Footprints

Tag: kirana

Kirana Ajar Motrek

Kirana photo 60642_10201028222852484_2006231943_n.jpg

Libur Paskah selama 9 hari disambut dengan antusias oleh Kirana (6 tahun). Namun pada hari ketiga liburan, dia mulai bingung mengisi liburannya dengan apa. Dia sebenarnya ingin mengajak untuk berliburan ke luar kota. Namun sebagai keluarga pendeta, pada hari Paskah ini mamanya  justru sibuk pelayanan di gereja. Dia lalu minta dibelikan cat air untuk menggambar. Namun minatnya hanya bertahan 2 hari. Setelah itu bosan.

Hingga suatu hari dia memegang kamera DSLR papanya. “Pinjam ya pa?” pinta Kirana. Saya mengangguk.

“Gimana cara pakainya?” tanyanya.

Saya lalu mengatur pencahayaan pada posisi auto. Sedangkan lensa sengaja saya atur mode manual supaya dia belajar untuk mengatur fokus.

“Tangan kirimu dipakai untuk memutar gelang ini. Kalau sudah kelihatan jelas, maka tekan tombol klik!” kata saya.

Kirana mengangguk, lalu melesat ke luar rumah. Inilah hasil jepretan dia di luar rumah. Foto-foto ini hanya mengalami sedikit pengaturan cahaya. Tidak dicropping.

pastori1 photo DSC_6706.jpg

Tembok rumah

Gerbang photo DSC_6696.jpg

Gerbang rumah

Sorenya kami mendadak harus pergi ke rumah orangtua di Gunungkidul. Kirana ikut sambil membawa kamera. Di rumah kakek-neneknya ini dia mengambil beberapa foto.

 

Bunga photo DSC_6742.jpg

Pot  Bunga

Anjing photo DSC_6766.jpg
Anjing menggondol tulang. Hasilnya blur karena dia takut digigit

Gelombang Cinta photo DSC_6768.jpg

Tongkol gelombang cinta

Bulik photo DSC_6786.jpg

Tantenya Kirana

Elsi photo DSC_6810.jpg
Elsi, adik sepupu Kirana
 photo DSC_6815.jpg

Bekas pacar saya.

 

***

Bagi anak kelas 1 SD yang baru sehari menggunakan kamera DSLR menurut saya hasilnya cukup lumayan. Inilah berkah dari kemajuan teknologi. Anak-anak sekarang bisa menjepret kamera sepuasnya. Pada zaman dulu, setiap kali menekan tombol pelepas rana harus berpikir masak-masak, sebab sekali terpapar cahaya maka hasilnya melekat pada film seluloid. Tidak bisa dihapus jika tidak puas hasilnya seperti pada zaman digital ini. Saya memajang karya pertama Kirana di sini dengan harapan blog ini masih tetap ada hingga Kirana besar nanti dan suatu saat dia bisa menemukan kembali foto-fotonya ini.

Kirana n Laptop

Kirana

Akhir-akhir ini saya terkagum-kagum dengan kemampuan generasi muda dalam menguasai tegnologi baru. Saya membaca berita ada anak SMP yang mampu menciptakan program antivirus. Ada anak remaja yang bisa membuat platform website untuk sosial media walau belakangan diketahui bahwa sebanarnya dia hanya memodifikasi script dari program gratisan. Meski begitu, kemampuannya dalam memahami bahasa pemrograman itu sudah patut diacungi jempol.

Di rumah sendiri pun, saya juga terkesima melihat pesatnya Kirana dalam mengoperasikan laptop. Saya tidak pernah mengajarinya secara khusus. Dia hanya belajar dari mengamati saya menggunakan laptop.  Saya membebasakannya mengeksplorasi kegunaan-kegunaan mesin pintar ini. Jika dia melakukan kesalahan, saya tidak pernah memarahinya. Separah-parahnya kesalahan yang dibuat anak kecil, masih bisa diperbaiki dengan install ulang. Namun jika kesalahan itu membuat anak menjadi trauma untuk menggunakan komputer.

 

Kirana

 

Mula-mula Kirana menggunakan laptop untuk melihat video kartun yang ada di Youtube. Biasanya dia minta dipangku, lalu saya mencarikan video kartun yang dimintanya. Setelah ketemu, dia akan meraih mouse untuk menentukan sendiri video yang ingin dilihatnya.

Saya kemudian menginstall game-game mini. Ternyata anak sulung saya sangat menyukainya. Jika sudah memainkan game itu, dia tenggelam dalam keasyikan. Suatu hari, saya mendapati dia ketiduran di depan laptop dengan tangan masih memegang mouse. Jika laptop dimatikan atau jika posisi badan Kirana dipindahkan, maka dia akan bangun dan main game lagi.

Kirana

Kegemarannya bermain laptop sekarang merambah ke permainan on-line, setelah saya memasang perangkat wi-fi. Sebelumnya, hanya laptop saya yang terhubung ke internet karena menggunakan kabel LAN. Kirana tidak bisa sering-sering bermain on-line karena mengganggu pekerjaan saya. Namun setelah saya menambahkan perangkat wi fi, maka dia bisa mengakses internet menggunakan netbook milik mamanya. Karena ukurannya yang mini, maka netbook ini bisa dibawa kemana-mana. Maka Kirana pun bermain di berbagai sudut rumah, sesuai keinginannya. Kadang bermain di dapur, di kamar atau di ruang tengah.

Kirana

Ada beberapa tulisan yang memberi peringatan agar orangtua mengawasi anak-anak dari bahaya internet.  Saran ini memang baik, tapi saya berusaha untuk tidak paranoid terhadap internet. Menurut pakar pendidikan, jika anak disuruh belajar dengan membaca, maka daya serap mereka hanya 10 persen. Jika anak disuruh belajar dengan mendengar, maka daya serap mereka meningkat menjadi 30 persen. Akan tetapi jika anakk belajar secara interaktif, seperti yang tersedia di internet, maka daya serap mereka melonjak drastis menjadi 90 persen.

Untuk itulah, saya memberi kesempatan kepada anak saya untuk belajar mengakses dunia maya. Saya memutuskan untuk berlangganan internet secara bulanan, meski mahal, supaya anak saya bisa mengakses internet di rumah. Ini lebih memudahkan kami membimbing dan mengawasi anak daripada dia nanti mengakses internet di warung internet.

 

 

Kirana

 

 

 
Kirana

 

Kirana

 

 

Kirana