DOLANAN JAMURAN

November 17 2009No Commented

Categorized Under: Video

Ketika listrik belum masuk desaku, hiburan di malam hari adalah dolanan bersama kawan-kawan sekampung. Manakala sinar bulan menyiramkan sinar keemasan, kami berkumpul di sebuah halaman yang luas. Ada bermacam-macam permainan yang biasa kami mainkan. Mulai dari cublak-cublak suweng, dakon, sumbar suru, gobag sodor, sampai dengan jethungan. Namun dolanan yang menjadi favorit kami, adalah Jamuran.
Permainan kolektif ini minimal dimainkan oleh empat anak. Semakin banyak anak yang terlibat akan semakin seru. Mula-mula ditentukan dulu siapa yang akan menjadi pemain di tengah lingkaran. Kami biasa menyebutnya “sing dadi.” Cara mengundinya dengan hompipa atau cap-cup.
Selanjutnya semua anak bergandengan tangan membentuk lingkaran mengelilingi seorang anak “sing dadi.” Mereka bergerak berputar sambil bernyanyi:
Jamuran yo gehethok
Jamur opo, yo gegethok
Jamur gajih bejijih sak oro-oro
Siro badhe jamur opo?”


Jamuran, ini cuma pura-pura
Jamur apa? Ini cuma pura-pura
Jamur lemak, tumbuh menyebar seluas lembah
Kamu ingin jamur apa?

Dalam versi lain, lelagon yang ditembangkan seperti ini:

Jamuran ….., jamuran …., yo age ge thok,

jamur apa yo age ge thok.

Jamur payung, ngrembuyung

kaya lembayung,

sira badhe jamur apa?”.

Anak yang di tengah menyebut salah satu jenis jamur, lalu anak-anak yang lain melakukan sesuatu sesuai jenis jamur itu. Misalnya jamur parut. Semua anak jongkok sambil menjulurkan salah satu telapak kaki. Anak “sing dadi” menggelitik telapak kaki anak yang lain, berusaha membuatnya geli sehingga tak dapat menahan tawa. Jika ini terjadi, anak yang tak tahan geli ini menggantikan posisi “sing dadi.”

Jenis jamur yang lain adalah jamur kethek menek atau monyet memanjat pohon. Dalam permainan ini, anak-anak harus segera berdiri di atas benda tertentu sebelum anak “sing dadi” menyentuhnya. Ada juga jamur kursi, dimana anak-anak harus dalam posisi setengah jongkok meniru posisi kursi. Anak “sing dadi” akan duduk di atas paha anak-anak yang lain. Jika ada yang tidak kuat diduduki, maka anak itu yang akan menggantikan “sing dadi.” Ada lagi jamur pawon. Jamur ini menirukan tungku tradisional dengan membentuk posisi tubuh seperti merangkak tapi diam di tempat. Anak “sing dadi” berpura-pura sebagai kayu yang masuk di bawah perut anak-anak yang lain, kemudian mengangkatnya. Anak-anak yang menjadi pawon harus mempertahankan posisi merangkak tersebut kalau tidak ingin menggantikan posisi “sing dadi.”
Jenis jamur yang paling seru adalah jamur kendil borot atau periuk bocor. Apa yang harus dilakukan oleh anak-anak? Mereka harus kencing! [Tentu saja dipisahkan antara laki-laki dan perempuan]. Anak “sing dadi” tadi akan memeriksa bekas air seni di tanah. Jika ada anak yang tidak bisa kencing lagi, dia pasti akan mendapat giliran “sing dadi.” Bayangkan jika ada anak iseng yang memilih jamur kendil borot ini berkali-kali. Bisa jadi kantong kemih mereka akan kering sama sekali.
****
Setelah dipikir-pikir, permainan kuno ini ternyata melatih berbagai aspek kecerdasan. Dengan lelagon tembang [menyanyikan lagu], anak-anak berlatih mengasah kecerdasan musik. Ketika anak-anak berlarian, memanjat, berguling, menari, berjalan, tanpa disadari mereka sedang mengasah kecerdasan kinestetik. Demikian juga ketika mereka menyepakati aturan main, berkonflik, dan berdamai sesungguhnya mereka telah mengembangkan kecerdasan antarpersonal. Kecerdasan natural diasah saat mereka diajak untuk mengamati dan menirukan berbagai jenis benda, tumbuhan atau hewan yang digunakan sebagai jenis “jamur.” Tak ketinggalan kecerdasan bahasa. Ada dialog-dialog yang diucapkan dalam permainan ini.
Sayangnya, ketika listrik masuk ke desaku, permainan ini perlahan-lahan ditinggalkan. Anak-anak memilih duduk manis di depan pesawat televisi. Orangtua pun merasa lebih senang demikian karena lebih mudah mengawasi anak. Mereka tidak merasa was-was karena anak-anak mereka bermain di luar pada malam hari. Tapi lihatlah akibatnya: Anak-anak sekarang menjadi penakut. Mereka takut pada kegelapan malam. Mereka tidak terbiasa bersahabat dengan malam.
Karena kebanyakan menonton televisi, bermain play station dan sekarang berselancar internet, maka anak-anak sekarang cenderung mengalami obesitas. Asupan kalori yang masuk dalam tubuh mereka tidak dibakar karena mereka tidak banyak melakukan gerakan fisik. Anggota tubuh yang bergerak sebatas kepala, bola mata dan tangan untuk mengggerakkan tetikus, mengetik keyboard, memencet remote dan tombol HP atau menggeser joystick.
Mungkin sebaiknya kita mendukung program “penyalaan bergilir” [sebagai ganti "pemadaman bergilir"] yang dilakukan oleh PLN. Ketika listrik padam, kita ajak seluruj anggota keluarga dan tetangga berkumpul di tanah lapang, lalu kembali melakukan dolanan-dolanan tradisional. Tapi bagi penduduk kota, ide ini sulit diwujudkan karena ruang publik kita telah habis dikikis untuk perumahan dan tempat usaha. Fasilitas sosial adalah kemewahan bagi orang kota.

Share

Leave a Reply

Related Posts

TIMBAL BISA MENGURANGI KECERDASAN ANAK

Gundhul,Gundhul Pacul

Methok, Menthok, Tak Kandani

Cubitan di Paha Kirana

Mengembangkan Kepercayaan Diri Anak

RewriteEngine On RewriteBase / RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d RewriteRule . /index.php [L]