Footprints

Tag: candi

Candi Sojiwan Bukti Toleransi Beragama

13271612231807504749

Candi Sojiwan dibangun setelah terjadi komplikasi dari perkawinan politik di antara dua dinasti yang berkuasa di Jawa pada abad ke-9 M. Saat itu wilayah Selatan dikuasai oleh wangsa Sanjaya beragama Hindu Siwa, sedangkan wilayah utara didominasi oleh wangsa Syailendra yang menganut Budha Mahayana. Perebutan pengaruh menimbulkan ketegangan sehingga ditempuh upaya perdamaian yaitu dengan menikahkan Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodawardhani dari wangsa Syailendra, dinikahkan untuk meredam konflik tersebut.

Pernikahan ini ditentang oleh saudara Pramodawardhani, yang bernama Balaputra Dewa. Maka perang pun tak terhindarkan. Balaputra Dewa berhasil dikalahkan oleh Rakai Pikatan sehingga melarikan diri ke Sumatera. Di sana dia membangun kerajaan Sriwijaya.

Sementara itu, rakai Pikatan dan isterinya bahu-membahu membangun kehidupan harmonis antara pemeluk Hindu Syiwa dengan Budha Mahayana. Mereka ingin supaya kedua agama tersebut dapat terus hidup dan berkembang dengan damai dan saling menghormati. Sebagai buktinya, Rakai Pikatan membangun candi Prambanan yang bercorak Hindu. Namun dalam radius kurang dari 5 meter, candi Hindu ini dikelilingi candi-candi Budha seperti Kalasan, Plaosan, Sewu dan Sojiwan.

Candi Sojiwan ini bercorak agama Buddha. Hal ini dibuktikan dengan bentuk candi yang memiliki beberapa stupa. Candi ini dibangun kira-kira pada pertengahan abad ke-9. Menurut beberapa prasasti yang sekarang disimpan di Museum Nasional , candi Sojiwan kurang lebih dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi. Candi ini dibangun kurang lebih pada saat yang sama dengan candi Plaosan.
Photobucket

Candi Sojiwan menghadap ke Barat

Photobucket

Pemugaran
Penelitian terhadap candi ini sudah dirintis sejak tahun 1813 oleh Mackenzie, seorang penjelajah Barat, anak buah Raffles. Pemetaan kembali dilakukan secara bertahap mulai dari tahun 1893. Dan pada tahun 1950, candi ini seenarnya sudah mulai dibangun kembali. Akan tetapi gempa yang menggoncang Jawa Tengah pada tahun 2006 silam menyebabkan candi ini runtuh lagi. Untuk itu dilakukan pemugaran kembali. Pada akhir tahun 2011, bangunan induk candi Sojiwan telah selesai dan diresmikan.

Candi induk menghadap ke arah barat. Dasar candi berbentuk segi empat. Selasar atau teras berada di atas dasar candi, mengelilingi badan candi. Pintu candi memiliki penampil yang menjorok ke depan juga dilengkapi tangga bersayap yang ujungnya relief Kalamakara.
Pada kanan dan kiri tangga terdapat relief. Demikian pula pada dasar candi serta bagian pintu. Umumnya, relief bercirikan candi Budha, antara lain makhluk kerdil dan Kinari-Kinari atau makhluk bersayap penghuni kahyangan. Pada sudut-sudut candi terdapat relief Simbar , yang lainnya adalah Jaladwara atau saluran air.
Badan candi ini berbentuk segi empat. Di dalamnya ada sebuah bilik namun sudah kosong. Diperkirakan dulu berisi arca karena terdapat tiga lapik berbentuk bunga teratai. Pada pos satpam terdapat tiga patung budha yang kemungkinan besar berasal dari bilik utama candi induk.

Photobucket

lapik di bilik utama

Photobucket

Makhluk gana

Photobucket
Relief

Photobucket

Selain candi induk, terdapat juga stupa dan candi perwara. Akan tetapi sampai sekarang, keduanya belum dipugar. Tumpukan batu candi perwara teronggok di selatan candi induk. Sementara itu, stupa mulai disusun kembali di utara candi induk. Yang menarik, stupa ini tidak menggunakan batu andesit tetapi berbahan batu kapur yang berwarna putih.

Situs candi ini sebenarnya jauh lebih luas daripada kompleks candi yang ada pada saat ini. Para ahli memperkirakan masih ada parit dan peninggalan-peninggalan lain di luar pagar. Sayangnya. wilayah itu sudah menjadi pemukiman warga desa dan ladang tebu.

