawa korban luka dan korban tewas masih berseliweran.
Selama beberapa saat saya hanya tertegun. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Bersama koster gereja saya lalu mencari anggota jemaat di lokasi bencana untuk memastikan kondisi mereka. Puji Tuhan, tidak ada korban jiwa, namun ada satu anak perempuan yang mengalami patah kaki dan seorang ibu yang tersiram air panas. Mereka sudah mendapatkan perawatan medis.
Yang menjadi persoalan mendesak adalah tempat berteduh. Hampir 90 persen rumah di lokasi ini telah roboh atau mengalami kerusakan berat. Bahan makanan mereka juga tertimbun puing-puing. Maka langkah darurat yang perlu dilakukan adalah membuka dapur umum.
Sekali lagi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya menghubungi beberapa pejabat gereja untuk segera membuka dapur umum. Sejak pagi perut mereka belum terisi apa-apa. Mereka belum sempat berpikir untuk memasak karena masih syok. Majelis gereja memutuskan untuk membagikan nasi bungkus, air minum sambil memasok bahan makanan mentah untuk dapur umum. Inilah cikal bakal posko kemanusiaan.
Kami melihat bahwa mereka butuh tenda, tapi kami tidak memiliki persediaan tenda karena memang tidak siap untuk itu. Kami menghubungi anggota jemaat yang memiliki toko besi untuk meminta tenda, tapi jumlahnya masih memadai. Malamnya, apa yang kami khawatirkan benar-benar terjadi. Dalam kegelapan malam, tanpa penerangan listrik, para penyintas diguyur hujan yang sangat deras. Malam itu, saya hampir tidak bisa tidur karena membayangkan para penyintas itu kedinginan tanpa punya tempat berteduh.
Keesokan hari, Minggu (28 Mei 2009), saya menayangkan dokumentasi kerusakan gempa di pada ibadah gereja. Dampaknya sungguh luar biasa. Hari Senin, para anggota jemaat berbondong-bondong ke gereja untuk menjadi relawan kemanusiaan. Mereka inilah yang kemudian menjadi tulang punggung aktivitas posko kemanusiaan kami.
Perlahan-lahan kami mulai melakukan konsolidasi. Bantuan dari luar kota mulai berdatangan. Sistem administasi mulai dirapikan. Sistem manajemen posko mulai dibenahi. Relawan dari luar kota ikut bergabung. Wilayah pelayanan kami juga mulai meluas.
Posko-Induk

Demikianlah pengalaman kami soal kebencanaan. Pengalaman ini mengajarkan kami betapa pentingnya melakukan kesiapan dalam menghadapi bencana. Jika kita sudah melakukan persiapan dengan baik, maka selain risiko dapat dikurangi, biaya yang dikeluarkan pun lebih sedikit. Konon untuk setiap rupiah biaya yang kita investasikan untuk kesiagaan menghadapi bencana, kita telah menghemat enam kali lipat biaya yang kita keluarkan ketika bencana terjadi. Maka selayaknya kita mulai menyiapkan diri meskipun belum terlihat ada tanda-tanda bencana.

  • Share on Tumblr
klik