Agak Ribed di Ubud

January 26 2010No Commented

Categorized Under: Catatan Harian, Catatan Pribadi

Wisata kami ke Bali diwarnai dengan spontanitas, khususnya dalam penentuan lokasi wisata yang akan dituju. Sepuluh menit sebelum keluar dari penginapan, pada hari kedua, kami bahkan belum memeutuskan akan kemana hari itu. Dalam “rapat pleno” dibahas dua pilihan: Pertama ke wilayah Ubud yang didominasi wisata budaya. Kedua, ke wilayah danau Bedugul dan pantai Lovina yang didominasi wisata alam. Kami menetapkan pilihan pertama karena memiliki kekhasan Bali yang tak ada di tempat lain. Sedangkan wisata alam dapat ditemui di pulau Jawa.

Bali

Dalam guyuran hujan rintik-rintik, mobil keluar dari penginapan dan langsung berbelok ke arah Barat.

“Tunggu dulu”kataku. “Apakah arahnya sudah benar?”

Tidak seorang pun yang memastikan.  Ini seperti orang buta menuntun orang buta. Aku sendiri meski sudah dua kali pergi ke Bali, namun tidak mengenal lika-liku pulau Dewata. Parahnya, bahkan sopir kami baru sekali ini pergi ke Bali. Daripada kesasar terlalu jauh, maka diputuskan untuk bertanya pada orang di pinggir jalan.

Instingku benar. Kami salah arah. Kami harus berbalik ke arah Timur. Selanjutnya kami mengandalkan papan penunjuk jalan yang ada di setiap persimpangan. Semua penumpang mulai memelototi papan segiempat penunjuk arah yang berwarna hijau daun itu. Namun karena terlalu banyak yang mengawasi, maka kadang menimbulkan perdebatan. Ada yang melihat harus ke arah kiri, ada yang berpendapat harus lurus. Kalau sudah begini, maka wasitnya adalah penduduk setempat. Jadi memang agak ribed perjalanan ke Ubud.

Melewati Sukowati, perjalanan lancar. Begitu memasuki kawasan Ubud, laju mobil terhambat oleh dua upacara yang diadakan oleh warga setempat. Tapi ini tidak menjadi masalah, karena memang inilah tujuan kami berwisata ke Bali. Mencari suasana atmosfer yang berbeda dengan kehidupan di Jawa.

Dalam guyuran hujan Ubud justru menampakkan keayuannya. Kanan-kiri jalan terhampar sawah-sawah yang dikelola dengan sistem Subak. Memasuki jantung Ubud, galeri seni berderet mengapit sisi-sisi jalan. Berbagai ragam seni dipajang, mulai tradisional sampai dengan kontemporer.

Sesampai di jantung Ubud, hujan semakin deras. Setelah turun dari mobil, kami berteduh di emperan sebuah toko kelontong. Kami tidak membawa cukup banyak payung sehingga tertahan di situ. Ketika kulirik ke dalam toko, mereka menjual payung. Maka kuputuskan untuk membeli tiga payung tambahan.

Kami membuka payung, bersiap menerobos hujan mencapai tujuan pertama, yaitu puri Ubud. Begitu memasuki gerbang puri, hujan berhenti seketika.  Di halaman puri, hanya ada dua wisatawan Jepang yang berfoto-foto. Saat menghampiri gapura yang ada di sebelah dalam, terpampang tulisan larangan masuk ke dalam istana. Aku menghampiri penjaga yang ada di dekat pintu untuk meminta izin. “Tidak bisa. Puri ini hanya untuk tamu yang menginap,” jawabnya. Dengan perasaan kecewa, kami hanya bisa berfoto-foto di halaman istana itu.

Karena penasaran, maka kucari keterangan seputaran puri atau istana ini. Dari penjelajahan di internet, didapat sepenggal data bahwa desa Ubud ini setidaknya sudah ada sejak abad ke-8 M. Hal ini bersumber dari tulisan dia atas daun lontar yang mencatat perjalanan orang suci dari India bernama Resi Markaneya. Dia melakukan perjalanan melintasi pula Jawa dan akhirnya sampai di pulau Bali untuk menyebarkan agama Hindu.

