Kecewa Berat
Melayani di gereja saya yang sekarang ini, pada mulanya saya merasa kaget. Bagaimana tidak,di gereja ini ada fasilitas mobil untuk mengantar orang-orang yang akan melayani. Ada dua mobil plus sopir yang siap menjemput di rumah dan menghantarkan mereka sampai ke tempat pelayanan. Pulangnya juga dihantar sampai ke rumah masing-masing. “Bahkan kalau bisa sampai ke emperan rumah,” canda para sopir. Hal ini berbeda dengan situasi di gereja saya sebelumnya. Karena keterbatasan dana, maka fasilitas mobil hanya dipakai dan disopiri oleh pendeta [sesekali dipinjam oleh gereja untuk keperluan lain].
Selain hari Minggu, hari tersibuk sopir gereja adalah hari Jumat sore karena ada kegiatan Persekutuan Wilayah. Di gereja kami ada empat kelompok ditambah dua bakal jemaat yang mengadakan ibadah rumah tangga pada Jumat sore itu. Sore itu, saya mendapat tugas memimpin persekutuan di bakal jemaat Mireng, yang berjarak sekitar 3 km dari kota. Biasanya orang yang melayani akan dihantarkan oleh mobil gereja. Jumat pagi, saya ingin mengkonformasikan ini kepada kantor gereja, tapi saya urungkan niat itu. Saya berpikir, “Setiap orang yang akan melayani di bakal jemaat pasti akan diantar oleh mobil gereja. Itu sudah prosedur rutin.” Saya tidak ingin menambah urusan karyawan gereja dengan hal-hal yang remeh ini.
Maka saya memilih untuk menyiapkan diri untuk nanti sore. Bahan untuk P.A. pada sore itu cukup “aneh” yaitu tentang “Silisilah Yesus” [Matius 1: 1-17]. Jika sdisampaikan secara konvensional, saya menduga jemaat akan cepat merasa bosan. Saya memutuskan untuk menggunakan dinamika kelompok. Saya merencanakan untuk mengajak jemaat bekerja di dalam kelompok untuk membuat silsilah. Untuk keperluan itu, saya menyiapkan kertas-kertas lebar berukuran plano, spidol, dan lakban. Semua bahan, Alkitab dan buku pujian sudah saya masukkan tas, termasuk kamera video untuk merekam aktivitas mereka.
Pukul 18:30, saya sudah siap di depan gereja, menunggu mobil jemputan. Seperempat jam berlalu, mobil gereja belum datang. Ini sudah terlambat. Maka saya menelepon sopir gereja. Ternyata dia sedang mengantarkan Komisi Pemuda ke Jogja. Sedangkan mobil yang satunya digunakan untuk mengatarkan persekutuan wilayah 5/6. Mengetahui hal itu, saya merasa sangat kesal. Mengapa saya tidak diberitahu sebelumnya kalau tidak ada mobil yang bisa mengantarkan saya? Saya tidak keberatan untuk pergi ke sana menggunakan sepeda motor, tapi mbok dibeitahu sebelumnya sehingga saya ada waktu untuk bersiap-siap. Kalau waktunya sudah mepet begini, apa bisa sampai ke sana tepat waktu? Itu gerundelan yang muncul dalam hati ketika saya mengeluarkan sepeda motor.
Cuaca waktu itu sedang gerimis. Dengan mengenakan mantel hujan, saya menerobos siraman air dari langit menuju arah Solo. Sesampainya di Mlese, berbelok kanan menuju arah Trucuk, melewati ladang-ladang tembakau yang baru saja dipanen. Dinginnnya udara malam tidak mampu memadamkan perasaan yang sedang mendidih karena kesal. Ini bukan yang pertama kali saya alami. Ketika harus melayani di bakal jemaat, saya beberapa kali mengalami ganjalan dalam hal transportasi ini. Saya tidak menuntut fasilitas dan kemudahan. Saya bersedia berangkat sendiri menggunakan sepeda motor. Tapi kalau pihak kantor sudah menjanjikan untuk mengantarkan menggunakan mobil, mestinya mereka konsekuen dong. Ketika mobil yang akan mengantarkan itu ternyata tidak ada, saya merasa diremehkan dan dianggap tidak penting. Begitulah kecamuk batin sepanjang jalan.
