Footprints

Tag: Lucu

Ribet Handphone: Catatan Ringan Relawan (6)

Merapi

Handphone memiliki peran yang vital dalam kegiatan tanggap bencana di Merapi baru-baru ini. Meski sudah ada alat komunikasi radio (handy talkie dan rig), namun untuk berkomunikasi jarak jauh, HP benar-benar membantu kerja para relawan. Para pengguna telepon nir kabel ini cukup beruntung karena hampir semua wilayah di lereng Merapi dapat dijangkau oleh sinyal HP.

Para relawan biasanya mengantongi lebih dari satu ponsel. Hal iIni untuk mengantisipasi jika salah satu operator seluler kehilangan sinyal. Alasan lainnya adalah untuk menghemat pulsa. Jika akan menghubungi nomor tertentu, mereka akan menyesuaikan dengan menggunakan operator yang sama. Apalagi saat ini ada HP yang memiliki fungsi nomor ganda dalam satu pesawat. Biasanya relawan mengantongi HP GSM dan HP CDMA.

Meski bermanfaat, namun HP kadang merepotkan. Bentuknya yang mungil dan banyaknya hal yang harus dikerjakan kadang membuat relawan lupa meletakkan HP. Mereka sebenarnya sudah mengantisipasi dengan memakai rompi dengan banyak saku. Masih ditambah dengan tas pinggang dan ransel. Ini pun juga bisa merepotkan. Banyaknya tempat penyimpanan kadang juga membuat ribet ketika akan mencari HP.

****

Pada awal erupsi Merapi, 28 Oktober 2010, kami sudah melakukan aksi tanggap bencana. Saat sedang istirahat makan, tiba-tiba ada telepon masuk dari sebuah stasiun radio. Mereka meminta wawancara yang disiarkan secara langsung.  Maka saya menyingkir ke tempat yang lebih sepi supaya bisa melayani wawancara. Di akhir wawancara, saya sudah ditunggui oleh relawan lain untuk melanjutkan perjalanan. Maka saya pun terburu-buru melompat ke atas mobil.

Setelah sekian menit perjalanan, saya meraba-raba saku rompi mencari HP kedua (saya membawa dua HP.  HP pertama bernomor ganda,  HP kedua bernomor tunggal). Ternyata tidak ketemu. Aduh dimana nih? Saya coba menelepon nomor HP kedua. Tersambung, tetapi tidak terdengar suaranya di dalam mobil. Saya mengambil kesimpulan HP itu ada di luar mobil. “Jangan-jangan HPku jatuh saat berlari ke mobil tadi,” batinku dengan lemas.

Saya menyampaikan hal ini kepada relawan yang lain. Mereka memutuskan untuk kembali ke tempat kami beristirahat untuk mencari HP saya. Saat itu sedang hujan gerimis ketika para relawan ramai-ramai mencari di tanah lapang dan semak-semak. Saya mencoba menelepon HP saya supaya berbungi, namun nomor tidak dapat dihubungi. Saya pun pasrah. Saya memperkirakan HP itu ditemukan seseorang yang kemudian mematikan HP itu. Saya pun melakukan upaya terakhir dengan mengirimkan SMS ke nomor saya, dengan pesan: “Jika Anda menemukan HP ini, tolong dikembalikan ke [alamat saya].”

****

Di akhir tanggap bencana, kejadian serupa terjadi lagi.Bahkan peristiwanya juga setelah beristirahat di sebuah warung makan. Dalam perjalanan, dia kebingungan mencari HP-nya. Nomornya sudah dihubungi tetapi deringnya tidak terdengar di dalam mobil. Kesimpulan sementara, HP ketinggalan di warung makan. Untung dalam nota pembayaran tercantum nomor HP pemilik warung. Maka dia menelepon pemilik warung untuk menanyakan apakah ada HP yang ketinggalan.

“Sebentar ya pak, kami cari dulu,” jawab pemilik warung.

Tak lama kemudian pemilik warung menelepon untuk mengabarkan bahwa tidak ada HP yang ketinggalan.

Cerita ketiga ini masih soal HP. Tanggal 15 Desember kami diundang untuk mengisi salah satu stan dalam Pameran dan Bursa Pelayanan kepada Wasior, Mentawan dan Merapi. Kami diundang oleh Yakkum.

Dalam pameran itu, kami menampilkan foto-foto kegiatan. Lalu supaya menarik perhatian, kami sengaja mendatangkan sepeda motor yang hangus terbakar oleh awan panas. Kami juga mengarungi lahar Merapi dan mengangkut kayu-kayu yang terbakar. Tak lupa peralatan rumah tangga yang juga hampir melelah. Usai pameran, kami menaikkan semua barang itu ke atas mobil operasional.

Saat bersiap pulang, seorang relawan kebingungan mencari HP-nya. Saat ditelepon, tidak terdengar deringnya. Sepanjang perjalanan pulang, wajah relawan ini terlihat suram padahal biasanya dia gemar bercanda.
Photobucket

Pameran di Paragon, Solo

Photobucket

Sepeda motor yang terbakar.

