Footprints

Tag: bali

Oleh-oleh Khas Bali

Tidak sulit mencari cendera mata khas Bali.  Kalau boleh agak  bombastis, hampir di setiap jengkal wilayah di Bali kita bisa mendapatkan oleh-oleh yang dapat menjadi kenangan kunjungan kita ke pulau Dewata ini.  Kali ini saya akan menceritakan pusat belanja oleh-oleh yang ada di kota Denpasar yaitu Pasar Airlangga yang ada di jalan Nusakambangan. Ini adalah semacam supermarket oleh-oleh khas Bali.

Begitu turun dari mobil, seorang karyawan tergopoh-gopoh menyambangi kami untuk membagikan selembar kupon souvenir gratis. Kupon ini dapat ditukar di kasir saat membayar barang belanjaan. Kami lalu masuk ke dalam ruangan yang maha luas. Ukurannya kira-kira sama dengan gedung hipermarket yang ada di kota besar. Bedanya, gedung ini tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan sehingga terasa gerah.

Ada berbagai macam barang dagangan, namun didominasi oleh pakaian, mulai dari baju anak-anak sampai dengan dewasa. Tentu saja dengan model dam motif khas Bali. Selain itu dijual juga berbagai macam hasil kerajinan tangan [handy craft], seperti mainan tradisional, hiasan ukiran kayu, lilin aromatik, lukisan, dll. Ada juga makanan kahas Bali, seperti kacang tanah dan kopi.  Kalau Anda pernah ke Yogyakarta, Anda tentu tidak akan merasa asing dengan berbagai macam barang yang dijual di sini. Hampir semuanya mirip, hanya berbeda dalam motif dan model saja.

Keuntungan berbelanja di sini adalah soal kepraktisan. Dengan berkunjung ke satu tempat, kita dapat memilih berbagai macam jenis oleh-oleh. Selain itu, harga yang dicantumkan juga harga mati. Tidak bisa ditawar lagi. Bagi wisatawan yang kurang lihai menawar, atau sering tidak tegaan, hal ini menguntungkan karena mereka akan mendapat harga yang sudah pasti.

Situasi yang berbeda akan kita jumpai di pasar Sukawati.  Pasar tradisional ini letaknya berada pada arah perjalanan dari Denpasar menuju Ubud. Dua tahun yang lalu, saya pernah berkunjung ke sini bersama dengan teman-teman satu angkatan dalam Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Saat itu kami mengingap di Sanur. Untuk pergi ke pasar Sukowati, kami rama-ramai menyewa taksi dengan tarif borongan Rp. 150.000,- pulang-pergi. Ongkos itu ditanggung secara ramai-ramai. Untuk menghemat ongkos, maka satu taksi dijejali enam penumpang.

Pasar Sukawati menempati bangunan dua lantai yang dikapling-kapling membentuk kios-kios. Untuk berbelanja di sini, wisatawan harus lihai dalam menawar. Tips dasarnya adalah menawar hingga di bawah dari separih harga yang disebutkan pertama kali oleh penjualnya. Jangan tunjukkan muka pengin. Pura-pura cuek saja, meski hati kecil sangat menginginkan barang itu. Jika pedagang pelit menurunkan harga, pura-puralah meninggalkan dia menuju kios lain. Biasanya pedagang akan memanggil kita kembali. Dia akan meminta tambahan harga sedikit atau membujuk kita membeorong dalam jumlah banyak. Dalam hal ini teguhkanlah iman Anda. Jangan goyah.

Keuntungan lain berbelanja di pasar Sukawati adalah kesempatan berinteraksi dengan penduduk Bali. Kesempatan ini tidak Anda temui di pasar Airlangga, karena Anda hanya berhadapan dengan barang-barang dagangan dan wajah kasir yang beku. Kalau mau menyisihkan waktu,  Anda pun dapat berkunjung ke bengkel-bengkel kerja seniman tradisional yang banyak tersebar di sekitar pasar. Sukawati termasuk salah satu pusat aktivitas kebudayaan di pulai Bali. Pada zaman dahulu, seorang raja mengumpulkan para seniman terbaik dari seluruh penjuru negeri untuk dikaryakan membangun sebuah istana megah di wilayah Sukawati ini.

Read more

Petuah dari Goa Gajah

Berkunjung ke goa Gajah saya mendapat pelajaran baru: Agama Hindu yang berkembang di Bali ternyata berbeda dengan agama Hindu di India. Agama Hindu yang dipraktikkan di Bali merupakan muara interaksi dinamis antara agama Hindu dengan kepercayaan asli Bali dan agama Budha.