Dalam perjalanan rohani itu, sang resi mendapat pewahyuan untuk menanam lima jenis logam mulia di punggung gunung [tempat itu sekarang bernama pura agung Besakih].  Usai menunaikan tuganya, resi bersama dengan pengikutnya tertarik dengan energi dan aura yang terpancar dari sebuah tempat di kaki gunung. Tempat itu bernama Kampuhan yang berada di tempuran sungai Wos. Selanjutnya di tempat itu dibangun Pura Gunung Lebah.

Resi Markaneya tidak menetap di sana. Dia berkeliling di semua sudut pulau Bali dan membangun berbagai pura yang terkenal. Dia juga menciptakan sistem irigasi Subak dan metode sawah terasering yang masih tetap lestari hingga saat ini.

Semenjak dikunjungi resi Markaneya, Kampuhan berkembang menjadi tempat yang memiliki aura spiritual. Nama “Ubud” sendiri berasal dari kata ubad yang mengacu pada peralatan pengobatan tradisional.

Pada saat itu terjalin hubungan mesra antara pulau Jawa dengan pulau Bali. Namun pada abad ke-15 kerajaan Majapahit mulai gerah melihat banyaknya bangsawan yang eksodus ke Bali. Kedatangan mereka disambut dengan ramah oleh penguasa di kerajaan Gelgel, sebuah kerajaan baru di kawasan pantai timur.

Pada abad ke-17, banyak bermunculan kerajaan-kerajaan baru, termasuk berdirinya sejumlah istana di sekitar Ubud.  Akibatnya, pada masa ini sering terjadi konflik perbutan kekuasaan. Seorang pangeran dari kerajaan Klungkung diutus untuk membangun istana di wilayah Sukawati, yang ada di selatan Ubud. Dia membawa banyak seniman dari seluruh penjuru Bali untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Itulah sebabnya, sampai sekarang Sukawati menjadi salah satu pusat kesenian di Bali yang kaya dengan seniman-seniman.

Keberhasilan di Sukawati, mendorong sang penguasa untuk merebut wilayah Ubud pada tahun 1700-an.

***

Untuk mengobati kekecewaan, maka kami berjalan menuju ke pasar Ubud, yang ada di sebelah Selatan istana. Sebelum masuk ke pasar, aku berpesan kepada rombonganku: “Kita melihat-lihat saja di pasar ini, tidak usah berbelanja. Nanti kita akan mengunjungi tempat khusus untuk beli oleh-oleh.”

Kios-kios yang ada di depan mengingatkanku pada pasar seni Sukawati. Hampir semua barang dagangan yang dipajang adalah benda-benda souvenir untuk wisatawan. Saat masuk ke wilayah pasar yang lebih dalam, aku mengurungkan niat karena becek oleh air hujan dan terlihat kumuh.

Tidak lebih dari sepuluh menit kami ada di pasar ini. Sebelum kembali ke mobil, aku menyempatkan diri mampir ke pusat informasi turis. Tujuannya adalah mencari peta wisata. Menurut temanku, ada banyak peta yang bisa diperoleh dengan gratis di pusat informasi turis. Ternyata benar juga. Ada banyak peta yang diberikan dengan cuma-cuma karena memuat informasi tempat-tempat komersial, seperti hotel, rumah makan, klub malam, tempat wisata dll. Pasti mereka yang mengongkosi cetaknya.

Tujuan kami berikutnya adalah museum Antonio Blanco, Monkey Forrest dan Goa Gajah.

Baca Juga:

Hati Kecut di Bali

Berlibur ke Bali dengan Dana Pas-pasan

Saksikan videonya di sini:

Pasar Ubud

Puri Ubud

Share

Leave a Reply

RewriteEngine On RewriteBase / RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d RewriteRule . /index.php [L]