Footprints

Tag: solo

Laweyan:Dari Pintu ke Pintu

13086321302101956074

Setiap rumah pasti punya pintu. Apakah pemilihan pintu menyiratkan pesan tertentu kepada orang yang melintas atau akan bertamu di depannya? Apakah pintu menyimpan guratan sejarah rumah tersebut? Ataukah justru tidak bermakna apa-apa?

Pertanyaan ini tiba-tiba bergulir ketika saya menyusuri lorong-lorong sempit di kampung Laweyan. Kampun ini sudah lama menjadi sentra kerajinan batik di wilayah Solo. Sebagai kampung kuno yang padat, rumah-rumah di sini dibangun sangat berdekatan. Hanya dipisah oleh spasi tak lebih dari 3 meter. Pintu-pintu rumah dibuat berhadap-hadapan.

1308642844454086655

Kampung Laweyan yang sudah ada sejak tahun 1500 Masehi ini menorehkan kejayaan kaum perempuan dalam bidang bisnis, tapi juga menyandang stigma negatif berwujud predikat “perempuan bahu Laweyan.” Cikal bakal kampung ini tidak bisa dilepaskan dari Ki Ageng Henis, yang dipercayai sebagai keturunan Brawijaya V. Pada masa kerajaan Pajang, Ki Ageng Henis ini berjasa menyingkirkan musuk Pajang yaitu raden Aryo Penangsang. Sabagai balas jasa, maka raja Pajang menghadiahkan tanah perdikan kepada Ki Ageng Henis, yang sekarang disebut kampung Laweyan.

Di kampung ini, Kyai Ageng Henis menyebarkan agama Islam sambil mengajarkan cara membuat batik kepada masyarakat Laweyan. Lama kelamaan Laweyan berkembang menjadi pusat industri batik sejak jaman kerajaan Mataram. Ada perkembangan yang menarik di sini. Meski budaya patriarki masih sangat dominan pada saat itu, tapi penguasa yang sebenarnya di kampung Laweyan adalah kaum perempuan yang disebut Mbok Mase.

Menurut peneliti sejarah dari Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Soedarmono, kaum perempuan di Kaweyan terbiasa bekerja keras sejak kecil, hemat dan telaten. Istilah Jawanya, “Gemi, Nastiti, Ngati-ati” (Mengelola uang dengan ketat, teliti dan sangat berhati-hati). Dengan etos kerja ini, perlahan-lahan mereka menguasai perekonomian kampung Laweyan.

Kaum laki-laki di kampung Laweyan disebut Mas Nganten. Kaum laki-laki ini dibebaskan berbuat apa saja di luar bisnis batik asal tidak poligami, foya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Secara praktis, usaha batik ini menjadi cara bagi Mbok Mase agar terhindar dari penindasan kaum lelaki. Dengan menguasai usaha batik, Mbok Mase memiliki posisi tawar yang kuat ketika berhadapan dengan lelaki.

Kelompok Mbok Mase juga bersikap oposan terhadap kaum priyayi (bangsawan) istana saat itu. Meski raja Mataram Islam pertama berasal dari kampung ini, tapi kelompok Mbok Mase ini bersikap oposan dengan kaum bangsawan yang suka foya-foya, gila hormat dan juga berpoligami. Para bangsawan ini bisa menikmati hidup enak karena faktor keturunan, sedangkan Mbok Mase mendapat posisi yang kuat karena kerja keras.

13086429851885619285

Untuk menyaingi kaum priyayi yang mereka benci itu, para Mbok Mase juga membangun rumah-rumah besar dan menjulang tinggi mirip keraton. Para juragan batik ini juga membangun lorong atau jalan rahasia di dalam rumah mereka menuju rumah juragan batik lainnya di Laweyan. Jalan-jalan rahasia ini dimanfaatkan untuk ketika mereka akan mengadakan pertemuan rahasia dengan sesama saudagar batik untuk membahas kondisi sosial politik saat itu.

Puncak resistensi kaum Mbok Mase terjadi sekitar itu 1740-1750. Kala itu laskar etnis Tionghoa mengobrak-abrik keraton karena marah terhadap inkonsistensi Pakubowono II dalam melawan Belanda. Pakubowono II melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo. Raja meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan, tapi ditolak oleh para Mbok Mase.


Refleksi

Pintu

Karena bangunan di kampung ini tersusun secara padat dan berhimpitan dengan jarak yang relatif sempit, maka ruang publik di wilayah Laweyan ini berada di ujung gang, yempat ibadah (masjid, musholla, langgar), lapangan, makam dan pasar.

Menara Masjid

Pada tahun 1960-an, industri batik di Laweyan mengalami masa keemasan. Pembatikan dilakukan di rumah rumah saudagar yang terletak di sisi utara jalan, sedang proses pencucian dan penjemuran di kawasan selatan karena berdekatan dengan sungai. Sungai menjadi media interaksi masyarakat.
Namun ketika masyarakat mulai mengenal pompa penyedot air, maka produksi batik dapat diselesaikan di masing-masing rumah. Akibatnya kontak sosial masyarakat mulai menyurut.

Pertama kali memasuki kawasan ini saya menangkap kesan kampung yang angkuh. Banyak pintu-pintu yang tertutup. Pintu-pintu rumah juga dibuat cukup kokoh untuk mencegah pencuri masuk. Meski begitu, masih ada yang masih memberi celah-celah berjeruji supaya tamu atau tetangga masih bisa mengintip aktivitas di dalam rumah, dan sebaliknya.

Saat mencari referensi di internet, saya baru tahu ternyata rumah-rumah penduduk Laweyan saling berhubungan langsung melalui pintu-pintu tembus yang disebut pintu butulan. Baik itu di permukaan atau di bawah tanah. Mungkin itu sebabnya, tidak semua pintu yang ada di kampung ini terbuka karena mereka memiliki pintu-pintu alternatif yang tidak diketahui oleh masayarakat umum. Barangkali, pintu-pintu itu sengaja dibuat untuk memberi batasan antara ruang privat dan ruang publik. Buktinya, ada beberapa rumah yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar, terutama rumah yang menjual batik dan worskshop.

Surut

Pada awal abad ke 20, industri batik tulis bergeser menjadi batik cap. Pergeseran ini membuat banyak tenaga kerja lelaki masuk ke industri ini sebagai tukang cap.
Laporan De Kat Angelino tahun 1930 menunjukkan, sebuah perusahaan batik besar di Laweyan bisa memproduksi 60.400 potong batik per tahun. Dan dalam satu tahun, penghasilan bersih juragan batik Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden!
Hingga tahun 70-an, masih banyak Mbok Mase di Laweyan. Namun semenjak rezim Soeharto berkuasa, maka batik tulis ini mulau dibuldozer oleh industri batik printing yang biayanya jauh lebih murah dan efisien. Tidak jauh dari kampung Laweyan, berdiri pabrik tekstil yang mampu membuat kain bermotif batik secara massal. Di pinggiran kota Solo yang lain juga muncul pabrik tekstil raksasa yang dimiliki oleh salah satu menteri Orde Baru yang senang “meminta petunjuk bapak Presiden.’

Sontak pamor batik Laweyan meredup pamor. Banyak pabrik batik tutup. Kaum laki-laki dan perempuan beralih menjadi buruh pabrik. Yang tersisa adalah rumah-rumah besar dengan tembok menjulang dan tembok menjulang dan stigma buruk. Ya, nama laweyan juga bersinggungan dengan mitos yang memojokkan perempuan yaitu “perempuan bau laweyan.” Predikat ini dilekatkan pada perempuan yang mempunyai tompel atau titik hitam sebesar uang logam di bahu kirinya. Masyarakat percaya bahwa perempuan ini kebal terhadap berbagai ilmu hitam dan pendiam namun apabila ia melakukan hubungan intim dengan suaminya, maka suaminya itu pasti mati secara mengenaskan. Apakah mitos ini sengaja diciptakan dan dihembuskan oleh bangsawan kraton yang membenci perempuan Laweyan? Entahlah!

Referensi: Blog Jasmerah History, Blog Macheda, dan Kabarinews

Foto-foto: Koleksi pribadi

1308642898289731207

GKI Coyudan, Coy!

GKI Coyudan

Menara

menara GKI Coyudan

Refleksi

Menara

Hari Minggu, 19 Juni 2011, saya diajak oleh Komisi Musik GKI Klaten untuk menjadi penggembira Paduan Suara anak-anak “Joy Full.” Mereka mengisi pujian pada kebaktian pukul 9 di GKI Coyudan.
Kesempatan itu saya pergunakan untuk mengambil beberapa foto yang menarik dari GKI Coyudan. Menurut website www.gki.or.id, gereja ini didewasakan secara cepat menyusul adanya konflik “gelas besar dan gelas kecil perjamuan kudus.”
Ada sekelompok jemaat yang memisahkan diri dari GKI Sangkrah dan berkebaktian di pabrik tenun milik keluarga Tan Ing Tjong, setelah sebelumnya meminjam gedung gereja GKJ Joyodingratan.
Selanjutnya pada tanggal 24 Agustus 1948 jemaat ini didewasakan dengan nama `Tjong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Solo’ dan pada tanggal 11 November 1954 berkebaktian di gedung gereja yang baru di Jl. Coyudan 105, Solo. Gedung gereja tersebut dan pastori di sampingnya merupakan persembahan dari keluarga Jo Kiem Hok.
Seiring dengan keputusan Persidangan VI Sinode Gereja-gereja Kristen Tionghoa di Purwokerto pada tahun 1956, diubahlah nama THKTKH Solo menjadi `GKI Coyudan Solo’
Jemaat

Baca kitab suci Read more