Footprints

Tag: merapi

Ulang Tahun Erupsi Merapi

13195727011834359912

Puncak Merapi: Setahun setelah erupsi

Setahun yang lalu, perut Merapi bergejolak dan memuntahkan berton-ton material gas, cair dan padat. Ribuan orang mengungsi. Ratusan rumah roboh dan terbakar. Tak terhitung pohon dan vegetasi yang gosong dan menguap saat disentuh awan panas.
Tanggal 26 Oktober ini adalah ulangtahun pertama erupsi Merapi. Orang Jawa menyebutnya “mendhak sepisan.” Tahun lalu, akibat terjangan awan panas, hampir semua pohon besar yang berada pada radius 5 km dan di sekitar sungai Gendol habis terbakar. Selain itu, beberapa pohon di luar radius itu juga patah dan ambruk tersiram hujan batu dari Merapi.
Vegetasi kawasan Merapi merupakan kawasan yang vital karena menjadi sumber air bagi sebagian Klaten. Itu sebabnya, selain mengurusi pengungsi, kami juga mengadakan program penghijauan. Saat itu kami memutuskan untuk segera melaksanakan penanaman pohon karena mengajar sisa musim penghujan. Kami tidak mungkin menyiram tanaman itu satu demi satu. Maka kami hanya mengandalkan guyuran hujan. Akan tetapi program cepat ini juga memiliki risiko:
1. Lapisan tanah paling atas adalah abu vulkanik yang lunak. Jika lapisan ini tergerus oleh air hujan maka bibit pohon akan tercerabut.
2. Saat itu belum ada masterplan untuk penanaman pohon. Prinsipnya, tanah yang pohonnya mati harus segera ditanami lagi, tanpa peduli itu tanah milik siapa. Risikonya jika pemilik tanah tidak menyukai jenis pohon itu tumbuh di tanahnya maka ada kemungkinan akan dicabut dan dibuang.
3. Tidak ada pohon besar sebagai pelindung dari terpaan angin. Pada waktu-waktu tertentu, hembusan angin di dekat puncak Merapi sangat kencang. Dengan habisnya batang-batang pohon yang besar, maka bibit pohon yang ringkis bisa patah karena tidak kuat dihempas angin.
4. Musim yang tidak menentu. Meskipun menurut kalender saat itu mestinya masih musim hujan, namun siapa yang bisa menjamin bahwa musim masih taat pada kebiasaannya?

Pohon Kelengkeng

Kami membulatkan tekat untuk mewujudkan rencana itu. Pada gelombang pertama, kami menggalang gereja-gereja yang di Klaten untuk menanami desa Balerante, di Klaten. Pada gelombang kedua, kami menggandeng teman-teman dari pemuda Anshor. Mereka menerjunkan Banser (Bantuan Serbaguna) NU untuk menyerbu lereng Merapi dengan bibit pohon. Tenaga dari Banser ini merupakan bantuan yang sangat signifikan karena mereka sudah mendapat pelatihan fisik. Dengan kemampuan raga yang lebih prima, anggota Banser mampu menjangkau medan yang sulit. Gelombang penghijauan terakhir digelar bersama dengan PALM (Penghijauan Area Lereng Merapi) dari Jogja dan MMI (Masyarakat Multikultur Indonesia) yang ada di Klaten. Total jumlah pohon yang kami tanam mencapai angka lebih dari 100.0000 batang pohon.
***
Akan tetapi musim kemarau yang panjang membuat kami cemas. Kami tidak mungkin menyirami ratusan bibit pohon itu. Kami hanya bisa berharap pada kemurahan alam. Semoga di lereng Merapi masih ada embun pagi yang memasok sumber air bagi bibit-bibit pohon. Itulah doa kami sepanjang musim kemarau. Hari ini, tepatnya sehari sebelum ulang tahun erupsi Merapia, saya dan dua relawan bersanjang ke Merapi lagi. Kami ingin menengok nasib pohon-pohon itu. Kami merayapi punggung Merapi dengan harapan yang sangat tipis. “Semoga ada satu dua pohon yang lolos dari seleksi alam,” kata kami.