GoaGajah

Kunjungan ke goa Gajah sebenarnya bersifat spontan. Saat itu saya bersama keluarga sedang beristirahat setelah mengunjungi Monkey Forrest di Ubud. Iseng-iseng,  saya membuka peta wisata dan menemukan sebuah tempat wisata menarik. Lokasinya cukup dekat dari tempat kami, yaitu goa Gajah. Saya menawarkan ke anggota rombongan saya dan mereka setuju. Dua dekade yang lalu, saya sebenarnya pernah ke sana dalam rangka study tour SMA. Akan tetapi tidak banyak kenangan saya akan tempat ini.

Untuk masuk wisatawan harus membayar enam ribu rupiah [Mulanya kami tidak menerima karcis masuk, tapi saya mendesak memintanya. Ini perlu supaya uang yang kami bayarkan benar-benar masuk ke kas pemerintah. Juga untuk bukti asuransi].

Karena tempat ini disakralkan maka wisatawan yang menggunakan celana pendek atau rok mini sebatas atas lutut wajib membebatkan kain yang panjang. Sementara bagi yang mengenakan rok atau celana panjang, cukup melilitkan selendang kain di pinggangnya. Selain itu ada aturan bahwa perempuan yang sedang menstruasi juga sebaiknya tidak masuk.

Kami menuruni tangga setengah memutar sebelum sampai pada halaman utama. Pada sisi kiri halaman, terserak artefak batu-batu candi yang sengaja dikumpulkan dalam satu tempat itu. Pada tengah halaman terdapat sebuah petirtaan atau kolam air yang terbagi menjadi dua bilik. Ini adalah kolam pemandian umum. Kaum laki-lai mandi di bilik kanan, kaum perempuan di bilik kiri. Pada setiap bilik terdapat tiga patung perempuan yang mengendong tempayan. Air mengalir melalui tempayan ini, tumpah ke kolam air yang dihuni oleh ikan mas

Petirtaan

Petirtaan

Arsitektur pemandian kuno ini mirip dengan pemandian “Belahan” di Jawa Timur. Pemandian ini dibangun oleh Erlangga, raja Mataram kuno yang berkuasa pada abad ke-10 M.  Maka diperkirakan bahwa goa Gajah ini dibangun antara abad ke-9 s/d 13 pada masa pemerintahan Majapahit. Salah satu informasi penting pada petirtaan di Jawa Timur ini adalah inskripsi pada tembok yang berbunyi: “Udayana Gempeng “yang artinya “Udayana sedang mabuk cinta.” Udayana adalah raja yang sangat terkenal di Bali, yang berkuasa pada abad ke-11. Ahli sejarah menduga Udayana sedang kasmaran terhadap putri Mahendradatta dari Jawa Timur. Mereka akhirnya menikah dan bersama-sama memerintah di Bali. Sang putri meninggal lebih dulu dan dimakamkan di Burwan.
Petirtaan yang berada di bawah pohon kapas yang besar ini semula terkubur dalam tanah ketika ditemukan. Pada tahun 1954 dimulai penggalian yang dipimpin oleh Krijgsman sehingga ditemukan bentuknya seperti yang sekarang ini.

Objek utama adalah gua buatan manusia, berupa ornamen wajah raksasa yang diukirkan pada sebuah tebing batu kapur. Dari kejauhan, ornamen ini mirip dengan gajah yang sedang menganga. Mungkin itu sebabnya disebut goa Gajah. Legenda setempat menceritakan bahwa ornamen pada batu ini diukir dengan tangan telanjang oleh Kebo Iwa hanya dalam semalam! Dia adalah seorang perdana menteri kerajaan yang sakti.

Teori lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari nama “Lwa Gajah”, nama sebuah pertapaan Budha.  Nama goa Gajah tercantum dalam naskah Negarakertagama yang disusun oleh mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah tertulis bahwa raja Majapahit memiliki tempat pertapaan di lereng gunung yang disebut “Lwa Gajah”. Kata “Lwa” atau “Loh” berarti sungai, sehingga mengindikasikan bahwa pertapaan ini bertempat di sungai Gajah (Petanu).

Pendapat lain mengatakan bahwa nama goa Gajah berasal dari patung Ganesha yang ditemukan di dalam goa. Ganesha adalah anak dewa Siwa yang bertubuh manusia tapi berkepala gajah.

Di depan pintu goa, jika kita cermati, terlihat ukiran berbagai makhluk yang berusaha menjauh dari mulut raksasa yang sedang menganga. Seolah mereka takut dicaplok oleh raksasa ini. Ada yang menafsirkan bahwa makhluk raksasa ini adalah symbol kematian. Tempat ini biasa digunakan sebagai bertapa. Dengan masuk ke dalam goa ini diperlambangkan bahwa orang tersebut memasuki nuansa alam kematian yang serba gelap.

Lorong dalam goa berbentuk huruf “T”. Setiap ujung lorong membentuk bilik-bilik. Pada bilik kiri terdapat patung Ganesha. Sementara pada bilik kanan merupakan altar untuk lingga, yaitu lambang alat kelamin dewa Siwa.

