Footprints

Archive for: January 2010

Petuah dari Goa Gajah

Berkunjung ke goa Gajah saya mendapat pelajaran baru: Agama Hindu yang berkembang di Bali ternyata berbeda dengan agama Hindu di India. Agama Hindu yang dipraktikkan di Bali merupakan muara interaksi dinamis antara agama Hindu dengan kepercayaan asli Bali dan agama Budha.

GoaGajah

Kunjungan ke goa Gajah sebenarnya bersifat spontan. Saat itu saya bersama keluarga sedang beristirahat setelah mengunjungi Monkey Forrest di Ubud. Iseng-iseng,  saya membuka peta wisata dan menemukan sebuah tempat wisata menarik. Lokasinya cukup dekat dari tempat kami, yaitu goa Gajah. Saya menawarkan ke anggota rombongan saya dan mereka setuju. Dua dekade yang lalu, saya sebenarnya pernah ke sana dalam rangka study tour SMA. Akan tetapi tidak banyak kenangan saya akan tempat ini.

Untuk masuk wisatawan harus membayar enam ribu rupiah [Mulanya kami tidak menerima karcis masuk, tapi saya mendesak memintanya. Ini perlu supaya uang yang kami bayarkan benar-benar masuk ke kas pemerintah. Juga untuk bukti asuransi].

Karena tempat ini disakralkan maka wisatawan yang menggunakan celana pendek atau rok mini sebatas atas lutut wajib membebatkan kain yang panjang. Sementara bagi yang mengenakan rok atau celana panjang, cukup melilitkan selendang kain di pinggangnya. Selain itu ada aturan bahwa perempuan yang sedang menstruasi juga sebaiknya tidak masuk.

Kami menuruni tangga setengah memutar sebelum sampai pada halaman utama. Pada sisi kiri halaman, terserak artefak batu-batu candi yang sengaja dikumpulkan dalam satu tempat itu. Pada tengah halaman terdapat sebuah petirtaan atau kolam air yang terbagi menjadi dua bilik. Ini adalah kolam pemandian umum. Kaum laki-lai mandi di bilik kanan, kaum perempuan di bilik kiri. Pada setiap bilik terdapat tiga patung perempuan yang mengendong tempayan. Air mengalir melalui tempayan ini, tumpah ke kolam air yang dihuni oleh ikan mas

Petirtaan

Petirtaan

Arsitektur pemandian kuno ini mirip dengan pemandian “Belahan” di Jawa Timur. Pemandian ini dibangun oleh Erlangga, raja Mataram kuno yang berkuasa pada abad ke-10 M.  Maka diperkirakan bahwa goa Gajah ini dibangun antara abad ke-9 s/d 13 pada masa pemerintahan Majapahit. Salah satu informasi penting pada petirtaan di Jawa Timur ini adalah inskripsi pada tembok yang berbunyi: “Udayana Gempeng “yang artinya “Udayana sedang mabuk cinta.” Udayana adalah raja yang sangat terkenal di Bali, yang berkuasa pada abad ke-11. Ahli sejarah menduga Udayana sedang kasmaran terhadap putri Mahendradatta dari Jawa Timur. Mereka akhirnya menikah dan bersama-sama memerintah di Bali. Sang putri meninggal lebih dulu dan dimakamkan di Burwan.
Petirtaan yang berada di bawah pohon kapas yang besar ini semula terkubur dalam tanah ketika ditemukan. Pada tahun 1954 dimulai penggalian yang dipimpin oleh Krijgsman sehingga ditemukan bentuknya seperti yang sekarang ini.

Objek utama adalah gua buatan manusia, berupa ornamen wajah raksasa yang diukirkan pada sebuah tebing batu kapur. Dari kejauhan, ornamen ini mirip dengan gajah yang sedang menganga. Mungkin itu sebabnya disebut goa Gajah. Legenda setempat menceritakan bahwa ornamen pada batu ini diukir dengan tangan telanjang oleh Kebo Iwa hanya dalam semalam! Dia adalah seorang perdana menteri kerajaan yang sakti.

Teori lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari nama “Lwa Gajah”, nama sebuah pertapaan Budha.  Nama goa Gajah tercantum dalam naskah Negarakertagama yang disusun oleh mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah tertulis bahwa raja Majapahit memiliki tempat pertapaan di lereng gunung yang disebut “Lwa Gajah”. Kata “Lwa” atau “Loh” berarti sungai, sehingga mengindikasikan bahwa pertapaan ini bertempat di sungai Gajah (Petanu).

