Kirana baru masuk sekolah selama dua kali ketika harus membolos selama dua minggu. Kami mengajaknya berwisata ke Jawa Timur bersama rombongan dari Persekutuan Wilayah 7-8 di gereja kami. Dia sudah lama minta diajak untuk memetik strawberry di Batu, Malang. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta, yaitu ke rumah eyangnya.
Setelah seminggu di Jakarta, Kirana dan mamanya pulang ke Klaten dengan menumpang kereta api dari Gambir. Mereka ditemani oleh eyang putri Kirana. Sementara itu, saya meneruskan perjalanan ke Gunung Mas, Bogor untuk menghadiri pertemuuan Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Nasrani), selama dua hari.
Hari Senin, 3 Agustus, Kirana masuk sekolah lagi. Saya baru saja sampai di rumah, setelah semalam naik kereta dari Jakarta. Mata masih sepet dan kurang tidur. Sementara itu, isteri saya harus menghadiri rapat tingkat klasis di Yogyakarta. Itu artinya, Kirana tidak dapat diantar sekolah oleh papa dan mamanya. Malam sebelumnya Kirana sebenarnya sudah setuju untuk diantar sekolah oleh eyang putrinya. Namun mengingat bahwa sudah dua minggu tak bersekolah, kami ragu apakah Kirana masih mengenali lingkungan sekolahnya atau harus mulai dari awal lagi. “Jangan-jangan, kalau lihat papanya pulang, dia minta diantar papa,” kata isteri saya pada subuh itu. Saat itu Kirana belum bangun.
Pukul 06.30, saya membangunkan Kirana. Dia masih ogah-ogahan sambil memeluk guling. Namun ketika saya tunjukkan oleh-oleh mainan gelembung sabun, dia segera melompat dari tidurnya. Setengah jam kemudian, dia sudah berdandan dengan seragam sekolahnya.
“Kirana diantar sekolah oleh eyang uti ‘kan?” tanya saya kepada Kirana.
“Iya,” jawabnya singkat sambil menyiapkan sepatunya.
“Tidak perlu ditunggui ‘kan?” tanya saya lagi.
“Eyang duduk di luar saja,” sahutnya mantap.
Dia terlihat antusias untuk bersekolah. Dia bahkan tidak mau sarapan karena sudah tidak sabar untuk berangkat sekolah. Minum susu juga tidak. Padahal biasanya dia minta susu setiap bangun tidur.
Begitu semuanya siap, Kirana segera menyeret tangan eyangnya berjalan keluar dan memanggil becak. Saya merasa tenang dan berangkat tidur.
***
Sepulang sekolah, Kirana bercerita bahwa tidak minta ditunggui selama sekolah. Meski begitu, eyangnya merasa tidak tega menunggu di luar. Dia masih di dalam kelas namun menunggui dari jarak jauh.
Mendengar cerita itu saya merasa senang karena anak saya tidak kolokan. Semoga ini dapat menjadi awal yang baik untuk kemandiriannya. Saya teringat ketika kami bercengkerama di alun-alun Malang, pada suatu sore. Ada banyak orang yang melewatkan waktu sore dengan bersantai bersama keluarga. Di situ ada banyak penjual makanan. Kirana ingin makan jagung bakar.
“Nih, uangnya. Beli sendiri, ya!” kata saya sambil memberikan uang Rp. 5 ribu.
Dia tampak ragu-ragu sejenak, tapi tak urung berjalan menuju ke pedagang jagung bakar. Kami mengawasi dari jauh.
“Tanya dulu, berapa harganya!!” kata saya sambil berteriak kepada Kirana.
Kirana menurut. Dia bertanya harga setongkol jagung bakar.
“Harganya dua ribu, pa” kata Kirana sambil berlari ke arah kami.
“Oke, beli satu saja,” sahut saya, “nanti minta kembaliannya ya!”
Kirana mengangguk lalu berbalik menuju penjual jagung bakar.
Dia duduk menunggui selama jagung dibakar. Setelah matang, pedagang jagung memberikan jagung kepada Kirana. Kirana menerima jagung bakar itu sambil menyerahkan uang. Dia tidak segera pergi karena masih menunggu kembaliannya.
Setelah itu, dia berlari dan bergabung bersama kami. Setelah mencicipi beberapa butir jagung, Kirana sudah bosan dan memberikan sisanya kepada kami. Bagi saya, itu tidak menjadi masalah karena yang penting adalah memberikan pengalaman kepadanya untuk bertransaksi jual-beli. Semoga ini dapat memberikan dasar-dasar untuk kemandiriannya.

