Keluar dari goa, kita akan melihat patung perempuan yang tersimpan dalam pondok kayu. Perempuan ini bernama Men Brayut, seorang tokoh terkenal dalam cerita rakyat Bali yang ditulis oleh seorang Budha bernama Hariti. Men Brayut adalah isteri Pan Brayat, seorang petani miskin yang memiliki 18 anak. Setiap anak memiliki watak masing-masing: 4 anak yang alim, 4 anak yang suka seni, 4 anak yang urakan, 4 anak yang berpikiran agak dewasa dan 2 anak masih kecil. Namun mereka tidak saling toleran terhadap saudara, hingga sering bertengkar [Dalam bahasa Jawa, "brayut" atau "brayat" berarti "keluarga dengan banyak anak"].

Melalui perjuangan Men Brayut, akhirnya mereka dapat hidup rukun. Caranya dengan memadukan keunikan masing-masing anak sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat. Tampaknya terselip pesan pentingnya penghrormatan “pluralitas” di dalam kisah legenda ini. Perbedaan dalam kepercayaan,–entah itu Hindu, Budha atau kepercayaan asli–, dapat menjadi sumber konflik tapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk bekerja sama dalam karya kemanusiaan.

Pesan tentang pluralitas ini semakin kuat dengan adanya papan penunju ke Pura Patung Budha di sebelah timur goa ini. Apakah Anda melihat adanya “keganjilan” di sini? Pura adalah tempat ibadah bagi umat Hindu, sementara patung Budha jelas berkaitan dengan umat Budha. Lalu mengapa dinamakan “Pura Patung Budha”?

Batu Candi?

Karena penasaran, saya menuruni tangga setapak yang berujung di sebuah sungai. Ada jembatan kuno yang masih dapat dilewati. Saya melihat bongkahan-bongkahan batu besar yang berserakan di dasar sungai. Saat diamati, ada jejak-jejak tangan manusia pada batu besar yang telah berlumut itu. Saya melihat pahatan setengah jadi yang membentuk menara pagoda atau warga setempat menyebutnya meru. Jika dilihat dari langgamnya, pahatan ini lebih mirip dengan agama Budha. Ini jelas sebuah peninggalan arkeologis. Mengapa batu-batu ini tergeletak begitu saja di sana? Bisa jadi, batu-batu itu adalah proyek umat Budha yang tidak pernah diselesaikan karena keburu diambil alih oleh umat Hindu. Bisa jadi proyek yang tidak pernah diselesaikan karena bencana alam. Atau mungkin ada penyebab lain. Entahlah, saya tidak tahu dengan pasti.

Batu Candi?

Batu Candi?

Setelah melewati jembatan, saya lalu berjalan mendaki menuju sebuah pura sederhana. Ada satu petapa tua yang siap mendoakan wisatawan. Rasa penasaran saya terjawab sudah. Petapa ini berdoa di depan patung Budha, yang bentuknya mirip dengan patung Budha di candi Borobudur, namun tanpa kepala. Rasa penasaran yang satu sudah hilang, muncul rasa penasaran yang lain. Mengapa petapa Hindu itu

bersembahyang di depan patung Budha? Apakah ini wujud dari sinkritisme agama Siwa Budha? Apa ini merupakan bentuk penghormatan umat Hindu terhadap agama Budha yang lebih dulu menggunakan tempat itu? Entahlah.

***

Ada berbagai pertanyaan yang masih menggantung selepas kunjungan ke goa Gajah. Meski begitu, saya mendapatkan hikmah indah dari perkunjungan ini. Keputusan untuk memahat tebing bukit batu untuk menjadi sebuah goa pertapaan hanya bisa dibuat oleh orang atau sekelompok masyarakat yang berani bermimpi besar. Tidak hanya bermimpi, tapi juga bangun dari pembaringannya dan menyingsingkan lengan itu untuk mewujudkannya. Dengan teknologi yang masih sederhana, mereka tentu menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dibutuhkan stamina yang kuat dan tekad yang menyala-nyala untuk menancapkan pahat kepada bongkahan batu-batu keras itu. Dibutuhkan inspirasi yang tak ada habisnya untuk membangkitkan lagi pengharapan saat melihat seolah-olah tidak ada kemajuan yang berarti dalam pekerjaan mereka. Tanpa adanya semangat itu, mereka akan mudah menjadi loyo dan menyerah.

Belajar dari goa Gajah ini, spiritualitas keagamaan ternyata dapat menjadi sumber semangat umatnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang besar. Jika saat ini Anda telah mendapat mandat dari Allah untuk melakukan pekerjaan yang besar, belajarlah dari pembuatan goa Gajah ini. Kalau mereka bisa, Anda pun bisa.

Video saya tentang Goa Gajah dapat dilihat di sini

:lihat video

Tulisan ini merupakan seri dari catatan perjalanan saya ke Bali tanggal 7-11 Januari 2010. Untuk tulisan yang lainnya, silakan klik: