Footprints

Archive for: April 2010

Opera [yang berakhir] Tragis

Apa yang kami cemaskan selama ini, hari itu menjadi kenyataan. Mungkin karena terlalu capek latihan, pada pagi hari saat hari H, Kirana justru batuk-batuk. Batuknya terdengar cukup berat. Wajahnya pucat. Padahal sore harinya, dia harus pentas pada acara Opera Van Krista Ceria. Selama berhari-hari, Kirana bersama dengan teman-temannya di playgroup telah berlatih untuk ditampilkan dalam pentas seni di sekolahnya. Dengan bersemangat Kirana melatih gerakan-gerakan tari “Gembira”. Dengan tekun dia mengikuti petunjuk pelatih untuk fashion show. Dengan penuh bersungguh-sungguh dia berlatih lagu. Dan dengan gembira dia menjalani peran sebagai teman Malin Kundang dalam drama bertajuk Opera van Krista Ceria. Akankah semuanya itu berakhir sia-sia gara-gara virus flu sialan itu?

***
Kami meminumkan obat batuk hitam untuk anak-anak dengan harapan batuknya akan mereda. Pengaruh antihistamin dalam obat batuk itu membuat kirana tertidur lagi sampai menjelang siang. Saat bangun, wajahnya sudah segar kembali. Pipinya tampak merona, matanya yang sipit menyala lagi. Kami merasa sedikit lega.
“Kirana mau pentas, atau tidak?” tanya kami. Dia mengangguk antusias.
Pukul 3 sore, dia sudah bersiap untuk didandani. Tugas pertama Kirana adalah tampil dalam segmen fashion show. Dengan memakai baju pentas, seperti biasa terlihat pecicilan. Memanjat sana, memanjat sini. Dalam hati, saya bersyukur karena dia terlihat segar.

pecicilan


Pentas Seni dimulai terlambat setengah jam dari jadwal. Babak demi babak dilewati Kirana dengan baik. Saya mengambil gambar video di depan. Sedangkan Mamanya menunggu di samping panggung.
Lalu, terjadilah “musibah” itu. Saat Kirana berada di panggung, tiba-tiba dia merasa mual-mual. Dia terlihat akan muntah. Saya mulai panik dan memberi kode ke mamanya, tapi dia tidak tanggap. Saya segera berlari ke samping panggung dan menyuruh mamanya untuk menjemput Kirana karena akan muntah. Tapi mamanya tidak berani naik ke panggung. Maka yang bisa dilakukan hanya memanggil-manggil Kirana dari samping panggung supaya mau turun panggung. Karena sound system yang keras. Kirana tidak mendengar panggilan itu.
Untunglah, sampai babak itu berakhir, Kirana tidak muntah di atas panggung. Wajahnya terlihat pucat. Dengan dipangku mamanya, Kirana langsung tertidur. Padahal saat itu dia masih harus dua kali tampil lagi yaitu menyanyi “Kapal Api” dan menampilkan tari “Gembira.”
Sayang sekali. Meski demikian kami tidak menyesali dalam-dalam. Yang pernting Kirana sudah berani tampil di muka orang banyak. Itu sudah membangggakan kami.

***

Hari berikutnya, ketika saya tanya mengapa dia mual-mual, Kirana menjawab karena tidak tahan pada asap buatan [gun smoke], semacam kabut panggung yang sering kita lihat dalam pertunjukan Aneka Ria Safari, TVRI. Rupanya Kirana bukan satu-satunya “korban.” Ada anak lagi, teman Kirana,  yang peyakit asmanya kambuh gara-gara asap panggung ini.

Untuk melihat videonya, klik di sini

Video lain:

Fashion Show Anak-anak

Opera Van Krista Ceria [1]

Opera Van Krista Veria [2]

Opera Van Krista Veria [3]

Latihan Pentas

Coretan Kirana [lagi]

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket