Footprints

Tag: kemanusiaan

Penghiburan dari Jenifer

Jenifer

Jenifer (10 tahun) terpaksa mengungsi di gereja karena rumahnya diguyur hujan pasir dari gunung Merapi. Bersama-sama dengan anak-anak lain yang mengungsi di aula gereja, Jenifer diajak oleh relawan untuk menggambar. “Adik-adik, silakan menggambar bebas,” kata relawan.
Anak-anak pun asyik menggoreskan pensil di atas selembar kertas putih. Hasilnya, semua anak-anak menggambar gunung yang sedang erupsi. Meski sama-sama menggambar gunung, namun Jenifer menggambar salib besar di depan gunung.
“Apa arti gambar ini, Jenifer?” tanya relawan.
“Artinya salib Tuhan Yesus lebih besar daripada gunung Merapi,” jawab Jenifer.
Kepolosan jawaban Jenifer ini memberi kekuatan kembali kepada para relawan. Selama berminggu-minggu para relawan ini mengalami kelelahan fisik dan mental. Akan tetapi lukisan Jenifer membangkitkan kembali semangat para relawan.
Tiga bulan setelah melukis gunung dan salib itu, Jenifer mengalami kecelakaan. Saat pulang dari sekolah, Jenifer ditabrak sepedamotor. Jenifer  mengalami pendarahan di kepala dan memar di dada. Keesokan harinya, Jenifer dipanggil Tuhan.
Meski masih muda, namun ekpresi iman Jenifer telah menjadi kesaksian hidup dan menguatkan para relawan. Penghiburan yang didapatkan relawan dari jenifer ini sama dengan penghiburan yang diperoleh Paulus dari Filemon. Paulus menulis: “Aku sendiri sudah memperoleh banyak sukacita dan penghiburan dari kasihmu, Saudaraku, karena kebaikanmu telah sering menyegarkan hati umat Allah.” (Flm 1:7 FAYH) Sudahkah kehadiran kita telah memberi berkat pada orang lain? Sudahlah kehadiran kita menjadi penghiburan bagi sesama?

Menghijaukan Merapi lagi [Part 2]

1296066100942546374

Penghijauan di wilayah sekitar Deles ternyata lebih sulit daripada di Balerante, baik itu dari medannya maupun pelaksanaannya.

Hari Sabtu, 22 Januari, pukul 7:30, kami memberangkatkan relawan gelombang pertama yang terdiri dari rombongan GKJ, Banser NU, dan tim inti Satgas “Derap Kemanusiaan dan Perdamaian” (DKP) dari GKI Klaten. Beberapa rombongan relawan juga berangkat dari tempat lain, yaitu GKJ Gondang, GKJ Manisrenggo, GKJ Karangnongko dan Banser di sekitar Kemalang. Mereka langsung bergerak ke lokasi penanaman.

Sedangkan saya masih tinggal di Klaten untuk menunggu rombongan dari GKI Klasis Semarang Timur dan Barat. Mereka sudah meluncur ke Klaten sejak pukul 4:30, namun di Boyolali, mereka “pecah kongsi.” Rombongan pertama lewat Jatinom, sedangkan rombongan kedua melewati Delanggu yang lebih jauh.

Pak Yus yang berada di rombongan kedua menelepon. “Kami baru sampai Penggung. Kami tidak usah ditunggu. Ditinggal saja tidak apa-apa, nanti kami menyusul,” katanya.

“Tenang saja pak,” kata saya, “kami tunggu pak. Saat ini kami masih menunggu kedatangan dua relawan dari Jakarta.” Mereka adalah dua pemuda utusan GKI Wahid Hasyim yang menumpang pesawat paling pagi. Rombongan pak Yus dan dari Jakarta datang hampir bersamaan. Tanpa membuang banyak waktu, saya segera memimpin mereka beriring menuju lokasi.

Cuaca sedikit mendung, namun tidak hujan. Di satu sisi menguntungkan karena relawan tidak terpapar panas matahari. Namun di sisi lain, pemandangan ke arah puncak Merapi terhalang mendung dan kabut. Padahal jika cuaca sangat cerah, rekahan bibir puncak Merapi terlihat dengan sangat jelas di lokasi penghijauan.

Memasuki desa Tegalmulyo, konvoi mobil merayap pelan karena jalan menanjak. Saat memasuki tikungan berbentuk huruf “L”, tiba-tiba jalan menanjak. Sopir mobil saya terlambat mengoper ke gigi satu. Saya segera melompat turun, mengambil batu besar untuk mengganjal roda mobil supaya tidak melorot ke bawah. Karena berhenti mendadak, mobil yang ada di belakangnya juga kagok. Sementara dari arah atas, ada seorang ibu menunggang sepedamotor sambil memboncengkan pakan ternak. Dia menjadi panik melihat banyak mobil yang tiba-tiba keluar dari tikungan.

Photobucket

Mobil pengangkut relawan

Read more