Pendapat lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari patung Ganesha yang ditemukan di dalam goa. Ganesha adalah anak dewa Siwa yang bertubuh manusia tapi berkepala gajah.

Di depan pintu goa, jika kita cermati, terlihat ukiran berbagai makhluk yang berusaha menjauh dari mulut raksasa yang sedang menganga. Seolah mereka takut dicaplok oleh raksasa ini. Ada yang menafsirkan bahwa makhluk raksasa ini adalah symbol kematian. Tempat ini biasa digunakan sebagai bertapa. Dengan masuk ke dalam goa ini diperlambangkan bahwa orang tersebut memasuki nuansa alam kematian yang serba gelap.

Lorong dalam goa berbentuk huruf “T”. Setiap ujung lorong membentuk bilik-bilik. Pada bilik kiri terdapat patung Ganesha. Sementara pada bilik kanan merupakan altar untuk lingga, yaitu lambang alat kelamin dewa Siwa.

Keluar dari goa, kita akan melihat patung perempuan yang tersimpan dalam pondok kayu. Perempuan ini bernama Men Brayut, seorang tokoh terkenal dalam cerita rakyat Bali yang ditulis oleh seorang Budha bernama Hariti. Men Brayut adalah isteri Pan Brayat, seorang petani miskin yang memiliki 18 anak. Setiap anak memiliki watak masing-masing: 4 anak yang alim, 4 anak yang suka seni, 4 anak yang urakan, 4 anak yang berpikiran agak dewasa dan 2 anak masih kecil. Namun mereka tidak saling toleran terhadap saudara, hingga sering bertengkar [Dalam bahasa Jawa, "brayut" atau "brayat" berarti "keluarga dengan banyak anak"].

Melalui perjuangan Men Brayut, akhirnya mereka dapat hidup rukun. Caranya dengan memadukan keunikan masing-masing anak sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat. Tampaknya terselip pesan pentingnya penghrormatan “pluralitas” di dalam kisah legenda ini. Perbedaan dalam kepercayaan,–entah itu Hindu, Budha atau kepercayaan asli–, dapat menjadi sumber konflik tapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk bekerja sama dalam karya kemanusiaan.

Pesan tentang pluralitas ini semakin kuat dengan adanya papan penunju ke Pura Patung Budha di sebelah timur goa ini. Apakah Anda melihat adanya “keganjilan” di sini? Pura adalah tempat ibadah bagi umat Hindu, sementara patung Budha jelas berkaitan dengan umat Budha. Lalu mengapa dinamakan “Pura Patung Budha”?

Batu Candi?

Karena penasaran, saya menuruni tangga setapak yang berujung di sebuah sungai. Ada jembatan kuno yang masih dapat dilewati. Saya melihat bongkahan-bongkahan batu besar yang berserakan di dasar sungai. Saat diamati, ada jejak-jejak tangan manusia pada batu besar yang telah berlumut itu. Saya melihat pahatan setengah jadi yang membentuk menara pagoda atau warga setempat menyebutnya meru. Jika dilihat dari langgamnya, pahatan ini lebih mirip dengan agama Budha. Ini jelas sebuah peninggalan arkeologis. Mengapa batu-batu ini tergeletak begitu saja di sana? Bisa jadi, batu-batu itu adalah proyek umat Budha yang tidak pernah diselesaikan karena keburu diambil alih oleh umat Hindu. Bisa jadi proyek yang tidak pernah diselesaikan karena bencana alam. Atau mungkin ada penyebab lain. Entahlah, saya tidak tahu dengan pasti.

Batu Candi?

Batu Candi?

Setelah melewati jembatan, saya lalu berjalan mendaki menuju sebuah pura sederhana. Ada satu petapa tua yang siap mendoakan wisatawan. Rasa penasaran saya terjawab sudah. Petapa ini berdoa di depan patung Budha, yang bentuknya mirip dengan patung Budha di candi Borobudur, namun tanpa kepala. Rasa penasaran yang satu sudah hilang, muncul rasa penasaran yang lain. Mengapa petapa Hindu itu

bersembahyang di depan patung Budha? Apakah ini wujud dari sinkritisme agama Siwa Budha? Apa ini merupakan bentuk penghormatan umat Hindu terhadap agama Budha yang lebih dulu menggunakan tempat itu? Entahlah.

