Footprints

Archive for: December 2009

1 Korintus 13 versi Natal

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan lagu Natal yang sumbang.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala hadiah yang akan diberikan kepadaku dan memiliki seluruh pengetahuan tentang hadiah pada tahun lalu; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna bahwa aku tidak akan mendapat hadiah kaos kaki dan dasi lagi, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku untuk amal, bahkan menyerahkan semua kartu kreditku pada panti asuhan untuk mereka belanjakan, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar, meski harga-harga melambung tinggi. Kasih itu murah hati dengan memberi kesempatan pada nenek untuk membayar lebih dulu di kasir. Ia tidak cemburu meski orang lain mendapat hadiah lebih mahal.

Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong ketika mendapat hadiah Playstation atau laptop.

Kasih tidak melakukan yang tidak sopan dalam meluapkan kegembiraan Natal dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Kasih itu tidak pemarah meskipun tidak mendapat pujian dalam kepanitiaan Natal; dan tidak menyimpan kesalahan anggota panitia lain.

Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan yang dialami oleh orang yang membenci Natal, tetapi karena kebenaran.

Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar dalam menantikan hadiah Natal.

Kasih tidak berkesudahan; hadiah mainan akan rusak; hidangan makanan akan basi; baju baru akan rusak. Sebab semua itu bersifat sementara dan tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Faith Hope Love

Ketika aku kanak-kanak, aku mengira bahwa Natal itu berpusat pada diriku. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku mulai kehilangan sukacita dan kegairahan pada Natal. Sekarang saat aku melihat dalam perayaan Natal, hanya terlihat suatu gambaran yang samar-samar tentang sang Kristus. Gambar yang asli itu terttutup oleh kemilau dan hingar-bingar Natal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman bahwa yang lahir adalah Kristus sang Penyelamat, pengharapan bahwa perayaan Natal tidak akan mengaburkan makna kelahiran sang Kristus dan kasih yang telah ditunjukkan oleh Bapa di sorga, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Natal yang Subversif

