Secara mendadak Kirana ditunjuk oleh gurunya untuk berdoa pada pembukaan acara Open House TK Kridawita, 25 Maret 2012. Dia tampil dengan penuh percaya diri. Tidak ada tanda-tanda grogi sama sekali.
Malam sebelumnya, Kirana memang sudah antusias untuk mengikuti Open House ini. Dia ingin bangun pukul 3 pagi. “Supaya tidak terlambat,” katanya. Tentu saja kami tidak mengizinkan. Akan tetapi pukul 6 pagi dia sudah berangkat ke sekolah untuk didandani. Hari ini dia akan tampil menyanyi dan menari, bersama teman-temannya.
Saat didandani itulah Kirana ditunjuk oleh gurunya untuk berdoa pada acara pembukaan. Sebenarnya teman Kirana yang ditunjuk dan telah dilatih untuk berdoa. Namun pada hari H, anak tersebut tidak masuk karena sakit. Meski tanpa latihan, Kirana diminta untuk menggantikannya. Kirana hanya diberi briefing sekali saja sambil rambutnya disanggul. Untunglah dia cukup percaya
diri. Papa dan mamanya bangga kepadamu, nak!
Mengunjungi candi-candi kecil itu serasa menikmati wisata yang ekslusif. Betapa tidak, saya adalah satu-satunya orang yang menunjungi candi itu. Saya tidak perlu berdesakan dengan pengunjung lain. Tidak ada gangguan pengasong. Candi Merak ini contohnya. Belum banyak orang yang mengetahui keberadaannya, sehingga saya bisa berbagi cerita, foto dan video di blog ini.
Pada bulan Agustus yang lalu, candi induk Merak ini sudah purna pugar. Saat ini kita sudah bisa menyaksikan sosok candi yang sebenarnya, hampir sama dengan ketika candi ini dibangun pada antara abad ke-9 dan ke-10 M. Meskipun kecil, namun candi Merak ini sungguh merak ati (menarik hati).
Lokasinya berada di punggung Merapi atau tepatnya di desa Karangnongko, kecamatan Karangnongko, Klaten. Pada saat Merapi erupsi pada tahun 2010, semua warga yang berada di sekitar kawasan candi ini harus dievakuasi karena masuk dalam ring I atau wilayah sangat berbahaya.
Candi Merak merupakan candi Hindu yang berdiri di atas lahan seluas 2000 meter persegi. Kompleks candi ini terdiri dari sebuah candi induk dan tiga candi perwara. Candi ini pertama kali ditemukan sekitar tahun 1925. Sebelumnya, candi ini terpendam di sebidang tanah kosong dengan pohon besar bernama pohon Joho yang tumbuh di atasnya.
Batu-batu berserakan di dekat pohon besar
Saat warga menggali tanah di sekitar pohon itu, cangkulnya membentur benda keras. Setelah digali lebih dalam, ternyata benda tersebut berupa bongkahan batu besar. Warga yang penasaran lalu menggali lebih dalam dan menemukan lebih banyak batu-batu andesit yang berelief.
Warga kemudian melaporkannya kepada pemerintah Belanda. Dalam penelitiannya, pemerintah Belanda menyimpulkan bahwa bongkahan-bongkahan batu itu merupakan bagian dari sebuah candi.
Koleksi Museum Troppen
Koleksi Museum Troppen
Berhubung di sekitar candi terdapat banyak sarang burung merak maka candi itu dinamakan candi Merak. Dusun yang melingkupi wilayah candi itu juga bernama dusun Merak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa candi Merak dibangun dalam kurun waktu antara abad ke-9 dan ke-10, pada era kerajaan Mataram kuno yang beragama Hindu. Candi Merak ini memiliki ciri-ciri khas yang menandai bahwa candi itu berlatar agama Hindu. Ciri-ciri itu adalah:
1. Lingga Yoni yang berada di dalam bilik candi utama. Lingga-Yoni adalah simbol alat penis (lingga) yang menyatu vagina (yoni). Ini adalah perlambang kesuburan.
2. Arca Ganesha di relung barat. Ganesha adalah makhluk manusia berkepala gajah yang dipercaya sebagai dewa ilmu pengetahuan.
3. Arca Durga yang menempati relung utara. Menurut kepercayaan umat Hindu, Durga adalah istri Siwa dan ibu dari dua anak yaitu dewa Ganesa dan dewa Kumara (Kartikeya). Ia kadangkala disebut Uma atau Parwati. Dewi Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik berkulit kuning. Ia memiliki banyak tangan dan memegang banyak tangan dengan posisi mudra, gerak tangan yang sakral yang biasanya dilakukan oleh para pendeta Hindu.
4. Patung Nandi atau sapi pada candi perwara. Nandiswara adalah wahana atau kendaraan dewa Shiwa. Dengan demikian diduga bahwa candi ini berlatar agama Hindi aliran Shiwa.
***
Di sekitar lokasi Candi Merak juga ditemukan beberapa situs peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Benda-benda tersebut diindikasikan sebagai peninggalan dari dua wangsa yang berkuasa di era Mataram Kuno, yaitu Wangsa Sanjaya yang beragama Budha Mahayana dan Wangsa Sailendra yang beragama Hindu aliran Siwa.
Situs-situs yang ditemukan tersebut antara lain: situs Gemampir, situs Kriyan, situs Jagalan, situs Bekelen, dan candi Karangnongko atau disebut Sumur Badung yang ditemukan pada tahun 1970-an. Situs-situs yang berada di kecamatan Karangnongko ini diduga sezaman dengan pembangunan Candi Prambanan. Berdasarkan penemuan kelima situs tersebut, para ahli menduga bahwa pada zaman dulu kecamatan Karangnongko merupakan kawasan kerajaan Mataram Kuno.
Bagaimana arah menuju candi Merak? Dari Jogja: arah yang dituju adalah menuju kota Klaten. Setelah melewati kantor pemda Klaten, Anda akan menemui tugu Adipura. Anda harus berbelok kiri karena ruas jalan yang lurus adalah jalan satu arah. Jarak 300 meter kemudian terdapat simpang tiga dengan patung Nartoasabdo di tengahnya. Pilih jalur lurus ke arah Merapi. Selanjutnya ikuti petunjuk arah menuju kecamatan Karangnongko. Harap berhati-hati karena banyak ruas jalan yang rusak karena setiap hari dilindas berton-ton truk pegangkut pasir.
Sesampai di kecamatan Karangnongko, carilah Puskesmas. Di depan Puskesmas terdapat papan penunjuk arah candi Merak. Ikuti saja petunjuk itu. Jika Anda masih kesasar juga, tidak usah panik. Cari saja warung terdekat. Beli minuman kemasan, lalu tanyakan arah candi Merak di kecamatan Karangnongko pada pemilik warung.