***

Ada berbagai pertanyaan yang masih menggantung selepas kunjungan ke goa Gajah. Meski begitu, saya mendapatkan hikmah indah dari perkunjungan ini. Keputusan untuk memahat tebing bukit batu untuk menjadi sebuah goa pertapaan hanya bisa dibuat oleh orang atau sekelompok masyarakat yang berani bermimpi besar. Tidak hanya bermimpi, tapi juga bangun dari pembaringannya dan menyingsingkan lengan itu untuk mewujudkannya. Dengan teknologi yang masih sederhana, mereka tentu menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dibutuhkan stamina yang kuat dan tekad yang menyala-nyala untuk menancapkan pahat kepada bongkahan batu-batu keras itu. Dibutuhkan inspirasi yang tak ada habisnya untuk membangkitkan lagi pengharapan saat melihat seolah-olah tidak ada kemajuan yang berarti dalam pekerjaan mereka. Tanpa adanya semangat itu, mereka akan mudah menjadi loyo dan menyerah.

Belajar dari goa Gajah ini, spiritualitas keagamaan ternyata dapat menjadi sumber semangat umatnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang besar. Jika saat ini Anda telah mendapat mandat dari Allah untuk melakukan pekerjaan yang besar, belajarlah dari pembuatan goa Gajah ini. Kalau mereka bisa, Anda pun bisa.

Video saya tentang Goa Gajah dapat dilihat di sini

:lihat video

Tulisan ini merupakan seri dari catatan perjalanan saya ke Bali tanggal 7-11 Januari 2010. Untuk tulisan yang lainnya, silakan klik:

Museum Antonio Blanco & Monkey Forrest

Dua tujuan wisata yang saya kunjungi ini sudah memiliki reputasi internasional. Pertama, museum milik maestro lukis Don Antonio Blanco. Kedua, hutan suci yang menjadi lokasi shooting “Eat, Pray, Love” yang dibintangi oleh Julia Roberts.

Gerbang Museum

Museum renaisans Don Antonio Blanco dibangun di atas bukit Kampuhan yang masih asri. Kedatangan kami langsung disambut oleh kicauan burung jalak bali dan kakatua. Pada tebing sebelah kanan pintu masuk tampak menjulang menara pagoda 12 atap.

Untuk masuk ke museum, wisatawan domestik harus merogoh kocek Rp. 30.000,-/orang.  Sedangkan untuk wisatawan manca, dikenai tarif lebih mahal, yaitu Rp. 50.000,- Dari tempat pembayaran tiket, kami mendaki tangga menuju sebuah halaman kecil, yang di tengahnya terdapat kolam kecil dan patung Siwa di bagian tengahnya. Pada bagian kiri, terdapat balai sederhana sebagai bengkel kerja pembuatan pigura lukisan. Lalu kami memasuki pintu berbentuk lingkaran, seperti yang biasa kita jumpai pada rumah-rumah China kuno. Berbelok kiri kami disambut halaman rumput yang luas. Pada bagian tengah terdapat kolam air.  Menatap lurus, kami melihat kediaman pribadi Antonio Blanco yang cukup megah.

Pagoda 12 Atap

Siapakah Antonio Blanco? Dia adalah seniman lukis ternama kelahiran Catalonia, Spanyol pada tanggal 15 September 1911. Setelah menyelesaikan studinya di Akademi Seni Nasional di New York, Blanco berkelana ke seluruh dunia, hingga akhirnya terpikat oleh keindahan Bali dan memutuskan menetap di sana, pada tahun 1952. Raja Ubud menghadiahkan kepadanya tanah seluas 2 hektar yang berlokasi di pertemuan dua aliran yang membentuk sungai Kampuhan.

Seniman flamboyan dan eksentrik ini kemudian memperistri Ni Rondji, seorang penari kenamaan di Bali. Mereka dikaruniai empat anak-anak, masing-masing Tjempaka, Mario, Orchid dan Mahadewi. Pelukis yang dijuluki “Dali dari Bali” ini sangat mengagumi tubuh wanita yang menurutnya merupakan ciptaan Tuhan yang paling indah.  Maka tak heran jika hampir seluruh karya seniman yang gemar bertopi kabaret ini menampilkan sosok perempuan bertelanjang dada, khususnya perempuan Bali.