Teduh, damai, harmoni, gembira. Itulah kata-kata kunci yang dapat menggambarkan suasana Natal. Elisabet, Maria, Majus, gembala, Hana, dan Simeon menyambut kelahiran Kristus dengan sukacita. Namun dari kacamata rezim yang berkuasa, Natal adalah ancaman yang merongrong kekuasaan. Natal adalah peristiwa subversif.
***
Sudah lama bangsa Israel mendambakan sosok raja yang diurapi Allah, yang akan memerintah dengan adil dan membebaskan mereka dari penjajah. Allah menjanjikan sosok ini berasal keturunan Daud. Berdasarkan kriteria ini, maka Herodes yang saat itu memerintah jelas tidak memenuhi syarat sebagai raja Israel. Herodes bukan keturunan Daud. Dia bahkan bukan keturunan Yahudi. Dia adalah putera Antipater, orang Edom yang menikah dengan ratu puteri asal Arab Kypros. Itu sebabnya, bangsa Israel diam-diam berharap kedatangan Mesias yang akan menggulingkan Herodes. Herodes pasti mengetahui tentang pengharapan atas kedatangan Mesias ini karena sejak kecil dia dididik di tempat kediaman Imam Agung Yohanes Hirkanus II. Dia
Lika-liku laku Herodes dalam menggaet kekuasaan dan mempertahankannya menggenapi adagium klasik: “Tidak ada musuh abadi dalam politik. Yang ada adalah kepentingan.” Karier politiknya dibukakan jalan oleh ayahnya yang pandai mengambil hati Kaisar. Ayahnya berhasil meyakinkan sang Kaisar untuk menempatkan Herodes sebagai penguasa di Galelia.
Pada tahun 43 SM, timbul huru-hara yang dipicu oleh upaya pembunuhan terhadap kaisar. Antipater, ayah Herodes, salah satu pihak yang diduga mendanai operasi ini. Antipater kemudian mati karena diracun. Setelah Kaisar meninggal, Herodes memihak pada Markus Antonius.
Tahun 40 SM, tahta Herodes direbut oleh Antigonus. Herodes melarikan diri ke Roma, yang kemudian ditetapkan oleh senat Roma sebagai raja atas Yudea. Setelah penetapan ini, Herodes lalu pergi ke kuil Yupiter untuk mempersembahkan korban syukur. Sikapnya yang oportunis ini menyebabkan Sanhedrin tidak memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
Herodes kembali ke Yerusalem untuk merebut takhtanya kembali. Demi memuluskan upayanya, dia memperistri kemenakan Antigonus, bernama Mariam, yang masih remaja. Mariam berasal dari wangsa Hasmon yang cukup terkenal di kalangan bangsa Yahudi. Herodes melakukan ini dalam rangka mengambil hati orang Yahudi. Padahal saat itu, Herodes sudah menikah dengan Doris dan memiliki anak laki-laki berumur tiga tahun. Supaya bisa menikah dengan Mariam, maka Herodes tega mengusir anak dan istrinya
Setelah berperang selama tiga tahun, Herodes berhasil menundukkan Antigonus. Lalu memenggal kepalanya. Pada awal kekuasannya periode kedua ini, Herodes melakukan “pembersihan” terhadap lawan-lawan politiknya dari wangsa Hasmon. Mula-mula dia mengeksekusi Hirkanus, kakek Mariam. Setelah itu menghukum mati Aristobulus, adik iparnya. Padahal sebelumnya, Herodes mengangkat remaja berusia 17 tahun ini sebagai Imam Agung. Namun Herodes memerintahkan bawahannya supaya menenggelamkan Aristobulus sampai mati. Kesalahan Aristobulus adalah karena “dia sangat populer.”
Herodes juga tega membunuh Mariam, istrinya. Hal ini karena cintanya yang posesif terhadap Mariam. Suatu kali, Herodes harus menghadap Oktavianus di Rhode. Oktavianus baru saja mengalahkan Markus Antonius dan menjadi Kaisar yang baru. Sebagai bekas sekutu Markus Antonius, Herodes menghadap Oktavoanus dengan perasaan was-was. Dia merasa nyawanya di ujung tanduk. Sebelum pergi, dia meninggalkan pesan jika dia tak kembali dalam keadaan hidup maka Mariam harus dibunuh. Herodes tidak mau ada orang lain yang mendekap cinta Mariam setelah dia mati. Kenyataannya, perjalanan diplomatik berjalan mulus. Selain diizinkan tetap berkuasa, Heodes malah mendapat tambahan wilayah kekuasaan.
Rupanya Mariam mengetahui rencana pembunuhan terhadap dirinya, meski urung dilaksanakan. Sebagai aksi balasan, dia menolak berhubungan seks laagi dengan Herodes. Ini membuat Herodes marah besar dan menyeret Mariam ke pengadilan dengan tuduhan perzinahan. Saksi utama dalam kasus ini adalah Salome I, adik perempuan Herodes.
Yang menarik, Alexandra, ibu Mariam juga tampil sebagai saksi di pengadilan. Bukan sebagai saksi yang meringankan Mariam, justru memberatkan anak perempuannya. Dia melakukan ini karena tahu, setelah anaknya dihukum mati, maka giliran berikutnya adalah dirinya. Maka untuk menyelamatkan hidupnya, Alexandra tega mengorbankan anak perempuannya.
Mariam dihukum mati, lalu Alexandra mengangkat dirinya sebagai ratu dan mengambil alih kekuasaan. Dia melemparkan alasan Herodes mengalami gangguan jiwa sehingga tidak bisa memerintah. Josephus, sejarahwan Yahudi menulis, ini adalah tindakan blunder Alexandra. Herodes mengeksekusi dia tanpa pengadilan.
Untuk mengisi kekosongan cintanya, Herodes kemudian berpoligami dengan sepuluh istri. Namun hidupnya tak juga tenteram. Dia berkali-kali menggagalkan upaya pembunuhan terhadap dirinya, yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Setidaknya dia telah menghabisi tiga anak laki-lakinya karena dicurigai akan mendongkel takhtanya. Dia juga berkali-kali mengubah surat wasiatnya tentang pewaris takhtanya, karena pewarisnya dianggap tidak setia lagi padanya.
Dalam kondisi kejiwaan seperti ini kita menjadi paham atas sikap Herodes yang cenderung paranoid setiap kali mendengar “raja baru.” Ketika orang Majus datang di istana dan mengabarkan bahwa raja baru sudah lahir, maka Herodes langsung sakit kepala. Jantungnya berdebar-debar. Tekanan darahnya naik drastis. Ini adalah ancaman serius bagi kekuasaannya. Apalagi setelah mendapat konfirmasi dari kaum ulama Yahudi. Menurut kitab Mikha, Mesias memang akan lahir di Betlehem.
Meski demikian, sebagai penguasa yang berpengalaman, dia punya kemampuan diplomatis. Herodes tidak menampakkan kegusarannya di hadapan tamu dari jauh. Dia berpura-pura senang dan meminta para Majus memberitahu jika sudah menemukan raja yang baru itu. Dalam hati dia punya rencana licik. Sebagaimana prosedur rutinnya, dia akan membasmi setiap tunas yang berpotensi menjungkalkan dia dari tahta kekuasaan.
Maka ketika para Majus tidak kembali ke istananya, meledaklah amarahnya karena merasa diperdaya orang Majus. Dia mengambil keputusan untuk segera bertindak. Bayi ini tidak boleh hidup. Tapi bayi mana yang harus dibunuh? Dia tidak punya waktu untuk mengerahkan jajaran intelijen. Dia memerintahkan pasukan tentaranya supaya menghabisi semua bayi di Betlehem yang berusia di bawah 2 tahun.
Matius menulis pembantaian ini, tetapi sumber sejarah lain tidak mencatat peristiwa ini. Apakah Matius menulis peristiwa imajinatif? Menurut perkiraan demografis, Betlehem adalah perkampungan kecil dengan penduduk antara 300 s/d 1000 jiwa. Para ahli lalu menduga bahwa bayi berumur di bawah dua tahun pada saat itu hanya sekitar tujuh sampai dua puluh bayi. Karena jumlahnya yang relatif kecil maka tidak ada orang yang mencatat peristiwa ini selain Matius.
***
Sudah lama orang-orang bijak mewanti-wanti bahwa: Power tends to corrupt. Pengertian “corrupt” tidak semata-mata penyalahgunaan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan materi. Corrupt juga dapat dimaknai sebagai merusak. Kekuasaan itu punya hasrat menjadi rusak dan merusak.
Herodes menghalalkan berbagai cara demi mempertahankan kekuasaannya. Hati nuraninya sudah dibutakan oleh kemilau mahkota kekuasaan. Apalagi dia menyadari bahwa kekuasannya itu tidak didukung oleh rakyat. Maka setiap gerakan yang mengarah ke istananya akan dihadapi dengan todongan senjata. Setiap suara kritis yang mengontrol pemerintahannya akan dicap sebagai upaya subversi.
Yesus lahir di bawah pemerintah yang represif ini. Beberapa tahun kemudian, Herodes akhirnya mati, namun dinasti penerusnya masih mempertahankan gaya seperti ini. Herodes-Herodes berikutnya tetap menjalankan pemerintahan dengan tangan besi yang paranoid. Dalam situasi seperti ini, Yesus menjalankan misi-Nya di dunia ini. Dalam situasi yang tidak ideal ini, Yesus menjalankan karya penyelamatan-Nya. Semoga ini turut menginspirasi kita. Situasi yang tidak ideal, bukan alasan untuk berhenti melayani.
Dalam melaksanakan panggilan, kita mungkin akan mendapat sambutan yang tidak menyenangkan, sebagaimana kelahiran Kristus tak dikehendaki Herodes. Jika itu terjadi, mari kita belajar dari Yesus. Jangan menjadikan halangan sebagai alasan untuk berhenti. Halangan adalah batu pijaka untuk melompat lebih tinggi. Selamat merayakan Natal.