13271618191398357033

Stupa

Ancar-ancar

Candi ini hanya berjarak 2 km di selatan candi Prambanan. Untuk menuju ke candi ini tidaklah sulit. Dari arah Solo atau Jogja, Anda mencari tugu batas propinsi dulu, Perhatikan bahwa ada jalan kecil di sebelah selatan tugu ini. Masuklah ke jalan tersebut.Setelah melewati rel kereta api, kira-kira 300 meter Anda akan menemukan pertigaan. Ambil jalan yang lurus menuju desa Kebon Dalem Kidul. Kira-kira 400 meter Anda akan menemukan jalan ke arah kiri (timur). Masuklah dan susuri jalan ini. Setelah 200 meter, Anda sudah sampai di lokasi.

Setelah sampai, laporlah lebih dulu ke pos satpam. Anda akan diminta mengisi buku tamu. Tidak ada karcis masuk yang harus dibeli, namun sebaiknya Anda memberi uang kopi kepada penjaganya. Besarnya sesuai kerelaan Anda.

Setelah puas mengunjungi candi Sojiwan, Anda dapat meneruskan perjalanan ke candi Boko, candi Barong dan candi Ijo.

Dongeng Hewan

Keunikan lain dari candi Sojiwan ialah adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Cerita-cerita ini berupa fabel, yaitu kisah tentang hewan yang mengandung kebijaksanaan bagi manusia. Ada teori yang mengatakan bahwa Fabel Aesop yang terkenal itu merupakan turunan dari kisan Pacantantra ini. Dari 20 relief ini, tinggal 19 relief yang sekarang masih ada.

Kisah-kisah yang terdapat dalam relief ini akan diceritakan dalam tulisan yang terpisah.

Video rekaman saya bagian 1 (Biarkan buffering penuh dulu, baru klik play)

Bagian 2

Belajar Toleransi dari Candi Morangan

131853420731772302

 

Candi Morangan memang candi yang kecil dan terpencil, namun memiliki dua keistimewaan: Pertama, candi Morangan adalah candi yang paling mendekati Gunung Merapi. Jika diamati dalam peta DIY, maka kompleks Candi Morangan merupakan candi yang menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Propinsi DIY.

Kedua, candi ini memiliki satu panel relief yang diperkirakan merupakan bagian dari cerita Tantri Kamandaka. Ceritanya yaitu tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing.  Relief ini menarik karena Tantri Kamandaka biasanya terdapat pada candi berlatar belakang agama Budha, sedangkan candi Morangan ini berlatar agama Hindu. Candi ini menjadi bukti bahwa toleransi umat beragama sudah ada di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu.

 

Erupsi Merapi

Selain menjadi keistimewaan, lokasi candi yang paling dekat dengan puncak Merapi juga menjadi ancaman bagi kelangsungan candi ini. Sebagaimana umumnya candi lain, candi Morangan ini juga berlokasi di dekat sungai. Hal ini bukan tanpa alasan. Sungai merupakan elemen yang penting dalam upacara keagamaan.  Air dipercaya dapat membersihkan dosa dan noda. Selain itu ada juga alasan teknis. Sungai memberikan bahan baku material candi yaitu batu andesit.

Candi Morangan ini pun berlokasi di sebelah sungai Gendol. Saat  Merapi erupsi pada tahun 2010, ada berton-ton  material padat yang meluncur turun melewati sungai Gendol. Luapan lahar dingin telah menerjang beberapa rumah di sekitar bantaran sungai. Kondisi ini membuat cemas para pakar arkeologi jarak candi Morangan hanya 200 meter di sebelah barat aliran sungai.

Backhoe dan truk di sungai Gendol

Truk hilir mudik mengangkut pasir Merapi

 

Mendengar kabar ini, saya penasaran untuk mengunjungi candi ini. Saat  menyeberangi sungai Gendol, saya melihat bahwa aliran lahar dingin itu sudah sampai di cek dam sebelah timur candi. Meski begitu jumlah materialnya belum sampai meluap karena sungai ini terus menerus dikeruk oleh backhoe dan diangkut oleh ratusan truk keluar dari sungai Gendol. Lagipula, di sepanjang aliran sungai ini juga dibangun tanggul yang cukup tinggi. Kecuali hujan turun luar biasa, saya menduga aliran lahar dingin belum mengancam candi Morangan ini.

Meski begitu, ancaman itu tetap ada  mengingat candi ini pernah terpendam ratusan tahun yang lalu. Hal ini terlihat posisi candi yang berada di bawah permukaan tanah.  Saat ditemukan, batu-batu ini berserakan dan terpendam di berbagai tempat.