****

Lalu bagaimana nasib ketiga HP itu?

Dalam kisah pertama, ternyata HP itu tersimpan di dasar ransel dan dalam mode getar sehingga dering tidak berbunyi ketika dipanggil.

Dalam kisah kedua, HP juga tersimpan di dalam tas. Akan tetapi dering HP tidak terdengar karena kalah oleh suara mesin mobil.

Dalam kisah ketiga, keesokan harinya, pagi-pagi benar sang relawan sudah nongkrong di posko. Dia mengobok-obok dan mengaobrak-abrik barang-barang sisa pameran yang masih ada di atas mobil operasional. Akhirnya HP itu ketemu juga. Rupanya HP itu tercecer saat dia menaikkan barang pameran ke atas mobil.

Akhirnya, kisah HP ini berujung pada happy ending.

Photobucket

 

Balada Nasi Bungkus: Catatan Ringan Relawan (5)

KaligendolKepuasan terbesar relawan adalah ketika bisa meringankan beban penyintas bencana. Maka ketika mendengar di tempat tertentu ada penyintas membutuhkan bantuan, maka adrenalin relawan terpacu. Mereka akan bergegas menuju lokasi untuk mengulurkan tangan.

Hal yang sama terjadi pada bencana erupsi Merapi ini.  Saat erupsi besar, tanggal 4 Nopember, mendadak timbul gelombang pengungsian. Mereka membutuhkan membutuhkan makanan siap santap dalam jumlah yang besar. Yang mengharukan, situasi kritis ini direspon masyarakat dengan sangat cepat. Cukup dengan menyebarkan berita lewat SMS, maka  mereka membuat nasi bungkus untuk dibagikan kepada pengungsi. Pada awalnya jumlah nasi bungkus hanya ratusan buah. Namun hari-hari berikutnya, jumlahnya bertambah drastis. Bahkan sampai mencapai puluhan ribu. Akibatnya, kami kewalahan mendistribusikan nasi bungkus.


Sebenarnya kami sudah mengatur distribusi nasi bungkus sesuai dengan jumlah pengungsi yang kami layani, sehingga jumlahnya sudah pas.  Namun seringkali ada donatur yang menurunkan ratusan nasi bungkus secara mendadak.  Jika mereka memberitahukan sebelumnya, kami punya waktu untuk menghubungi tempat-tempat pengungsian lain untuk menawarkan nasi bungkus.

Suatu hari, kami harus mendistribusikan 1000 nasi bungkus di luar bantuan yang biasa kami salurkan. Kami sudah menghubungi tempat pengungsian di barak Dodiklatpur (Komando Pendidikan dan Latihan Tempur) di Wedi, Klaten. Mereka bersedia menerima.  Ketika kami sampai di sana,  baru saja ada bantuan nasi bungkus sebanyak satu truk yang diturunkan di sana.  Nasi bungkus kami tidak laku. Kami harus mencari sasaran baru, sebab nasi bungkus ini adalah amanat dari donatur. Kami wajib menyalurkan ke pihak yang membutuhkan.

“Di Ceper ada tempat pengungsian butuh 400 nasi bungkus. Cepat kirim ke sana!” Perintah Agus Permadi, koordinator posko.
“Saya makan dulu ya,” kata seorang relawan yang menjadi sopir.
“Kalau makan dulu, nanti keburu didahului bantuan dari pihak lain,” sergah relawan,” sudah, kamu makan saja, aku yang menyetir.”
Demikianlah, dengan perjuangan berat, malam itu kami sukses menyalurkan 1000 nasi bungkus ekstra. Mengingat kembali peristiwa itu, saya tersenyum sendiri. Baru kali ini ada orang-orang yang berebut memberi bantuan.

Ini berbeda sekali dengan bencana gempa tahun 2006. Saat itu, penyintas yang “rebutan” bantuan, terutama yang berada di wilayah “pedalaman.” Melihat situasi ini, kami sengaja mencari blank spot, yaitu titik-titik yang belum terjamah bantuan.
Suatu hari, ada dua relawan yang dengan bersemangat berangkat dari posko mengendarai sepeda motor pinjaman. Mereka mendengar di wilayah tertentu belum terjamah bantuan. Misi dua orang ini adalah melakukan survei untuk memutuskan apa saja yang perlu dibantu dan berapa saja jumlahnya. Dengan semangat pejuang 45 mereka menyusuri pematang sawah dan melintasi jalan desa yang becek.
“Wah, tempatnya benar-benar sulit dijangkau nih,” kata satu relawan pada temannya. Mereka membayangkan akan punya cerita seru dan heroik untuk dibagikan [dan dipamerkan] pada relawan lainnya di posko nanti.
Sesampai di lokasi dan melakukan pendataan, tiba saatnya untuk pulang. Mereka bersiap menyusuri rute semula.
“Lho, kok lewat situ?” tanya warga heran. “Ada kok jalan lain yang lebih enak.”
Olala…ternyata ada jalur lain yang jauh lebih mulus dan mudah dilalui menuju ke posko induk. Maka, pupuslah angan-angan untuk memamerkan kisah heroik mereka.