Footprints

Archive for: January 2011

Pantai Ngandong Seindah Dreamland

1296369111161476507

Pantai Sundak [Foto-foto: Purnawan Kristanto]

Saat pertama kali memandang pantai Dreamland di Bali, spontan saya berkata, “Wah pantai Sundak tak kalah indahnya dengan pantai ini.” Pantai di Gunungkidul ini sama-sama memiliki pasir putih dan ombak yang bergulung-gulung. Bahkan pantai Ngandong memiliki akses ke pantai yang lebih mudah. Untuk mencapai pantai Dreamland pengunjung harus berjalan menuruni jalan berbatu yang curam. Sedangkan pada pantai Ngandong, kendaraan pengunjung bisa diparkir hanya 100 meter dari pantai.

Pada pantai Dreamland hampir tidak ada tempat berteduh alami. Jika tidak tahan sengatan matahari, maka pengunjung hanya bisa ngadem di bawah payung-payung besar yang disediakan oleh pemilik warung minuman. Sebagaimana prinsip “there is bo free lunch in business” tentu saja pengunjung harus membeli sesuatu pada pemilik warung (yang tentu saja harganya lebih mahal), supaya bisa berteduh di bawah payungnya. Sedangkan di pantai Ngandong, masih ada pepohonan rimbun yang dengan sukarela akan menghalangi tubuh kita dari sengatan surya.

dreamland

Pantai Dreamland

Photobucket

Suasana Pantai Ngandong pada pertengahan tahun 2000an

Pantai Ngandong ini berada di sebelah pantai Sundak. Sampai awal 2000-an orang-orang masih menganggap pantai Ngandong ini bagian dari pantai Sundak. Saat mengunjungi kembali pantai Sundak, Sabtu 29 Januari, saya melihat ada banyak perubahan. Sampai akhir 1990-an, pantai di sebelah barat masih belum terjamah. Akses menuju ke sana masih berupa jalan setapak penuh dengan semak-semak. Pantai ini hampir seperti pantai pribadi karena dipisahkan oleh bukit kecil sehingga terpisah dari pengunjung pantai lainnya. Pada petengahan tahun 2000-an, saya bersama teman-teman menginap di rumah penduduk di dekat pantai. Pada malam hari, suasaanya sangat sunyi karena belum ada listrik dan sinyal HP. Yang terdengar hanya debur ombak.Pagi harinya, kami menikmati suasana pagi sepuasnya. Read more

Menghijaukan Merapi lagi [Part 2]

1296066100942546374

Penghijauan di wilayah sekitar Deles ternyata lebih sulit daripada di Balerante, baik itu dari medannya maupun pelaksanaannya.

Hari Sabtu, 22 Januari, pukul 7:30, kami memberangkatkan relawan gelombang pertama yang terdiri dari rombongan GKJ, Banser NU, dan tim inti Satgas “Derap Kemanusiaan dan Perdamaian” (DKP) dari GKI Klaten. Beberapa rombongan relawan juga berangkat dari tempat lain, yaitu GKJ Gondang, GKJ Manisrenggo, GKJ Karangnongko dan Banser di sekitar Kemalang. Mereka langsung bergerak ke lokasi penanaman.

Sedangkan saya masih tinggal di Klaten untuk menunggu rombongan dari GKI Klasis Semarang Timur dan Barat. Mereka sudah meluncur ke Klaten sejak pukul 4:30, namun di Boyolali, mereka “pecah kongsi.” Rombongan pertama lewat Jatinom, sedangkan rombongan kedua melewati Delanggu yang lebih jauh.

Pak Yus yang berada di rombongan kedua menelepon. “Kami baru sampai Penggung. Kami tidak usah ditunggu. Ditinggal saja tidak apa-apa, nanti kami menyusul,” katanya.

“Tenang saja pak,” kata saya, “kami tunggu pak. Saat ini kami masih menunggu kedatangan dua relawan dari Jakarta.” Mereka adalah dua pemuda utusan GKI Wahid Hasyim yang menumpang pesawat paling pagi. Rombongan pak Yus dan dari Jakarta datang hampir bersamaan. Tanpa membuang banyak waktu, saya segera memimpin mereka beriring menuju lokasi.

Cuaca sedikit mendung, namun tidak hujan. Di satu sisi menguntungkan karena relawan tidak terpapar panas matahari. Namun di sisi lain, pemandangan ke arah puncak Merapi terhalang mendung dan kabut. Padahal jika cuaca sangat cerah, rekahan bibir puncak Merapi terlihat dengan sangat jelas di lokasi penghijauan.

Memasuki desa Tegalmulyo, konvoi mobil merayap pelan karena jalan menanjak. Saat memasuki tikungan berbentuk huruf “L”, tiba-tiba jalan menanjak. Sopir mobil saya terlambat mengoper ke gigi satu. Saya segera melompat turun, mengambil batu besar untuk mengganjal roda mobil supaya tidak melorot ke bawah. Karena berhenti mendadak, mobil yang ada di belakangnya juga kagok. Sementara dari arah atas, ada seorang ibu menunggang sepedamotor sambil memboncengkan pakan ternak. Dia menjadi panik melihat banyak mobil yang tiba-tiba keluar dari tikungan.

Photobucket

Mobil pengangkut relawan

Read more