Orang Reaktif

January 7 20103 Commented

Categorized Under: Artikel, Catatan Harian, Catatan Pribadi

Sewaktu masih anak-anak, kami gemar sekali mengganggu anjing galak milik orang kaya. Anjing ini dikurung dalam pagar yang diselimuti kawat ram sehingga tembus pandang. Anak-anak biasanya menyambit anjing yang sedang santai tiduran dengan kerikil. Merasa terusik, anjing menjadi murka dan menyalaki anak-anak yang pengganggunya. Anak-anak tertawa senang. Kami lalu membalasnya dengan menirukan gonggongannya. Anjing ini semakin sewot karena tidak bisa membalas perbuatan iseng kami. Dia hanya bisa menggonggong yang lebih keras sehingga mengusik majikannya. Ketika sang majikan menampakkan wajah terganggunya, maka kami segera kabur sambil tertawa karena sekali lagi berhasil mengerjai anjing galak [dan pemiliknya].

Dalam banyak hal, orang yang bersikap reaktif itu seperti anjing yang diganggu oleh anak-anak. Orang yang reaktif akan serta merta merespon rangsangan yang datang kepadanya. Ketika ada orang yang menyinggung dirinya, dengan segera dia akan melakukan aksi balasan. Ketika melakukan kesalahan, dia segera mencari cara untuk membenarkan tindakannya. Ketika ada yang mengusik kenyamanan hidupnya, dia akan segera melakukan aksi balas dendam. Ketika ada orang yang melecehkan sosok yang dihormatinya, maka dia segera beraksi untuk membuat jera si pelaku.
Orang yang bersikap reaktif sesungguhnya tidak dapat hidup dengan tenteram karena hidupnya dikendalikan oleh faktor di luar dirinya. Dia ibarat pesawat televisi yang menyerahkan remote control pada pihak lain. Suasana batinnya dikendalikan sepenuhnya oleh pemegang remote control. Hal itu seperti yang kami lakukan terhadap anjing itu. Suasana batinnya sepenuhnya tergantung pada kami. Ada kalanya kami mengusik dia saat dia sedang enak-enakan ngorok. Ada kalanya, kami berlalu saja melewati kandangnya ketika sedang berjaga.
Orang yang reaktif dapat juga diibaratkan dengan kaleng minuman soda. Jika ada orang yang menggucang-guncangkannya, maka secara spontan dia akan muncrat dan berbuih. Seumpama air, dia mudah sekali mencapai titik didihnya. Seperti apakah ciri-ciri orang yang reaktif? Menurut situs Rodsemith ciri-ciri orang yang reaktif adalah:
    • Terburu-buru dalam mengambil tindakan. Seperti petasan yang bersumbu pendek.
    • Mengejar-ngejar orang lain untuk membereskan persoalannya.
    • Bersikap subjektif dan sangat melindungi diri.
    • Kabur ke arah yang lain
    • Mudah tersinggung, jengkel dan marah.
    • Kurang memiliki rasa humor atau menganggap humor itu membuang waktu dan tenaga saja.
    • Mencari dukungan pihak lain.
    • Berkata, “ada orang yang menuduhku………”
    • Bertindak berlebihan [melebihi tanggungjawabnya] atau menghindar dari tanggungjawab.
    • Suka menggurui dan berharap orang lain menjadi pengikutnya.
    • Merebut tanggungjawab yang menjadi porsi orang lain.
    • Gampang kagetan dan merasa tak bersalah meski telah menyababkan kekacauan besar.
    • Pendendam
    • Menyingkirkan orang yang menghalangi lamgkahnya.
    • Pemahamannya hanya sebatas bagaimana cara membela diri.
    • Selalu merasa terancam.
    • Merasa bertanggungjawab untuk melindungi orang lain.
    • Merasa benar sendiri.
      Alternatif yang tersedia sebagai pengganti sikap reaktif adalah sikap proaktif [ada juga yang menamakannya sikap responsive]. Orang yang bersikap proaktif cenderung tidak terburu-buru melakukan tindakan atas situasi tertentu. Dia menganalisis situasi, kemudian mempertimbangkan pilihan-pilihan yang tersedia. Kata kuncinya di sini adalah “pilihan.” Setiap manusia diberi otoritas oleh Allah untuk melakukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Orang yang proaktif akan melakukan tindakan berdasarkan pilihan yang bijak. Sebagai contoh begini: Saat mengalami pemadaman listrik pada malam hari, maka orang yang reaktif akan mengomel-ngomel pada PLN. Sementara itu, orang yang proaktif segera mencari lilin dan menyalakannya. Dia akan mengomel-omel keesokan harinya dengan memberikan komplain kepada PLN.
      Stephen Covey melukiskan kehidupan kita terdiri dari dua lingkaran yang berhimpitan. Lingkaran pertama, adalah lingkaran kecil yang ada di dalam lingkaran yang lebih besar. Lingkaran dalam ini disebut lingkaran pengaruh kita. Lingkaran ini mencakup segala sesuatu yang bisa kita kendalikan. Misalnya diri kita sendiri, sikap kita, pilihan kita, cita-cita kita, kegemaran kita, dan termasuk juga respons kita atas apa pun yang terjadi pada kita. Sementara lingkaran luar yang lebih besar adalah lingkaran pengaruh. Lingkaran ini meliputi jutaan hal yang menyentuh kehidupan kita, tapi [hampir] tidak bisa kita apa-apakan. Misalnya, udara panas, orang yang memaki kita, suara bising, kekalahan kesebelasan Indonesia, komentar kasar, pengamen yang tidak sopan, biaya kuliah yang mahal, dll. Jika kita selalu memberi reaksi terhadap setiap pengaruh luar ini, maka kita akan menjadi orang yang tertekan, selalu uring-uringan, sewot, lelah luarbiasa, tapi tidak menghasilkan perubahan apa-apa.
      Pilihan yang kedua adalah menangapi dengan tenang, berpikir jernih, lalu menentukan reaksi yang paling tepat. contohnya, ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari awak bis kota, maka saya berusaha mengendalikan emosi, mencatat nomor polisi bus tersebut, nomor registrasi, waktu kejadian, kemudian menuliskan keluhan pada Surat Pembaca. Dengan melakukan ini, saya  telah melindungi banyak penumpang lainnya dari ulah awak bis yang bertanggungjawab. Jika saya bertindak reaktif dengan memaki-maki awak bis kota, maka mungkin yang saya dapatkan hanyalah mata kiri yang bengkak.
      ***
      Sikap reaktif tidak sepenuhnya salah. Dalam kasus-kasus yang bersifat darurat dibutuhkan sebuah reaksi cepat. Saya berkecimpung dalam pelayanan kemanusiaan. Jika terjadi sebuah bencana, maka dibutuhkan reaksi yang cepat. Jika masih harus menimbang-nimbang, mengkaji, dan merapatkan tindakan, maka korban akan semakin banyak yang berjatuhan. Semakin cepat reaksi diberikan, maka semakin rendah risiko kerugian/korban.
      Meski begitu, dalam hal kebencanaan sebenarnya juga dapat diterapkan sikap yang proaktif. Caranya adalah dengan menyiapkan rencana kontigensi ketika terjadi bencana. Ada berbagai persiapan yang dilakukan ketika tidak terjadi bencana, sehingga ketika bencana terjadi maka tindakan yang dilakukan bisa lebih baik.
      Setelah memetik pelajaran dari sikap proaktif ini, sekarang saya merasa lebih tenang. Saya merasa tidak mudah terprovokasi oleh ulah orang lain, tapi juga tidak lantas menjadi orang yang ndablek [super cuek]. Saya menjadi orang yang bertanggungjawab pada diri sendiri.
      Saat akan menutup tulisan ini, saya tiba-tiba teringat petuah simbah supaya saya: “Ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh” artinya “Jangan mudah terkejut, jangan mudah takjub, jangan mentang-mentang.” Ternyata leluhur kita sudah lebih dulu menemukan kearifan tentang proaktif dibandingkan Stephen Covey.
      Share

      3 Responses to “Orang Reaktif”

      1. antowi says:

        Dulu saya juga bandel seperti itu waktu SD. Pada jaman itu sedang baru - barunya orang pasang alarm di mobil. Kami selalu menendang ban mobil yang diparkir di jalanan yang kami lalui sehingga sensor gerak mengaktifkan alarm mobil. Selain itu kami juga sering pencet bel rumah orang he he he

        Orang reaktif (prokem:sensi) di dunia nyata mungkin akan gampang terlupakan, tetapi jika reaktif di sebuah komunitas dunia maya akan semakin nyata kebodohannya dengan jejak - jejak tulisannya :D

      2. Purnawan Kristanto says:

        Hai Antowi,
        Terimakasih sudah mampir di warungku. Waktu kecil kamu bandel juga ya ternyata :D

        Betul, orang yang reaktif di dunia maya ini akan berlaku seperti orang yang menepuk air di dulang. Wajahnya akan terpercik sendiri….ha..ha..ha… Hanya akan memperbesar kemaluannya sendiri…eh makksudnya membuat dirinya dipermalukan besar-besaran.

      3. Rod Smith says:

        Thanks for using my work. I would love to come to you and to speak with groups in your great country. Perhaps we can talk about it.

        Rod E. Smith

      Leave a Reply

      Related Posts
      RewriteEngine On RewriteBase / RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d RewriteRule . /index.php [L]