 


 

Candi ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia candi ini kembali tertutup tanah. Pihak SPSP DIY pernah melakukan ekskavasi pada tahun 1982. Ekskavasi yang dilakukan oleh SPSP DIY ini berhasil menampakkan 2 buah bangunan candi yakni candi induk dan candi perwara. Hingga saat ini candi induk pun belum seluruhnya dapat disingkap dan baru dapat digali sekitar tiga perempat bagian saja.

Candi induk Morangan menghadap ke barat berbilik satu dan berdenah bujursangkar. Secara lengkap candi induk Morangan terdiri atas kaki, tubuh, dan atap candi. Pembagian tersebut dalam agama Hindu melambangkan tiga alam yaitu bhurloka, bhuvarloka, dan savarloka.

Melihat ciri-ciri ragam hias pada arac Candi Morangan yang mirip dengan Candi Prambanan, maka diduga usia Candi Morangan tidak jauh berbeda dengan Candi Pramabanan, yakni abad 9 M.


Patung dan Relief

Pada Candi Morangan ditemukan pula yoni dengan ukuran yang cukup besar. Sedangkan lingga yang seharusnya ada dan menjadi pasangan dari yoni tidak ditemukan lagi. Pada kompleks candi Morangan ini juga ditemukan pula arca resi dan sejumlah arca lain di dalam relung-relung candi. Saat ini relung tersebut kosong karena arca-arca di dalamnya telah diamankan untuk mencegah pencurian.

Selain itu juga ditemukan patung Nandi atau sapi dalam posisi mendekam. Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi kendaraan dari dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa.

 

 

Karena bentuk bangunan candi Morangan ini belum tersusun utuh, maka bentuk bangunan belum dapat dilihat sepenuhnya. Meski begitu, pengunjung bisa mengamati relief-relief yang tidak kalah menariknya. Berikut ini relief yang terdapat di dinding candi Morangan:

 

Pertama, relief dua laki-laki mengapit tumpukan bunga-bungaan. Relief ini menggambarkan salah satu adegan dalam upacara keagamaan. Bunga merupakan salah satu unsur penting dalam pemujaan agama Hindu.

 

Dua wanita memegang kendi

Kedua, relief dua wanita mengapit kendi besar dengan membawa kendi-kendi kecil. Relief ini menggambarkan salah satu adegan dalam upacara keagamaan. Kendi adalah tempat air suci yang dianggap dapat membersihkan noda dan dosa.

 

Ketiga, dua wanita menunggang gajah. Relief ini menggambarkan dua orang wanita menunggang gajah.Gajah adalah binatang istimewa karena pada zaman dulu hanya seorang raja yang boleh memilikinya sebagai simbol kemegahan kerajaan.

 

Keempat, tiga resi membawa pustaka (kitab suci) fan uptala (teratai biru)

 

Kelima, relief kepala dalam relung. Relief ini merupakan hiasan yang terdapat pada bagian atap candi. Relief seperti ini juga terdapat di candi Gebang.

 

Keenam, relief ayam jantan disangga gana. Gana, atau sering juga disebut Syiwaduta,  adalah makhluk kecil pengiring Syiwa. Sedangkan ayam jantan melambangkan kekuatan, keberanian dan kesuburan. Selain itu dalam kehidupan keagamaan, sering digunakan sebagai hewan korban.

 

 

Video lainnya:

Candi Morangan [2]

Candi Morangan [3]

 

Bagaimana cara menuju candi Morangan? Untuk menuju ke sana Anda harus menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum belum sampai ke lokasi. Dari kota Jogja, arahnya adalah menuju Prambanan. Sesampai di lampu merah Bogem, berbelok ke kiri menuju Cangkringan. Sesampai di Balai Benih Ikan Cangkringan terdapat simpang tiga. Arah ke kiri menuju ke arah Merapi, tapi Anda mengambil jalan yang lurus menuju sungai Gendol.  Sekitar 200 meter sebelum sungai Gendol ada papan penunjuk arah  ke kanan.  Anda menyusuri jalan desa yang dilapisi semen sepenjang 400 meter sampai mentok ke pertigaan, Lokasi candi ada di sebelah kanan jalan. Anda tidak akan dipungut tiket masuk atau parkir, tapi sebaiknya memberi tips pada penjaga candi setelah mengisi buku tamu. Usai mengunjungi candi Morangan, Anda bisa berwisata bencana lahar Merapi di sungai Gendol. Siapkan masker dan kacamata karena ada banyak debu yang beterbangan diterjang roda-roda truk.

 

Signature