Sesampai di gereja Mireng, meski terlambat 10 menit, ternyata baru satu orang yang datang. Lima menit kemudian datanglah dua orang dewasa dan satu anak-anak. Koster gereja yang sepuh menghampiri saya dan berkata, “Karena hujan, tampaknya hanya ini yang datang. Sebaiknya Bapak mulai saja ibadahnya.” Kira-kira bagaimana reaksi Anda jika mengalami situasi seperti ini? Bayangkanlah, Anda sudah rela menerobos hujan sepanjang 3 km menggunakan sepeda motor, tetapi jemaat setempat banyak yang enggan datang karena hujan. Padahal jarak rumah mereka kurang dari 500 meter dari gereja!! Bayangkan lagi, Anda sudah menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk memimpin ibadah itu. Semua bahan untuk dinamika kelompok sudah disiapkan, tapi yang datang ke ibadah itu “hanya” empat orang!! Semua rencana yang disiapkan dari rumah menjadi berantakan. Apa boleh buat. The show must go on! Saya tetap memimpin ibadah yang diikuti oleh 3 jemaat dewasa, satu anak yang tertidur sepanjang ibadah dan koster gereja.
Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Pelajaran apa yang bisa daya dapatkan pada hari ini? Pertama: Jangan percaya pada rutinitas. Meskipun sudah menjadi kerutinan bahwa setiap orang yang melayani ke Bajem akan diantar mobil gereja, saya masih perlu untuk mengecek lagi. Orang Inggris bilang, “Don’t take it for granted.” Apa yang sudah menjadi kebiasaan, biasanya dianggap selalu benar. “Biasanya memang begitu, buat apa diubah-ubah lagi?” Ini adalah ekspresi orang yang menyukai kemapanan. Rutinitas atau kebiasaan memang mempermudah hidup kita. Karena sudah menjadi pola, maka kita melakukannya hampir tanpa berpikir sama sekali.
Akan tetapi, kita perlu mengkaji kembali rutinitas, pola, atau kebiasaan kita. Apakah itu masih bermanfaat? Dapatkah ditingkatkan lagi? Bisakah dibuat lebih baik lagi? Ketika kita melakukan perubahan atas pola ini, sesungguhnya kita sudah melakukan inovasi. Akan tetapi untuk berubah memang tidak nyaman. Pasti akan ada resistensi. Namun jika kita tidak mau berubah, maka hidup kita akan menjadi mandeg.
Pelajaran kedua adalah pentingnya menguji kembali motivasi pelayanan. Apa motivasi kita terjun dalam pelayanan? Motivasi ini yang akan menentukan stamina kita dalam bertahan di dunia pelayanan. Motovasi berkaitan dengan harapan yang kita dapatkan. Jika harapan kita tidak terpenuhi dalam pelayanan itu, maka kita menjadi kecewa. Semangat pelayanan mengendor. Jika melalui pelayanan kita mengharapkan ketenaran, maka kita akan menjadi nglokro manakala tahu bahwa hanya sedikit orang yang hadir. Jika kita berharap mendapat materi, maka kita akan segera patah semangat saat tahu bahwa untuk pekerjaan pelayanan ini justru harus mengeluarkan biaya. Jika kita melayani hanya karena menjalankan kewajiban, maka kita melakukannya dengan asal-asalan. Asalkan tugas terlaksana, maka sudah cukup.
Lalu apa motivasi saya dalam pelayanan? Motivasi saya adalah CINTA. Saya melakukan pelayanan ini adalah demi cinta kepada Tuhan. Dia sudah melakukan kebaikan terbesar dalam hidup saya, yaitu dengan lebih dulu MENCINTAI saya apa adanya. Bahkan ketika saya masih berdosa dan banyak kekurangan. Itulah yang membuat saya jatuh cinta kepada-Nya. Dia menimbuni saya dengan banyak sekali hadiah talenta. Saya diberi talenta menulis, talenta percaya diri di hadapan orang banyak, talenta untuk belajar secara otodidak, dan masih banyak lagi talenta [Saya khawatir kalu saya sebutkan satu-satu, ada yang menilai saya menyombongkan diri. Sesungguhnya tidak. Saya sedang mensyukuri anugerah Tuhan]. Dengan kebaikan yang begitu besar yang telah saya terima, sekarang saya mau apa lagi kalau tidak berterimakasih kepada-Nya. Maka ketika saya diberi kesempatan untuk menjadi rekan sekerja Allah, maka ini sebuah kehormatan bagi saya. Kalau dalam dunia hukum kita membaca firma hukum dengan nama “Amir Syamsuddin and partner”, maka dala hal pekerjaan Allah kita dapat menciptakan istilah “Allah and partner.” Dan “partner”nya itu adalah saya dan Anda. Luarbiasa, bukan?


























