
Puncak Merapi: Setahun setelah erupsi
Setahun yang lalu, perut Merapi bergejolak dan memuntahkan berton-ton material gas, cair dan padat. Ribuan orang mengungsi. Ratusan rumah roboh dan terbakar. Tak terhitung pohon dan vegetasi yang gosong dan menguap saat disentuh awan panas.
Tanggal 26 Oktober ini adalah ulangtahun pertama erupsi Merapi. Orang Jawa menyebutnya “mendhak sepisan.” Tahun lalu, akibat terjangan awan panas, hampir semua pohon besar yang berada pada radius 5 km dan di sekitar sungai Gendol habis terbakar. Selain itu, beberapa pohon di luar radius itu juga patah dan ambruk tersiram hujan batu dari Merapi.
Vegetasi kawasan Merapi merupakan kawasan yang vital karena menjadi sumber air bagi sebagian Klaten. Itu sebabnya, selain mengurusi pengungsi, kami juga mengadakan program penghijauan. Saat itu kami memutuskan untuk segera melaksanakan penanaman pohon karena mengajar sisa musim penghujan. Kami tidak mungkin menyiram tanaman itu satu demi satu. Maka kami hanya mengandalkan guyuran hujan. Akan tetapi program cepat ini juga memiliki risiko:
1. Lapisan tanah paling atas adalah abu vulkanik yang lunak. Jika lapisan ini tergerus oleh air hujan maka bibit pohon akan tercerabut.
2. Saat itu belum ada masterplan untuk penanaman pohon. Prinsipnya, tanah yang pohonnya mati harus segera ditanami lagi, tanpa peduli itu tanah milik siapa. Risikonya jika pemilik tanah tidak menyukai jenis pohon itu tumbuh di tanahnya maka ada kemungkinan akan dicabut dan dibuang.
3. Tidak ada pohon besar sebagai pelindung dari terpaan angin. Pada waktu-waktu tertentu, hembusan angin di dekat puncak Merapi sangat kencang. Dengan habisnya batang-batang pohon yang besar, maka bibit pohon yang ringkis bisa patah karena tidak kuat dihempas angin.
4. Musim yang tidak menentu. Meskipun menurut kalender saat itu mestinya masih musim hujan, namun siapa yang bisa menjamin bahwa musim masih taat pada kebiasaannya?
Kami membulatkan tekat untuk mewujudkan rencana itu. Pada gelombang pertama, kami menggalang gereja-gereja yang di Klaten untuk menanami desa Balerante, di Klaten. Pada gelombang kedua, kami menggandeng teman-teman dari pemuda Anshor. Mereka menerjunkan Banser (Bantuan Serbaguna) NU untuk menyerbu lereng Merapi dengan bibit pohon. Tenaga dari Banser ini merupakan bantuan yang sangat signifikan karena mereka sudah mendapat pelatihan fisik. Dengan kemampuan raga yang lebih prima, anggota Banser mampu menjangkau medan yang sulit. Gelombang penghijauan terakhir digelar bersama dengan PALM (Penghijauan Area Lereng Merapi) dari Jogja dan MMI (Masyarakat Multikultur Indonesia) yang ada di Klaten. Total jumlah pohon yang kami tanam mencapai angka lebih dari 100.0000 batang pohon.
***
Akan tetapi musim kemarau yang panjang membuat kami cemas. Kami tidak mungkin menyirami ratusan bibit pohon itu. Kami hanya bisa berharap pada kemurahan alam. Semoga di lereng Merapi masih ada embun pagi yang memasok sumber air bagi bibit-bibit pohon. Itulah doa kami sepanjang musim kemarau. Hari ini, tepatnya sehari sebelum ulang tahun erupsi Merapia, saya dan dua relawan bersanjang ke Merapi lagi. Kami ingin menengok nasib pohon-pohon itu. Kami merayapi punggung Merapi dengan harapan yang sangat tipis. “Semoga ada satu dua pohon yang lolos dari seleksi alam,” kata kami.
Sesampai di lokasi penanaman, kami disambut pemandangan hijau yang berasal dari tanaman alang-alang setinggi pinggang. Dengan harap-harap cemas, kami menyibak lautan alang-alang. “Hei, ada kelengkeng yang masih hidup!” teriak Agus Permadi kegirangan. Saya segera menghambur menerobos alang-alang yang melecetkan kulit. Benar, meskipun daunnya belum banyak, namun pohon buah kelengkeng itu berhasil hidup. Tidak hanya kelengkeng saja, ternyata alpukat, jambu biji dan petai pun bisa tumbuh. Pertumbuhan yang paling cepat ditunjukkan oleh pohon sengon buto, pisang dan jabon. Jabon adalah singkatan dari “Jati Kebon”, sebuah varietas pohon baru yang bisa menghasilkan batang kayu berukuran besar dalam waktu singkat. Sayangnya tidak ada pohon munggur atau trembesi yang bertahan hidup. Rupanya, jenis pohon ini tidak cocok untuk daerah pegunungan.
Fiuuuh…ternyata jerih payah kami tidak mubazir. Kami senang karena bisa berbuat sesuatu untuk bumi ini. Barangkali kami tidak akan menikmati hasil dari pohon-pohon itu pada masa hidup kami. Biarlah anak-cucu kami kelak yang akan menikmatinya.





































