Libur Paskah selama 9 hari disambut dengan antusias oleh Kirana (6 tahun). Namun pada hari ketiga liburan, dia mulai bingung mengisi liburannya dengan apa. Dia sebenarnya ingin mengajak untuk berliburan ke luar kota. Namun sebagai keluarga pendeta, pada hari Paskah ini mamanya justru sibuk pelayanan di gereja. Dia lalu minta dibelikan cat air untuk menggambar. Namun minatnya hanya bertahan 2 hari. Setelah itu bosan.
Hingga suatu hari dia memegang kamera DSLR papanya. “Pinjam ya pa?” pinta Kirana. Saya mengangguk.
“Gimana cara pakainya?” tanyanya.
Saya lalu mengatur pencahayaan pada posisi auto. Sedangkan lensa sengaja saya atur mode manual supaya dia belajar untuk mengatur fokus.
“Tangan kirimu dipakai untuk memutar gelang ini. Kalau sudah kelihatan jelas, maka tekan tombol klik!” kata saya.
Kirana mengangguk, lalu melesat ke luar rumah. Inilah hasil jepretan dia di luar rumah. Foto-foto ini hanya mengalami sedikit pengaturan cahaya. Tidak dicropping.
Tembok rumah
Gerbang rumah
Sorenya kami mendadak harus pergi ke rumah orangtua di Gunungkidul. Kirana ikut sambil membawa kamera. Di rumah kakek-neneknya ini dia mengambil beberapa foto.
Pot Bunga

Anjing menggondol tulang. Hasilnya blur karena dia takut digigit
Tongkol gelombang cinta
Tantenya Kirana
Bekas pacar saya.
***
Bagi anak kelas 1 SD yang baru sehari menggunakan kamera DSLR menurut saya hasilnya cukup lumayan. Inilah berkah dari kemajuan teknologi. Anak-anak sekarang bisa menjepret kamera sepuasnya. Pada zaman dulu, setiap kali menekan tombol pelepas rana harus berpikir masak-masak, sebab sekali terpapar cahaya maka hasilnya melekat pada film seluloid. Tidak bisa dihapus jika tidak puas hasilnya seperti pada zaman digital ini. Saya memajang karya pertama Kirana di sini dengan harapan blog ini masih tetap ada hingga Kirana besar nanti dan suatu saat dia bisa menemukan kembali foto-fotonya ini.




























