Footprints

Tag: Kiat

Membuat Booster Wi Fi

Saya menggunakan sambungan internet di rumah. Mula-mula sambungan ke laptop menggunakan kabel LAN. Akibatnya laptop saya harus menetap di meja kerja saya. Padahal kadang saya ingin bekerja sambil tiduran di kamar karena bisa ngadem dengan AC. Kalau harus ngolor-olor kabel maka menjadi ribet.

Saat pindah rumah, saya kembali menggunakan sambungan internet rumah. Selesai memasang instalasi, petugas menawarkan perangkat tambahan yaitu pemancar Wi Fi. Saya langsung setuju meski harus menambah biaya Rp. 250 ribu. Manfaatnya, selain tidak terikat lagi oleh tempat, anggota keluarga yang lain juga bisa internetan secara bersamaan menggunakan laptop masing-masing.

Teman-teman dari adik sepupu saya kadang juga numpang on-lain di rumah saya. Mereka reriungan di beranda rumah sambil menatap laptop masing-masing.  Namun jika berada di luar ruangan maka sinyal wifi ini melemah. Maka saya mencari tips di internet untuk meningkatkan kekuatan sinyal ini. Ternyata ada satu artikel menarik di sini. Bahannya cukup murah yaitu kaleng minuman bersoda dan perekat. Alat yang digunakan adalah gunting dan cutter. Menurut tulisan itu, perangkat sederhana ini bisa meningkatkan kekuatan sinyal dari dua bar menjadi empat bar.
Satu

1. Sediakan kaleng minuman bersoda bekas, perekat, gunting dan cutter.

 

Dua

 

2. Cucilah kaleng minuman sampai bersih, terutama bagian dalam.

 

Tiga

3. Buang cincin pembuka.

 

Empat

4. Iris bagian bawah seperti pada gais berwarna merah

 

Lima

5. Iris sepanjang garis merah, tapi sisakan sedikit sekitar 5 cm.

 

Enam

6. Belah badan kaleng sampai ke ujung.

 

Tujuh

7. Bukalah kaleng dengan hati-hati. Rapikan tepian yang masih tajam. Bentuklah sehingga mirip radar.

 

Delapan

8. Masukkan antena wifi pada lobang di tutup kaleng bekas itu. Tempel dengan lilin mainan atau perekat lain. Sekarang booster Anda sudah siap beroperasi. Mau coba?

 

Menghindari Perangkap Trauma

Bencana sekecil apapun pasti meninggalkan jejak goresan yang tak terhapuskan dalam kenangan manusia. Sesaat setelah bencana, korban menjadi tertegun dan bingung. Dia tidak percaya atas apa yang terjadi. Dia masih berusaha menolak realitas di depan matanya.

Beberapa waktu kemudian, muncul berbagai reaksi lanjutan dari peristiwa yang traumatis seperti ini:

  • Perasaan memuncak dan tak terduga. Korban menjadi mudah tersinggung. Suasana hatinya mudah berubah-ubah. Dia mengalami kecemasan, kegugupan dan tertekan.
  • Pola pikir dan perilakunya terpengaruh trauma. Dia sering kali teringat lagi pada peristiwa itu. Kenangan ini muncul begitu saja, tanpa sebab, yang menyebabkan reaksi fisik seperti jantung berdebar atau keringat dingin. Dia juga kesulitan berkonsentasi, membuat keputusan dan mudah bingung. Pola tidur dan makannya juga terganggu.
  • Reaksi emosi yang berulang-ulang. Peringatan yang berkaitan dengan bencana itu bisa memicu lembali kenangan buruknya. Misalnya peringatan setahun bencana itu, suara sirene, suara gaduh, atau melihat pemandangan mengenaskan. “Pemicuan” kenangan ini disertai kekhawatiran bahwa kejadian itu akan terulang lagi.
  • Hubungan antar manusia menjadi tegang. Sering terjadi konflik di antara anggota keluarga atau antara korban dengan relawan kemanusiaan. Jika korban enggan berkonflik, dia menarik diri untuk mengisolasi diri. Read more