Footprints

Archive for: December 2011

Jogja Air Show

13243134411894465466

Tidak saya sangka, ternyata di pantai Depok, Bantul, terdapat landasan pesawat. Selain itu, di sebelah timur pantai ini terdapat bukit Warung Gupit yang dapat digunakan untuk meluncurkan gantole dan paralayang. Lalu masih ada gumuk pasir yang dapat digunakan untuk training gantole dan paralayang bagi pemula. Yang membuat saya heran adalah bagaimana wahana udara yang kecil itu bertahan dari hempasan angin laut yang kuat? Bagaimana cara penggemar paralayang melayang-layang di atas pantai? Apa mereka tidak takut tercebur?

Rasa penasaran itu mendorong saya untuk mengajak keluarga untuk menyaksikan perhelatan Jogja Air Show 2011. Pembukaannya sudah dilangsungkan sejak hari Jumat (16 Desember), namun kami baru bisa mengunjungi pada hari Minggunya.

Karena fasilitas yang relatif lengkap, maka event Jogja AirShow 2011 ini menampilkan seluruh cabang olah raga dirgantara beserta hiburannya, mulai dari terjun payung, microlight, aeromodelling, paramotor, gantolle airtow competition, paralayang airtow, pameran pesawat model, bursa penjualan pesawat model, dragon banner, joyflight, hingga live musik.

Lewat tengah hari, kami sampai di pantai Depok, namun tertahan cukup lama untuk mencari tempat parkir. Hari itu pengunjung sangat padat. Di langit yang mendung, pesawat swayasa terlihat berkali-kali melintas di garis pantai untuk menerbangkan pengunjung dalam joyflight. Pada ketinggian yang lebih rendah, penggemar paralayang berputar-putar dengan parasut bermotornya.
Photobucket

Setelah akhirnya mendapat tempat parkir, saya bergegas menuju run-way sambil berjuang mengangkat kaki yang terbenam di dalam pasir pantai yang berwarna abu-abu. Ternyata landasan udara yang dimaksud adalah lapisan aspal dengan lebar sekitar enam meter, sepanjang sekitar 500 meter. Di landasan inilah pesawat trike, pesawat swayasa dan pesawat ultra ringan antri untuk lepas landas dan mendarat.

Salah satu peserta even ini adalah kenalan saya, yang kebetulan tinggal sekota. Dia memiliki pesawat CT SW dengan nomor registrasi PK-S777 . Pada tahun 2009, saya menumpang pesawat ini dari Jogja ke Tasikmalaya pp untuk merespons gempa yang terjadi saat itu. Tempat duduknya hanya untuk dua orang. Di sebelah kiri untuk pilot, sedangkan di sebelah kanan untuk penumpang. Cara duduknya adalah dengan selonjor. Sebelum berangkat, kami ke kamar mandi dulu karena kalau sudah mengudara tidak ada kesempatan lagi untuk turun jika sedang kebelet. Cerita perjalanan ke Tasikmalaya dapat dibaca di sini.
Photobucket

 

Hembusan angin laut ternyata tidak segarang saya duga semula. Barangkali itu sudah diperhitungkan oleh penyelenggara sehingga mereka menganggap cukup aman untuk menyelenggarakan acar itu di sana. Yang membuat saya kagum adalah keberanian penggemar paralayang yang berputar-putar di atas laut. Tentu dibutuhkan nyali tersendiri bercengkerama di atas wilayah kerajaan “Ratu Kidul” dengan ombaknya yang terkenal ganas itu. Saya membayangkan seandainya ada kerusakan mesin lalu, terjatuh ke laut. Saya bergidik membayangkannya. Tapi sekali lagi mungkin FASI juga sudah memperhitungkan aspek keamanan ini,

Acara ini sangat langka karena di sini pengunjung mendapat kesempatan untuk melihat, memegang dan bahkan diberi kesempatan untuk menjajal wahana udara ini (Tentu dengan mengganti biaya membeli bensin. Yap. Pesawat-pesawat ini ternyata menggunakan pertamax sebagai bahan bakarnya. Sewaktu ke Tasikmalaya, ternyata bahan bakar yang dihabiskan lebih sedikit dibandingkan jika melakukan perjalanan darat dengan mobil). Sayangnya, acara ini tidak begitu diminati oleh pengunjung. Hari Minggu itu pantai Depok dipadati oleh pengunjung, namun jumlah orang yang menyambangi perhelatan ini tidak lebih dari seperempatnya saja. Sisanya, pengunjung lebih senang main air, menyewa ATV atau menyantap ikan laut segar. Apakah sepinya atensi ini karena kurangnya publikasi? Sepanjang jalan dari Jogja ke pantai Depok, saya hanya menjumpai dua spanduk. Pertama dipasang di atas jembatan Kretek (5 km sebelum lokasi). Kedua di pintu gerbang pantai Depok. Read more

Ketika Musim Durian Tiba

1323680571717680870

 

Harga durian di sini memang sangat murah. Saudara dari Jakarta sampai terheran-heran. “Di Jakarta, durian sebesar ini harganya 50 ribu, nih,” katanya sambil membelah durian yang baru dibelinya dengan harga 15 ribu.

 

Setelah tahun lalu tidak bisa panen karena erupsi Merapi, warga lereng Merapi panen durian lagi. Menjelang fajar, warga dan pedagang pengepul sudah berduyun-duyun di Pasar Kembang Kemalang untuk bertransaksi buah berduri ini. Harga buah di sini jauh lebih murah karena langsung dibeli dari petani.

 

Akan tetapi jika ingin mengalami sensasi memetik buah dari pohonnya dan menyantap di pedesaan, Anda bisa mengunjungi desa Kanoman. Di sini hampir tiap jengkal tanah ditanami pohon durian. Begitu masuk desa, Anda akan menyaksikan buah-buah durian yan bergelantungan di atas pohon. Ada yang menggelayut di puncak pohon yang tinggi, namun ada pula yang terjuntai hanya setinggi manusia.

 

Ada bermacam-macam buah durian yang dihasilkan di desa ini, seperti durian petruk dan durian montong. Akan tetapi yang paling terkenal adalah durian mentega. Ciri-cirinya daging berwarna kuning emas seperti mentega dan ada nuansa rasa pahit karena mengandung alkohol. Read more