Sebelum memasuki bangunan utama, pengunjung akan melewati sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari marmer. Diamati secara sepintas, bentuknya memang aneh.  Namun ternyata gerbang ini merupakan tiruan dari tanda tangan sang Maestro. Konon ini adalah tanda tangan terbesar di dunia.

Bangunan museum merupakan gabungan antara arsitektur barat dan Bali. Tembok-tembok berupa batu marmer kokoh, yang diimbangi dengan kelembutan ornamen Bali di sekeliling pintu, jendela dan atapnya. Ruang utama museum mirip dengan ballroom luas dengan atap yang sangat tinggi. Di sebelah kanan dan kiri ruangan terdapat tangga untuk ke ruang atas. Lukisan-lukisan maha karya sang maestro ditempelkan pada dinding-dinding ruangan. Pencahayaan ruangan agak remang-remang. Hanya ada lampu-lampu kecil yang menerangi setiap lukisan.

Sayangnya pengunjung dilarang untuk mengambil gambar dengan kamera.  Suatu kali, ketika petugas tidak terlihat, saya menghidupkan kamera video dan mencoba mengambil gambar dengan sembunyi-sembunyi. “Mumpung tidak ada petugas,” pikir saya ketika itu. Akan tetapi Citra, adik sepupu isteriku, tiba-tiba memperingatkan aku.”Mas, ada kamera pengawas lho,” bisiknya sambil menunjukan kamera di langit-langit ruangan. Saya pun buru-buru mematikan kamera sambil tertawa sendirian.

Idealnya, mengunjungi museum lukisan tidak dilakukan tergesa-gesa. Kita harus meluangkan waktu untuk menikmati setiap detil goresan sang seniman. Tapi apa boleh buat, objek wisata berikutnya masih menanti. Selepas ruang utama, kami masuk ke ruang kerja Blanco.  Sebuah ruangan yang sederhana dengan jendela luas yang mengarah langsung ke halaman.  Di sebelah bengkel kerjanya, terdapat ranjang besar dengan kelambu putih. Jika letih berkarya, Blanco akan merebahkan badannya sejenak di tempat tidur ini sambil merenung untuk menangkap inspirasi.

Bengkel Kerja

Di sini, setiap pengunjung disodori segelas mocca dingin yang bisa dinikmati sambil bercengkerama dengan burung-burung kakatua. Jika berani, pengunjung bisa berfoto dengan burung-burung itu. Sebagai souvenir, pengunjung bisa membeli foto lukisan Antonio Blanco yang ditandatangani asli oleh Mario Blanco, anak laki-lakinya. Menjelang pintu keluar, terdapat toko souvenir yang menjual kerajinan perak yang didesain oleh anak perempuan Blanco.

***

Berseberangan dengan museum Antonio Blanco terletak hutan suci yang banyak dihuni oleh kera. Warga setempat menyebutnya Wana Wanara, tapi kemudian lebih terkenal dengan nama Monkey Forrest. Kami harus mengambil jalan memutar dulu, melewati pasar Ubud dan jalan Hanoman karena jalan di Ubud ini adalah jalan satu arah.

Kera Monkey Forrest

Sekitar sepuluh menit perjalanan dengan mobil, kami sampai di pelataran parkirnya. Untuk masuk, kami harus membayar tiket senilai Rp. 15 ribu per orang.  Di pintu masuk, ada beberapa penjual rambutan, pisang dan kacang yang menawarkan dagangannya. Ini bukan untuk dimakan wisatawan, melainkan untuk diberikan kepada para kera. Jika Anda tidak punya cukup nyali menghadapi para kera, sebaiknya Anda tidak membeli dan membawa buah-buahan ini ke dalam hutan. Seperti yang saya saksikan sendiri, begitu tahu ada pengunjung membawa makanan, maka para kera terus-menerus menguntitnya. Jika sang pengunjung tidak segera memberikan makanan mereka, maka kera-kera itu tak segan-segan akan meloncat ke pundak pengunjung untuk merebutnya. Bahkan ketika makanan itu disembunyikan dalam tas ransel, para kera itu bisa tahu dan membukanya dengan paksa. Namun Anda tidak perlu takut. Sepanjang Anda tidak menyimpang dari jalan yang sudah dibuat dan tidak jahil, Anda tidak akan diganggu. Ada penjaga yang sewaktu-waktu siap membantu.

Kera yang hidup di hutan ini adalah jenis makaka ekor panjang. Nama latinnya adalah Macaca fascicuiaris.  Mereka hidup berkelompok di dalam wilayah kekuasaan masing-masing. Kera betina dilahirkan, besar dan mati di dalam kelompoknya. Sementara itu, kera jantan bisa saja meninggalkan kelompoknya untuk berpindah ke kelompok lain (biasanya pada umur 4 s/d 8 tahun). Untuk masuk ke  dalam sebuah kelompok, maka seekor kera jantan harus mendapat izin dari kera-kera betina pada kelompok tujuan. Hal ini terjadi karena kelompok kera ini menganut pola matrilineal [seturut dengan garis keturunan induk].

Kera Ekor Panjang

Sampai sekarang, populasi kera pada hutan di Padangtegal ini diperkirakan sejumlah 340ekor, yang terbagi ke dalam 4 kelompok.  Mereka hidup di dalam hutan yang terdiri dari 115 jenis tumbuhan, menurut hasil penelitian Universitas Udayana, Bali.

Dalam sistem kepercayaan Hindu Bali, terdapat tiga jenis pura yaitu Pura Puseh, Pura Desa, and Pura Dalem.  Pura Puseh (pura asal) biasanya berada di wilayah hulu desa, yang dipersembahkan kepada dewa Wisnu dan para leluhur desa. Dewa Wisnu dikenal sebagai dewa pemelihara kehidupan karena punya kemampuan berinkarnasi sebagao avatar (Manusia-Dewa) yang bebas melintas sorga dan bumi. Dewa ini dipercaya sering menampakkan diri untuk menyelematkan dunia.
Pura Desa, terletak di tengah-tengah desa yang dipersembahkan bagi dewa Brahma. Pura ini biasa digunakan sebagai tempat pertemuan warga untuk membicarakan berbagai persoalan desa. Dewa Brahma juga dikenal sebagai dewa pencipta, yang menjadi sumber semangat bagi umat Hindu dalam berkarya secara kreatif.

Pura Dalem atau pura kematian berada di bagian hilir atau bawah desa. Pura ini dipersembahkan kepada dewa Siwa sebagai dewa penghancur. Biasanya terdapat kuburan di pura ini. Dewa Siwa akan menentukan reinkarnasi seseorang berdasarkan karmanya semasa hidupnya. Dalam kaitan ini, wanara wana atau The Sacred Monkey ini berada di wilayah Pura Dalem.

Bangunan pura berada di dekat sungai. Untuk mencapai ke sana, pengunjung harus menuruni bukit dengan menapaki tangga demi tangga. Sepanjang perjalanan, kita dapat menyaksikan tingkah polah kera: berayun-ayun, berkelahi, mencari kutu, dan memikat pasangan.

Sesampai di bawah,  kita dapat melihat sebuah kolam petirtaan berair jernih di bawah pohon besar yang rindang. Pada samping kolam, terdapat tiga patung batu. Pada bagian tengah, terletak patung ganesa [tubuh manusia berkepala gajah], yang mengeluarkan air dari belalainya. Umat Hindu mempercayai Ganesha sebagai dewa ilmu pengetahuan. Air yang keluar dari belalainya melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang berasal dari dewa ini. Dewa ini diapit oleh dua patung perempuan bertelanjang dada yang memegang tempayan. Air mengalir melalui tempayan. Di belakang petirtaan, terdapat sebuah pura yang dijaga oleh dua patung dwarapala.

Patung ganesa

Hutan yang terus dijaga kelestariannya ini memang indah. Maka tak heran jika tempat ini menjadi salah satu tempat shooting untuk film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi oleh Julia Roberts.

Tulisan ini merupakan seri dari catatan perjalanan saya ke Bali tanggal 7-11 Januari 2010. Untuk tulisan yang lainnya, silakan klik:


Untuk melihat video klip saya, silakan klik link berikut ini:

Lihat Video

Lihat Video

Lihat Video