Photobucket

Penanaman Pohon tahun 2010

Sesampai di lokasi penanaman, kami disambut pemandangan hijau yang berasal dari tanaman alang-alang setinggi pinggang. Dengan harap-harap cemas, kami menyibak lautan alang-alang. “Hei, ada kelengkeng yang masih hidup!” teriak Agus Permadi kegirangan. Saya segera menghambur menerobos alang-alang yang melecetkan kulit. Benar, meskipun daunnya belum banyak, namun pohon buah kelengkeng itu berhasil hidup. Tidak hanya kelengkeng saja, ternyata alpukat, jambu biji dan petai pun bisa tumbuh. Pertumbuhan yang paling cepat ditunjukkan oleh pohon sengon buto, pisang dan jabon. Jabon adalah singkatan dari “Jati Kebon”, sebuah varietas pohon baru yang bisa menghasilkan batang kayu berukuran besar dalam waktu singkat. Sayangnya tidak ada pohon munggur atau trembesi yang bertahan hidup. Rupanya, jenis pohon ini tidak cocok untuk daerah pegunungan.

Fiuuuh…ternyata jerih payah kami tidak mubazir. Kami senang karena bisa berbuat sesuatu untuk bumi ini. Barangkali kami tidak akan menikmati hasil dari pohon-pohon itu pada masa hidup kami. Biarlah anak-cucu kami kelak yang akan menikmatinya.

Pete

Pisang

Sengon Buto

Apokat

Jabon

Jambu Biji

Desa Balerante: Ini adalah desa tertinggi di kabupaten Klaten

Desa Srunen: Di desa ini, mbah Maridjan dimakamkan

Belajar Toleransi dari Candi Morangan

131853420731772302

 

Candi Morangan memang candi yang kecil dan terpencil, namun memiliki dua keistimewaan: Pertama, candi Morangan adalah candi yang paling mendekati Gunung Merapi. Jika diamati dalam peta DIY, maka kompleks Candi Morangan merupakan candi yang menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Propinsi DIY.

Kedua, candi ini memiliki satu panel relief yang diperkirakan merupakan bagian dari cerita Tantri Kamandaka. Ceritanya yaitu tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing.  Relief ini menarik karena Tantri Kamandaka biasanya terdapat pada candi berlatar belakang agama Budha, sedangkan candi Morangan ini berlatar agama Hindu. Candi ini menjadi bukti bahwa toleransi umat beragama sudah ada di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu.

 

Erupsi Merapi

Selain menjadi keistimewaan, lokasi candi yang paling dekat dengan puncak Merapi juga menjadi ancaman bagi kelangsungan candi ini. Sebagaimana umumnya candi lain, candi Morangan ini juga berlokasi di dekat sungai. Hal ini bukan tanpa alasan. Sungai merupakan elemen yang penting dalam upacara keagamaan.  Air dipercaya dapat membersihkan dosa dan noda. Selain itu ada juga alasan teknis. Sungai memberikan bahan baku material candi yaitu batu andesit.

Candi Morangan ini pun berlokasi di sebelah sungai Gendol. Saat  Merapi erupsi pada tahun 2010, ada berton-ton  material padat yang meluncur turun melewati sungai Gendol. Luapan lahar dingin telah menerjang beberapa rumah di sekitar bantaran sungai. Kondisi ini membuat cemas para pakar arkeologi jarak candi Morangan hanya 200 meter di sebelah barat aliran sungai.

Backhoe dan truk di sungai Gendol

Truk hilir mudik mengangkut pasir Merapi

 

Mendengar kabar ini, saya penasaran untuk mengunjungi candi ini. Saat  menyeberangi sungai Gendol, saya melihat bahwa aliran lahar dingin itu sudah sampai di cek dam sebelah timur candi. Meski begitu jumlah materialnya belum sampai meluap karena sungai ini terus menerus dikeruk oleh backhoe dan diangkut oleh ratusan truk keluar dari sungai Gendol. Lagipula, di sepanjang aliran sungai ini juga dibangun tanggul yang cukup tinggi. Kecuali hujan turun luar biasa, saya menduga aliran lahar dingin belum mengancam candi Morangan ini.

Meski begitu, ancaman itu tetap ada  mengingat candi ini pernah terpendam ratusan tahun yang lalu. Hal ini terlihat posisi candi yang berada di bawah permukaan tanah.  Saat ditemukan, batu-batu ini berserakan dan terpendam di berbagai tempat.

 


 

Candi ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia candi ini kembali tertutup tanah. Pihak SPSP DIY pernah melakukan ekskavasi pada tahun 1982. Ekskavasi yang dilakukan oleh SPSP DIY ini berhasil menampakkan 2 buah bangunan candi yakni candi induk dan candi perwara. Hingga saat ini candi induk pun belum seluruhnya dapat disingkap dan baru dapat digali sekitar tiga perempat bagian saja.

Candi induk Morangan menghadap ke barat berbilik satu dan berdenah bujursangkar. Secara lengkap candi induk Morangan terdiri atas kaki, tubuh, dan atap candi. Pembagian tersebut dalam agama Hindu melambangkan tiga alam yaitu bhurloka, bhuvarloka, dan savarloka.

Melihat ciri-ciri ragam hias pada arac Candi Morangan yang mirip dengan Candi Prambanan, maka diduga usia Candi Morangan tidak jauh berbeda dengan Candi Pramabanan, yakni abad 9 M.


Patung dan Relief

Pada Candi Morangan ditemukan pula yoni dengan ukuran yang cukup besar. Sedangkan lingga yang seharusnya ada dan menjadi pasangan dari yoni tidak ditemukan lagi. Pada kompleks candi Morangan ini juga ditemukan pula arca resi dan sejumlah arca lain di dalam relung-relung candi. Saat ini relung tersebut kosong karena arca-arca di dalamnya telah diamankan untuk mencegah pencurian.

Selain itu juga ditemukan patung Nandi atau sapi dalam posisi mendekam. Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi kendaraan dari dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa.

 

 

Karena bentuk bangunan candi Morangan ini belum tersusun utuh, maka bentuk bangunan belum dapat dilihat sepenuhnya. Meski begitu, pengunjung bisa mengamati relief-relief yang tidak kalah menariknya. Berikut ini relief yang terdapat di dinding candi Morangan:

 

Pertama, relief dua laki-laki mengapit tumpukan bunga-bungaan. Relief ini menggambarkan salah satu adegan dalam upacara keagamaan. Bunga merupakan salah satu unsur penting dalam pemujaan agama Hindu.

 

Dua wanita memegang kendi

Kedua, relief dua wanita mengapit kendi besar dengan membawa kendi-kendi kecil. Relief ini menggambarkan salah satu adegan dalam upacara keagamaan. Kendi adalah tempat air suci yang dianggap dapat membersihkan noda dan dosa.

 

Ketiga, dua wanita menunggang gajah. Relief ini menggambarkan dua orang wanita menunggang gajah.Gajah adalah binatang istimewa karena pada zaman dulu hanya seorang raja yang boleh memilikinya sebagai simbol kemegahan kerajaan.

 

Keempat, tiga resi membawa pustaka (kitab suci) fan uptala (teratai biru)

 

Kelima, relief kepala dalam relung. Relief ini merupakan hiasan yang terdapat pada bagian atap candi. Relief seperti ini juga terdapat di candi Gebang.

 

Keenam, relief ayam jantan disangga gana. Gana, atau sering juga disebut Syiwaduta,  adalah makhluk kecil pengiring Syiwa. Sedangkan ayam jantan melambangkan kekuatan, keberanian dan kesuburan. Selain itu dalam kehidupan keagamaan, sering digunakan sebagai hewan korban.

 

 

Video lainnya:

Candi Morangan [2]

Candi Morangan [3]

 

Bagaimana cara menuju candi Morangan? Untuk menuju ke sana Anda harus menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum belum sampai ke lokasi. Dari kota Jogja, arahnya adalah menuju Prambanan. Sesampai di lampu merah Bogem, berbelok ke kiri menuju Cangkringan. Sesampai di Balai Benih Ikan Cangkringan terdapat simpang tiga. Arah ke kiri menuju ke arah Merapi, tapi Anda mengambil jalan yang lurus menuju sungai Gendol.  Sekitar 200 meter sebelum sungai Gendol ada papan penunjuk arah  ke kanan.  Anda menyusuri jalan desa yang dilapisi semen sepenjang 400 meter sampai mentok ke pertigaan, Lokasi candi ada di sebelah kanan jalan. Anda tidak akan dipungut tiket masuk atau parkir, tapi sebaiknya memberi tips pada penjaga candi setelah mengisi buku tamu. Usai mengunjungi candi Morangan, Anda bisa berwisata bencana lahar Merapi di sungai Gendol. Siapkan masker dan kacamata karena ada banyak debu yang beterbangan diterjang roda-roda truk.

 

Signature